Senin, 24 Mei 2021

Cara Mudah Menyusun Buku

 


“Pada waktunya, dunia hanya perlu tahu kalau kita hebat.

Kebahagiaan tidak membutuhkan penilaian orang lain”

Fiera Besari

Penggalan kalimat  diatas seperti membawa senyum bahagia yang di bentangkan membersamai tenggelamnya senja yang membuka malam nan gulita. Berjuntai rasa sukur harus selalu di tengadah kan karena masih di karuniai jiwa yang sehat, fikir yang kuat hingga dapat melewati hari-hari dengan sederet ilmu. Lebih  bersyukur  lagi ketika  masih di pertemukan dengan orang-orang hebat dalam komunitas menulis.

Sejatinya setiap pertemuan adalah peta waktu yang sudah di gariskan Tuhan. Pertemuan yang membait tentang ilmu, harus lah tersusun rapi agar dapat tercatat dalam putaran sejarah. Oleh karenanya, setiap ilmu yang di tulis harus lah di susun menjadi buku. Tak ada yang mustahil karena hidup begitu sederhana, seperti sederhananya “Langkah Menyusun Buku” yang di sampaikan oleh Bapak Yulius Roma.

Bapak Yulius Roma Patandean lahir di Salubarani Gandang batu Silanan, Kabupaten Tana Toraja yang dilahirkan pada Juli 1984. Beliau  merupakan guru Bahasa Inggris di SMAN 5 Tana Toraja. Beliau adalah guru muda yang berprestasi dan  sudah tidak diragukan lagi dalam dunia tulis menulis. Beberapa bukunya sudah terbit di penerbit mayor  Penerbit Andi. Selama keaktifannya dalam menulis beliau juga tengah menyelesaikan pendidikan magisternya di Institut Agama Kristen Negeri Tana Toraja.

Dalam membuka materi malam ini beliau memberi penguatan pada peserta bahwa untuk sukses menuju tujuan yang telah diimpikan, maka tentunya harus melalui sejumlah langkah. Impian kita di sini tentunya bisa menerbitkan buku solo sendiri yang ber-ISBN. Banyak hal mudah yang dapat kita lakukan dalam menerbitkan buku. Berikut merupakan tips menerbitkan buku berdasarkan dari pengalaman bapak Yulius Roma. Cara lengkapnya bisa kita cek dalam channel youtube beliau. Silahkan di simak ya.




Berdasarkan pengalamannya, beliau memiliki 8 langkah mudah dalam menyusun buku, diantaranya:

1. Seorang penulis harus memiliki bekal editing agar ketika menulis naskah buku kita memiliki kenikmatan ketika menulisnya dan terasa  tanpa beban. Demikian pun ketika kita mulai merapikannya. Beban bahwa naskah kurang berkualitas, masih sedikit, bahasanya kurang keren, dll  harus dibuang jauh-jauh. Yakinkan diri bahwa naskahnya paling unik diantara semua buku yang pernah terbit.

2. Jika naskahnya memiliki TOC (Table of Contents), baca ulang urutan judul dan sub judulnya. Mungkin saja ada judul yang cocok di Bab lainnya. Termasuk potongan-potongan naskahnya, hindari ada pengulangan isi paragraf yang persis sama di Bab lainnya.

3.  Pastikan ukuran kertasnya A5 dengan jumlah halaman khusus isi buku minimal 75 halaman.

4. Terbitkan lah buku solo dan  Upayakan kita menggunakan Kata Pengantar dari orang lain.

5. Tambahkan Prakata selaku penulis (prakata adalah semacam kata pengantar dari penulis terkait isi buku)

6.   Jika memiliki gambar pendukung, cantumkan sumber gambarnya.

7. Editing dan finalisasi 

8. Baca ulang naskahnya untuk memastikan urutan Bab, judul dan sub judulnya sudah sesuai. 

Selanjutnya, dalam pembuatan buku non fiksi membutuhkan penulisan index untuk mempermudah para pembaca memahami makna yang sifatnya ambiguitas. Berikut adalah langkah membuat indeks yang dapat dengan mudah kita buat dalam sebuah buku. Silahkan di simak sebagai nilai pengetahuan yang mumpuni. 

Dalam penyusunan buku membuat daftar isi merupakan hal yang paling di utamakan, namun terkadang bagi penulis pemula membuat TOC adalah hal yang rumit. Oleh karenanya, untuk mempermudah membuat daftar isi, kutipan, indeks dan daftar pustaka dapat kita pelajari lewat video di bawah ini yang sudah beliau sajikan;



Materi yang di sajikan oleh beliau lewat kanal youtube benar-benar menambah wawasan saya dalam dunia editing. ternyata banyak hal mudah yang bisa kita pelajari dengan cara yang sederhana. Hal ini sangat memacu semangat saya untuk terus memanjakan jari diatas keyboard merangkai bait-bait ilmu hingga  ilmu itu terbentuk menjadi mahkota berupa buku. Meskipun masih terasa sulit, namun hasilnya akan menjadi pasti apabila kita kerjakan dengan tanpa menyerah. Seperti kicauannya bang Tere LiyeJika kita "tidak mudah menyerah", maka kita sudah dekat sekali dengan kesuksesan. Karena di dunia ini, ada dua orang yang susah sekali dikalahkan: 1. orang yang sabar; 2. orang yang tidak mudah menyerah”. Salam Litarasi!

Resume : Ke-17

Maydearly89

Maesaroh M.Pd

Tema : Langkah Menyusun Buku

Narasumber : Yulius Roma Patandean, S.Pd                                         

Lebak, 24 Mei 2021


Sabtu, 22 Mei 2021

Menulis buku Nonfiksi, siapa takut!

 

“Motivasi seperti makanan bergizi! Dengan lauk disiplin, dikunyah dengan kerja keras dan keuletan serta disantap tiap hari dengan porsi yang tepat, maka mental akan menjadi sehat dan berkualitas”

Andri Wongso

Kutipan kalimat diatas seperti membuka jendela semangat di tengah kelemahan fisik yang sedang di terpa sakit. Bertumpuk untaian do’a  yang di lantunkan oleh para sahabat dan senior di  grup menulis gel.18 ini, benar-benar membangun motivasi saya agar saya seperti bunga ‘Dandelion’. Bunga yang paling kuat. Dia tetap bisa tumbuh di antara rerumputan liar, dan di celah batu. Meski ‘Dandelion’ terlihat rapuh, tapi begitu kuat, begitu indah,  dan begitu berani.

Pertemuan kali ini sedikit mengusik beranda rindu. Betapa tidak, setelah hampir dua minggu aktivitas menulis di liburkan, seperti tertinggal deret ilmu yang biasanya di reguk sepertiga kali dalam seminggu. Selama beberapa pertemuan off  hati dan pikiran benar-benar di jemput rasa malas. Dan hari ini adalah moment mengaktifkan kembali semangat menulis.

Meskipun masih di temani kepala yang sedang pusing dan tangan sedikit bergetar. Namun, semangat ini harus di perjuangkan karena saya ingin menjadi  seperti Om Jay, meski sakit tetapi  jiwa penulisnya tak pernah padam.

Seorang perempuan  piawai yang memiliki ‘good track record’ dengan menerbitkan buku yang kemudian di pajang di ‘Gramedia’, beliau adalah Musiin, M.Pd seorang guru dari Kediri. Buku yang berjudul ‘Literasi Nusantara’ sukses membawanya pada pencapaian yang baik. Berkat kolaborasinya dengan Prof. Eokoji, kini beliau berhasil melejitkan 5 macam buku. Hebat sekali bukan? Lebih hebat lagi beliau mengajak kita mengenali ‘Konsep Buku Non Fiksi’.

Dalam paparannya beliau menyebutkan bahwa seorang penulis harus memupuk kecintaannya dalam menulis. seorang penulis juga harus memiliki niat yang mendasar agar menjadi alasan yang kuat untuk menulis. Menurutnya, ada 3 hal yang mendasari beliau untuk mejadi penulis:

  1.   Ingin mewariskan ilmu dengan buku
  2.  Ingin memiliki buku solo yang terpajang di toko buku online maupun  offline
  3.  Ingin mengembangka profesi sebagai guru

Dengan nada lugas beliau memparkan bahwa dalam menulis itu harus memiliki motivasi karena menulis tidak semudah berbicara, semudah bergosip . Justru tantangannya ada karena sulit. Perjuangan menjadi penulis dengan mengikuti kelas menulis, membuat resume, menghasilkan buku, maka akan lahir CINTA MENULIS.

Selanjutnya, beliau menguatkan bahwa keinginan kuat dalam  ternyata mengantarkan ke hukum tarik menarik di alam semesta ini. Hukum Tarik-Menarik dalam rahasia alam ini mengatakan bahwa kemiripan menarik kemiripan.

Dalam pertemuan ke 16 ini, beliau memaparkan materi tentang  penulisan buku non fiksi yang memiliki 3 pola diantaranya:

  1.    PolaHierarkis (Buku disusun berdasarkan tahapan dari mudah ke sulit atau dari sederhana ke rumit)  contoh;buku pelajaran
  2.       Pola Prosedural (Buku disusun berdasarkan urutan proses). Contoh; buku panduan
  3.     Pola Klaster (Buku disusun secara poin per poin atau butir per butir. Pola ini diterapkan  pada buku-buku kumpulan tulisan atau kumpulan bab yang dalam hal ini antarbab setara)

Menurutnya terdapat empat tahapan dalam menulis

Tahap pertama disebut dengan pratulis diantarnya:

  1.   Menentukan tema
  2.  Menemukan ide
  3.   Merencanakan jenis tulisan
  4.  Mengumpulkan bahan tulisan
  5.  Bertukar pikiran
  6.   Menyusun daftar
  7.   Meriset
  8.  Membuat Mind Mapping
  9.  Menyusun kerangka

Tema bisa ditentukan satu saja dalam sebuah buku. Tema dari buku nonfiksi adalah parenting, pendidikan, motivasi dll. Untuk melanjutkan dari tema menjadi sebuah ide yang menarik, penulis bisa mendapatkan dari pengalaman pribadi, pengalaman orang lain, berita di media massa, Status Facebook/Twitter/Whatsapp/Instagram, Imajinasi, mengamati lingkungan, perenungan dan membaca buku.

Tahap kedua adalah menulis draft

1. Menuangkan konsep tulisan ke tulisan dengan prinsip bebas

2. Tidak mementingkan kesempurnaan, tetapi lebih pada bagaimana ide dituliskan

Tahap ketiga adalah merevisi draft

  1. Merevisi sistematika/struktur tulisan dan penyajian
  2. Memeriksa gambaran besar dari naskah.

Tahap keempat adalah Menyunting Naskah (KBBI dan PUEBI)

  1.   Melihat kembali Ejaan
  2.   Memperhatikan tata bahasa
  3.   Menganalisis diksi yang digunakan
  4.   Menganalisis daftar dan fakta
  5.  Menganalisi legalitas dan norma


Beliau kembali menuturkan materinya dengan mengatakan bahwa sebenarnya dalam menulis tidak semudah yang di bayangkan. Selalu ada hambatan-hambatan yang di temukan ketika  menulis berupa: Hambatan waktu, kreativitas, teknis, tujuan, serta hambatan psikologis. Namun jika kita terus berusaha hambatan itu pasti mennemukan solusinya.

Berikut adalah tips cara mengatasi hambatan dalam menulis menurut bu Iin;

  1.   Banyak membaca
  2.   Mencari inspirasi di lingkungan sekitar, orang sekitar atau terkait dengan nara sumber.
  3.   Disiplin menulis setiap hari.
  4.  Pergi ke pasar dan memasak. Ini menjadi mood booster untuk menulis lagi (kebetulan  hobinya adalah memasak)

Mengupas resume selambat ini, seperti tabu bagi saya. Tak se-energic ketika menulis sambil menyimak. Namun, dengan penuh keyakinan saya percaya tak ada usaha yang sia-sia dalam memupuk ilmu lewat tulisan. Meski lemah, coba bangkit meski sulit keras berusaha seperti pepatahnya bu Musiin “Musuh besar perubahan adalah diri sendiri. Apakah hal-hal hebat yang ada diri kita akan berlalu begitu saja tanpa bisa diambil oleh anak cucu kita. Keluarkan potensi hebat kita menjadi sebuah buku”. Sejatinya menulis adalah terapi penyembuhan dari hati yang terasa rapuh. Salam Literasi!

 

Resume : Ke-16

Maydearly89

Maesaroh M.Pd

Tema : Konsep buku fiksi

Narasumber : Musiin, M.Pd                                              

Lebak, 22 Mei 2021


Jumat, 07 Mei 2021

Belajar Tehnik Proofreading Sebelum Menerbitkan Tulisan

 


“Dari hati jadi aksi, dari hati turun ke kaki.

Cita-cita jangan hanya disimpan didalam pikiran

Tapi harus diwujudkan dan diperjuangkan”

Merry Riana

 

Bismillahirahmanirrahim, dengan segala rasa syukur saya ucapkan kepada Allah S.WT, atas segala qadarullh-Nya yang  mempertemukan saya dengan  orang-orang hebat. Sebagaimana rasa syukur adalah rem untuk memperlambat ketinggian hati, dan titik tertinggi dalam menghambakan diri kepada sang Pencipta.

Rasa syukur semakin menengadah  setelah  tulisanku di apresiasi oleh Penerbit Mayor, Tulisan yang dibalut dengan penuh  keteguhan dan konsistensi, melahirkan  bahagia sebagai  bonusnya.

Sederet apresiasi itu mengajaku berlayar pada sebuah mimpi yang meninggi, mimpi untuk melahirkan tulisan yang membumi. Teruslah menulis karena menulis adalah  suatu proses aktualisasi diri yang bisa membuat orang melahirkan tindakan-tindakan produktif dan kreatif.

Tindakan kreatif dalam menulis adalah menumpahkan ide-ide baru dalam menciptakan makna tulisan yang mudah dimengerti pembaca. Terkadang, sebuah tulisan akan menimbulkan kekeliruan makna apabila tidak ditulis dengan teliti dan cermat.  Maka dari itu,  sebelum mempublikasikan tulisan, ada hal yang harus di perhatikan yaitu  melakukan “Proofreading Sebelum Menerbitkan Tulisan”.

Seorang narasumber hebat bernama Susanto, S.Pd atau akrab disapa dengan sebutan Pak D Susanto akan memandu kita bagaimana tulisan bisa terpublikasi dengan baik tanpa ada kesalahan dalam menulis atau dikenal dengan istilah "Typo". Beliau merupakan seorang Guru Kelas SDN Mardiharjo, Kab. Musi Rawas, Prov. Sumatera Selatan, yang dilahirkan Gombong Kebumen, 29 Juni 1971. Seorang sarjana S1 PGSD ini mengantarkannya menjadi seorang editor pada komunitas pelatihan menulis asuhan Om Jay.

Dalam memulai kuliahnya beliau memperjelas makna dari profreading yang memiliki kesamaan makna dengan istilah 'editor'. Banyak sekali karya guru-guru hebat yang berhasil beliau edit sehingga naskah/tulisannya enak untuk dibaca. Diantara buku-buku yang beliau edit terdapat buku Antologi Menulis Gelombang 18. 

Hampir semua dari kami belum memahami apa itu Proofreading, dengan lugas Pak D Susanto mengatakan bahwa Proofreading adalah aktivitas memeriksa kesalahan dalam teks dengan cermat sebelum dipublikasikan atau dibagikan. Lantas kapan kita harus melakukan Proofreading? Proofreading dilakukan setelah kegiatan menulis selesai dilakukan. Hal ini sesuai dengan nasihat para pakar menulis, yakni: tulis saja jangan perdulikan teknis. Salah nggak papa mumpung ide masih mengalir. Jika sudah selesai, barulah kita lakukan editing.

Apabila Proofreading sama dengan editing/mengedit, lantas apa perbedaannya? 

Mengedit dan mengoreksi adalah langkah berbeda dalam proses merevisi teks. Pengeditan dapat melibatkan perubahan besar pada konten, struktur, dan bahasa, sedangkan proofreading hanya berfokus pada kesalahan kecil dan inkonsistensi. 

Beliau menggambarkan dengan jelas bagaimana Proofreading dilakukan. Proofreading dilakukan terhadap tulisan yang sudah bagus, uraian sesuai tema, struktur bahasanya bagus, kalimat yang digunakan tidak terlalu panjang. Sedangkan editing dilakukan terhadap tulisan yang masih "kacau" dari segi struktur, misalnya karena kalimatnya berupa kalimat majemuk yang terdiri dari banyak sekali kalimat tunggal.

Menurut "penerbitdeepublish" ada  beberap langkah dalam melakukan pengeditan dan proofreading.

1. Pengeditan Konten

2. Pengeditan Baris

3. Menyalin Pengeditan

4. Proofreading

Dalam melakukan pengeditan naskah sebelum pada tahap proofreading, beliau   melakukan revisi yang meliputi:

1. Merevisi draf awal teks, seringkali membuat perubahan signifikan pada konten dan memindahkan, menambahkan atau menghapus seluruh bagian adalah langkah pertama.

2. Merevisi penggunaan bahasa untuk mengomunikasikan cerita, ide, atau argumen seefektif mungkin. Ini mungkin melibatkan perubahan kata, frasa dan kalimat serta penyusunan ulang paragraf untuk meningkatkan aliran teks. Adalah langkah kedua.

3. Memoles kalimat individual untuk memastikan tata bahasa yang benar, sintaks yang jelas, dan konsistensi gaya. Salinan dari editor tidak mengubah konten teks, tetapi jika kalimat atau paragraf ambigu atau canggung, mereka dapat bekerja dengan penulis untuk memperbaikinya.. Ini adalah langkah ketiga.

4. Melakukan tahap Proofreading dengan cara:

    a. Cek ejaan. Ejaan ini merujuk ke KBBI, tetapi ada beberapa kata yang mencerminkan gaya penerbit

    b. Pemenggalan kata-kata yang merujuk ke KBBI

    c. Pemenggalan kata-kata yang merujuk ke KBBI

    d. Perhatikan judul bab dan penomorannya

Beliau menuturkan bahwa melakukan proofreading sesungguhnya kita akan bertindak sebagai seorang “pembaca” dan menilai apakah karya tulis kita sudah bisa dimengerti atau justru berbelit-belit. Harapannya, setelah melewati tahapan proofreading, karya kita bisa lebih mudah dipahami pembaca.

Apabila kita melakukan kesalahan kecil yang tidak perlu misalnya typo atau kesalahan penulisan kata dan penyingkatan kata. Meskipun blog itu milik pribadi dan bebas, pembaca kita akan memperhatikan. Upayakan tidak ada kesalahan penulisan (typo) yang  akan membuat pembaca  tidak nyaman. untuk itu, kita harus Memperlakukan tulisan sebelum diterbitkan (dipublikasikan) di blog.

Ada berbagai kesalahan yang biasanya kita lakukan dalam menulis. Misalnya,  memberi spasi (jarak) kata dan tanda koma, tanda titik, tanda seru, atau tanda tanya. Tanda-tanda baca tersebut tidak boleh diketik terpisah dari kata yang mengikutinya. Cara mudah untuk memeriksanya  adalah menekan tombol CTRL bersamaan dengan tombol huruf F (CTRL+F). Lalu, ketikkan tanda koma. Maka akan muncul highlight teks dengan warna kuning.

Kesalahan kecil lainnya yang biasa dilakukan adalah penulisan di- sebagai awalan dan di sebagai kata depan. Pembaca akan “terganggu” jika kesalahan kecil ini ada dalam tulisan kita. Oleh karena itu perlu sedikit keterampilan untuk membedakan keduanya..

Yang wajib kita ketahui adalah Jika kata yang mengikuti di adalah verba atau kata kerja maka ditulis serangkai dan kata itu ada bentuk aktifnya yaitu jika diberi imbuhan me-. Aturan ejaan lainnya yang ada dalam PUEBI wajib kita pahami. Meskipun blog tidak mensyaratkan bahasa yang baku   tetapi minimal wajib tahu dan menerapkan aturan-aturan yang dicontohkan. 

Berikut beliau memberikan Contoh Kalimat yang memiliki lebih dari 20 kata karena dalam aturan YOAS SEO banyak kalimat  hanya berkisar 20 kata.

Contoh: Pada saat jam istirahat mengajar ada beberapa guru bercengkerama sambil minum teh yang disiapkan oleh petugas kantin yang biasa setiap hari menyajikan minuman bagi guru didalam ruang guru pada masing masing meja guru tersebut. (Kalimat ini terdiri dari 34 kata dan perlu disederhanakan)

Maka, kalimat diatas harus dirubah menjadi: Pada saat jam istirahat mengajar ada beberapa guru bercengkerama. Mereka bercengkerama sambil minum teh yang disiapkan oleh petugas kantin yang biasa setiap hari menyajikan minuman bagi guru di dalam ruang guru. (Kalimat kedua ini sebenanrnya juga masih bisa diperpendek dengan membuang frasa di dalam ruang guru).

Penjelasan yang begitu luarbiasa dan sarat ilmu. Setelah mendengar penjelasan beliau rasanya saya ingin kembali Flashback menuju tulisan-tulisan blog saya yang terdahulu yang sangat banyak sekali melalukan "Typo". Mulai dari hari ini semangat memperbaiki tulisan, semangat menulis sampai bisa dengan tanpa putus asa. Seperti pepatahnya Mario Teguh "Banyak orang mengatakan tidak bisa, padahal sesungguhnya tidak mau. Jika mau apapun bisa". Semangat memperbaiki kualitas diri, Salam Literasi!


Resume : Ke-15

Maydearly89

Maesaroh M.Pd

Tema : Proofreading Sebelum Menerbitkan Tulisan

Narasumber : Bapak Susanto, S.Pd                                               

Lebak, 7 Mei 2021





 

Kamis, 06 Mei 2021

Program Menulis Buku Mayor Ekoji Akademi

 




“Ada tiga tahapan penting untuk mencapai kesuksesan yaitu;

Memiliki tujuan yang jelas,

 Menggunakan cara terbaik,

Mempunyai semangat juang”

Andrie Wongso

 

Siluet cahaya matahari terbungkus awan melambangkan siang yang tak begitu gentar. Ya, teduh ini harus menjadi semangat untuk terus menari kan jemari meski kadang tersentak di deretan huruf pada keyboard. Bimbang menuangkan apa namun harus ada yang kubangun untuk menciptakan riak semangat berlitersi tanpa henti, yaitu menulis semua ilmu dalam catatan maya. Tariklah magnet positif karena selama hidup kita berada dalam posisi belajar di Universitas kehidupan.

Belajar merupakan suatu keharusan karena belajar adalah sikap berani menantang segala kemustahilan. Dengan belajar,  ilmu yang tak dikuasai akan menjelma dalam hati manusia menjadi sebuah kekuatan. Seperti ketika jerihnya menggapai cita, manusia akan kehilangan ilusi. Namun, dengan belajar segala kekurangan akan membawanya pada proses pendewasaan. 

Belajar lah sepanjang hayat sampai merasakan setiap detik membutuhkan  ilmu. Tak ada yang mustahil dengan upaya yang serius karena setiap kalimat yang ditulis layak di susun menjai buku. Buku yang kelak di kenang banyak khalayak dan buku yang sukses di terbitkan sang penerbit mayor. Seperti pada episode kali ini  salah satu founder penerbit mayor akan mengajak kita belajar bagaimana  "Menulis Buku Mayor Ekoji Akademi". 

Materi kali ini akan disampaikan oleh seorang narasumber hebat bernama Richardus Eko Indrajit yang lahir di Jakarta24 Januari 1969 atau akrab disapa  Eko Indrajit yang juga merupakan seorang akademisi dan pakar teknologi informatika asal Indonesia. Selain dikenal sebagai pakar teknologi, beliau  merupakan seorang pendidik, narasumber berbagai seminar, lokakarya, dan penulis buku serta jurnal yang telah dipublikasikan di dalam maupun luar negeri. Kini, beliau  tercatat sebagai salah satu anggota Pengurus Besar PGRI dan menjadi Ketua PGRI Smart Learning Center and Character (PSLCC) yang berpusat di Gedung Guru Indonesia, PB PGRI, Jalan Tanah Abang III/24 Jakarta Pusat.

Sebagai penulis pemula, kami di hadapkan berbagai suguhan pengetahuan. Materi hari masih terasa asing ditelinga saya, sebuah materi yang menjabarkan sebuah program Ekoji Akademi. Lantas apa Program Ekoji Akademi itu? Berikut Paparan dari Prof. Eko Indrajit.

Beliau memulai materi dengan menyampaikan sebuah pemikiran yang sederhana namun sangat ngena. Sebuah Pemikiran  yang sangat mendasar bahwa setiap manusia dilahirkan dengan kemampuan menulis - sama seperti halnya kita diajarkan untuk bisa membaca. Tinggal masalah memupuk keinginan untuk mau menulis atau tidak.

Beliau melanjutakan paparannya dengan menyampaikan bahwa setiap orang memiliki kebingungan dalam menulis. Menurut nya, kita  bisa menulis apa saja yang kita mau. Dalam pelatihan menulis ini Oom Jay sudah mengajarkan cara ngeblog, Di sana kita bisa cerita mengenai kehidupan sehari-hari, pengalaman yang dialami, perasaan yang sedang berkecamuk dalam hati, serta  keinginan untuk melakukan sesuatu, dsb.

Dalam menulis temukan kemudahan dari sesuatu yang kita sukai dan bentuk lah motivasi apa yang membuat kita ingin menulis. Contoh kecil, kita memiliki  memotivasi dalam hal apa? Belajar? Olah raga? Bersenikebudayaan? setiap motivasi yang kita miliki haruslah langsung ditulis.Tidak perlu banyak berfikir. Sudah banyak sumber atau bahan yang bisa membantu kita sebagai referensi awal.

Beliau memaparkan bahwa buku pertamanya dulu sangat sederhana. Isinya adalah 50 kumpulan konsep yang beliau dapatkan dari 50 buku berbeda. Setiap konsep direpresentasikan dalam satu gambar. Dan setiap gambar beliau jelaskan dalam 4 halaman. Dan  ternyata bukunya  menjadi best seller. Sungguh diluar dugaan beliau.

Sederhana  tapi sangat ngena itulah sajian materi yang disampaikan Prof Eko. Kami sangat antusias menerima tawaran menulis buku bersama beliau. Seperti mimpi ditengah gemericik hujan yang membawa berlabuh ke dunia dongeng. Menulis bersama orang hebat apakah ini mimpi? Rasanya tak dapat diungkapkan. 

Dengan penuh ketegasan beliau menjelaskan bagaimana cara menulis buku dalam Program Ekoji Akademi diantaranya:

1. Langkah pertama adalah Subscribe Ekoji Channel, dan Browsing video-video yang ada di dalamnya. Pilihlah tema yang paling menarik perhatian kitaa

2. Langkah Kedua, setelah mendapatkan tema yang menarik anda, konsultasikan dengan bu Aam untuk memastikan BELUM ADA guru-guru yang menuliskan buku dengan tema atau judul serupa di masa lalu.

3. Langkah Ketiga, setelah memastikan tema tersebut, dengarkan kembali video beliau tersebut untuk mendapatkan butir-butir utama pembahasannya.

4. Langkah Keempat, buatlah DAFTAR ISI, dimana di dalamnya terdiri dari 6 bagian, masing-masing menceritakan mengenai: What, Why, Where, When, Who, dan How. Contohnya adalah jika kita tertarik dengan GAMIFICATION, maka daftar isinya terdiri dari 6 bagian, yaitu: (i) Apakah yang dimaksud dengan gamification (ii) Mengapa gamification penting dan dibutuhkan? (iii) Dimana konsep gamification dapat diterapkan? (iv) Kapan saat yang tepat untuk mengadopsi gamification (v) Siapa saja yang perlu terlibat dalam menerapkan gamification? (vi) Bagaimana mengembangkan materi pembelajaran berbasis gamification?

5. Apabila keempat langkah itu  bisa kita  lakukan dalam SEMINGGU, maka kita  adalah calon potensial untuk menerbitkan buku di Penerbit ANDI.

Secara tak langsung, kami para peserta sebagi penulis pemula sangat senang mengikuti ajakan beliau bergabung dalam Antologi bukunya angkatan ke 5 yang bertema "May In Love" nama yang mengagumkan karena senada dengan nama saya hehe. 

Semakin bersemangatnya saya ketika beliau mengatakan  "Selama proses, saya, pak Joko, dan mbak Dwinita dari Penerbit Andi akan menemani anda berproses via wa May-in-Love yang sedang dipersiapkan oleh Prof Aam. Pokoknya sampai bukunya jadi".

Disela-sela paparannya beliau mengajak kami berkeliling menuju google trends untuk menuliskan apakah judul yang kita buat masuk dalam kategori trendi atau tidak. Bagi saya ini benar-benar ilmu baru, walau sebetulnya pernah disampaikan oleh narasumber sebelumnya, namun kali ini langsung mempraktekan ilmu yang dijelaskan. Dan rasanya bahagia sekali karen saya  mendapat judul  trend yang diterima oleh google tends

Di Penghujung waktu, beliau menutup kuliah hari ini beliau memberikan closing statement,

"Nenek Moyang mengatakan; Ala bisa karena biasa, tak kenal maka tak sayang. Kalau kita berfikir kita tidak bisa, maka kita tidak akan pernah bisa. Namun, kalau kita berfikir, dengan kemauan dan kerja keras kita pasti bisa.-maka anda akan biasa".

Sebuah pertemuan menarik, yang disajikan secara diskusi langsung benar-benar menggugah semangat saya disiang ini. Begitu jauh namun terasa dekat seperti sound track nya film ikatan cinta "Jauh dimata tapi dekat di do'a" begitulah kelas kami disiang ini. Rasanya beruntung sekali hari ini tak hanya mendapat sejuta ilmu tapi pula peluang untuk maju. Semangat untuk berliterasi semakin tegak, ingin rasanya memberikan nama pada dunia bahwa aku ada didunia lewat tulisanku. Seperti pepatahnya Lenang Manggala bahwa "Cara terbaik untuk meningkatkan kualitas karakter, kompetensidan kesejahteraan hidup seseorang, adalah dengan menanamkan budaya literasi(membaca-berfikir-menulis-berkreasi)". Salam Literasi!

Resume : Ke-14

Maesaroh M.Pd

Tema : Program Menulis Buku Mayor Ekoji Akademi

Narasumber : Prof. R Eko Indrajit

Lebak, 6 Mei 2021

Selasa, 04 Mei 2021

Tantangan Menulis Fiksi

 


Dengan Bismillahirrahmanirrahim, saya susun  tulisan ini berharap atas keberkahannya, mendapatkan buku dari sang Narasumber Bapak Sudomo. Dan jikapun tidak, tak apa tulisan ini akan tetap saya rangkai sebagai bentuk rasa hormat saya dalam mengikuti tantangan beliau.

Sudomo, S.Pt "Sejatinya ingatan manusia terbatas. Tidak semua peristiwa bisa diingat kejadiannya dengan detail. Hanya bisa mengingat beberapa atau sebagian saja, termasuk kejadian positif dan negatif kita di masa lalu yang menjadi pembelajaran bagi kita dalam menjalani peran sebagai guru di masa kini ". 

kutipan kalimat diatas yang benar-benar mengetuk pikiran saya untuk mengingat tugas yang beliau berikan ketika beliau menjadi Narasumber hari kemarin. Tersentak dan teringat seketika setelah beliau mengirimkan pesan lewat WAG grup menulis gel.18

Challange 1

1. Tulislah minimal 5 contoh Tema yang bisa dikembangkan menjadi cerita fiksi

a.  Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)

b.  Perempuan Tangguh

c. Siswa dari Desa Huntara

d. Jejak Pengabdian

e. Pemimpin hebat 


2.  Dari kelima tema diatas, saya memutuskan memilih tema "Pemimpin Hebat"

 dengan Ilustrasi sebagai berikut:  

Karakter     : Seorang Bupati di Tanah Baduy

Tujuan Tokoh ; Membangun daerah menuju daerah Agro wisata dan agro budaya

Rintangan : Kesadaran masyarakat yang belum melek IT, dan jauh dari  modernisasi

Resolusi :  Menciptakan Spot-spot wisata untuk meningkatkan APBD Daerah di Tanah Baduy

Dari unsur-unsur diatas, akan menjadi Premis sebagai berikut:


Seorang Bupati dari Tanah Baduy me-modernisasi daerah  dengan menciptakan Spot-spot wisata untuk Meningkatkan APDB Daerah.

3. Apabila tema ini ditulis dalam sebuah cerita fiksi maka saya akan memberinya judul "Srikandi dari Tanah Baduy". Dikatakan Srikandi karena Bupati di daerah saya adalah seorang perempuan Pemberani yang mengorbankan segala tenaga dan fikiraannya untuk kemajuan kabupeten Lebak. 

Demikian tulisan ini saya publishkan, apabila Bapak Sudomo berkenan maka saya akan membuat cerita fiski berbentuk novel dari tokoh yang amat saya kagumi. Salam Literasi!

Maydearly89


Senin, 03 Mei 2021

Cara Mudah Menulis Cerita Fiksi



“Aku melintasi kehidupan dan kala.

 Aku berlayar menembus senja.

 Kuberanikan diri menulis untuk mengabadikan momen hidup dalam lembaran kertas”

Iwan Setyawan

 

Masih dalam semarak hari Pendidikan Nasional, mari kita bangun keberanian memajukan negeri mencetak generasi gemilang  abad 21 dengan melejitkan budaya literasi. Menyiapkan insan seperti  menyiapkan kanvas putih yang disapu dengan warna-warna tulisan, apabila dilukis dengan ilmu bak taman-taman pengetahuan  paling menawan.

Ditemani siang yang menghadirkan siluet lengkungan pelangi yang di tinggalkan titik hujan, sedikit sejuk mengiringi tulisan hari ini seperti sejuknya suara bunda kanjeng yang membuka acara  hari ini sebagai moderator. Meski tanpa bertatap muka namun pertemuan ini nyata dan bukan fiksi.

Berbicara tentang dunia fiksi, bukan hal yang tabu ditelinga kita. Semua orang mengetahui tentang naskah fiksi meski sulit menuliskannya. Siang ini dengan pengajaran tentang ilmu fiksi dari Pak Sudomo memecahkan keraguan kita dalam membuat cerita fiksi. Beliau mengajak kita berkeliling untuk menelusuri “Kiat Menulis Cerita Fiksi”.

Menguasai dunia fiksi adalah kepiawaian dari bapak Sudomo, S.Pt yang di lahirkan di Sukoharjo 27 Maret 1975. Beliau adalah seorang guru IPA SMP Negeri 3 Lingsar Lombok Barat. Menarik sekali menjadi diri beliau sebagai sarjana Peternakan di Universitas Diponegoro tak hanya membawanya pada duia sains tapi juga di dunia fiksi. Berikut beberapa karya yang beliau lahirkan: Menerbitkan kumpulan flash fiction 123 kata tentang ibu dan perempuan berjudul CERMIN melalui jalur self-publishing di Nulisbuku.com tahun 2011; Menerbitkan sekitar 30 judul antologi flash fiction/cerpen bersama penulis lainnya lewat jalur self-publishing di Nulisbuku.com tahun 2011 – 2014; Menerbitkan antologi flash fiction bersama penulis lainnya berjudul THE COFFEE SHOP CHRONICLES lewat penerbit PT By Pass tahun 2012; Menerbitkan antologi cerpen bersama penulis lainnya berjudul DEAR MAMA lewat penerbit PT Gradien Mediatama tahun 2013; Menerbitkan antologi cerpen tentang bumi berjudul PERSEMBAHAN PADA BUMI bersama penulis lainnya tahun 2014; Menerbitkan antologi cerpen horor bersama penulis lainnya berjudul HORORIS CAUSA lewat penerbit AG Pressindo Yogyakarta 2016; hebat sekali bukan?

Setelah menjabarkan berbagai pengalammya beliau membuka kelas dengan menyuguhkan sebuah pertanyaan mengapa kita harus belajar menulis cerita fiksi? Ternyata menulis cerita fiksi merupakan hal yang penting.

Poin Pertama, kita harus memahami cerita fiksi  Lantas apa itu cerita fiksi?  Cerita fiksi bisa berupa prosa, fiksimini, flashfiction, pentigraf, novelet, novela, novel. Beliau mengungkapkan landasan dalam menulis cerita fiksi diantaranya:

Ø  Salah satu aspek penilaian AKM adalah teks literasi fiksi. Hal ini  penting bagi kita sebagai guru agar nantinya mudah dalam membuat contoh-contoh soal latihan AKM bagi murid kita. Dengan membiasakan diri menulis cerita fiksi, akan mempermudah tugas dalam membuat soal AKM di sekolah.

Ø  Sebagai cara menemukan passion dalam dunia kepenulisan

Ø  Sebagai upaya menyembunyikan dan menyembuhkan luka

Ø  Sebagai jalan mengeksplorasi kemampuan menulis

Dengan paparan yang lugas beliau menuturkan hal-hal yang diperlukan agar bisa menulis fiksi. Poin kedua dalam menulis fiksi kita harus memiliki sarat-sarat sebagai  berikut:

Ø  Komitmen dan niat yang kuat;

Ø  Kemauan dan kemampuan melakukan riset;

Ø  Banyak membaca cerita fiksi karya orang lain;

Ø  Mempelajari KBBI dan PUEBI;

Ø  Memahami dasar-dasar menulis cerita fiksi;

Ø  Menjaga konsistensi menulis.

Poin ketiga  apa saja unsur penyusun atau pembentuk cerita fiksi?

1.      Tema. Tema merupakan ide pokok cerita. Tips mudah menemukan tema tulisan cerita fiksi adalah dekat dengan penulis, menarik perhatian penulis, bahan mudah diperoleh, dan ruang lingkup terbatas.

2.      Premis. Premis adalah ringkasan cerita dalam satu kalimat utuh. Unsur-unsur premis terdiri dari karakter, tujuan tokoh, rintangan/halangan, dan resolusi. Dari contoh unsur penyusun tersebut, kita bisa membuat premis sebagai berikut: Seorang anak SD melakukan perjalanan ke rumah kakeknya dan berusaha memperoleh pemahaman tentang materi IPA

3.      Alur/Plot. Struktur rangkaian kejadian dalam cerita. Unsur-unsurnya: pengenalan cerita, awal konflik, menuju konflik, memuncak/klimaks, penyelesaian/ending. Macam-macma alur/plot, yaitu alur maju, alur mundur, alur campuran, alur flashback, dan alur kronologis.

4.      Penokohan. Penjelasan detail karakter (antagonis, protagonis, tritagonis). Teknik penggambaran tokoh: analitik, fisik dan perilaku tokoh, lingkungan tokoh, tatabahasa tokoh, tata bahasa tokoh, dan penggambaran oleh tokoh lin.

5.      Latar/Setting. Penggambaran waktu, tempat, atau suasana.

Jenis-jenis latar: latar waktu, latar tempat, latar suasana, latar sosial, latar material dan latar integral.

6.      Sudut pandang. Cara penulis menempatkan dirinya terhadap cerita.

Macam-macam sudut pandang: orang pertama tungga, orang pertama jamak, orang kedua, orang ketiga tunggal, orang ketiga jamak dan campuran.

Poin keempat, Bagaimana Kiat Menulis Cerita Fiksi?

Ø   Dalam menulis cerita fiksi kita harus memiliki niat atau motivasi untuk memulai dan menyelesaikan tulisan

Ø  Dalam menulis cerita fiksi kita harus bercermin dari cerita fiksi orang lain, jadi kita harus membaca novel karangan orang lain sebagai upaya untuk menemukan bahan belajar atau referensi

Ø  Dalam menulis cerita fiksi kita harus menemukan Ide dan Genre

Ø  Setelah menemukan ide, kita harus membuat outline.

Ø  Apabila outline selesai kita susun langkah selanjutnya adalah menulis

Ø  Langkah terakhir dalam menulis cerita fiksi adalah melakukan Swasunting. Dalam menulis cerita fiksi usahakan jangan menulis sambil mengedit, memfokuskan penyuntingan pada kesalahan pengetikan, pemakaian kata baku dan istilah, aturan penulisan, ejaan, dan logika cerita. Usahakan menempatkan diri pada posisi sebagai penyunting agar tega menyunting tulisan sendiri. Dan jangan lupa menyiapkan kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) dan PUEBBI.


Waktu berangkat dengan  cepat namun begitu berkesan karena yang dibait adalah sajak tentang dunia fiksi. Materi yang tersaji begitu luarbiasa membangunkan hasrat untuk menulis cerita fiksi, karena cerita fiksi menjaga  dunia imajinasi pula imajinasi memberi jiwa menuju alam semesta membawa pesona dan keceriaan dalam hidup. Meski kehidupan itu nyata tapi membuat cerita fiksi adalah mengabadikan sejarah. Seperti pepatahnya Jimi Hendrix “imajinasi adalah kunci lirik saya. Sisanya dilukis dengan sedikit ilmu fiksi ilmiah”. Membangun literasi lewat dunia fiksi adalah mode literasi yang trendi. Salam Literasi!


Resume : Ke-13

Maesaroh M.Pd

Tema : Kiat Menulis Cerita Fiksi

Narasumber : Sudomo, S.Pt

Lebak, 3 Mei 2021


Kata Pengantar Buku Tarian Aksara Penuh Makna

Dahulu aku sering bertanya sendiri; kalau puisi itu berwujud, akan seperti apakah dia? Matahari? Bulan? Bintang? Gunung? Laut? Bertahun lalu...