Kamis, 02 Juni 2022

Dear Sahabat Online ku

 Dear Sahabat Onlineku 

Maafkan aku terlampau Jauh membawamu pada samudera cerita hidupku 

Mula nya perasaanku biasa saja, namun seiring waktu berlalu rasa itu nampak seperti cuaca yang bergantian. Kadang dingin, kadang panas, dan acap kali tawar.

Rentetan detik kemudian perlahan membawa kita pada kumpulan kisah ini. Hingga hati ini  merasa jika engkau seperti pagi, bepijar bak mentari yang mengepakan sayap semangat. 

Hati ini lantas  terisi. Seperti rindu yang pergi menuju muaranya. Kau seperti menopang kekosongan di sisi kalbuku. Rasa kosong dari luka yang bersebab kekecewaan.

Kepada bumi yang berotasi dan langit yang mengibarkan udara, aku hanya ingin katakan terimakasih kau telah mewarnai temani hari dalam lika liku.

Aku hanya ingin katakan padamu, aku sedang berada di tengah keriangan elegi yang memaksa nafasku menjadi sesak. 

Ada yang selalu ku ingat, tentang petuah mu jika hidup harus sepantas nya berjalan. Hidup untuk menyapa, berbagi, dan ramah pada siapa saja bahkan pada mereka yang memenuhi batin ini begitu sesak.

Entah mengapa ragaku kerap patah hati. Melebihi senja yang melarungkan malam dalam pekat, hingga aku tersungkur dalam nanar jika kesedihan memang harus dicukupkan. 

Hidup itu pertunjukan seni yang menggairahkan, memanjakan mata dalam pandangan memijat logika dengan kekar sampai kita tau cara menerjemahkan luka.

Dear Sahabat Online ku 

Aku mencoba menyelesaikan semua gelisah agar bangkit dari sesak yang bertubi. 

Maafkan aku atas segala Khilaf yang ku perbuat,  kegelisahan ku mengapung melebihi urat dewasaku. Aku sudah menangis dalam pori pori udara yang bisu. Dan kini aku ingin tertawa meski sebentar saja.

Semoga kau adalah mentari yang selalu datang dengan 'selamat pagi' yang mengingatku saat kesedihan datang. Dan tetap tinggal saat senyumku kembali terang.












Sabtu, 05 Februari 2022

Bionarasi

 



Maesaroh, M.Pd adalah seorang penulis berdarah Banten yang lahir di Lebak 32 Tahun yang lalu. Ia adalah seorang penulis yang dijuluki "Queen of Diction" di Komunitas Menulis PGRI Tingkat Nasional karena kepiawaiannya dalam meramu diksi-diksi yang unik. Ia dikenal dengan nama pena Maydearly dan nama panggung Blogger Milenial.

Ia memulai karir sebagai seorang penulis, tepatnya pada bulan Maret 2021, berawal dari posisi sebagai seorang peserta di Komunitas Belajar Menulis PGRI tingkat Nasional yang dengan kegigihannya ia mampu melahirkan sebuah buku Solo yang berjudul "Trik Jitu Menjadi Penulis Milenial" hanya dalam kurun waktu 2 hari. 



Kecekatannya dalam menulis menyorot perhatian Tim di  Komunitas Belajar  Menulis, sehingga setelah berhasil melaauncingkan buku solo, ia kemudian diangkat menjadi Narasumber diberbagai kelas pelatihan menulis. Pengalaman menjadi narasumber tingkat nasional meliputi:

1. Narasumber di Kelas Menulis Gelombang 19, 20, 21, 22, 23, 24

2. Narasumber di Kelas Guru Motivator Literasi Digital

3. Narasumber di Kelas Writing is My Passion

4. Narasumber di Kelas Webinar PPPK

Beberapa karya kemudian ia lahirkan diantaranya 10 buah buku antologi serta buku solo kedua yang berjudul "Episode 1 Januari 2020 dalam Kenangan" sebuah buku laris manis yang terjual 50 pcs dalam 2 hari. 



Kini, ia diangkat menjadi seorang kurator, dan editor buku antologi di Penerbit Indie Oase Pustaka yang terletak di Sukoarjo Jawa Tengah. Hingga kini penulis masih aktif menjadi kurator dan editor beberapa buku Antologi. 

Sebuah pencapaiannya dalam menulis mengantarkannya pada juara tervaforit lomba blog Tingkat Nasional pada Oktober 2021. 

Rincian Buku yang dibuat Penulis:

1. 10 Buku Antologi 

2. 2 Buku Kurator Jejak Pena Pengembara Aksara, dan Kisah Para Pendaki Mimpi

5. Buku Duo Litersi Digital untuk Abad 21 bersama Prof. Eko Indrajit

6. Buku Solo Trik Jitu Menjadi Penulis Milenial

7. Buku Solo Episode 1 Januari 2020 dalam Kenangan

8. Buku Solo Catatan Inspiratif

Pengalaman Mengajar :

1. Guru di SD Kristen Mardi Utomo (2009-2010)

2. Guru di SMPN 2 Lebakgedong (2009 - 2014)

3. Guru di SDN 2 Ciladaeun (2010 - 2012)

4. Guru di SMKN 1 Lebakgedong (2015 - 2017)

5. Guru di SMPN 1 Lebakgedong (2011 - Sekarang)


Pengalaman Narasumber :

1. Narasumber Webinar Assesment of Product and Project for US di MGMP Wilbi 3 Kab. Lebak

2. Teacher Training and Consultancy di ProNative (Maret 2021)

3. Narasumber Kelas Menulis PGRI 

4. Narasumber Kelas Menulis WIMP MPA

5. Narasumber Kelas Guru Motivator Literasi Digital (GMLD)

Pengalaman Organisasi :

1. Ketua ELOS di STKIP Setiabudhi (2010 - 2012)

2. Pengurus MGMP Bahasa Inggris WILBI 3 di Bidang Pengembangan dan Inovasi (2017- Sekarang)

3. Pembina OSIS SMPN 1 Lebakgedong (2017-2021)

4. Kepala Pustakawan SMPN 1 Lebakgedong (2021)

5. Pembina LKIR SMPN 1 Lebakgedong (2021)

6. Ketua Pelatihan Menulis PGRI Gelombang 18 (2021)

7. Admin Grup Pelatihan Menulis Gel. 18,19,20,21,22.

8. Admin Grup Pelatihan Menulis WIMP MPA Angkatan 1

9. Admin Tim Solid Omjay Pelatihan Menulis

10. Founder Kelas Menulis Remaja Berkarya (Gelar Tikar/Tinta Karya) 

11. Founder Kelas Menulis Pucuk Diksi


Motto dalam hidupnya:  "Menulislah untuk hidup seribu tahun"

Personal Branding : Sang Blogger Milenial

Nama Pena : Maydearly

Instagram : Maydearly89

Facebook : Mamah Agam

Email : maydearly@gmail.com.

Situs blog : maydearly.blogspot.com

Sabtu, 22 Januari 2022

Mengarungi Cerita Sang Takdir

 

"Hidup dan mati ada dalam genggaman Illahi. Takdir adalah kepastian, tapi hidup harus tetap berjalan. Proses kehidupan adalah hakikat, sementara hasil akhir hanyalah syariat. Gusti Allah akan menilai ketulusan perjuangan manusia, bukan hasil akhirnya. Kalaupun harus menjumpai kematian, itu artinya mati syahid di jalan Tuhan". Diponegoro (Pahlawan Nasional)

Hidup adalah sebuah perjalanan yang butuh spasi. Ada yang bertahan karena keharusan, tuntutan, dan cita-cita. Bagiku cita-cita bukanlah sebuah takdir, tetapi penunjuk arah menuju kesuksesan. Jalani dengan menabur kebaikan maka kita akan menuai takdir yang baik.

Cita-cita itu lahir dari potongan mimpi yang menyerap pada ruang kehidupan. Kita  hanya perlu menapaki irama yang sudah Tuhan susun dengan panduan melodi nan indah. Terkadang kita terlalu mengejar asa yang terlampau jauh tanpa tau jika bumi sudah menyuguhkan segala kebaikan dari yang teramat dekat. Apa yang teramat dekat itu? adalah Tuhan atas segala kebaikan-Nya.

Aku pernah ada pada titik merayu takdir, namun semakin ku rayu aku semakin terjatuh pada sumbu paling gelap. Ketika Dillan berkata jika 'Rindu itu berat' maka  bagiku yang amat berat adalah 'merayu takdir'.

Mengawali narasi ini, kuingin membawa kisahku pada atmosfer masa lalu. Berkelana mencari asa menyusuri jejak jati diri sebagai seorang mahasiswa, hingga pada masa itu tepatnya tahun 2009, sang takdir membawaku pada dimensi belajar menjadi seorang guru di  sebuah sekolah SD Kristen di pusat kabupaten di daerahku.

Menjadi seorang guru yang mengajar para siswa dengan beda keyakinan, menjadikanku seorang pribadi yang menguasai oase adaptasi. Enam bulan berselang, batin ini semakin lekat dengan mereka. Aku merasa sebagai pemilik takdir yang sempurna, mengajari mereka yang berbeda keyakinan menjadikanku lebih  tau cara menghargai budaya dan toleransi. Kedekatan diantara kami seakan menepis jarak jika aku dan para anak didiku tak seperti guru dan siswa melainkan seperti kakak dan adik.

Jalan hidup memang selalu misterius. Terkadang aku ingin menjadi penulis untuk narasi hidupku sendiri, namun Tuhan lah sang penguasa alur terbaik dalam hidup kita. Dalam hidup ini, kita tak melulu harus mempertahankan apa yang tak seharusnya menjadi milik kita. Kebersamaan yang indah tak selalu berbuah manis. Seperti kebersamaanku dengan anak didikku yang sampai pada episode 'memetik perpisahan’.

Babak perpisahan itu dimulai, ketika sang kepala sekolah memanggilku untuk menuju ruangannya. Kami berbicara serius penuh makna, yang sampai pada sebuah kesimpulan 'Jika ingin tetap mengajar, maka jangan berkerudung'. Ini tentu bukan sekedar perintah, melainkan memaki harga diri. Aku takan menggadaikan agamaku hanya demi sebuah jabatan atau pekerjaan.

Percakapan serius itu, hanya berlangsung lima menit. Tak perlu berpikir panjang, aku memberikan jawaban yang paling tegas terhadap kepala sekolah, sebuah jawaban  paling terhormat dengan pernyataan 'mengundurkan diri'. Sejak itu, terputuslah ikatanku dengan mereka. Dengan lembaga, dengan siswa dan dengan seluruh rekan yang pernah membersamaiku.

Ini bukan lagi tentang profesionalisme, tetapi menjaga akidah dan kehormatan agama. Bukan salah mereka, tetapi aku terlalu semangat dalam merayu takdir. Seharusnya sedari awal aku sudah tau dengan konsekuensinya, tetapi aku berusaha menepis hingga kecewa pada akhirnya.

Rasa kecewa  itu, ku bawa lari ke kampung halaman. Batinku koyak bak menerbangkan kepakan mimpi yang berserak di udara. Beranda kalbu mengajaku untuk menyepi dari keramaian dan berserah pada Illahi.

Hingga sampai pada binar waktu, sang takdir mengutus seseorang menuju rumahku. Ia adalah teman ibuku yang datang bertamu. Seorang tamu yang merupakan guru  SMP pelosok di kecamatanku. Ia datang dengan memberi kabar terbaik yaitu meminangku menjadi guru Bahasa Inggris di sekolahnya.

Di saat itu aku seakan mengintip bintang-bintang yang bersembunyi siap mengawal langkahku menuju kehidupan baru. Menjadi seorang guru bahasa Inggris di sekolah satu atap membuatku belajar banyak hal. Belajar mengorbitkan mimpi yang dalam karena setiap mimpi adalah tujuan. Dua tahun berselang, tepatnya di 2011, sang takdir membawaku pada impian lainnya, yaitu mengajar di Sekolah SMP Negeri 1 Lebakgedong, sebuah sekolah yang sedari dulu aku impikan.

Rasa percaya diriku semakin meninggi, menjadi guru di dua sekolah negeri, melucuti relungku untuk menggoreskan tinta terbaik pada kanvas kehidupanku.

Sang waktu semakin menarik pelatuknya mengitari bulan dan tahun, hingga tak terasa pengabdianku menjadi guru honorer melebihi satu windu, ya tepatnya 12 Tahun. Selama perjalanan itu, banyak cakrawala yang kulalui, di awali dengan mengajar sedari belia, hingga punya anak dua. Di awali dari mahasiswa sarjana, sampai lulus menjadi mahasiswa S2.

Durasi waktu yang kurasa teramat panjang, pernah kupergunakan untuk mengikuti seleksi Tes CPNS ketika 2015 dan 2017, namun sang waktu tak berpihak, ia memaksaku untuk terus terjerambab pada lingkaran sekolahku yaitu SMPN 1 Lebakgedong.

Sang dewi fortuna itu kemudian datang dengan membawa angin segar, tepatnya di awal tahun 2021 Pemerintah mengadakan rekrutmen ASN dengan jalur PPPK. Kesempatan yang sedikit membuatku dilema, di satu sisi lowongan menjadi dosen di Universitas Pakuan Bogor sudah melambai-lambai di depan mata, di lain sisi kesempatan ASN PPPK belum tentu datang dua kali.

Dengan mengucap ‘Bismillah’ akhirnya kumantapkan pilihan dengan mengambil jalur ASN PPPK. Tahap demi tahap kulewati dengan nuansa syukur. Karena dengan mengucap rasa syukur akan memperlambat ketinggian hati dari rasa kufur.

Hingga garis waktu merangkak maju, sampai di tepian pada hari pelaksanaan tes itu.  Riak hujan yang bersenandung mengiringi langkahku menuju tempat tes itu, tak mampu mengalahkan semangatku yang begitu mengembara. Lantunan doa  tiada henti diantara garis bibirku, berharap agar hujan reda dan tes hari itu berjalan dengan lancar.

Simpony keadaan berkata lain, tempat yang akan dijadikan tes PPPK tersebut ternyata terendam banjir. Semangat yang mulanya mengapi tetiba dipatahkan oleh keadaan. Hingga aku harus batal mengikuti ujian pada hari itu, tepatnya hari selasa 14 September 2021.

 


Jadwal tes pun terpaksa harus mundur di tiga hari berikutnya, tepatnya hari sabtu, 18 September 2021. Serangkaian episode itu dimulai, badanku yang panas mengigil merasakan lecutan rasa sakit dari infeksi di bagian dada, membuat kensentrasiku sedikit buyar dalam mengerjakan soal tes.

Hitungan detik bergelantung di pojok monitorku, hingga 2 jam berlalu dan tersisa 10 menit dari sekian soal yang ku kerjakan, aku putuskan untuk mengahiri. Apapun  hasilnya kupercayakan pada qadarullah nya sang Khalik.

Dalam hitungan minggu tepatnya enam minggu dari tes tersebut, babak baru itu di mulai. Sebuah hari yang mengubah butir kegundahan, menjadi kilauan bahagia yang bertaburan. Tepatnya hari Jum’at 29 Oktober 2021, kurang lebih satu bulan dari hari tes tersebut.  Hari yang tak akan aku lupakan sepanjang sejarah, terkenang sepanjang ingatan dan kuabadikan dalam narasi ini. Ya, itu adalah hari dimana aku menerima pengumuman kelulusan ASN PPPK.

Haru biru perjalananku 12 tahun menjadi guru honorer seperti terbayar dengan sebuah kebahagiaan yang luarbiasa. Rasa bangga itu tersemat dalam hatiku, dimana aku bisa lolos seleksi dengan melewati passing grade dan tanpa afirmasi apapun, suatu keberhasilan yang tak didapatkan semua orang. 

Yakinlah dengan sebuah usaha, hasil yang kita dapatkan adalah cerminan yang kita kerjakan. Namun yang paling besar dari itu semua adalah cara Tuhan dalam menguji kita. Mendaki cita-cita bukanlah melompat melewati samudra, tapi berjalan setapak demi setapak menuju puncak.

Rabu, 27 Oktober 2021

Berkelana dalam Tulisan

 

“Penulis perjalanan berkelana ke tempat-tempat yang jarang terjamah, melukis nuansa dalam tulisan” Agustinus Wibowo

Mengepakan sayap-sayap kata bak berdiri di bawah lengkungan pelangi. Siluet warna Mejikuhibiniu seakan menerbangkan asa jika setiap manusia mampu berkelana menuju sudut dunia. Pula, yang paling ku sukai dari pelangi adalah jingga yang mampu memendarkan cahaya terang menuju senja gulita.

Aku ingin memulai narasi ini dari sang senja. Setiap senja memberiku ruang untuk menggerakan pena, melangitkan sebuah tulisan, membingkai cerita tentang sajak kehidupan. Dari aku si fakir ilmu yang tertatih membangun nama lewat sebuah tulisan, banyak yang ingin ku beritahu jika hidupku terlalu biasa untuk dinarasikan. Namun, sebuah pena membawaku berkelana pada beberapa sudut Negeri.  

Dulu, aku tumbuh sebagai sorang gadis yang hobi menulis diary, menulis surat, dan membaca novel. Setiap surat balasan dari sang pacar, ku baca berulang hingga hafal betul semua kata dan ejaannya. Naik satu level menjadi seorang mahasiswa, membawa penaku pada dunia karya ilmiah. Aku pun terus menulis, menulis, dan menulis.

Kemudian, ruang waktu menarikku pada sebuah pelatihan kelas menulis asuhan Omjay. Kelas pelatihan itu, benar-benar membidik penaku untuk lebih tangkas dalam mengurai cerita, lebih cerdas dalam merangkai kata. Wadah pelatihan tersebut benar-benar mengajariku from Zero to Expert. Hingga aku benar-benar terlampau percaya diri dalam menciptakan sebuah tulisan. Rasa bangga bertumpuk pada sudut hati, sebuah karya pertama terlahir memberikan penegasan menuju suatu titik bernama Sang Penulis.

Aku terus belajar menulis notasi nada, merangkai kata demi kata hingga ia terukir berdesakan. Mencipta sebuah riak cerita untuk ku sampaikan pada pembaca. Bermula dari melambungkan tulisan lewat sebuah blog,  kemudian ia mengembara menjadi sebuah jejak pena dalam sebuah properti berupa buku. Buku pertama “Trik Jitu Menjadi Penulis Milenial” membuka ruang baru dalam hidupku, memberikan jejak nama jika aku pernah hidup dalam pusaran waktu.



Tulisan demi tulisan membawaku pada sebuah panggung kehormatan. Panggung seorang narasumber, pula panggung seorang penulis. Hal itu bukan cita-citaku, sedari dulu menjadi penulis bukan gerbang tujuan dari hidupku. Tapi sebuah takdir menjemputku menuju puncak yang elegan.

Rasa tak percaya sedikit mengusik beranda hati, menciptakan sebuah rasa ragu antara bermimpi atau tidak. Ternyata sebuah kenyataan membangunkanku dari alam mimpi. Bukan ilusi atau hayalan, aku terbang terlampau jauh menyebrangi Sabang hingga Merauke, lewat sebuah tulisan yang dikemas dalam buku.

Suka dan duka kemudian datang, menjadi seseorang yang dipandang hebat oleh orang lain, terkadang membuat hati ini begitu lemah, kecil perasaan dan bahkan kadang-kadang hilang kepercayaan diri. Aku lebih terbiasa menumpuk sesak duri kehidupan, daripada hidup melambung tinggi dengan segudang tuntutan. Namun, sang waktu terus memberiku hadiah demi hadiah agar berani untuk hidup atas segala tantangan.

Satu hal yang harus dikuatkan jika selama hidup kita hanya belajar di Univrsitas Kehidupan, dengan sebuah izazah berupa Batu Nisan. Maka perlu kita kaji diri untuk terus memperbaiki segala hal.  “Jika semakin meninggi maka merendahlah serendahnya, karena sumbu paling dalam dari bumi adalah intan dan berlian, berkilau nan elegan” Maydearly.

Akhirnya, dengan keinginan untuk terus maju, maka sederet lara tak menjadi halangan untuk terus menciptakan sebuah karya. Sang waktu pernah membawaku pada ruang dilema. Ghiroh sebagai seorang istri, sebagai seorang ibu, dan sebagai seorang anak yang harus mengurus orangtuanya yang sedang sakit, tak membuatku surut untuk terus menulis. Pola atur waktu yang baik, mengantarku sampai ke puncak. Yaitu sebuah puncak karya yang berjudul “Episode 1 Januari 2020 dalam Kenangan”. Sebuah buku yang kutulis selama 20 hari sembari merawat orangtua.



Buku tersebut merupakan buku yang paling berkesan, karena ia benar-benar membawaku berkelana menuju Sabang hingga Merauke. Penjualan yang begitu laku keras, terjual 40 buku dalam 2 hari dengan track terbang; Aceh, Muara Sijunjung, Samarinda, Jogjakarta, Surabaya, Sukambumi, Karawang, Jakarta, Kalsel, Banten, dan sekitarnya. Ada haru yang begitu lekat. Buku itu adalah hadiah dari kesabaran dalam mengurus keluarga.

Yang paling sulit dalam menerbitkan buku, adalah menjaga komitmen untuk terus menulis. konsistensi yang dangkal terkadang mengubur kemauan untuk terus maju mengepakan sayap. Yakinlah, setiap tulisan akan menemukan pembacanya seperti istilah tak ada pembeli jika tak ada penjual. Tak perlu berambisi untuk menjadi siapa, yang harus ditanamkan adalah terus memupuk keinginan untuk terus menulis. Make sure writing as your passion karena menulis adalah menciptakan taman pengetahuan. Memberi kenangan untuk dihadiahkan pada generasi berikutnya.

Memperbaiki kualitas diri adalah dengan menulis, mengaktualisasi pengetahuan harus dengan menulis. menulislah sebagai harga mati. Sampai ia berkelana hingga ujung dunia. Sebagaimana hadis shahih menjelaskan jika menulis merupakan bagian dari mengamalkan ilmu.

اذاسمعت شيئا فاكتبه ولو فى الحائط

“Apabila engkau mendengar sesuatu (dari ilmu) maka tulislah walaupun di atas tembok.” (HR. Abu Khaitsamah dalam Al-Ilmu no.146)

Menulislah seperti embun yang ketika jatuh ke bumi membawa pengetahuan, dan ketika melangit ke Arsy menjadi keabadian.

 

Lebak, 27 Oktober 2021

Maydearly

Kamis, 19 Agustus 2021

Negeri Di Atas Awan

 



Pagi itu sang fajar masih terdiam dalam pucuk keheningan. Lantunan suara Adzan membuka jendela mataku yang dibius dinginnya malam. Ketika fajar hampir menyingsing, aku ingin  menjemput matahari dan bersiap memancarkan gelombang semangat menapaki sebuah tempat yang disebut 'Negri di atas Awan', sebuah tempat wisata yang jaraknya 30 km dari rumahku. Tepatnya di Kampung Citorek Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak-Banten.

"Buk May, sudah bangun?" tanya sahabatku bu Susi

"Sudah bu, dingin sekali bermalam di rumah ibu" balasku.

"Kalau sudah terbiasa gak akan terasa dingin, makanya yang sering nginepnya" guraunya.

Demikian percakapan yang dikemas di beranda fajar. Akhirnya aku dan Bu Susi mendaki tempat wisata tersebut yang sebetulnya salah satu mukim di sana di sewa kawan kami dari Bekasi, yaitu Bu Anita dan rombongan. Mereka tiba di sana malam tadi, dengan petunjuk dariku sebagai tour guide.

Beberapa orang yang belum pernah kesana, tidak akan tau bagaimana indahnya pagi dengan biusan awan. Bak masuk ke negri dongeng, perjalanan menuju negri di atas awan seperti menembus batas ilusi. Udara dingin dan jalanan yang tertutup kabut merangkai cerita yang seperti menembus lorong waktu menuju negri dongeng. Was-was dan sensasi berkawin jadi satu menjabarkan perasaan yang sulit di utarakan. Begitulah adanya, dengan segala keindahannya.

Akhirnya aku dan Bu Susi membersamai rombongan Bu Anita di tempat tersebut. Kami berswa foto, di tengah hamparan awan yang begitu luasnya. Banyak kekaguman yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Sebuah keindahan yang lahir dari alam seperti lencana surga yang menawan, Masya Allah.


 

"Masya Allah, tak menyesal saya datang kesini Buk May, Indah sekali!" celoteh bu Anita.

"Alhamdulilah, monggo Bu, bawa awannya ke Bekasi hehehe" balasku.

"Lapar Bu Ani, Yuk balik ke kamar! Buk May, hampir semalaman Bu Anita gak tidur takut kesiangan lihat awannya hehe" gurau Bu Nur sahabatnya Bu Anita.

Matahari berangkat nak, menciptakan guratan indah di sekitar awan. Sang awan menjadi tampak putih berkilauan, begitu tangkas dan sedap dipandang mata. Ditemani hangat sang mentari, kami menyantap teh manis dan semangkuk mie rebus yang ditambahi telur. Pagi itu semakin hangat dengan dibumbui canda gurau di antara kami.

Dan aku pun tak menyiakan waktu untuk memetik sang mentari yang bersiap naik dari ufuk fajar.



Ada sensasi luarbiasa yang tertata dalam sanubari, sebuah rasa kepuasan menikmati keindahan-Nya membuat diri semakin tertegun dengan rasa syukur yang begitu hikmat.

Satu hal yang pasti, yaitu para pembaca tak akan pernah tau bagaimana sensasinya sebelum menginjakan kaki di Negeri Di Atas Awan.

Ayo Para Traveler, segera sambangi wisata di tempat kami, dan rasakan kepuasannya hehe.

Senin, 16 Agustus 2021

Sang Penghuni Huntara

 



Riak hujan mengantarkan pagi yang gemetar, dalam dingin yang rindang terdengar celoteh tangis memecah keheningan.

“Ea...eaa...eaa” tangisan si bayi merah yang baru berumur 2 minggu.

“Si cantik umi, pinter ya, pagi-pagi udah bangun. Dede pipis ya? Umi ganti ya popoknya” ujar ibunya sambil mengganti popok.

“Umi, mana pakaian dede yang kotor? Mau Risma cuci” tanya si sulung pada ibunya.

“Itu di pojok. Teteh jangan lupa air tadah hujan di luar bawa ke kamar mandi ya!” balas ibunya.

“Iya Umi”

Si sulung yang penurut kemudian melakukan apa yang diperintahkan ibunya. Dalam desiran angin yang berhembus pada hujan yang rintik, ia menyelesaikan tumpukan cucian yang menggunung.

 

Suasana pagi yang sunyi seakan mengukir celah-celah sajak yang lunglai. Hujan menidurkan matahari hingga ia lupa untuk terbit.

“Teteh kalau udah beres nyuci, masakin umi sayur pakis ya” ucap ibunya memberi perintah.

“Iya Umi” balasnya dengan semangat.

Risma, si gadis cantik yang pintar nan penurut begitu telaten merawat ibunya yang baru melahirkan. Ia menggantikan peran seorang ibu untuk kedua adiknya dengan  rasa sabar dan penyayang.

Selama dua minggu ia mengurus rumah, merawat ibunya serta mengurus kedua adiknya, menjadikan ia seorang pribadi yang dewasa.

Di pagi itu, ia bangun mengejar fajar membuka pagi dengan deretan aktivitas layaknya ibu rumah tangga. Sang hujan yang bercucuran setia membersamainya dengan elok. Hingga detik berlari, dan menit berganti, namun hujan begitu lekat berkawan dengan pagi.

Usai memasak sayur pakis, Risma kembali ke kamar madi. Ia ambil cucian untuk di keringkan di teras rumahnya.

“Umi, gantungan putarnya udah penuh. Baju dede yang kemarin belum kering” ujarnya dari teras rumah.

“Pake jepitan baju aja teh. Jepitin ke tambang” balas ibunya bernada memberi perintah.

Risma kemudian bergegas mengambil jepitan untuk menjepit bajunya. Setelah ia selesai menggantung semua pakaian basah itu, tiba-tiba ia merasakan keanehan di teras rumahnya.

Ia menatap dinding tanah di samping rumahnya. Diperhatikan dengan baik, tekstur tanah itu bergerak perlahan. Melihat hal itu, Risma berlari ke dalam rumah dan berteriak pada ibunya.

“Umi, ada longsor, ayo kita keluar Umi!” ajaknya dengan panik.

Tanpa berpikir panjang, ia menggendong adiknya yang berumur 3 tahun. Ibunya kemudian segera menggendong bayi merah berumur 12 hari itu. Mereka berlari meninggalkan rumah.

Beberapa langkah dari pintu rumahnya, tiba-tiba tanah yang mereka injak bergerak dengan cepat. Risma dan ibunya semakin panik. Ibunya  terjatuh pada kubangan lumpur, serta bainya terpental pada pohon pisang.

Risma histeris dan si bayi menjerit kencang. Pohon pisang itu, semakin melandai terbawa arus longsor. Dengan sigap Risma mengambil si bayi dari pohon pisang itu dengan gerakan kaki yang gemetar.

Ibunya berteriak histeris, kakinya terjebak dalam kubangan lumpur yang semakin dalam. Dari arah samping, nampak longsoran tanah hendak membungkus badannya. Lagi-lagi Risma sekuat tenaga menarik ibunya dengan tangan kanannya. Sebuah perjuangan yang begitu emosional, tangan kiri Risma menggendong si bayi merah dan tangan kanannya menarik ibunya. Di sampingnya sang adik kedua menangis dengan badan yang gemetar.

 

Ibunya semakin bergejolak, sekuat tenaga ia mengangkat kakinya dari jebakan lumpur, gusar hatinya seperti berlomba dengan arus longsor susulan yang hendak menimpa tubuhnya.

Hampir lima menit penyelamatan itu berlangsung, akhirnya Risma dan ibunya berhasil menyelamatkan diri dari maut.

Mereka berlari bersamaan dengan kejaran longsor. Risma dan ibunya menyaksikan para warga berhamburan dari rumah mereka.

“Bi Sitti, ayo kita lari ke Hutan Sibanung” teriak salah satu warga kepada ibunya Risma.

Risma dan ibunya kemudian mengikuti arahan warga. Mereka beralari menuju hutan Sibanung. Sebuah hutan di atas bukit dengan dataran yang luas.

Para warga berduyun-duyun menuju Sibanung, mendirikan tenda dan menunggu bala bantuan. Si bayi merah yang malang itu, hanyut dalam dingin. Bibirnya  membiru dan tangisnya amat lemah. Risma dan ibunya amat bingung. Tak ada pakaian yang mereka bawa, meski hanya sehelai. Para warga berupaya keras menghangatkan badannya.

Rumahnya yang tertimbun longsor, meninggalkan  segala perabotan serta elegi yang mendalam. Tiada lorong harapan yang menguatkan hati mereka. Mereka gundah dan resah dalam perut yang lapar. Bahkan bulan pun tak muncul meski hanya untuk mengintip.

Si Bayi merah yang kuat, bertahan dalam gelap yang pekat. Dalam pelukan hangat ibunya ia amat sabar seolah mengerti dengan keadaan.

Setelah penantian selama selama tiga hari tiga malam, ibu Bupati datang menjemput para korban untuk dilakukan evakuasi. Keluarga Risma adalah keluarga kedua yang di angkut dengan helikopter.

Mereka para warga yang malang itu kemudian bermukim di Batalion Mandala Yudha, sebuah Mess TNI yang kini di kosongkan, karena para TNI itu menghuni tempat baru.

Tiga bulan dalam pengungsian banyak suka cita yang mereka dapatkan. Kehilangan rumah huniannya adalah ratapan yang hingga saat belum terpecahkan solusinya.

Ibu Bupati kemudian memulangkan para warga menuju kampung halamannya. Hutan Sibanung yang dulu dijadikan tempat untuk menyelamatkan diri, kini di sulap menjadi sebuah hunia beratap biru. Para warga menyebutnya dengan sebutan ‘Huntara (Hunian Sementara)’. Sebuah hunian beratap terpal yang apabila datang hujan atapnya menari-nari kencang senada dengan tarian angin, dan apabila datang cuaca panas, maka suhunya amat menusuk tulang.



Sebuah harapan yang masih tersimpan dalam hayalan, entah kapan mereka memiliki rumah yang layak seperti sebelumnya. Belum ada jawaban yang pasti. Mereka berkawin dalam perasaan yang terombang ambing menunggu sebuah kepastian.

Begitulah seorang Risma dan warga lain menjalaninya, hidup dalam tenda biru bukan hanya judul sebuah lagu melainkan langit rumah mereka, para penghuni HUNTARA.




Bila harus penulis ceritakan, ada sesak yang mendalam di hati mereka. Sebuah impian berlagu sebagai kabar angin yang entah kapan berlabuh dengan pasti.

Demikian tulisan ini penulis utarakan sebagai narasi penggugah rasa syukur di hati pembaca. Setidaknya ketika pembaca membaca narasi ini, ia menatap langit rumahnya yang berseri menjadi payung kokoh. Tak seperti mereka para pengisi tenda biru yang hampir lapuk atas terjangan angin. Bocor ketika hujan, dan menyengat ketika panas.

Semoga ada untaian doa dan pemberi harapan untuk mereka sang penghuni Huntara.

-Sekian- 


Jumat, 23 Juli 2021

Generasi Milenial (Oleh Sang Blogger Milenial)

 


Sumber: http://news.unair.ac.id/2018/02/19/menakar-potensi-intelektualitas-generasi-millenial-indonesia/

Tulisan ini dibuat untuk menjawab pertanyaan salah satu peserta beajar menulis  gelombang 20. Sebuah pertanyaan yang menggugah selera menulis saya, karena secara tidak langsung, saya melabeli diri saya sebagai Sang Bloger Milenial. 

Pertnyaannya adalah:

"Bilakah seseorang dikatakan Sang Blogger Milenial?

Karena saya lahir pada abad milenial, maka saya pertegas diri saya sebagai pengguna Teknologi di era milenial. Berikut narasi yang saya paparkan tentang generasi milenial. 


Berbicara mengenai generasi Y, seketika diingatkan dengan bahasan paling populer pada abad ini. Millenial generation disandangkan sebagai sebutan untuk generasi Y. Generasi millenial merupakan istilah yang paling akrab di telinga kita belakangan ini. Istilah tersebut berasal dari millenials yang diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika yaitu : William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya.

Dikutip dari https://setkab.go.id/peran-generasi-milenial-bagi-nkri-2/ menyebutkan bahwa menurut para pakar, generasi ini diduduki oleh mereka yang lahir pada tahun 1980-1990, atau pada awal 2000 dan seterusnya. Secara harfiah memang tidak ada demografi khusus dalam menentukan kelompok generasi yang satu ini.

Penulis Elwood Carlson menyebutkan  dalam bukunya The Lucky Few : Between the Greatest Generation and the Baby Boom yang terbit di tahun 2008, mendefinisikan bahwa Millenial lahir di antara tahun 1983-2001 berdasarkan lonjakan kelahiran setelah tahun 1983 dan berakhir dengan perubahan politik dan sosial yang terjadi setelah peristiwa 11 September. Pada tahun 2016, lembaga U.S Pirg mendefinisikan Millenial sebagai orang yang lahir antara tahun 1983 dan 2000.

Dunia saat ini sudah move on memasuki era millennials. Era ini digambarkan sebagai periode waktu di mana teknologi berkembang dengan pesat dan menjadi sebuah gaya hidup bagi generasi di dalamnya. Generasi millennials menjadi sebutan bagi orang yang lahir sekitar tahun 1980 hingga 1999. Artinya, masyarakat yang kini berusia 18-35 tahun diklasifikasikan sebagai kaum millennials.

Seperti yang kita ketahui kaum millenial merupakan kaum yang paling akrab dengan gawai. Mereka lebih sering memainkan gadget 7-8 jam sehari. Para milenials ini lebih mirip dengan generasi yang berwawasan sipil dengan empati yang kuat terhadap komunitas lokal dan global. Menurut William Strauss dan Neil Howe, para millenials ini memiliki tujuh karakter khusus seperti; Spesial, terlindungi, percaya diri, berwawasan kelompok,konvensional, tahan tekanan dan mengejar pencapaian.

Di “Zaman Now” peran generasi millenial sangatlah diharapkan, untuk menjadi agen perubahan ( Agent of Change ). Mengingat ide idenya yang selalu segar, pemikirannya yang kreatif dan inovatif yang diyakini akan mampu mendorong terjadinya transformasi dunia ini ke arah yang lebih baik lagi, melalui perubahan dan pengembangan.

Dalam buku Parenting 4.0 karya Aam Nurhasanah, disebutkan bahwa generasi millenials tidak melulu mengejar harta, tetapi millenials lebih mengejar solidaritas, kenahagiaan bersama, dan eksistensi diri agar dihargai secara sosial. Selain mengalami transisi dari segala hal yang bersifat analog ke digital, generasi millenial ini tumbuh seiring dengan matangnya nilai-nilai persamaan dan hak asasi manusia sehingga mempengaruhi pembawaan mereka yang bisa dinilai lebih demokratis.

Meski generasi millenial ini lebih sering hadir dengan gaya trendi, terkesan hedonis, tetapi mereka digadang-gadang tengah memberi banyak pengaruh baik untuk masa depan bangsa. Para milenials lebih jeli dalam melihat peluang, terutama bisnis dengan konsep yang lebih inovatif. Contoh yang paling nyata adalah keberhasilan starup unicorn milik salah seorang milenial Indonesia, yakni Bukalapak.

Dari paparan diatas, tampak jelas bahwa sebagian besar milenialis berhasil memanfaatkan teknologi dan merubahnya dari cara  konvensional menuju inovatif. Generasi ini perlu dipantau pergerakannya dalam budaya literasi digital. Mereka sangat mahir dalam teknologi dan insfrastruktur yang ada serta memiliki banyak peluang untuk bisa berada jauh di depan, dibandingkan generasi sebelumnya. Selain itu, mampu dan berusaha menjadi bijak terutama dalam menggunakan media sosial.

Menurut Data BPS ( Biro Pusat Statistik ) tahun 2018 mencatat, bahwa populasi generasi millenial adalah sekitar 90 juta orang. Kajian menyebut, rata-rata fokus  perhatian dari generasi millenial hanya sekitar 12 detik.  Bahkan untuk generasi Z (Pasca Millenial ) bisa hanya sekitar 8 detik.



Kata Pengantar Buku Tarian Aksara Penuh Makna

Dahulu aku sering bertanya sendiri; kalau puisi itu berwujud, akan seperti apakah dia? Matahari? Bulan? Bintang? Gunung? Laut? Bertahun lalu...