Kamis, 22 Juli 2021

Puisi Telelet (Buar)

 

Pandemi membelenggu Buar

 Oleh: Maesaroh

Pandemi melanda

Buat galau para bunda

Atur uang harus waspada. 


Isi dompet makin gak karuan

Meski sesak harus bertahan

Jangan buar, tapi harus makan

Perut lapar bisa  masuk ambulan. 


PPKM seperti harga mati

Tak peduli lapar menggerogoti

Aturan bagaikan sebuah cemeti

Segala ucap dan tindak harus hati-hati

Mau melanggar berurusan dengan bupati.

 

Pekerjaan lenyap ditelan sang corona

Sulit nian cari surga dunia yang membahana

Merangkul episode tentang hidup bak nirwana

Tuli dan tabu di telinga sang durjana

Ketir melintir  tiada berguna

Ini seperti bencana.

 

Dengan uang rasa sulit berjumpa

Rasa buar mengusik hati jadi nestapa

Meradang terjal dalam hati yang hampa

Masih bingung, bertanya entah ini mengapa

Masalah hidup bukan hanya corona, banyak rupa.

 

Berserah dan bersyukur adalah sebuah upaya

Rezeki sudah diatur oleh pemilik cahaya

Jadikan sedekah sebuah budaya

Agar jadi manusia berdaya.

 

Teguhkan hati pada  Ilahi

Meski rasa di hati seperti berkelahi

Percaya pada Ilahi Robi, pandemi akan disudahi.

 

Lebak, 22 Juli 2021


Mencoba tantangan untuk grup Lage dengan menulis sebuah puisi Telelet bertema Buar. Puisi yang lagi booming dikalangan penulis PGRI. 

Semoga kamis ini menjadi manis dengan karya yang puitis. Salam Literasi!

Maydearly89

Sang bloger Milenial


24 komentar:

  1. Wah keren bu ketua. Aku suka. Teletet nya cukup menantang dan enak dinikmati diksinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih bunda Hasanah, saya belajar dari ibu yang puisinya cantik banget.

      Hapus
  2. Wiih, keren teleletnya, gramatikanya dapet, konfigurasinya ok banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih bu, banyak belajar dari ibu yang hebat.

      Hapus
  3. Rima, aman.
    Kongigurasi, cantik.
    Dihati atau di hati?
    Di telinga atau ditelinga?
    Jangan dahului Pencipta, pemilik cahahay atau Ilahi dengan kata sang
    Karena sang itu untuk makhluk. Silakan cek di KBBI, yq.
    Semangat, Kakak. Keren sekali tulisannya.

    BalasHapus
  4. Pengen bisa tapi masih belepotan bu may,Tular kan ke aku ya

    BalasHapus
  5. Setelah membaca beberapa puisi Telelet alhamdulillah paham. Keren Bunda

    BalasHapus
  6. Ibu guru segala bisa dari mulai mengajar, menulis rubrik, bikin buku, menulis puisi sambil mengamati berita aktual. Kereeen

    BalasHapus
  7. Aamiin...aamiim ya Robbi
    Mohon perkenankan doa kami
    Tak ada tempat tuk gantungkan harapan yang tinggi
    Selain Engkau yang Maha menyayangi

    Speechless tuk guru hebat ini. Pokoknya the best lsh.



    BalasHapus
  8. saya baru bikin.. tp sedikit.. bu May keren puisinya

    BalasHapus
  9. Masya Allah.... Teratur sekali baris dan iramanya..sederhna dan mudah difahami.....

    BalasHapus
  10. Ayuk semangat puisi teleletnya...
    Mantab..

    BalasHapus
  11. Jika membaca telelet ingin segera bisa menuliskannya.
    Selali dikonfigurasi menjadi kendala.
    Untungnya berkunjung kesini, jadi bisa belajar bersama

    BalasHapus
  12. Teleletnya sudah bagus sekali. Keren. jadi pingin mencoba membuatnya. Biasanya frase Rabi Maha Tinggi, Rabi Maha Suci..Maha Rabi baru dengar..

    BalasHapus
  13. Luar biasa teleletnya Bu. Semoga pandemi betul-betul lewat.

    BalasHapus
  14. Telelet yang menguras pikiran. Keren

    BalasHapus
  15. Betul, tetap harus optimus bahwa suatu saat pandemi ini akan berakhir.

    BalasHapus

Kata Pengantar Buku Tarian Aksara Penuh Makna

Dahulu aku sering bertanya sendiri; kalau puisi itu berwujud, akan seperti apakah dia? Matahari? Bulan? Bintang? Gunung? Laut? Bertahun lalu...