Selasa, 18 Oktober 2022

Young Story of Astuti

ASTUTI

Allah sajalah yang mengetahui kebaikan dan keburukan yang sejati sementara penglihatan, penilaian, dan pengetahuan kita bersifat semu dan terbatas.Allah mengetahui sedang kamu tidak  mengetahui (QS Al-Baqarah : 216).

Pena ini adalah jejak sederhana dari sebuah cerita seseorang yang ku sebut dengan Astuti. Penulis ingin membicarakan letupan kenang dari langkah panjang seorang Astuti. Namanya hidup, tentu ada suka, canda, tawa, lara dan pahit yang mungkin diseduh air mata.

Ia terlahir sebagai anak sulung dari tiga bersaudara, sebagai seorang sulung, ia memeluk harapan agar sukses dalam hidupnya. Masa kecilnya  memuat hamparan cerita yang berlapis lara, dan luka. Luka itu datang tatkala ia menyadari bahwa ayahnya adalah seorang  tahanan politik. Atas status itu, puluhan pasang mata tentu mengepung raganya bagai serpihan duri yang berkarat atas rasa malu.

Astuti tumbuh sebagai Seorang anak yang hidup di kampung dengan fasilitas pas pasan. Tak ada eforia kemewahan di masa kecilnya, namun itu menjadi prasarti termanis dalam hidupnya. 

Astuti adalah lukisan kekuatan. Ia memiliki seorang Bunda yang galak nan otoriter dalam mendidik nya.  Tapi masa itulah yang menjadikannya sebagai power ditengah  keadaan dan gesekan budaya, yang  multikultural. 

Jakarta adalah saksi  bagaimana ia mampu  memperkaya khasanah hati. Gesekan dari para pendatang, urakan, dan polusi attitude  membuat ia  banyak belajar  untuk sebuah kehidupan dengan berjuta varietas. Keyakinan-Nya pada Sang Rabbi membuat ia begitu kuat dalam memandu semesta  nurani. Ia yakin Bahwa Allah menciptakan bermacam suku agar bisa hidup damai dalam hidup berdampingan.

Di Jakarta ia menorehkan banyak cerita. Ia tumbuh di perkampungan betawi yang kental dengan adat istiadatnya. Mereka menganggap Astuti sebagai orang “Jawa Kowek” (jawa asli) entah apa alasan mereka menyebut Astuti sebagai orang jawa kowek yang 'ngendon' di jakarta. Mungkin Sebutan Kowe tersimat atas logat bicara Astuti  dengan logat Jawa medok dan ‘kowe-kowe’. 

Narasi tentang Astuti ini begitu epik. Ia dan keluarga bertahan sebagai pendatang yang klasik. Bundanya bergelar sebagai “mantri suntik”. Kala itu, mereka memanggilnya “Bu Jeksi” karena pekerjannya menyuntik atau menginjeksi para pasiennya.

Jakarta adalah simbol tawa dan rasa bangga bagi setiap pengunjung nya. Namun, pada waktu itu, Jakarta  masih rimbun dengan pepohonan yang menghasilkan buah-buahan nan melimpah. Maka tidak salah jika dikatakan pasar minggu dan sekitarnya sebagai sentra buah-buahan saat itu. 

Rumah kontrakan yang ditinggali Astuti adalah  jejak bukti dimana Astuti pernah meraba mimpi. Rumah itu ada di sekitar kebun jambu yang dimiliki oleh Haji Ali, seorang Betawi asli yang kaya raya dengan kebunnya yang luas, memiliki rumah kontrakan yang cukup banyak. Astuti dan keluarganya juga bergaul akrab dengan anak-anak Pak Haji Ali yang punya sembilan anak dari dua istri yang dinikahi.

Ada satu moment yang menjadi pijar paling indah  bagi Astuti,  adalah  ketika panen buah  musiman datang. Ketika musim jambu dan belimbing, Astuti dan teman-temannya  bisa bebas sepuasnya memetik, dan memakan hasil panen buah itu, dari mulai yang ranum, setengah matang, atau yang masih muda. Pak Haji membolehkan Astuti mengambilnya dan membawa pulang secukupnya.

Pak Haji Ali juga punya usaha sampingan lain. Dia memiliki kolam ikan yang diisi dengan ikan lele and ikan tawes. Di sini Astuti pernah menyelipkan moment paling mengesankan. Yaitu sebuah memoent dimana kolam itu dijadikan sebagai tempat jambang ‘plung lapnya”. Suatu kesenangan tersendiri ketika buang hajat plung langsung diterkam ikan-ikan lele yang kelaparan. Buang Hajat di kolam ikan Pak Haji Ali sampai saat ini masih tetap berkesan di hati Astuti.

Usaha lain dari Pak Haji Ali adalah ternak sapi perah. Dia memelihara 7 ekor sapi perah dan 1 pejantannya. Tiap pagi dan sore pekerja Pak Ali sibuk memerah susu dan memberi makan sapi sapi itu. Untuk pemenuhan gizi Astuti di waktu kecil, ibunya menjadi pelanggan susu pada Pak Haji Ali. Maka tak heran jika Astuti dan keluarganya  jadi anak yang sehat dan cukup cerdas. Astuti dapat berbaur dengan warga Betawi yang tidak semuanya suka kepada pendatang.

Memory lain pula amat berkesan bagi Astuti yaitu ketika Lebaran tiba. Yaitu sebuah waktu dimana ia menggantungkan harapannya mendapat THR Lebaran. Kala itu,  Pak Haji Ali yang kaya raya, selalu membagikan sarung dan bingkisan di hari terakhir taraweh atau menjelang lebaran. Kebiasaan ini membuat semangat untuk bisa taraweh bareng di surau Pak Haji Ali. Dari kegiatan rutin tahunan itu lah, Astuti dan adik-adinya jadi akrab dengan marawis, salawatan, dan Qosidah. 

Kesan mendalam juga tercipta pada setiap peringatan hari raya umat Islam. Di dari malam  Nuzulul qur’an, khataman, Isra mi’raj, Idhul Adha  dan puncaknya peringatan maulid Nabi.  Dalam memperingati maulid Nabi, Astuti begitu rajin mengikuti setiap kegiatan dari satu surau ke surau lainnya. Setiap surau yang mengadakan pengajian, panitia pasti memanggil ustadz atau mubaligh untuk mengisi pengajiaan. Inti dengan ustadz dan ustadzah yang beken pada masa itu, Ada Habib Umar, Habib Abdullah Syafei, Ustadzah Tuti Alawiyah, atau pun Ustadzah Royani. Selain itu yang paling greget bagi Astuti adalah karena ia menyadari bahwa hadir dalam sebuah ta’lim selalu didampingi malaikat yang memberikan doa kepada orang yang sedang mengkaji atau menyiarkan dakwah. 

Bagi Astuti, momen paling istimewa adalah Perayaan peringatan milad Nabi yang selalu nampak meriah. Isi pengajian yang begitu mantap benar-benar mempertebal keimanan Astuti pada Allah SWT. Terlihat rasa kebersamaan, apalagi ketika tiap keluarga diwajibkan menyetorkan nasi uduk dan nasi ulam, yang dilengkapi dengan semur daging dan semur tahu. Lalu masih ditambah snack berupa kue talam, kue pepe dan juga ketan urap. Ya, itulah makanan  dan kudapan yang kental dengan suasana maulid Nabi. Astuti dan yang lainnya bisa menikmati bersama, kalau berlebih merekabisa membawa pulang yang kemudian  disebut “berkat”.

Bicara makanan, ingatan  Astuti kemudian berkelakar pada makanan khas dari Pak Haji Ali dan keluarga di saat Lebaran atau Hari Raya Idhul Fitri. Kue itu adalah dodol betawi yang dibuat dari ketan, kelapa dan gula jawa dalam ukuran yang besar. Wadah yang dipakai namanya “Kenceng” karena besarnya wadah itu, bahkan untuk duduk 3 orang anak kecil juga cukup. Pembuatan dodol butuh tenaga dan waktu yang lama. Mulai dari memarut kelapa dan mengaduknya butuh waktu 12-15 jam. Dibutuhkan tenaga yang begitu extra. Belum lagi harus ada yang menjaga api agar tetap menyala.  Maka, persediaan kayu bakar dari kayu yang kering harus cukup. 

Ketika semua bahan dodol tercampur dan diaduk terus menerus secara bergantian, dalam hitungan jam perlahan dodol mulai terasa berat waktu diaduk. Biasanya jika memulainya di sore hari maka menjelang tengah malam, dodol itu mulai mengental. Dodol yang setengah jadi ini biasa dinikmati dan disebut dengan nama “Kole”  biasanya Astuti menyantap sajian Kole ini dengan meminta pada keluarga Pak Haji Ali. 

Disuguhi dengan wadah dari daun pisang Astuti mencicipi dodol setengah jadi yang sangat enak ketika dimakan hangat dan disendok dari sisi sebelah pinggir. Menjelang subuh dodol baru matang dan siap diletakan  pada wadah seperti baskom kecil. Ketika semua dodol sudah dikemas, di dalam kenceng pasti ada intip dodol. Hmm bagi Astiti intip ini terasa lezat di lidahnya. Varian  rasa gosong, gurih dan manis yang terpadu menjadi satu. Astuti tak pernah absen untuk meminta jadah dodol gosong itu pada  Bu hajjah Siway istri Pak Haji Ali. 

Saking dekatnya, Astuti sudah menganggap Pak Haji Ali sebagai keluarganya sendiri karena rumah mereka saling berdekatan. Ibunya begitu gigih menjadi mantri jeksi sehingga ia mampu  membeli rumah yang dikontrak dari Pak Haji Ali dengan cara dicicil. Hanya bermodalkan kedekatan dan kepercayaan, rumah itu bisa dimiliki Astuti dan keluarga. Bagi Astuti, hidangan paling lezat adalah tahu dan tempe bacem, yang merupakan makanan kebesaran Bundanya dan keluarga. Tak hanya itu, mereka juga  mengkonsumsi makanan betawi yang biasa dikonsumsi Pak Haji Ali sekeluarga, ada semur jengkol, tumis oncom, ikan asin bulu jago dan sayur asem  begitu melekat bagi keluarga Astuti.

Perjalanan lantang dimulai ketika Astuti bersekolah. Ia bersekolah di sekolah negeri yang tidak jauh dari rumahnya. Sekolah SD itu sudah berganti nama dari istilah SR. Satu dua teman Astuti ada yang mengetahui jika ayahnya adalah penghuni rutan. Astuti menjadi bahan ejekan oleh mereka yang tidak senang atau sekedar melampiaskan ketidaksukaan mereka kepadanya.  Hal itu tentu menjamah hati Astuti dalam luka. Ada sesak yang ia rasa hingga suatu hari Astuti pernah berkelahi dengan teman sebayanya. Ia menjambak rambut temannya hingga terjatuh.

Orangtua dari temannya tidak terima atas pertengkaran itu.  Lalu mereka melabrak ibunda Astuti dengan cacian yang garang. Sebuah cacian yang bermakna bahwa bundanya tidak bisa mendidik anak. Ibunda Astuti yang tempramental, merasa tertampar oleh cacian itu. Atas rasa itu, ia kemudian   menyeret Astuti  untuk keluar dan mengambil tali lalu mengikatnya seharian di pohon jambu air. Bundanya terus berkicau sambil sesekali mencubit pipi Astuti. Sang Bunda juga mendoktrinnya bahwa ia tak boleh nakal, tidak boleh berantem, harus ngalah pada teman, dan membiarkan orang menghina keluarganya. 

Dalam penat yang panjang, ada rintih perih yang dirasakan Astuti. Dadanya penuh sesak melepuh tak terima, mengapa bundanya membela orang yang jelas menghina ayahnya? Sampai lelah Astuti menangis sambil berteriak, “ Ampun Bunda, ampun!” tetap saja Bunda membiarkan Astuti terikat dan ditonton oleh anak-anak Pak Haji dari dalam rumah, karena mereka juga tak kuasa menolong Astuti. Mereka paham akan sikap Bundanya yang keras, dan tidak suka orang lain ikut mengurusi urusannya. 

Kejadian adalah alunan perih yang tak bisa sibungkus meski dengan kemegahan. Hingga saat ini tetap membekas di labirin ingatan Astuti. Ada rasa benci menyelinap jika mengingat betapa keras bundanya memperlakukannya.  Alhamdulillah Astuti tidak meniru cara Bundanya yang buruk itu ketika menghukum anaknya.

Meski pernah ada luka di hati Astuti, namun ada sisi positif yang diberikan bundanya.   Astuti termasuk anak yang beruntung. Walau tinggal di pelosok kampung, tapi Bundanya berpikiran modern. Setiap 3 bulan sekali Bundanya berusaha menyenangkan hati Astuti dan adik-adiknya dengan cara refreshing. 

Bundanya mensiasati untuk meminjam mobil plus drivernya dari pasien Bundanya hingga  akhirnya menjalin persahabatan. Astuti dan keluarganya diajak berlibur ke Pelabuhan Ratu dan ke Lido di Sukabumi. Tentu saja Astuti sangat  gembira. Kadang Bundanya juga dapat undangan untuk menghadiri sebuah acara di Hotel Indonesia yang paling megah dan mewah pada saat itu. Astuti  dan kedua adiknya berdesakan diantara tamu hotel lain demi segera masuk Hotel yang megah itu, menikmati keindahan hotel dan punya pengalaman pertama masuk lift untuk mencapai kamar hotel di lantai sepuluh. Di saat itu lah Astuti merasa bahagia bisa menikmati sesaat fasilitas hotel yang ada. Untuk itu ia harus berterima kasih pada Umi Kulsum sahabat sekaligus pasien Bunda. Yang sudah memberikan undangan pada keluarga Astuti. 

Hiburan lain yang masih terekam di benak Astuti adalah ketika salah seorang tetangganya mempunyai hajat, entah itu pernikahan atau khitanan anaknya. Orang betawi yang mampu akan mengadakan hajatan yang sangat meriah, biasanya mereka mendatangkan (nanggap) orkes melayu dengan penyanyi Rhoma Irama, Mansyur S, Ellia Khadam dan bisa juga Elvi Sukaesih. Pastilah menjadi moment membahagiakan bagi siapa saja yang membutuhkan hiburan, gratis pula. 

Sedang tetangga yang lain ada yang lebih suka memutar film “layar tancep”. Ya dikatakan layar tancep karena memang layarnya dipasang di tengah lapangan dengan cara ditancapkan. Film yang disajikan biasanya film India, yang selalu penuh dengan air mata dan nyanyian tak tertinggal selalu diiringi joged ria yang bersembunyi di balik pohon. 

Layaknya sebuah hajatan yang menggelar hiburan pasti penuh dengan penjual makanan bahkan arena judi. Judi yang ada biasanya berupa judi puteran dengan memasang uang di nomer yang diperkirakan akan keluar. Karena penasaran dan ingin tahu Astuti pernah mencoba, pertama kali Astuti sempat menang, tapi akhirnya kalah lagi. Ketika kejadian itu diceritakan  ceritakan pada Bundanya, beliau marah besar. Hehe.  Maklumlah, Astuti adalah  anak pintar. Ia selalu penasaran dengan hal baru. Ternyata alasan bunda memarahinya karena judi diharamkan di dalam agama. Astuti tertawa kecil setiap mengingat kejadian itu.

Makanan yang identik dengan layar tancep adalah kacang rebus, jagung rebus, tahu pong dan ada juga kerak telor. Cerita layar tancep dan orkes melayu jadi mengingatkan Astuti pada mbok Kem yang mendapat jodoh orang betawi ketika mereka bertemu di arena layar tancep. Sayang jodoh mbok Kem tidak panjang karena pernikahan Mbok Kem tidak mendapatkan anak.  Suaminya menikah lagi. Akhirnya Mbok Kem sakit, lalu di jemput anaknya untuk pulang ke Ngawi. Mbok Kem tidak kuat, akhirnya di dalam kereta api perjalanan Jakarta Madiun, Mbok Kem meninggal dan langsung diturunkan di stasiun terdekat. Karena biaya membawa Mbok Kem ke Ngawi cukup mahal, maka anak mbok Kem memutuskan setelah disucikan di rumah sakit Kroya, mbok Kem dimakamkan di pemakaman umum untuk orang-orang yang tidak dikenal. 

Bundanya sempat menyayangkan mengapa jasad mbok kem di kubur di sembarang tempat. Bagaimanapun Mbok Kem memiliki jasa besar bagi keluarga Astuti. Sejak bulek menikah, Mbok Kem lah yang mengasuh Astuti dan kedua adiknya hingga mereka semua tumbuh dewasa. Mendengar Mbok kem meninggal, ada rasa sedih mendalam di hati Astuti. Baginya Mbok Kem bukan hanya sebagai ‘rewang’ tapi sudah dianggap seperti ibunya sendiri. Kasihan sekali Mbok Kem. Semoga Allah SWT menyayanginya dan menempatkannya di tempat yang layak. 

Cerita Astuti ini menguap penuh harmoni, mengantarkan melodi di sepanjang perjalanannya. Tidak lengkap jika kisah Astuti dengan teman teman sebayanya tidak diungkap di tulisan ini. Ketika ia kelas 4 SD, Ia punya teman yang berasal dari Manado, pendidikan orangtua mereka sangat tinggi. Astuti mengetahui banyak hal tentang Amerika dan negara bagiannya  dari Pingkan, temannya dari Manado.  

Suatu ketika Pinkan membawa uang saku yang cukup banyak, hampir semua temannya satu kelas ditraktir di hari itu. Ketika Astuti bertanya dari mana dia mendapatkan uang itu,  tanpa malu dia mengatakan bahwa dia mencuri uang papinya. Deg, deg, berdebar rasanya jantung Astuti. Ada rasa  sesal datang setelah mengetahui ternyata ia sudah ikut menikmati hasil curian temanya. Dan kejadian itu sering berulang tapi papi maminya tidak sadar bahwa putrinya suka mencuri uangnya.

Banyak hal yang dipelajari Astuti setelah dekat dengan Pinkan. Salah satunya hobi membaca komik. Komik yang mereka baca komik HC Adresen, dilanjut dengan komik-komik silat dari mulai “ si Buta dari Gua Hantu” sampai “ Wiro Sableng”, akhirnya merambah ke Buku cerita “Kho Ping Ho”, terus berkembang ke novel-novel percintan Montingo Busye. Dan ketika Astuti klas 6 SD, Pingkan membujuk nya agar mau membaca buku stensilan “ Nick Carter”. Sebuah buku yang isinya tentang Sex. Haha tanpa sengaja Astuti belajar hal itu dari Pinkan. Ironis,anak klas 6 SD sudah mengenal tentang sex dari buku stensilan bukan dari orangtuanya. Di sisi lain, setiap Astuti pulang sekolah dalam seminggu  ada 3 waktu diharuskan sekolah dien atau madrasah, dimana mereka diajari baca tulis Al Qur’an dan bahasa Arab. Astuti tidak tuntas belajar di madrasah pada sore hari. Jadi pengetahuannya tentang agama juga minim dan asal asalan, seakan ia punya kelompok bermain dari dua sisi yang menjurus ke akherat dan yang menjurus ke dunia.

Dari Pingkan juga Astuti mengenal cowok ganteng. Ia ingat namanya Erwin, masih sepupu Pingkan, ia tahu kalau Erwin naksir Astuti dari Pingkan. Awalnya hanya menitip salam untuk Astuti, tapi kemudian berlanjut tukar tukaran buku catatan lagu-lagu dan kata-kata mutiara. Semacam buku yang bisa mereka tulis dengan apa saja untuk menggungkapkan kegalauan hati. Kadang berupa puisi atau tulisan-tulisan untuk saling memuja dan mengagumi.

Ibunda Astuti langsung memarahinya jika ia sering pulang sore atau ketika Bundanya pulang ia masih bau keringat dan belum mandi, bundanya langsung melempari seribu tanya  dari A-Z di ruang tamu. Astuti hanya menjawab 'ya' dan tidak atau memberi keterangan yang singkat. Apabila  rasa jengkel Bundanya memuncak, dia tidak segan segan menjewer telinga Astuti. Sejak kejadian itu,  Astuti harus pandai mengatur siasat bagaimana caranya kalau sore sebelum Bunda pulang ia harus sudah mandi, dan duduk manis menunggu kedatangannya.

Meski Astuti tergolong dari keluarga mapan, pada jaman itu sangat beda dengan jaman sekarang. Walau mereka punya pengasuh, tetap saja Bundanya memberi tugas rutin untuk mereka. Astuti sebagai si sulung tugasnya menyapu lantai dan ngepel, sedang adiknya  yang perempuan bagian ngelap meja kursi, dan furniture lain yang ada di ruang tamu dan ruang keluarga. Sedang, si bungsu dia kebagian menyemir sepatu dan menyiram tanaman. Setelah tugas itu selesai baru mereka mandi bergantian dan sarapan dan berkemas berangkat sekolah. Ada tugas lain yang Astuti kerjakan di hari minggu pagi atau siang. Semua tergantung dari perintah Bunda. 

Tugas ke pasar dengan catatan belanjaan yang harus ia beli. Dan lebih berat tapi juga menyenangkan yaitu door to door ke rumah langganan dan pasien Bunda, Astuti pergi ke sana untuk menagih uang pembayaran berobat atau mengantar obat pesanan mereka.  Ibunda Astuti adalah mantri keliling yang punya jadwal khusus door to door memberi pelayanan pada mayarakat di sekitar kampung nya,  atau bahkan meluas sampai daerah Condet dan Kampung pulo, Krobokan yang sekarang lebih dikenal dengan nama daerah Warung Buncit. 

Jiwa sosial ibundanya  cukup tinggi sehingga membolehkan langganan dan pasienya menhutang ketika berobat. Mereka rerata buruh bangunan dan buruh penjahit konfeksi dari para juragannya yang memiliki usaha di pasar Tanah Abang. Karena mereka menerima upah mingguan atau biasanya sabtu sore, tugas Astuti adalah menagih utang mereka di Minggu pagi. Dengan dating dari rumah ke rumah, ia  bisa melihat suasana rumah tiap orang dan bisa membandingkan bahwa ia  dan adik- adiknya termasuk orang yang beruntung. Betapa tidak, dari kunjungan itu ia bisa melihat rumah yang jorok dan tidak layak huni. Sedang, Astuti dan keluarganya hidup di lingkungan yang layak  meski dengan rumah sederhana, tapi karena Bundanya orang kesehatan jadi semua tertata rapi dan bersih.

Di beberapa epidose, Astuti mendapati keberuntungan yaitu ketika  menapaki rumah pasien ibundanya yang berlatar gedong, halamannya luas, ditumbuhi pepohonan asri, dan pulang dibekali buah tangan seperti Apel Amerika atau anggur, kadang juga kue lapis Surabaya yang sangat enak. 

Ada alasan lain yang membuat Astuti merasa senang yaitu ketika mendapat tugas belanja ke pasar. Kadang ke pasar Minggu kadang ke pasar Mester atau sekarang dikenal dengan pasar Jatinegara. Dua pasar tradisional yang kalau hujan identik dengan becek dan bau. Catatan yang harus dibeli di tangannya bisa berupa obat, bisa juga berupa kebutuhan rumah tangga lainnya. Namanya pasar selalu mempunyai daya tarik tersendiri. Bundanya selalu melebihkan uang yang untuk belanja. Jadi, ketika ada sisa dengan leluasa ia  membelanjakannya. Biasanya barang yang  ia beli berupa aksesoris, kaos kaki atau piranti lain yang sangat “feminim”.

Perlahan tapi pasti ia di didik untuk terjun langsung mengenal kehidupan. Berinteraksi dengan orang banyak, belajar memilih barang yang bagus, dan belajar menawar harga barang dengan cara yang sopan. Tentu saja semua itu dengan proses. Bundanya sering mengajak ia berbelanja sebelumnya. Oleh ibundanya ,ia ditunjukkan tempat langganan belanjanya serta di ajari kiat memilih barang yang bagus.

Sekarang ia menyadari bahwa ibundanya  mendidik Astuti dan adik-adiknya dengan tidak mudah. Tiap anak punya kenakalan yang berbeda. Astuti termasuk anak yang sukar diatur, bertindak semaunya sendiri, jika dinasehati justru semakin tidak taat. Sedang adiknya yang nomer dua, dia benar-benar anak Bunda, selalu menurut. Paling sesekali berkelahi dengan temannya. Itu pun tidak sampai menghebohkan seluruh keluarga. Lain lagi dengan adik laki-lakinya yang super istimewa, maklum laki-laki dia bergaul dengan siapa saja. Perilakunya yang menjengkelkan adalah ketika adiknya dan teman-temannya begadang. Dia menyelinap keluar kamar dan menutupi gulingnya dengan bantal, seakan dia sudah tertidur nyenyak. Padahal di luar sana adiknya mencuri mangga dan telur ayam milik tetangga mereka. 

Tentu saja peristiwa itu mencoreng nama baik Bundanya Astuti. Sejak itu ibundanya ekstra ketat mengawasi mereka. Adiknya ini selain avonturir dia juga suka travel yang aktivitasnya mendekati bahaya. Misal  nonton bola tidak beli tiket, cari tumpangan dengan menyetop truk di lampu merah, naik Kereta Jakarta Bogor tanpa karcis. Yang seru lagi ketika dia diturunkan di salah satu stasiun kereta api karena kedapatan tanpa tiket. Padahal kereta api yang ditumpangi adalah kereta api jurusan Surabaya –Jakarta. Jadi ketika teman- temannya sudah sampai Jakarta, adiknya belum tampak batang hidungnya. Tentu saja Bundanya panik tapi tidak bisa berbuat sesuatu, cukup menunggu kabar. Ternyata setelah diturunkan di salah satu stasiun, dia malah estafet naik Bus agar segera bisa sampai rumah.

Ibunda Astuti menyiapkan masa depan mereka dengan sungguh-sunguh, beliau rela berstatus istri muda,  hanya demi status dan nafkah batin dari Pak Atmaja. Tetapi  untuk urusan materi Bundanya tidak pernah mengganggu keuangan Pak Atmaja sekeluarga. Semua biaya hidup Astuti dan anak-anaknya  sepenuhnya  ibundanya yang mengurus. 

Sosok ayah tidak seratus persen Astuti dan adik-adiknya rasakan, hanya demi kehormatan dan sebuah status. Astuti tidak tahu apakah ini suatu komitmen yang dibuat oleh ibundanya, Pak Atmaja atau bu Atmaja. Jika Iya, bagaimana bisa semua ini dilakukan, berumahtangga dengan syarat yang tidak disyariatkan agama. Tidak ada keadilan di dalamnya. Yah mungkin hanya ibunda pada, Pak Atmaja, Bu Atmaja, dan Allah SWT saja yang tahu. 

Naluri seorang ibu sangatlah tajam. Sering kali Bundanya memergoki perbuatan buruk Astuti, entah itu membolos, mencuri uang di lacinya, atau berlaku tidak adil dengan adiknya. Bundanya mengamati tiap perilaku anaknya. Dari tiap perilaku dan kebiasaan anaknya dia beliau bisa mengarahkan langkah mereka. Astuti yang senang main sekolah-sekolahan dan bertindak jadi guru, sering mengatur teman teman sebayanya, diprediksi Bundanya akan menjadi guru. Bunda terobsesi agar Astuti pandai bahasa Inggris dan bisa sekolah ke luar negeri dan suatu saat mengajak jalan-jalan ibundanya keliling dunia.

Jaman dulu belum banyak orang memberi pelajaran kursus, Ibunda Astuti mendaftarkan ia untuk ikut kursus bahasa Inggris yang diikuti oleh murid SMA dan umum. Dengan susah payah, Astuti mengikuti kemauan ibundanya walau akhirnya tidak tuntas dalam belajar, karena ia merasa tidak nyaman dan tidak bersungguh-sungguh. Tekad Bundanya yang besar mengantar ia menjadi guru. Ibundanya  bersusah payah ke Solo dan antri membeli formulir pendaftaran untuknya. Astuti hanya tinggal mengisi dan mengikuti tes. Sampai akhirnya ia diterima di FKIP UNS jurusan Bahasa Inggris.

Sedang adik perempuannya yang punya kebiasaan mengisap jempol dan ngodos-odos bantal lalu diambil kapuknya dan ditempel-tempelkan ke hidungnya, diprediksi ibundanya akan menjadi dokter. Karena kapuk  identik dengan kapas untuk menyuntik pasien. Mungkin karena sugesti, Bundanya sangat yakin jika adiknya akan menjadi dokter. Dan Qadarullah memang akhirnya gelar dokter  berhasil di sandang adiknya Astuti dengan jerih payah keuangan yang 'ngos ngosan' dan berjuang sekuat tenaga untuk bisa  meraih gelar dokter. Bagi beliau, paling tidak, ada peningkatan dari anak seorang mantri  suntik menjadi seorang dokter.

Hal yang paling lucu adalah prediksi ibundanya tentang adik Astuti yang paling bobtot.  Kebiasaan adik laki lakinya ini, ketika tidur dia suka 'ngemot' nasi putih sekepal. Jadi, ritual tidurnya diawali dengan ngemut nasi segenggam yang disediakan Mbok Kem pengasuh kami. Bunda menebak bahwa kelak jagoannya akan menjadi pak Tani. Atau paling tidak bergerak di bidang pertanian. Nasi identik dengan Pak Tani. Alhamdulillah adik bungsu Astuti lulus dari fakultas pertanian, lalu sibuk di LSM yang memberi pembelajaran pada para petani. Dan berjodoh pun dengan teman kuliahnya yang  bergelut di bidang pertanian juga.

Sampai akhirnya Astuti menyakini bahwa kebesaran  Allah itu sesuai dengan apa yang kita sangkakan. Begitu  besar kasih sayangNya. Ibundanya  telah mengarahkan mereka untuk menjadi insan yang bisa mengembangkan diri dan tidak canggung terjun dalam kehidupan yang nyata.

Seumpama waktu adalah kancing yang melekatkan harapan, maka bias elegi menempel sebagai temaram yang berhias pada keindahan. Pula langkah adalah jarak tanpa jengkal yang dapat memindahkan harapan pada suatu kenyataan.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantara mu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (ar-Rum:21)

Sabtu, 15 Oktober 2022

Kata Pengantar Puisi Akrostik

"Di hadapan Tuhan, pendek kata, segala yang merupakan tujuan kita adalah nama kita yang sebenarnya." Jalaludin Rumi.

Bersebab sebuah kehidupan merotasi antar purnama dan mentari. Melahirkan sebuah warna menggores kata, ada makna yang perlu dipertegas sebagai sebuah sebutan berupa Nama. 

Nama adalah  kepantasan sebagai pengiring doa untuk Sang Pencipta. Nama adalah saduran yang menyublim jiwa dan raga, yang ketika ia merapat dengan bumi sebuah nama melangit sebagai kenangan. 

Setiap cerita, kejadian, gagasan, mimpi dan pencapaian adalah sinyal dari Sang Pencipta. Seluruh perkara di dunia sudah tergaris menjadi sebab akibat, seperti sebuah nama yang menjadi nyawa atas laku para pemiliknya. Dalam doa kita haturkan sebuah nama, karena nama melukiskan sajak makna.

Namun bagaimana jika sebuah nama menjadi lebih klasik dan enerjik? Tentu akan menjadi pemandangan yang begitu mendelik. 

Dalam buku puisi Akrostik bertema Nama dan Harapan ini, para penulis se-nusantara merupa nama menjadi lebih klasik dan unik. Sebuah nama yang kemudian dijabarkan sebagai rangkaian  harapan, tindakan, dan perbuatan tersusun menjadi romantika kata yang begitu epik. 

Buku ini amat cocok menjadi saduran untuk sebuah nama agar bermakna lebih menarik. Ritme kata yang tersusun dengan unik menyibak makna amat klasik. 

Saya merasa bangga bisa menarikan tinta dalam kumpulan puisi Akrostik ini, dimana sebuah nama bisa menjadi seumpama yang amat luarbiasa, penuh makna dan menarik untuk dibaca. 

Buku ini begitu unik, siapapun pantas tertarik, ditulis dengan epik oleh para penulis yang bertangan magic. Dari mereka kita mampu belajar berpuisi akrostik. 

'Maydearly'

Lebak, 15 Oktober 2022



Minggu, 25 September 2022

Sahabat Online

"Selemah-lemah manusia ialah orang yang tak mau mencari sahabat dan orang yang lebih lemah dari itu ialah orang yang menyia-nyiakan sahabat yang telah dicari." Ali Bin Abi Thalib

Tentang September 2021, kuasku terjebak dalam  cerita penuh makna. Ruang maya mempertemukan kita dalam sebuah rajutan aksara. Sebuah pesan masuk tanpa basa-basi menggiring perhatianku pada layar untuk terus berguman dan berbalas pesan.

"Assalamualaikum Bunda, Perkenalkan Ini Widya, saya mau ikut Antologi cerita Faksi. Boleh gak tentang mengajar di Sekolah?" Tanya Buk Wid penuh harap.

"Boleh, Bunda!" Jawabku dengan emot senyum.

"Baiklah Bunda, akan saya kirim lewat email ya, sampun" balas nya dengan ramah.

"Siap Bunda!" Jawabku dengan emot penuh cinta.

Hari berjalan menjadi berminggu, minggu berlari menuju berbulan, sebuah waktu terus berotasi dalam ruang virtual. Entah, sinyal apa yang membawa ia kepadaku. Bahkan ketika udara bertiup bak jelmaan pesan dari Buk Wied.

Dari balik dinding hatiku yang dingin, aku tetap menasbihkan egoku untuk bersikap biasa saja, aku tak peduli tentang dini hari yang menegggelamkan pijar bintang sang malam. Bagiku, semua normal saja.

Acap kali ia mendekati, acap kali aku mengabaikan. Padahal mimpinya hanya sederhana, cukup dengan menjadi sahabat atas setiap momen di linimasanya. Namun, hatiku tetap angkuh memamerkan penolakan bak senja menolak malam dalam derai hujan penuh nestapa.

Aku masih ingat ribuan alasan yang ku lontarkan begitu lantang. Berkelit atas padatnya sebuah kesibukan. Eloknya, jiwanya tak pernah gentar meski perasaannya tercincang tapi laku nya begitu anggun dalam balutan kesabaran.

Sang waktu semakin bersaksi ada beberapa kecewa  yang ia sandingkan dalam nanar. Lantas ia pun eja dalam bait panjang pesan maya. Hari itu aku meminta maaf, bahwa melupakannya aku belum bisa, dan hatiku masih saja mengeja namanya sebagai rasa hilafku.

Semangkuk harapan kemudian aku tawarkan sebagai sebuah pembelaan atas egoku yang rindang. Berusaha dengan keras memperbaiki laku nan arogan. Hingga akhirnya aku ingin berdamai dengan keadaan. Entahlah, untuk apa aku hindari toh bersahabat maya juga disertakan sebuah rasa asam manis  rujak bumbu, kopi hitam kupu-kupu. Marah dalam diam sesal penuh rindu. Jelas yang kujadikan sahabat adalah manusia bukan sebuah Hp yang tersenyum dalam emoji.

Aku melamun dalam temaram, sedemikian aku mengabaikannya sekuat ia mengejarku bak mengejar mentari yang selalu senyum dalam pagi. Akhirnya, aku siapkan lencana hati untuk ku jadikan sebuah rumah tempat sahabat online ku berkeluh kesah. Agar ia bisa bernafas dal pori-pori kedamaian. Dengan keras kujadikan jiwa ini sebagai tempat berlari dari letihnya senja saat berpulang.

Semakin lekat kita bersua dalam maya, harusnya semakin dekat kita menyusun singgasana yang utuh. Namun gemuruh sesekali berteriak di atas kenyataan bahwa kita terkadang saling ego. Bertengkar atas pesan yang terlampau diratapi, menumbuk beriringan dengan letupan emosi. Memenggal jarak bak bumi dan angkasa, padahal jarak kita hanya terhitung jari, semudah klik dan emoji.

Kenapa kerap kali kita perbincangkan sebagai alasan atas pertikaian yang tak sefaham. Keadaan kita memang sehat, tapi terkadang jiwa kita dibuat sekarat. Pada akhirnya kita saling mematahkan, hingga debar yang dirasa mengganggu tidurku. Sampai hatiku bergumam, 'aku tak suka pertengkatan ini'.

Hingga ahkirnya aku tersadar bahwa daun-daun yang jatuh di atap rumah pun adalah ia yang berkorban demi jiwa yang lain. Tentangmu bagaikan obat Paracetamol, pahit namun mampu menjadi analgetik. Hadirmu mendewasakan, menggiring lara agar tetap tegar melangkah yang akhirnya menjelma menjadi sebuah kekuatan dalam nurani. Nampak keindahan yang kemilau melebihi kemilau bintang di angkasa. Keiklasanmu menyanyangiku membawa teduh yang berpendar menaungi deretan jiwaku yang gersang.

Setiap bait percakapan yang kita bincangkan, akan menguat dalam labirin ingatan, menjadi elok dan utuh bernaung dalam tema  persahabatan. Selamanya aku akan mengenangmu sebagai bunyi keindahan. Kan ku katakan pada udara agar bterbentuk pusaran abadi di rotasi bumi, membawa pusara rindu yang terus kita syukuri. Aku menyerumu dalam maya, merupa wajah dalam doa dan bismillah. Dengan cinta engkau mengubahku. Karena cinta selalu bisa mengubah apa yang selama ini sulit dirubah.

Sementara cinta dan angkuh pernah berpesta pora, akhirnya aku tenggelam dalam dekapan hangat persahabatan. Terimakasih selalu menjagaku dalam doa, dibandingkan dengan cintamu bahkan semesta pun nampak kerdil di pelupuku. Tak ada yang bisa kupersembahkan di hari jadimu selain doa dan cinta yang tulus dari nadiku.

I Love You to the Moon and Back

Maydearly

 


Kamis, 02 Juni 2022

Dear Sahabat Online ku

 Dear Sahabat Onlineku 

Maafkan aku terlampau Jauh membawamu pada samudera cerita hidupku 

Mula nya perasaanku biasa saja, namun seiring waktu berlalu rasa itu nampak seperti cuaca yang bergantian. Kadang dingin, kadang panas, dan acap kali tawar.

Rentetan detik kemudian perlahan membawa kita pada kumpulan kisah ini. Hingga hati ini  merasa jika engkau seperti pagi, bepijar bak mentari yang mengepakan sayap semangat. 

Hati ini lantas  terisi. Seperti rindu yang pergi menuju muaranya. Kau seperti menopang kekosongan di sisi kalbuku. Rasa kosong dari luka yang bersebab kekecewaan.

Kepada bumi yang berotasi dan langit yang mengibarkan udara, aku hanya ingin katakan terimakasih kau telah mewarnai temani hari dalam lika liku.

Aku hanya ingin katakan padamu, aku sedang berada di tengah keriangan elegi yang memaksa nafasku menjadi sesak. 

Ada yang selalu ku ingat, tentang petuah mu jika hidup harus sepantas nya berjalan. Hidup untuk menyapa, berbagi, dan ramah pada siapa saja bahkan pada mereka yang memenuhi batin ini begitu sesak.

Entah mengapa ragaku kerap patah hati. Melebihi senja yang melarungkan malam dalam pekat, hingga aku tersungkur dalam nanar jika kesedihan memang harus dicukupkan. 

Hidup itu pertunjukan seni yang menggairahkan, memanjakan mata dalam pandangan memijat logika dengan kekar sampai kita tau cara menerjemahkan luka.

Dear Sahabat Online ku 

Aku mencoba menyelesaikan semua gelisah agar bangkit dari sesak yang bertubi. 

Maafkan aku atas segala Khilaf yang ku perbuat,  kegelisahan ku mengapung melebihi urat dewasaku. Aku sudah menangis dalam pori pori udara yang bisu. Dan kini aku ingin tertawa meski sebentar saja.

Semoga kau adalah mentari yang selalu datang dengan 'selamat pagi' yang mengingatku saat kesedihan datang. Dan tetap tinggal saat senyumku kembali terang.












Sabtu, 05 Februari 2022

Bionarasi

 



Maesaroh, M.Pd adalah seorang penulis berdarah Banten yang lahir di Lebak 32 Tahun yang lalu. Ia adalah seorang penulis yang dijuluki "Queen of Diction" di Komunitas Menulis PGRI Tingkat Nasional karena kepiawaiannya dalam meramu diksi-diksi yang unik. Ia dikenal dengan nama pena Maydearly dan nama panggung Blogger Milenial.

Ia memulai karir sebagai seorang penulis, tepatnya pada bulan Maret 2021, berawal dari posisi sebagai seorang peserta di Komunitas Belajar Menulis PGRI tingkat Nasional yang dengan kegigihannya ia mampu melahirkan sebuah buku Solo yang berjudul "Trik Jitu Menjadi Penulis Milenial" hanya dalam kurun waktu 2 hari. 



Kecekatannya dalam menulis menyorot perhatian Tim di  Komunitas Belajar  Menulis, sehingga setelah berhasil melaauncingkan buku solo, ia kemudian diangkat menjadi Narasumber diberbagai kelas pelatihan menulis. Pengalaman menjadi narasumber tingkat nasional meliputi:

1. Narasumber di Kelas Menulis Gelombang 19, 20, 21, 22, 23, 24

2. Narasumber di Kelas Guru Motivator Literasi Digital

3. Narasumber di Kelas Writing is My Passion

4. Narasumber di Kelas Webinar PPPK

Beberapa karya kemudian ia lahirkan diantaranya 10 buah buku antologi serta buku solo kedua yang berjudul "Episode 1 Januari 2020 dalam Kenangan" sebuah buku laris manis yang terjual 50 pcs dalam 2 hari. 



Kini, ia diangkat menjadi seorang kurator, dan editor buku antologi di Penerbit Indie Oase Pustaka yang terletak di Sukoarjo Jawa Tengah. Hingga kini penulis masih aktif menjadi kurator dan editor beberapa buku Antologi. 

Sebuah pencapaiannya dalam menulis mengantarkannya pada juara tervaforit lomba blog Tingkat Nasional pada Oktober 2021. 

Rincian Buku yang dibuat Penulis:

1. 10 Buku Antologi 

2. 2 Buku Kurator Jejak Pena Pengembara Aksara, dan Kisah Para Pendaki Mimpi

5. Buku Duo Litersi Digital untuk Abad 21 bersama Prof. Eko Indrajit

6. Buku Solo Trik Jitu Menjadi Penulis Milenial

7. Buku Solo Episode 1 Januari 2020 dalam Kenangan

8. Buku Solo Catatan Inspiratif

Pengalaman Mengajar :

1. Guru di SD Kristen Mardi Utomo (2009-2010)

2. Guru di SMPN 2 Lebakgedong (2009 - 2014)

3. Guru di SDN 2 Ciladaeun (2010 - 2012)

4. Guru di SMKN 1 Lebakgedong (2015 - 2017)

5. Guru di SMPN 1 Lebakgedong (2011 - Sekarang)


Pengalaman Narasumber :

1. Narasumber Webinar Assesment of Product and Project for US di MGMP Wilbi 3 Kab. Lebak

2. Teacher Training and Consultancy di ProNative (Maret 2021)

3. Narasumber Kelas Menulis PGRI 

4. Narasumber Kelas Menulis WIMP MPA

5. Narasumber Kelas Guru Motivator Literasi Digital (GMLD)

Pengalaman Organisasi :

1. Ketua ELOS di STKIP Setiabudhi (2010 - 2012)

2. Pengurus MGMP Bahasa Inggris WILBI 3 di Bidang Pengembangan dan Inovasi (2017- Sekarang)

3. Pembina OSIS SMPN 1 Lebakgedong (2017-2021)

4. Kepala Pustakawan SMPN 1 Lebakgedong (2021)

5. Pembina LKIR SMPN 1 Lebakgedong (2021)

6. Ketua Pelatihan Menulis PGRI Gelombang 18 (2021)

7. Admin Grup Pelatihan Menulis Gel. 18,19,20,21,22.

8. Admin Grup Pelatihan Menulis WIMP MPA Angkatan 1

9. Admin Tim Solid Omjay Pelatihan Menulis

10. Founder Kelas Menulis Remaja Berkarya (Gelar Tikar/Tinta Karya) 

11. Founder Kelas Menulis Pucuk Diksi


Motto dalam hidupnya:  "Menulislah untuk hidup seribu tahun"

Personal Branding : Sang Blogger Milenial

Nama Pena : Maydearly

Instagram : Maydearly89

Facebook : Mamah Agam

Email : maydearly@gmail.com.

Situs blog : maydearly.blogspot.com

Sabtu, 22 Januari 2022

Mengarungi Cerita Sang Takdir

 

"Hidup dan mati ada dalam genggaman Illahi. Takdir adalah kepastian, tapi hidup harus tetap berjalan. Proses kehidupan adalah hakikat, sementara hasil akhir hanyalah syariat. Gusti Allah akan menilai ketulusan perjuangan manusia, bukan hasil akhirnya. Kalaupun harus menjumpai kematian, itu artinya mati syahid di jalan Tuhan". Diponegoro (Pahlawan Nasional)

Hidup adalah sebuah perjalanan yang butuh spasi. Ada yang bertahan karena keharusan, tuntutan, dan cita-cita. Bagiku cita-cita bukanlah sebuah takdir, tetapi penunjuk arah menuju kesuksesan. Jalani dengan menabur kebaikan maka kita akan menuai takdir yang baik.

Cita-cita itu lahir dari potongan mimpi yang menyerap pada ruang kehidupan. Kita  hanya perlu menapaki irama yang sudah Tuhan susun dengan panduan melodi nan indah. Terkadang kita terlalu mengejar asa yang terlampau jauh tanpa tau jika bumi sudah menyuguhkan segala kebaikan dari yang teramat dekat. Apa yang teramat dekat itu? adalah Tuhan atas segala kebaikan-Nya.

Aku pernah ada pada titik merayu takdir, namun semakin ku rayu aku semakin terjatuh pada sumbu paling gelap. Ketika Dillan berkata jika 'Rindu itu berat' maka  bagiku yang amat berat adalah 'merayu takdir'.

Mengawali narasi ini, kuingin membawa kisahku pada atmosfer masa lalu. Berkelana mencari asa menyusuri jejak jati diri sebagai seorang mahasiswa, hingga pada masa itu tepatnya tahun 2009, sang takdir membawaku pada dimensi belajar menjadi seorang guru di  sebuah sekolah SD Kristen di pusat kabupaten di daerahku.

Menjadi seorang guru yang mengajar para siswa dengan beda keyakinan, menjadikanku seorang pribadi yang menguasai oase adaptasi. Enam bulan berselang, batin ini semakin lekat dengan mereka. Aku merasa sebagai pemilik takdir yang sempurna, mengajari mereka yang berbeda keyakinan menjadikanku lebih  tau cara menghargai budaya dan toleransi. Kedekatan diantara kami seakan menepis jarak jika aku dan para anak didiku tak seperti guru dan siswa melainkan seperti kakak dan adik.

Jalan hidup memang selalu misterius. Terkadang aku ingin menjadi penulis untuk narasi hidupku sendiri, namun Tuhan lah sang penguasa alur terbaik dalam hidup kita. Dalam hidup ini, kita tak melulu harus mempertahankan apa yang tak seharusnya menjadi milik kita. Kebersamaan yang indah tak selalu berbuah manis. Seperti kebersamaanku dengan anak didikku yang sampai pada episode 'memetik perpisahan’.

Babak perpisahan itu dimulai, ketika sang kepala sekolah memanggilku untuk menuju ruangannya. Kami berbicara serius penuh makna, yang sampai pada sebuah kesimpulan 'Jika ingin tetap mengajar, maka jangan berkerudung'. Ini tentu bukan sekedar perintah, melainkan memaki harga diri. Aku takan menggadaikan agamaku hanya demi sebuah jabatan atau pekerjaan.

Percakapan serius itu, hanya berlangsung lima menit. Tak perlu berpikir panjang, aku memberikan jawaban yang paling tegas terhadap kepala sekolah, sebuah jawaban  paling terhormat dengan pernyataan 'mengundurkan diri'. Sejak itu, terputuslah ikatanku dengan mereka. Dengan lembaga, dengan siswa dan dengan seluruh rekan yang pernah membersamaiku.

Ini bukan lagi tentang profesionalisme, tetapi menjaga akidah dan kehormatan agama. Bukan salah mereka, tetapi aku terlalu semangat dalam merayu takdir. Seharusnya sedari awal aku sudah tau dengan konsekuensinya, tetapi aku berusaha menepis hingga kecewa pada akhirnya.

Rasa kecewa  itu, ku bawa lari ke kampung halaman. Batinku koyak bak menerbangkan kepakan mimpi yang berserak di udara. Beranda kalbu mengajaku untuk menyepi dari keramaian dan berserah pada Illahi.

Hingga sampai pada binar waktu, sang takdir mengutus seseorang menuju rumahku. Ia adalah teman ibuku yang datang bertamu. Seorang tamu yang merupakan guru  SMP pelosok di kecamatanku. Ia datang dengan memberi kabar terbaik yaitu meminangku menjadi guru Bahasa Inggris di sekolahnya.

Di saat itu aku seakan mengintip bintang-bintang yang bersembunyi siap mengawal langkahku menuju kehidupan baru. Menjadi seorang guru bahasa Inggris di sekolah satu atap membuatku belajar banyak hal. Belajar mengorbitkan mimpi yang dalam karena setiap mimpi adalah tujuan. Dua tahun berselang, tepatnya di 2011, sang takdir membawaku pada impian lainnya, yaitu mengajar di Sekolah SMP Negeri 1 Lebakgedong, sebuah sekolah yang sedari dulu aku impikan.

Rasa percaya diriku semakin meninggi, menjadi guru di dua sekolah negeri, melucuti relungku untuk menggoreskan tinta terbaik pada kanvas kehidupanku.

Sang waktu semakin menarik pelatuknya mengitari bulan dan tahun, hingga tak terasa pengabdianku menjadi guru honorer melebihi satu windu, ya tepatnya 12 Tahun. Selama perjalanan itu, banyak cakrawala yang kulalui, di awali dengan mengajar sedari belia, hingga punya anak dua. Di awali dari mahasiswa sarjana, sampai lulus menjadi mahasiswa S2.

Durasi waktu yang kurasa teramat panjang, pernah kupergunakan untuk mengikuti seleksi Tes CPNS ketika 2015 dan 2017, namun sang waktu tak berpihak, ia memaksaku untuk terus terjerambab pada lingkaran sekolahku yaitu SMPN 1 Lebakgedong.

Sang dewi fortuna itu kemudian datang dengan membawa angin segar, tepatnya di awal tahun 2021 Pemerintah mengadakan rekrutmen ASN dengan jalur PPPK. Kesempatan yang sedikit membuatku dilema, di satu sisi lowongan menjadi dosen di Universitas Pakuan Bogor sudah melambai-lambai di depan mata, di lain sisi kesempatan ASN PPPK belum tentu datang dua kali.

Dengan mengucap ‘Bismillah’ akhirnya kumantapkan pilihan dengan mengambil jalur ASN PPPK. Tahap demi tahap kulewati dengan nuansa syukur. Karena dengan mengucap rasa syukur akan memperlambat ketinggian hati dari rasa kufur.

Hingga garis waktu merangkak maju, sampai di tepian pada hari pelaksanaan tes itu.  Riak hujan yang bersenandung mengiringi langkahku menuju tempat tes itu, tak mampu mengalahkan semangatku yang begitu mengembara. Lantunan doa  tiada henti diantara garis bibirku, berharap agar hujan reda dan tes hari itu berjalan dengan lancar.

Simpony keadaan berkata lain, tempat yang akan dijadikan tes PPPK tersebut ternyata terendam banjir. Semangat yang mulanya mengapi tetiba dipatahkan oleh keadaan. Hingga aku harus batal mengikuti ujian pada hari itu, tepatnya hari selasa 14 September 2021.

 


Jadwal tes pun terpaksa harus mundur di tiga hari berikutnya, tepatnya hari sabtu, 18 September 2021. Serangkaian episode itu dimulai, badanku yang panas mengigil merasakan lecutan rasa sakit dari infeksi di bagian dada, membuat kensentrasiku sedikit buyar dalam mengerjakan soal tes.

Hitungan detik bergelantung di pojok monitorku, hingga 2 jam berlalu dan tersisa 10 menit dari sekian soal yang ku kerjakan, aku putuskan untuk mengahiri. Apapun  hasilnya kupercayakan pada qadarullah nya sang Khalik.

Dalam hitungan minggu tepatnya enam minggu dari tes tersebut, babak baru itu di mulai. Sebuah hari yang mengubah butir kegundahan, menjadi kilauan bahagia yang bertaburan. Tepatnya hari Jum’at 29 Oktober 2021, kurang lebih satu bulan dari hari tes tersebut.  Hari yang tak akan aku lupakan sepanjang sejarah, terkenang sepanjang ingatan dan kuabadikan dalam narasi ini. Ya, itu adalah hari dimana aku menerima pengumuman kelulusan ASN PPPK.

Haru biru perjalananku 12 tahun menjadi guru honorer seperti terbayar dengan sebuah kebahagiaan yang luarbiasa. Rasa bangga itu tersemat dalam hatiku, dimana aku bisa lolos seleksi dengan melewati passing grade dan tanpa afirmasi apapun, suatu keberhasilan yang tak didapatkan semua orang. 

Yakinlah dengan sebuah usaha, hasil yang kita dapatkan adalah cerminan yang kita kerjakan. Namun yang paling besar dari itu semua adalah cara Tuhan dalam menguji kita. Mendaki cita-cita bukanlah melompat melewati samudra, tapi berjalan setapak demi setapak menuju puncak.

Rabu, 27 Oktober 2021

Berkelana dalam Tulisan

 

“Penulis perjalanan berkelana ke tempat-tempat yang jarang terjamah, melukis nuansa dalam tulisan” Agustinus Wibowo

Mengepakan sayap-sayap kata bak berdiri di bawah lengkungan pelangi. Siluet warna Mejikuhibiniu seakan menerbangkan asa jika setiap manusia mampu berkelana menuju sudut dunia. Pula, yang paling ku sukai dari pelangi adalah jingga yang mampu memendarkan cahaya terang menuju senja gulita.

Aku ingin memulai narasi ini dari sang senja. Setiap senja memberiku ruang untuk menggerakan pena, melangitkan sebuah tulisan, membingkai cerita tentang sajak kehidupan. Dari aku si fakir ilmu yang tertatih membangun nama lewat sebuah tulisan, banyak yang ingin ku beritahu jika hidupku terlalu biasa untuk dinarasikan. Namun, sebuah pena membawaku berkelana pada beberapa sudut Negeri.  

Dulu, aku tumbuh sebagai sorang gadis yang hobi menulis diary, menulis surat, dan membaca novel. Setiap surat balasan dari sang pacar, ku baca berulang hingga hafal betul semua kata dan ejaannya. Naik satu level menjadi seorang mahasiswa, membawa penaku pada dunia karya ilmiah. Aku pun terus menulis, menulis, dan menulis.

Kemudian, ruang waktu menarikku pada sebuah pelatihan kelas menulis asuhan Omjay. Kelas pelatihan itu, benar-benar membidik penaku untuk lebih tangkas dalam mengurai cerita, lebih cerdas dalam merangkai kata. Wadah pelatihan tersebut benar-benar mengajariku from Zero to Expert. Hingga aku benar-benar terlampau percaya diri dalam menciptakan sebuah tulisan. Rasa bangga bertumpuk pada sudut hati, sebuah karya pertama terlahir memberikan penegasan menuju suatu titik bernama Sang Penulis.

Aku terus belajar menulis notasi nada, merangkai kata demi kata hingga ia terukir berdesakan. Mencipta sebuah riak cerita untuk ku sampaikan pada pembaca. Bermula dari melambungkan tulisan lewat sebuah blog,  kemudian ia mengembara menjadi sebuah jejak pena dalam sebuah properti berupa buku. Buku pertama “Trik Jitu Menjadi Penulis Milenial” membuka ruang baru dalam hidupku, memberikan jejak nama jika aku pernah hidup dalam pusaran waktu.



Tulisan demi tulisan membawaku pada sebuah panggung kehormatan. Panggung seorang narasumber, pula panggung seorang penulis. Hal itu bukan cita-citaku, sedari dulu menjadi penulis bukan gerbang tujuan dari hidupku. Tapi sebuah takdir menjemputku menuju puncak yang elegan.

Rasa tak percaya sedikit mengusik beranda hati, menciptakan sebuah rasa ragu antara bermimpi atau tidak. Ternyata sebuah kenyataan membangunkanku dari alam mimpi. Bukan ilusi atau hayalan, aku terbang terlampau jauh menyebrangi Sabang hingga Merauke, lewat sebuah tulisan yang dikemas dalam buku.

Suka dan duka kemudian datang, menjadi seseorang yang dipandang hebat oleh orang lain, terkadang membuat hati ini begitu lemah, kecil perasaan dan bahkan kadang-kadang hilang kepercayaan diri. Aku lebih terbiasa menumpuk sesak duri kehidupan, daripada hidup melambung tinggi dengan segudang tuntutan. Namun, sang waktu terus memberiku hadiah demi hadiah agar berani untuk hidup atas segala tantangan.

Satu hal yang harus dikuatkan jika selama hidup kita hanya belajar di Univrsitas Kehidupan, dengan sebuah izazah berupa Batu Nisan. Maka perlu kita kaji diri untuk terus memperbaiki segala hal.  “Jika semakin meninggi maka merendahlah serendahnya, karena sumbu paling dalam dari bumi adalah intan dan berlian, berkilau nan elegan” Maydearly.

Akhirnya, dengan keinginan untuk terus maju, maka sederet lara tak menjadi halangan untuk terus menciptakan sebuah karya. Sang waktu pernah membawaku pada ruang dilema. Ghiroh sebagai seorang istri, sebagai seorang ibu, dan sebagai seorang anak yang harus mengurus orangtuanya yang sedang sakit, tak membuatku surut untuk terus menulis. Pola atur waktu yang baik, mengantarku sampai ke puncak. Yaitu sebuah puncak karya yang berjudul “Episode 1 Januari 2020 dalam Kenangan”. Sebuah buku yang kutulis selama 20 hari sembari merawat orangtua.



Buku tersebut merupakan buku yang paling berkesan, karena ia benar-benar membawaku berkelana menuju Sabang hingga Merauke. Penjualan yang begitu laku keras, terjual 40 buku dalam 2 hari dengan track terbang; Aceh, Muara Sijunjung, Samarinda, Jogjakarta, Surabaya, Sukambumi, Karawang, Jakarta, Kalsel, Banten, dan sekitarnya. Ada haru yang begitu lekat. Buku itu adalah hadiah dari kesabaran dalam mengurus keluarga.

Yang paling sulit dalam menerbitkan buku, adalah menjaga komitmen untuk terus menulis. konsistensi yang dangkal terkadang mengubur kemauan untuk terus maju mengepakan sayap. Yakinlah, setiap tulisan akan menemukan pembacanya seperti istilah tak ada pembeli jika tak ada penjual. Tak perlu berambisi untuk menjadi siapa, yang harus ditanamkan adalah terus memupuk keinginan untuk terus menulis. Make sure writing as your passion karena menulis adalah menciptakan taman pengetahuan. Memberi kenangan untuk dihadiahkan pada generasi berikutnya.

Memperbaiki kualitas diri adalah dengan menulis, mengaktualisasi pengetahuan harus dengan menulis. menulislah sebagai harga mati. Sampai ia berkelana hingga ujung dunia. Sebagaimana hadis shahih menjelaskan jika menulis merupakan bagian dari mengamalkan ilmu.

اذاسمعت شيئا فاكتبه ولو فى الحائط

“Apabila engkau mendengar sesuatu (dari ilmu) maka tulislah walaupun di atas tembok.” (HR. Abu Khaitsamah dalam Al-Ilmu no.146)

Menulislah seperti embun yang ketika jatuh ke bumi membawa pengetahuan, dan ketika melangit ke Arsy menjadi keabadian.

 

Lebak, 27 Oktober 2021

Maydearly

Kata Pengantar Buku Tarian Aksara Penuh Makna

Dahulu aku sering bertanya sendiri; kalau puisi itu berwujud, akan seperti apakah dia? Matahari? Bulan? Bintang? Gunung? Laut? Bertahun lalu...