Sabtu, 22 Oktober 2022

 INDAHNYA MASA SMA

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami( QS.Al-Anbiyaa:35)

Ada masa, dimana manusia dapat meramu sebuah rasa. Hati kadang bergejolak  sebagai pusat galaksi yang tak terkendali. Terkadang ia membawa paksa suapan duka, suka, lara, atau bahagia. Adalah masa SMA yang acap kali menuangkan latar cerita di pelupuk kehidupan.

Semua orang yang pernah mengalami  masa SMA, pasti akan mengamini bila dikatakan “ Masa SMA masa yang paling indah”.  Betapa tidak di masa SMA perkembangan remaja naik satu level menuju arah dewasa. Orang tua sudah membolehkan anaknya  memilih dan berkata tidak bila “tidak setuju” dengan pendapat mereka. Bahkan pada beberapa keadaan anak SMA sudah bisa meringankan beban orang tuanya.

Astuti menapaki masa SMA nya dengan penuh harapan bisa melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi. Cita-citanya ingin menjadi pramugari, bisa melayani penumpang di pesawat dan bisa travelling. Keinginan yang sederhana dan tidak terlalu muluk. Sang Ibunda mengingatkannya untuk kursus bahasa Inggris, belajar yang rajin. Jangan malas olahraga, terutama berenang. Ketika Astuti mendengar dan melihat banyak terjadi kecelakaan pesawat terbang baik di Indonesia atau di luar negeri, keinginannya menjadi pramugari kemudian pupus.

Suatu masa takdir mengantarkannya menjadi siswa SMA di sekolah favorit. Banyak suka dan duka yang dirasakan Astuti.  Karena pindah rayon, tentu statusnya pun berpindah. Ia tinggal di Kemang. Padahal ia tiap hari harus ganti metro mini sebanyak dua kali. Jadi ia harus berangkat lebih awal agar tidak terlambat, bila dapat giliran masuk di siang hari, maka  menjelang isya ia baru sampai rumah. Kadang Astuti“ nebeng” pada temannya yang tinggal di komplek dekat rumahnya. Yang namanya numpang jelas tidak enak. Apalagi kalau temannya tak langsung pulang tapi harus mampir dulu sekalian menjemput adiknya yang pulang les. Dengan alasan kepepet akhirnya nebeng harus  ia lakukan. 

Teman-teman Astuti adalah anak orang berada, pula mereka berlatar siswa pandai, karena sebagian dari mereka  SMP nya di luar negeri, jadi bahasa Inggrisnya sangat bagus. Kalau mereka meminjam buku di perpustakaan, yang mereka pinjam rerata buku teks bahasa Inggris. Sekolah Astuti banyak mendapat penghargaan dan piala dari kejuaraan yang sering diikuti oleh siswa-siswanya.

Selain itu, anak pengusaha tak kalah diam, banyak diantara para murid adalah anak para pengusaha. Terkadang, ada  anak pengusaha yang apabila liburan, mereka pergi ke Singapura dan Hongkong. Pula, Anak dosen yang penuh dengan fasilitas belajar yang lebih lengkap dan ketika ke sekolah maka jasa antar jemput nya  adalah mobil pribadi dengan seorang supir. Hanya sebagian kecil dari mereka yang menggunakan transportasi umum. Astuti salah satunya.

Sekolah favorit itu membagi dua jurusan. Untuk  jurusan IPA ada 7 kelas, sedang yang IPS hanya 2 kelas. Karena lokalnya besar dan kelasnya banyak, tidak semua siswa saling kenal, Kecuali anak yang aktif di OSIS, anak yang sering dikirim mengikuti lomba, atau anak yang punya prestasi tertentu, biasanya mereka anak artis, anak olahragawan, atau anak penyanyi terkenal. bahkan anak pejabat. Astuti  dan teman-temannya pernah  main ke rumah salah seorang temannya, yaitu rumah dari anak seorang pejabat. Astuti begitu terkejut karena rumah dinasnya luas, dipenuhi dengan karangan bunga, maklum ayah temannya baru saja diangkat jadi Menteri.

Astuti termasuk anak IPS dan tidak punya prestasi yang menonjol. Ia dengan susah payah berusaha menyesuaikan diri, dan ini sangat melelahkan. Dari sepatu, tas dan perlengkapan sekolah yang dimiliki temannya  jelas semuanya branded. Memakai sepatu merek Bata, bagi Astuti sudah sangat keren, sedangkan mereka rata-rata sudah memakai sepatu Kicker yang harganya sangat mahal pada waktu itu. Dan akan kelihatan sekali jika mereka adalah orang berpunya, hal itu terlihat ketika mereka mengadakan acara piknik, atau acara refreshing kenaikan kelas.

Ada cerita yang begitu menggelitik di benak Astuti yaitu ketika kenaikan kelas tiba, Astuti dan temanya hanya naik bus plat merah milik suatu instansi. Sedang  Wali Kelas Astuti sekeluarga disediakan satu mobil Mercy beserta sopir. Agenda itu sudah ada yang mendanai termasuk untuk vila dan lainnya. Mereka hanya tinggal menikmati kenyamanan yang sudah disediakan. Terbesit di pikiran Astuti, betapa enaknya jadi guru di sekolah favorit.

Acara itu diadakan di Puncak Cipanas, dan mereka pun bermalam. Seminggu sebelum hari H Astuti  sudah sibuk, dengan menyiapkan baju, sepatu dan tas yang harus ia bawa. Ibunda mengajak Astuti ke Blok M dan memilihkan perlengkapan yang diperlukan dengan susah payah. Bundanya ingin Astuti agar tidak minder. Dan tetap bisa berbaur dengan temanya.

Alhamdulillah Astuti tidak minder dan bisa merasa nyaman berada di lingkungan mereka. Walau ia tidak punya teman dekat, tapi dalam pergaulan dengan teman-teman yang lain ia tetap bisa “nyambung” sebatas masalah belajar dan kegiatan-kegiatan lain yang berhubungan dengan sekolah, termasuk gossip dan  issue hangat saat itu.

Ia meminjam waktu untuk selalu belajar dan berusaha agar terbiasa dengan suatu perbedaan. Ia selalu berpikir realistis dan berpenampilan modis.

Untuk urusan penampilan agar terlihat modis ia tidak terlihat kampungan, karena sering meminjam majalah remaja “Gadis” dari majalah itu ia tahu apa yang sedang ngetrend. Dari mulai, potongan rambut, sepatu, tas, fashion, dan aksesoris. Kadang ia juga jadi korban mode ketika, rambutnya ia pangkas, ala Demi Moore, Lady Dy, Shaggy, atau bahkan ia pernah mengeriting rambutnya di salon. Ia sering menghabiskan waktu  berjam-jam, demi sebuah penampilan. Singkatnya apa yang sedang jadi model saat itu, Astuti tetap berusaha untuk  bisa mengikuti. Ia takut dikatakan ketinggalan jaman dan tidak gaul.

Astuti adalah gadis yang memiliki gairah meledak dalam nuansa cita-cita. Ia amat membaca, karena Sang Bunda memang membiasakan mereka sekeluarga senang membaca. Dari mulai buku pelajaran, majalah, novel remaja, koran, termasuk mengisi TTS. Pernah ketika Astuti sedang membersihkan meja kursi di ruang tamu ia melihat ada majalah yang asing baginya. Majalah itu majalah “ Detektif Romantika”. Astuti  melihatnya dari judul artikel yang ada di sampul halaman depan. Dibenaknya judul itu terdengar seram.  Iseng-iseng ia buka dan baca halaman demi halaman, ternyata isinya cukup mengasyikkan, selain gambarnya juga menarik. Tiba-tiba bacaannya tertuju pada kolom korespondensi. Satu demi satu  ia amati foto dan alamat yang tertera di halaman itu.

Dengan iseng ia catat salah satu alamat yang ada di kolom itu. Alamat seorang pemuda yang tinggal di Malaysia dan berprofesi sebagai Fotografi. Di waktu luang selesai belajar, ia mencoba menulis sepucuk surat perkenalan dan mengirim surat tersebut melalui pos. Dua minggu kemudian ia mendapat balasan. Bahasa yang digunakan teman barunya terasa aneh tapi  Astuti menyukainya,  paling tidak ia mendapat prangko baru bergambar kupu-kupu yang sangat cantik. Kegiatan itu pun berlanjut, mereka saling tukar kabar dan berkirim foto. Bila hari Raya Idhul Fitri tiba, mereka saling mengirim kartu ucapan. Persahabatan itu terasa indah.

Suatu saat Astuti dapat surat dari Malaysia tetapi bukan dari Bang Oemar, melainkan dari Yusri dengan alamat yang berbeda. Penasaran ia buka surat itu dan ternyata surat itu dari seorang pemuda Malaysia yang seusia dengan Astuti. Sang  pemuda pun  memperkenalkan diri sebagai Kemenakan dari Bang Oemar. Ya dia mendapat alamat Astuti dari surat yang ia kirim. Kebetulan dia sedang berlibur di rumah Bang Oemar dan dia yang menerima surat yang diantar pak Pos.

Surat perkenalannya  ia terima dan segera Astuti mengirim balasannya. Setelah surat balasan siap, ia hanya menyimpannya di laci meja belajar. Lama surat itu berada di laci, ia pun lupa mengirimnya ke kantor Pos.  Dengan iseng, ternyata adik Astuti mengirim surat tersebut.  Sejak saat itu ia punya dua sahabat pena dari Malaysia. Satu dari Kuala Lumpur, satu dari Selangor. Ternyata hobbi membacanya memperluas wawasan Astuti tentang persahabatan, kehidupan, dan banyak hal. Maka kegiatan membaca semakin  ia tingkatkan.

Beda hal nya dengan membaca Al Qur’an yang  belum ia lakukan secara rutin. Mengaji selesai shalat masih belum  ia biasakan, mereka mengaji hanya pada Ramadhan tiba. Selepas Ramadhan mereka tidak mengaji lagi, kecuali malam jum’at Pak Atmaja mewajibkan mereka tahlil dan kirim doa. Mereka diajarkan baca QS. Al Ikhlas 100 kali setelah itu baru berdoa yang dipimpin Pak Atmaja dan jamaah pun mengamininya.

Sedang,  pergaulan Astuti  dengan teman-teman di sekitar rumah, tidak seperti dulu lagi. Hanya sesekali ia main ke warung Pak Haji Amsir. Karena ada Ida yang masih punya waktu untuk ngobrol berbagi dan cerita. Ternyata dia masih awet pacaran dengan Ridwan. 

Ketika Astuti sedang main di rumah Ida, ia melihat ada cowok asing duduk di teras rumah Ida. Dengan reflek Astutu pun bertanya “ Siape dia  Da?” 

“Yang mane ? Jawab Ida.” Noh yang pakai kemeja kotak-kotak" jelasnya.

“ Ohh entu, temen abang gue, emang ngape?” Selidik Ida

“ Koq gue ngga kenal emang orang mane?” tanya Astuti lagi. 

"Ya terang aje… ,nah lu jarang maen ke rumah gue, mane lu tau, dia anak baru yang rumahnye di komplek. Namenya Fadli. Suka ada urusan paan ame abang gue koq sering ke rumah gue” Ida nyerocos tanpa ditanya lagi.

“Oh namanya Fadli”. Gumamnya dalam hati  Ketika Astuti memperhatikan cowok itu, si cowok kebetulan  menengok pas ke arahnya, Astuti malu setengah mati karena ketahuan lagi mencuri pandang. Langsung ia juga pamitan sama Ida. Dan lari pulang.

Sejak saat itu Astuti jadi rajin lagi main ke rumah Ida, dan berharap bisa bertemu Fadli. Akhirnya ia dapat info jika  cowok ganteng itu  sudah kerja. Bapaknya orang Jawa sedang ibunya dari Bangka, dia lima bersaudara. Bapaknya sudah pensiun. Saudaranya yang lain juga sudah kerja kecuali si bungsu Mirna yang sebaya dengannya. Mirna bersekolah di SMA swasta di Tebet.

Diawal perkenalan Astuti dengan Fadli  cukup kaku, untung ada Bang Zae, kakak Ida yang ikut nimbrung ngobrol bareng, sejak itu aku ia dan Fadli jadi akrab. Kadang dia mengajak Mirna ikut main di rumah Ida. Sampai suatu saat Fadli bilang padanya “Mau ngga Wiek  jadi pacarku?” Jelas ia salah tingkah mendengar pertanyaannya. Tanpa pikir panjang dijawab tidak, pada saat itu. kira kira dua minggu  ia biarkan Fadli menunggu jawabannya. Astuti tidak berani pacaran. Ia tak mau mengecewakan Bundanya lagi.

Astuti berterus terang pada Fadli jika ibundanya galak dan ia tidak mungkin menyampaikan jika ia sedang dekat dengan laki-laki pada bundanya. Fadli memintanya backstreet saja, menjalin hubungan diam-diam tanpa diketahui bunda. Hmmm apa enaknya pacaran backstreet, padahal ia janji maunya selalu terbuka. Seiring berjalannya waktu mereka memang jadian. Sejak itu ia sering dijemput di depan sekolahnya pada jam pulang. Waktu kelas dua SMA Astuti di masuk siang hari, jadi sore baru sampai rumah.

Fadli sudah berani mengajak Astutu ke rumahnya. Ia dikenalkan sebagai temannya dan sekaligus teman Mirna. Sedangkan Fadli  dilarang berkujung ke rumah Astuti.  Jujur, Astuti tidak punya nyali untuk mengenalkan Fadli pada Bundanya. Hubungan mereka baik-baik saja. Asal pintar-pintar saja mengatur waktu dan mencari kesempatan untuk bertemu, nonton film horor, makan bakso atau sekedar ke toko buku Gunung Agung.

Dalam benak Astuti Fadli berperangai baik. Ia  cukup perhatian, ketika Astutu ulang tahun dia memberi bros cantik berupa sepasang jerapah yang berpelukan. Cute banget. Dan sebaliknya waktu dia ulang tahun Astuti menghadiahkan dia sebuah dompet kulit yang ia isi dengan fotonya berwarna ukuran kecil yang terbaru. Kebetulan ulang tahun mereka hanya beda 8 hari, Astutu tanggal 8, sedang Fadli tanggal 16 Januari.

Kebiasaan Astuti di hari minggu ia pamit ke Bundanya, ia izin untuk ke rumah Kartika dalam acara makan rujak bareng. Padahal ia tidak datang ke sana. Astuti diajak Fadli ke rumahnya. Dia asyik mengotak -atik sepeda motornya sambil sesekali menggodanya sementara Astuti, Mirna dan maminya juga asyik di dapur masak untuk acara makan siang. Sebetulnya ia yakin jika Fadli serius menjalin hubungan dengannya, dia sudah bekerja walau cuma lulusan STM, jelas masa depannya ada. Astuti takut jika tiba-tiba setelah lulus SMA dia meminangnya. Apa dia mau menunggunya sampai kuliahnya selesai. Bunda  Astutu menghendaki jika sudah selesai kuliah barulah memikirkan jodoh.

Naluri seorang ibu tidak bisa dicolong. Kejadian waktu di SMP terulang lagi. Entah dapat laporan dari mana Bundanya tahu tentang hubungannya dengan Fadli. Kali ini Bunda mengajak Astutu makan di warung sate kambing  Pancoran. “Ahhh kalau perginya cuma berdua begini pasti akan ada sesuatu lagi nih”. Bisik batinnya.

Astuti baru menikmati es kelapa muda yang disajikan pelayan ketika Bundanya mengajukan pertanyaan siapa itu Fadli dan bla bla bla. Hampir saja ia tersedak dan tak bisa menelan apa yang ada di dalam mulutnya. Matanya terbelalak karena kaget.

“Bunda tahu dari mana tentang Fadli?” Astuti balik bertanya. “ Tidak penting”. Jawab Bundanya penuh diplomatis. Mungkin ini lah saat nya terus terang ke Bunda. Dengan menceritakan  yang sebenarnya ia akan jadi lega. Tidak ada lagi yang mengganjal di batinnya. Ia ceritakan pada Bundanya dari awal ia mengenal Fadli, dan jalan bareng kemana saja dengannya. Astuti mengakui semuanya, tanpa ada yang ia tutup tutupi. Jika Bundanya ingin marah biar lah dia marah, itu haknya, Astuti lah1 yang salah. Hukuman apa pun yang akan diberikan Bundanya  pasti akan ia terima.

Disaat Astuti siap-siap menerima hukuman, Bundanya justru memeluk dan menciumnya, dia menangis tersedu, “Anak Bunda sudah besar Bunda yang salah seharusnya Bunda tidak melarangmu, sehingga kau tidak umpet-umpetan, dan membohongi Bunda terus menerus. Kau pasti lelah Nduk”. Sejak saat itu pintu rumahinya terbuka lebar untuk Fadli. 

Fadli boleh mengapeli Astuti di malam minggu, atau mengajaknya pergi bersilahturahim ke rumah tantenya di Bogor. Ketika adik Astuti ulang tahun dan mereka merayakannya dengan pergi berlibur ke Ciater, Fadli juga gabung dalam acara itu. Karena itu acara keluarga maka keluarga dari Pak Atmaja juga ikut termasuk Bu Atmaja dan ke lima anaknya. Anak Pak Atmaja yang sulung mas Irawan namanya. Dia baru saja selesai pelantikan AKABRI di Magelang, kebetulan dia di tempatkan di bagian kepolisian jadi pendidikannya dilanjutkan di Semarang. Acara ini dalam rangka ulang tahun adik Astuti dan syukuran bahwa mas Irawan sudah separuh menyelesaikan pendidikannya di AKABRI.

Bunda Astuti ikut Bangga karena Bunda juga ikut “cawe-cawe” waktu mas Irawan masuk AKABRI. Di acara itu perhatiaan Astuti pada  Fadli agak terbagi. Ia sibuk mengurus makanan dan melayani kerabat yang lain, begitu juga dengan mas Irawan. Jadi jika dilihat sepintas Astuti lebih asyik mengurus keperluan mas Irawan sementara Fadli  ia abaikan. Apalagi saudara Astuti ada yang nyeletuk. "Wah dijodohin aja nih si Irawan sama Tiwiek”. 

“ Ihhh ngomong apa tuh si om Broto ngaco aja” gerutu Astuti. Jika Fadli dengar akan disangka sungguhan.nMana mungkin bapaknya nikah sama Bundanya dan ia nikah dengan anaknya. Yang mboten-mboten aja.

Sejak acara ke Ciater itu Fadli agak jarang ke rumah. Astutu tidak terlalu merisaukan karena ia percaya padanya dan lagi ia mulai banyak ulangan dan mengikuti pelajaran tambahan agar ia benar benar siap mengikuti ujian. Fadli juga selalu menyemangatinya agar belajar yang rajin. Dan dia juga berjanji tidak akan cepat-cepat melamar Astuti.

Ini memang salah satu strateginya.  Menjelang ujian Astutu selalu punya semangat dan motivasi yang tinggi untuk mencapai nilai terbaik, kebetulan ia punya teman belajar kelompok, mereka terdiri dari lima cewek, Astuti, Binyu, Ite, Etheng dan Ningnong. Sebenarnya itu hanya nama panggilan. Binyu itu asli Elizabeth dia anak kontraktor yang tinggal di Pondok Indah, kalau Ite itu aslinya Mieke, karena rumahnya di cipete jadi mereka memanggilnya Ite, sedang Etheng alias Esher adalah mojang Bandung dan Bapaknya merupakan petinggi BI, dan Ningnong bernama aseli aslinya Ningrum, sedangkan Astuti sendiri dipanggil Iwiek. Cuma mereka yang biasa memanggil nama kesayangan masing-masing.

Selama seminggu ujian mereka punya tempat khusus untuk belajar di daerah Bendungan Hilir atau disingkat Benhil. Satu rumah khusus plus pembantu dan sopir, Sebenarnya ada tiga kamar kosong yang tertata rapih dengan springbed dan dilengkapi pendingin ruangan. Tapi mereka memilih satu kamar utama yang besar dan mereka berlima tidur disitu. Itu adalah rumah orang tua Binyu yang baru saja dikosongkan. Karena sebelumnya dikontrakkan ke orang asing. 

Di rumah itulah  mereka belajar bareng, makan bareng dan tidur bareng kecuali mandi pastinya sendiri sendiri. Walau sudah selesai belajar dan sudah masuk kamar, lampu sudah dimatikan , tetap saja mereka masih serius belajar, dengan mata tertutup  mereka main tebak tebakan terutama pasal pasal yang ada di UUD 45, atau tokoh di pelajaran sejarah dan Ekonomi.

Ketika Astutu minta ijin untuk gabung dengan temam-teman belajar bareng dan bermalam, Bundanya mengijinkan. Tetapi  sang bunda tetap menaruh curiga. Bundanya mengantarkan Astuti ke tempat itu. Bundanya takut ia berbohong lagi. Bundanya juga beberapa kali mengirimi mereka makanan, padahal makanan begitu melimpah disediakan oleh keluarha Binyu. Disini Astuti merasakan kesetiakawanan, berbagi, saling menyemangati, belajar serius untuk masa depan mereka. Inilah yang dianggap paling bahagia dan benar-benar indah.

Astuti bersyukur ada di lingkungan yang sangat menyenangkan dan serba mudah, full dengan segala fasilitas. Ternyata tidak harus kaya untuk bisa menikmati semua fasilitas kemewahan itu, Bila Allah menghendaki segala sesuatu bisa terjadi. Ternyata Bundanya tidak salah menyekolahkan ia di SMA favorit itu. Sang Bunda akan bangga bila kerabat atau temannya bertanya” Anaknya sekolah dimana Bu?” Bundanya menjawab bahwa aku sekolah di salah satu SMA favorit di Kebayoran.

Ada satu kejadian yang sampai saat ini selalu  ia ingat di saat ujian. Waktu itu adalah hari terakhir ujian salah satu mata pelajaran yang diujikan adalah Geografi. Mereka sudah mateng belajar dan cukup 'ngelotok' dengan materi Geografi. Mereka bersiap untuk tidur, tetapi tiba-tiba Mbo Yah  pembantu Binyu memberitahu  jika ada tamu. Rupanya ada 3 orang teman sekelanya yang semua laki laki. Mereka memberi info kalau dapat bocoran soal Geografi. Katanya ada salah satu teman mereka yang beli kunci jawaban dari salah satu oknum di sekolah. Ketiga teman lelaki itu menawari Astuti dan teman lainnya. 

“Sorry ya..kami ngga butuh, kenapa bukan matematika? Kalau hanya Geografi ngga penting kami sudah hafal” Etheng menolak tawaran itu. Meski sudah menolak mereka tetap memaksa. Katanya ngga usah bayar ngga apa apa. Jawabannya gampang koq pokoknya zikzak dari mulai nomer 1 sampai 40. A,B,C,D. kembali lagi ke A.B.C.D. begitu terus sampai nomer 40. Dan ternyata bocoran jawaban itu benar adanya.

Selesai ujian mereka berlibur selama dua hari, sang Bunda kemudian menjemput Astuti. Libur hari kedua mereka gunakan untuk refreshing ke Ciloto, disana ada Villa keluarga Etheng. Mereka berangkat dua mobil satu mobil pakai driver sedang mobil satunya lagi disetir oleh teman cowok. Disana mereka benar benar menghilangkan stress setelah seminggu mengikuti ujian yang cukup melelahkan. Di malam hari mereka nyalakan api unggun sambil bernyanyi diiringi petikan gitar si Fani, salah satu temannya yang jago gitar.

Pagi hari mereka bisa turun ke sungai yang arusnya deras tapi tidak dalam, ada hamparan batu yang besar-besar, dan mereka bisa main air sepuasnya, sambil memandang keindahan gunung dan pepohonan yang ada di sekitarnya. Udara segar pagi hari, suara gemercik air, seakan membayar lunas semua kepenatan mereka ketika menghadapi ujian.

Ujian membuat Astuti jarang bertemu Fadli. Sampai pada suatu hari setelah selesai ujian dan menunggu hasil kelulusan, ia mendengar gossip bahwa Fadli dekat dengan janda beranak satu yang tinggal di dekat rumah tantenya di Bogor. Astuti tidak menghiraukan gossip itu. Sampai pada suatu hari  Astuti bertemu Mirna di rumah Ida. Ida mengingatkannya,“Sono tanya sendiri tuh same adiknye, bener ngga Fadli punya pacar baru di Bogor?” Astuti tidak berani mendengar jawaban Mirna. Ia memilih diam. Biar nanti saja dia akan mengetahuinya sendiri apa yang terjadi.

Yah. Fadli tanpa memberi alasan yang jelas tiba-tiba menghilang begitu saja. Bundanya juga heran dan bertanya tentang Fadli, Astuti tak mampu menjawab. Rasanya malu jika ingin mengatakan gossip itu pada sang bunda, apalagi kalau gossip itu memang nyata. Jadi ketika Bunda menanyakan hal itu ia mengalihkan pembicaraan. Itu lebih baik menurutnya. Sang Bunda melihat perubahan yang ada pada dirinya. Ia jadi pemurung. Dan tidak betah di rumah.

Astuti meminta ijin kepada  Bunda, sembari menunggu hasil ujian, ia ingin menenangkan diri di rumah Bude. Bundanya kemudian mengijinkannya. Dan Astuti pun  membawa baju secukupnya. Di sana ia punya banyak teman. Karena ia sering bersilahturahim ke rumah Bude, jadi ia cukup akrab dengan teman anak Bude yang rata-rata sebaya dengannya. Belum genap seminggu Astuti di sana, Bundanya datang menjemput. Tadinya ia tidak mau pulang tapi Bundanya sedikit memaksa, karena ia harus belajar.  Masih ada tes sipenmaru di rayon 3.

Astuti mengikuti tes di senayan, dan ambil rayon 3 yaitu IKIP Jakarta jurusan sejarah. Karena ia terobsesi dengan guru sejarahnya yang cantik, dan pandai bercerita, sehingga di kelas beliau  tak pernah ada rasa kantuk ketika beliau sedang mengajar. Beliau menegaskan bahwa orang hidup harus belajar dari sejarah, karena  belajar sejarah itu mengasyikkan. Menurutnya tidak terlalu sukar dan menjadi guru sangat mulia.

Selesai tes di senayan. Ia dan Bundanya berangkat ke Solo. Bundanya ingin Astuti juga ikut tes lagi. “ Bunda njagani kalau yang di IKIP Jakarta luput” Padahal di hati kecil Bundanya dia ingin Astuti kuliah di Solo. Astuti dan Bundanya pergi ke Solo dengan naik kereta, mereka jujug rumah Bude di Penumping. Selesai mandi dan sarapan Bundanya kembali pergi. Sedang, Astuti beristirahat sejenak tak lama Bude mengajaknya ke pasar.

Siang hari Bundanya baru pulang dari pasar naik becak. Astuti lihat dia membawa berkas di dalam map. Baru ia tahu bahwa map itu berkas formulir pendaftaran untuknya untuk mengikuti tes, setelah Bundanya menyuruh Astutu mengambil pulpen dan mengisi data yang diminta.

'Subhanallah Bunda mengapa tadi aku tak diajak?' Padahal ia yakin Bundanya susah payah mendapatkan formulir, Bundanya harus antri panjang. Ia jadi malu sudah lulus SMA, mau kuliah masih dituntun ibunya ke sana dan kemari.

Qadarullah Astutu diterima di kedua perguruan itu. Sang Bunda tegaskan ia agar memilih universitas di Solo. Ia harus bisa melupakan Fadli. Tidak boleh berlarut larut dalam kesedihan. Itu salah satu sebab Astuti kuliah di Solo. Sang Bunda berharap ia bisa belajar lebih tenang, apalagi jurusan yang diambil waktu membeli formulir adalah jurusan yang Bundanya dambakan. Jadi lah ia sebagai mahasiswa di FKIP UNS.

Walau Bundanya punya banyak family dan kerabat di Solo. Agar lebih netral Bunda mencarikan kost untuknya.  Ia mendapat tempat kost di rumah seorang guru SD yang lokasinya tidak jauh dari kampus. Bundanya sadar jika ia belum seratus persen bisa mandiri, jadi Bundanya menyewa kamar kost included makan 3 kali.

Ia jalani hari-hari pertamanya di Kampus, berkenalan dengan teman seangkatan dari berbagai daerah, ada yang dari Ngawi, Klaten, Wonogiri, dan ada juga yang dari Sumatera. Satu angkatan terdiri dari 35 mahasiswa. Ada masa perpeloncoan alias masa orientasi siswa dan ada malam inagurasi. Masa penyesuaian menjadi mahasiswa dilakukan selama satu minggu. Meski lelah dan terkadang dongkol karena banyak bentakkan senior yang mendarat di telinganya, semuanya bisa  ia lalui dengan senang hati karena kini kehidupan baru siap menanti hidupnya. Sekarang Astuti resmi menjadi seorang mahasiswa.

Jumat, 21 Oktober 2022

 CINTA MONYETKU

Wahai anakku! Laksanakan salat dan suruh lah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah ( mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap dosa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting (QS Luqman;31:17)

Usia adalah kondisi dimana hati mampu mencari tambatan hati. Ada sebuah rasa yang disebut cinta. Ia menjerat dan mengisap kuntum bunga bak menggantungkan harap di langit pikiran, mencumbu debar pada jantung yang gusar.

Apa jadinya jika Astuti jatuh cinta? Beranjak  remaja dan sedikit 'ganjen'  dalam istilah orang betawi. Astuti mulai Bergaul dengan berbagai teman yang berasal dari latar belakang yang berbeda, tentu ada plus dan minusnya. Pembawaan Astuti yang supel dan sedikit tomboy terasa sulit ditebak. Kadang galak, kadang lembut, sesekali pemalu, ragu dan tak percaya diri. Maklum masih ada teman-temannya yang ingat bahwa ayahnya masih mendekam di penjara.

Dari segi ekonomi  keluarga Astuti bisa digolongkan cukup. Walau tidak punya kendaraan pribadi, paling sesekali Pak Atmaja meminjam mobil kantor dan mengajak mereka pulang kampung atau rekreasi ke tempat hiburan. Entah ke Monas, ke PRJ atau ke Kebun Raya Bogor. Semua itu lebih dari cukup sudah bisa Astuti banggakan pada teman-temannya yang lain.

Rumah Astuti berangsur makin nyaman. Layak disebut sebagai rumah. Ada halaman, teras, ruang praktek ibundanya, ruang tamu, ruang keluarga, tiga kamar tidur, satu kamar utama dan dua kamar anak-anak plus masih ada gudang kamar pembantu, serta dapur yang cukup luas. Di belakang rumah, masih ada halaman yang ditanami pohon pisang dan pohon jambu air. 

Sayangnya,  mobil tidak bisa masuk sampai halaman rumah, karena Pak Haji Amsir menjual tanahnya ke orang lain. Dulu ketika tanah itu masih dimiliki Pak Haji Amsirz  setidaknya ada lahan untuk dilewati mobil. Sang Ibunda  pernah mengutarakan maksudnya  untuk membeli tanah Pak Haji Amsir sebagian saja hanya untuk jalan dan kepentingan umum. Tapi dasar Pak Haji Amsir agak “sentiment” (tidak suka) dengan pendatang khususnya pada keluarga Astuti, maka dia lebih suka menjualnya kepada orang lain tanpa menghiraukan akses jalan.  

Akhirnya Ibunda Astuti harus merajuk kepada  Pak Haji Ali agar bisa membeli sekian meter tanahnya untuk akses jalan walau yang tadinya hanya gang setapak berubah menjadi gang yang agak besar. Paling tidak, gerobak minyak dan gerobak tukang abu gosong bisa lewat. Termasuk kendaraan roda dua dari tamu atau pasien Bundanya yang berobat ke rumah.

Apa jadinya bila setiap mimpi dan rencana besar dalam hidup Ibunda Astuti tidak menyertakan sosok Pak Haji Ali? Mungkin semua keinginan hanyalah angan tanpa spasi. 

Alamdulilah Astuti selalu mensyukuri apa yang diberikan Tuhan kepadanya. Mulai dari jalan hidup, keadaan dan fisiknya yang tanpa cacat. Bentuk badan nya yang gempal, kulit yang sawo matang,  idung yang nampak 'nongkrong' serta alis bak bulan sabit. Konon, ketika hamil ibunda Astuti sangat mengangumi bulan sabit.

Wajah Astuti yang tampak kotak dan kadang ditumbuhi jerawat. Sejak ia mendapati haid Astuti jadi akrab sekali dengan kaca, sisir, dan bedak fanbo milik ibundanya. Andai benda itu bisa diajak bicara dia akan protes. “Koq elu lagi elu lagi”. Ya Benda benda ini tidak tahu kali kalau Astuti sedang mengagumi dirinya sendiri. Kadang ia meraba buah dadanya yang mulai membukit sembari berdiri di depan cermin. Astuti memandangi seluruh tubuhnya yang dirasa jauh dari kata Sexy, perutnya tebal dan tidak punya pinggang. Tidak seperti wanita dewasa yang ramping dengan bentuk pinggang bak gitar spayol.

Ketika SMP, Astuti memiliki teman yang cukup banyak baik teman wanita maupun teman pria. Sekolahnya cukup jauh dari rumah jadi ia terbiasa naik Bus jurusan Matidakrai-Pasar Minggu. Nama Bus kala itu “Saudaranta” yang bermerek dodge pemiliknya jelas dari tapanuli. Kalau pulang sekolah ia lebih suka duduk di belakang. Karena kalau di belakang ia bisa sambil becanda dan berteriak bersama temannya. Jika ia  takut tidak dapat tempat duduk, Astuti dan teman-temannya memutuskan untuk jalan kaki dulu ke Pasar Minggu baru balik arah ke jurusan Matidakrai.

Setiap detik adalah celoteh bagi Astuti, ia begitu menikmati masa dimana ia bercerita pada cakrawala tanpa tau hidup memiliki sanggahan nan terjal. Ada pelangi yang elok dipandang, aneka warna tercipta tanpa dihujani pusing dan beban berkepanjangan. Sungguh masa remaja membuat ia bahagia.

Warung es Mang Udin adalah ingatan melegenda. Warung itu bak janji jiwa diantara tongkrongan lain selain tongkrongan halte bus. Warung es campur yang enak untuk ukuran saat itu. Padahal isi es itu cuma cincau hitam, tape, roti dan papaya, esnya diserut, diberi sirup prambos. Bagi Astuti  rasanya selangit. Di warung itu mereka bisa melepas canda bergosip tentang bapak ibu guru atau ada murid-murid yang sok tau atau sombong. Kadang juga dijadikan untuk ajang kirim-kiriman salam dan mempertegas hubungan untuk mereka yang mulai pada naksir temannya.

Astuti disebut dengan gadis tomboy. Jadi,  tidak ada teman sekelas atau teman di sekolah yang menaksirnya. Beda halnya dengan teman main di rumah, ada pria yang bernama Erwin yang konon menaksir Astuti. 

Erwin adalag saudaranya Pingkan teman Astuti yang orang Manado. Pria berkulit putih, bermata agak sipit dan giginya rapi. Astuti sangat suka dengan senyumnya yang tulus. Dia terlihat dewasa dari usianya yang baru 15 tahun sedangkan Astuti kala itu baru berumur 12 tahun.

Dari Pingkan lah Astuti mengtahui jika Erwin menyukainya. Dia tidak berani bilang tapi dari matanya yang suka curi pandang Astuti  tahu jika Erwin menyukainya. Terlihat jelas dari sikap Erwin ketika Astuti bermain karet gelang dengan temannya. Erwin bertindak sebagai juri yang begitu membela Astuti. Ia jadi tahu begitulah cara  Erwin meruntuhkan perhatian Astuti.

Astuti tak terlalu peduli, masa iya dia harus  berpacaran dengan orang  yang berbeda agama. Apalagi Astuti tahu jika mereka suka mengkonsumsi daging anjing dan juga babi. Dua jenis makanan yang diharamkan di Agama Islam. Belum lagi saudara Pingkan lainnya yang sering buat keributan dengan mabuk-mabukan sehingga menjadi bahan perbincangan  di kampung Astuti. Pula, santer sebuah gosip  bahwa salah satu kakak perempuan Pingkan jadi wanita simpanan yang sebelumnya berprofesi sebagai Hostes. (profesi yang paling negatif saat itu). Bunda Astuti berpesan agar mereka tidak bergaul dengan keluarga Pingkan  terlalu akrab, cukup mengenalnya saja sebagai teman biasa.

Meski rasa kepada Erwin kemudian layu, masih ada ranting harap untuk digantungkan di langit cinta yang lain. Eaaaaa.  Sejujurnya Astuti  lebih tertarik pada keponakan Pak Haji Ali yang baru datang dari Palembang. Mereka hijrah ke Jakarta  karena usahanya bangkrut setelah menetap lama di Palembang sebagai pedagang buah. 

Lelaki itu bernama Chaerudin tapi biasa dipanggil Diding, anak-anak Pak Haji Ali memanggilnya Bang Diding, Astuti pun ikut memanggilnya Bang Diding. Bang Diding berkulit kuning langsat, hidungnya mancung, alis tebal, dan pandangan matanya tajam. Berambut gondrong, dan memelihara jenggot walau tidak terlalu panjang, penampilannya rapi dan harum. Usianya waktu itu sekitar 19 tahun karena dia pernah kuliah dan drop out. Dia sering menggoda Astuti. "Duh manisnya anak Bu Jeksi". Gadis ingusan seperti Astuti tentu saja tersanjung dikatakan manis.

Pujian itu masih mengendap di kepala Astuti meski ia berhenti menatap setiap sekat di ingatannya, namun tetap saja pujian itu pernah terdengar manis di telinga Astuti. Bang Diding memang terkadang membuat Astuti sedikit tersipu. 

Suatu ketika TV hitam putih di rumah Astuti idak bisa ditonton karena akinya habis dan masih dicas. Astuti kemudian sering nonton TV di rumah Pak Haji Ali. Ukuran TV nya paling besar dan punya aki lain sebagai serep,  jadi tidak pernah ada masalah. Masih lekat dalam ingatan Astuti waktu itu  listrik belum ada, jadi penerangan yang mereka punya hanya lampu 'Patromak' yang sesekali harus dipompa agar tetap menyala. Atau bisa juga tiba-tiba padam karena sarung lampu itu kekeringan. Pada zamannya disebut dengan Bolham.

Kembali ke masa lalu, kala itu Pak Haji Ali memiliki usaha lain sebagai pembuat marning, yang bahannya dari jagung direbus dan hanya dibumbui garam, diangkat setelah mekar, lalu ditiriskan dan dijemur, setelah kering baru digoreng dan dikemas, ada yang ukuran kecil, sedang maupun besar. Bang Diding sering membantu mengemas marning,  Astuti dan anak-anak Pak Haji Ali yang hampir sebaya juga ikut mengemas marning. 

Sesekali mereka bercanda, dan Bang Diding selalu saja menggoda Astuti atau menunjukkan perhatiannya  “Udeh belajar belon” atau ketika Astuti sedang asyik main congklak dia memberitahu;” Noh disuruh pulang, denger tidak dipanggil Mbok Kem?” Padahal Cuma perhatian kecil yang diberikan pada Astuti. Tapi perhatian itu menancapkan kesan merah jambu di hati Astuti. Jika ada bang Diding di rumah Pak Haji Ali, Astuti acap kali berura-pura mencari Ida anak Pak Haji Ali yang sebaya dengannya. Padahal dalam hati sekadar ingin tahu kabar bang Diding.

Ada satu senja yang bernaung dalam ingatan. Yaitu ketika  musim jambu tiba dan panen raya, Bang Diding selalu sibuk membantu memilih buah itu untuk dibedakan, antara yang besar, sedang dan yang kecil, begitu juga dengan yang sudah masak, dan yang masih “mengkel”. Di sela-sela itu dia berani mencubit pipi Astuti dengan gemas dan menatapnya tajam.’Syiiir”. Ada sesuatu yang aneh di ulu hati Astuti bak aksi yang menimbulkan reaksi yang seirama. Astuti tak faham, apakah Bang Diding menyukainya atau hanya iseng belaka. Yang jelas sampai di rumah kejadian itu selalu membayangi Astuti.

Satu dua teman sebaya Astuti yang asli orang betawi, setelah lulus SD selang satu atau dua tahun ada yang sudah menikah. Ada yang dijodohkan atau ada juga yang suka sama suka, dikarenakan keluarga dari kedua belah pihak sudah kenal, bahkan mereka sebelumnya sudah bersahabat akrab. Sedang ibunda  Astuti selalu berkata;” Masih kecil tidak boleh pacaran sekolah dulu yang pintar, sampai bisa cari uang, baru boleh pacaran”. Jadi, peristiwa yang dialami Astuti, dan perasaannya pada Bang Diding ia sembunyikan dari Bundnya. Padahal perasaan itu sangat mengganggu, Astuti jadi sering berkhayal seandainya ia jadi pacar Bang Diding dan jadi keluarga besar Pak Haji Ali. Ternyata perasaan itu tak bersemayam  terlalu lama.

Ketika Astuti naik ke kelas dua SMP, komunitas teman bermainnya bertambah. Ia adi suka main dengan Hayati anak pak Haji Amsir, tetangga depan rumahnya. Mereka  satu SD, tapi dia melanjutkan ke SMP Muhammadiyah yang di Cawang. Walau lain sekolah  Astuti dan Hayati cukup akrab. Pak Haji Amsir memiliki warung kelontong yang cukup lengkap, dan juga punya rumah kontrakan yang banyak. Astuti sering belanja atau beli jajanan seperti krupuk apolo, pilus atau kue gambang di warung Pak Haji Amsir.

Di rumah kontrakan Pak Haji Amsir ada penghuni baru, sebuah keluarga yang memiliki seorang pemuda, masih sekolah di STM kelas dua. Namanya Ridwan. Keluarga itu pindahan dari Bogor. Untuk remaja seusia,  Astuti sangat mengerti jika ada pemuda yang ganteng. Aatuti sering berpapasan dengannya, bertatapan sesekali, sampai akhirnya mereka berkenalan.

Ridwan adalah alasan mengapa Astuti kedap main di rumah Ida. Ridwan kerap nimbrung  dan ngobrol bareng. Mereka bisa bercerita tentang film remaja yang sedang diputar di bioskop “ Wira” di daerah Tebet, atau pun di bioskop yang di Cikini. Film remaja yang sedang diputar di bioskop waktu itu film “ Romi dan Yuli ”, kalau film komedi ya filmnya Benyamin S. "Biang Kerok' dan film drama salah satunya. “Dimana Kau Ibu”. Suatu hari kami mereka untuk nonton bareng. Astuti susah dapat ijin dari Bundanya jika  berterus terang untuk nonton bareng, maka ia pun mulai cari alasan lain agar bisa gabung dengan Ridwan dan Ida. Terpaksa ia berbohong pada Bundanya bahwa hari itu aku ada belajar kelompok di rumah Kartika teman Astuti yang tinggal di komplek Pertanian Pasar minggu. Akhirnya, Bundanya mengijinkan.

Terkadang cinta itu membawa sifat kekanak-kanakan. Kebohongan kedua Astuti berlanjut ketika lagi-lagi Ridwan punya ide mengajak bolos sekolah. Dia mengajakAstuti dan Ida ke kebun binatang Ragunan. Akhirnya, mereka  menggunakan waktu belajar untuk bolos dengan seragam sekolah keluyuran di Ragunan. Kala itu Suasana di Ragunan tampak  sepi, maklum bukan hari libur, mereka sesekali melihat binatang, burung-burung yang indah dan juga hewan buas lainnya. Yang paling menarik bagi mereka adalah mengintip orang pacaran, ada yang memakai seragam SMA, orang kantoran, dan ada juga yang wanitanya muda sedang prianya sudah berusia tua.

Yang Astuti perhatikan seolah Ridwan menaksirnya, tetapi dia juga dekat dengan Ida. Sempat Ridwan mengajak Astuti makan bakso berdua saja. Mereka tidak jalan bareng dari rumah, tapi kencan di jalan untuk bertemu baru makan bakso di daerah Pasar Rumput. Astuti dan Ridwan naik bus, di dalam bus Ridwan menyampaikan perasaannya pada Astuti jika ia  sayang pada Astuti. Astuti tak percaya karena dipikirnya Ridwan  menaksir Ida. Selesai makan Bakso dan ngobrol akhirnya mereka pulang, karena Astuti khawatir dimarahi ibundanya.

Sejak pertemuan itu, Ridwan semakin sering mengajak Astuti kencan, tapi ia selalu menghindar, karena Astuti tidak yakin akan cintanya. Sampai pada suatu hari Ida cerita kalau dia baru aja jalan bareng sama Ridwan ke Ragunan. Deg. Terjawab sudah apa yang diragukan Astuti selama ini. Ridwan memang menginginkan Astuti dan Ida. Sebagai teman ia tak mau melukai Ida dan dia punya kesan yang buruk terhadap Ridwan. Astuti tetap menutup rapat rahasinya bahwa ia juga pernah jalan bareng Ridwan tanpa Ida. Astutu tak ingin dicap pagar makan tanaman walau pada akhirnya ia menerima cinta Ridwan.

Kala itu, anak seusia Astuti sangat mudah dipengaruhi. Maka tak heran bila ia kerap membolos waktu di kelas dua SMP sesekali membolos apabila guru yang mengajar pada jam itu membosankan. Pernah suatu ketika mereka  membolos berjamaah dengan melompat pagar sekolah dan lari menuju arah kali Ciliwung, lewat jembatan gantung sampai di daerah Condet, mereka mencuri salak Condet yang terkenal masir.

Hal paling  parah yang pernah dilakukan Astuti adalah membohongi Bundanya dengan membuat edaran palsu dan 'ngemplang' uang bayaran sekolah, uangnya  ia gunakan untuk camping ke gunung Salak Bogor bersama teman-temannya. Astuti diajari temannya membuat edaran palsu yang ada cap sekolah, yang menunjukkan kalau itu acara resmi sekolah dan wajib diikuti. Kegiatan itu sungguh menyenangkan, ia dapat pengalaman baru dengan menyetop truk kosong yang bisa mereka tumpangi sampai Bogor. Tidur di tenda, makanan asinan bogor dan tauge goreng, tidak lupa juga soto mie. Jalan bareng teman benar-benar unforgettable. Astuti lupa sesaat akan aturan rumah dan pesan Bunda.

Indah memang jika mengenang masalalu. Seindah mengembuskan nafas yang kemudian menyatu bersama aymosfer, mengelilingi dunia, menancapkan mesna di setiap putaran nya.

Saat itu Astuti mencatat semua hal yang berkesan di sebuah buku harian. Sebuah buku yang ada kuncinya. Astuti biasa mengungkapkan perasaannya di buku itu. Selain buku harian ia juga punya buku catatan lagu-lagu, dari mulai lagunya Koes Plus, Panbers, the Mercy. Kalau lagu lagu Barat ada lagunya The beattles, Rolling stone, dan ABBA. Malam hari kalau selesai belajar, dan acara di TV tidak menarik, ia lebih suka buka buku catatan laguku dan nyanyi di kamar, sedang Bundanya sudah duduk manis di meja tamu main kartu remi dengan tetangga sebelah yang tidak dapat jatah ronda.

Acara malam minggu  Astuti sebagai remaja selain diajak Bundanya silahturahim ke rumah Bude di Cisalak, ia kadang mendapat undangan ke pesta ulang tahun temannya. Pesta ulang tahun yang berkesan adalah ketika ia menghadiri pesta ulang tahun Irwan teman sebayanya sekaligus tetangganya. Irwan adalah anak orang kaya, Ayahnya  pemborong, mamanya bidan di puskesmas, dan juga praktek di rumah. Mamanya Irwan dan Bundanya saling bersahabat.

Pestanya sangat meriah, ada lampu disko nya dan ada music dengan lagu-lagu yang hinggar bingar, mengajak mereka untuk “turun” dengan istilah joged atau dansa waktu itu. Salah satu lagunya ketika “turun” itu: That’s the way ahak ahak, I like it ahak, ahak…..” sayang Astuti tidak bisa joged dengan baik jadi hanya ikut sebentar, dan lebih suka menikmati keramaian itu sambil sesekali mengambil makanan yang sudah disediakan.

Suatu hari ibunda Astuti membaca buku hariannya, padahal ia menulis secara detail kejadian yang  ia alami termasuk acara membolos nya dan berbohong pada Bundanya. Astuti baru sadar kalau Bundanya membaca buku hariannya ketika Bunda mengajaknya makan ke sebuah restaurant Padang, ketika  tidak ada momen penting dan tidak ada syukuran, atau pun yang ulang tahun. Astutu bertanya dalam hati “Mengapa yang diajak cuma aku?”. Sang menawarinya lauk apa yang aku suka berikut dengan es nya. Selera makan Astuti kemudian hilang, ia merasa ada pertanda buruk yang akan menimpa diriku.

Sang ibunda mulai mengintrogasinya  sesuai dengan apa yang telah dibaca di buku harian Astuti. Bundanya menangis, dia kecewa, Astuti telah ingkar janji dan berbohong, Astuti yang diharapkan bisa memberi contoh yang baik pada adik-adiknya malah membuat Bundanyasedih. Apalagi ketika bunda melihat hasil rapor Astuti di catur wulan dua, sangat kebakaran, banyak nilai kurang dan ditulis jelas-jelas dengan angka merah. Astuti tidak kuat menahan tangis, ia merasa berdosa sudah membohongi Bundanya. Apalagi ibundanya  juga menangis sesegukan sembari meratap;” Duh Gusti nyuwun ngapuro, dalem sampun luput engkang didik putro. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki akhlak anakku. Aku lengah, aku terlalu asyik cari uang, sehingga aku tidak sadar bahwa anakku terpengaruh dengan pergaulan yang tidak baik.”

Sejak itu ibundanya mengawasi Astuti cukup ketat, di lain ke sempatan beliau mengajak Astuti ke Sarinah, toko serba ada yang terletak di jalan Thamrin. Toko yang dibangun di era Bung Karno. Bung Karno lah yang memberi nama gedung itu gedung Sarinah. Sarinah tokonya orang  "the have” kalau sekarang istilahnya tajir. Bundanya membelikan Astuti peralatan untuk membuat hiasan dinding kaset, boneka, atau bantalan kursi yang berbahan dasar kawat kotak-kotak dari plastik, jarum dan benang woll jepang, harganya cukup mahal, tapi Bundanya tidak peduli yang penting perhatian Astuti bisa dialihkan dari pergaulan yang kurang baik dengan kesibukan yang diciptakan. Sang bunda berharap ia bisa menghabiskan waktu luangnya  di rumah dengan membuat sesuatu, selain melatih ketekunannya,  juga ini dianggap sebagai terapi dari kenakalan yang pernah dibuat  Astutu.

Setelah naik ke kelas tiga SMP, Astuti fokus belajar. Ia memperoleh pelajaran tambahan yang diusulkan Bunda dari tetangganya yang kebetulan guru SMP Strada di Tebet. Nilai ulangan Astuti kian hari semakin baik. Sang Ibunda tersenyum bangga waktu pulang ambil rapor dan ia diberi hadiah sepeda jengki. Semakin dekat ujian semakin semangat belajarnya. Astuti ingin menebus kesalahan yang pernah ia buat karena telah membuat Bundanya kecewa. Tidak patuh dan semaunya sendiri.

Akhirnya ujian pun tiba, Astuti optimis bisa meraih nilai yang baik. Bundanya punya rencana memasukkan ia di SMA favorit yang ada di kebayoran baru atau tepatnya Bulungan. Alhamdulillah nilai raport dan ujian Astuti cukup tinggi. Nilai tinggi saja tidak cukup untuk masuk ke sekolah favorit itu. Astuti harus pindah rayon karena beda domisili maka ia harus masuk dalam Kartu Keluarganya Pak Atmaja di daerah Kemang. Selain itu Bundanya juga punya kenalan TU si SMA itu. Jadi ia bisa dititipkan lewat rekan ibundanya.

Keinginan Astuti dalam meraih mimpi begitu kuat. Ia fokus dalam belajar sehingga jarang menyambangi rumah Ida maupun  rumah Pak Haji Ali. Astuti asyik dengan kesibukan yang diciptakan Bundanya. Astuti semakin kerap diajak menemani Bundanya berbelanja, bahkan jika ibundanya ada  urusan lain Astuti lah yang belanja atau mengerjakan tugas lain yang aku bisa.

Jika Astuti disuguhi sebuah pilihan kegiatan yang ia suka, Astuti pasti akan memilih untuk diajak ke rumah Umi Kulsum. Disana selain mereka kerap disuguhi makanan yang enak seperti bistik, nasi kabuli, balado daging atau makanan makanan yang dianggap elit. Astuti juga bisa membaca majalah Femina, Mode, dan melihat kliping yang dibuat Umi Kulsum tentang kegiatan anaknya yang Rocker, dan juga penyanyi dangdut dengan orkes Larantuka.

Tak hanya itu,  Umi Kulsum memiliki kliping resep masakan yang amat banyak, dia tidak pelit berbagi ilmu, Astuti diajarkan cara memasaknya. Astuti masih ingat cara membuat chipon cake, ketika menggunakan mixer tangannya terjepit hingga kuku jari manisnya  lepas. Sejak itu ketika menggunakan mixer ia sangat hati-hati. Umi Kulsum dan Bundanya  memang banyak  mewarnai kehidupan Astuti  ke termasuk ikut andil  dalam membentuk kepribadiannya saat ini.

Kedekatan yang ia rasa dengan Umi Kulsum ia jadikan sebagai sekat untuk ia tempelkan lekat-lekat sebagai pengingat di masa depan yang akan mengikat. 

Perjalanan masa puber begitu berwarna dari sajak Sang Astuti, ia menambatkan ingatannya ssbagai kesan suatu kehidupan. Lantas seperti apa Astuti berkelana dalam masa remajanya? Apakah haru, biru, tawa atau nestapa.




Selasa, 18 Oktober 2022

Young Story of Astuti

ASTUTI

Allah sajalah yang mengetahui kebaikan dan keburukan yang sejati sementara penglihatan, penilaian, dan pengetahuan kita bersifat semu dan terbatas.Allah mengetahui sedang kamu tidak  mengetahui (QS Al-Baqarah : 216).

Pena ini adalah jejak sederhana dari sebuah cerita seseorang yang ku sebut dengan Astuti. Penulis ingin membicarakan letupan kenang dari langkah panjang seorang Astuti. Namanya hidup, tentu ada suka, canda, tawa, lara dan pahit yang mungkin diseduh air mata.

Ia terlahir sebagai anak sulung dari tiga bersaudara, sebagai seorang sulung, ia memeluk harapan agar sukses dalam hidupnya. Masa kecilnya  memuat hamparan cerita yang berlapis lara, dan luka. Luka itu datang tatkala ia menyadari bahwa ayahnya adalah seorang  tahanan politik. Atas status itu, puluhan pasang mata tentu mengepung raganya bagai serpihan duri yang berkarat atas rasa malu.

Astuti tumbuh sebagai Seorang anak yang hidup di kampung dengan fasilitas pas pasan. Tak ada eforia kemewahan di masa kecilnya, namun itu menjadi prasarti termanis dalam hidupnya. 

Astuti adalah lukisan kekuatan. Ia memiliki seorang Bunda yang galak nan otoriter dalam mendidik nya.  Tapi masa itulah yang menjadikannya sebagai power ditengah  keadaan dan gesekan budaya, yang  multikultural. 

Jakarta adalah saksi  bagaimana ia mampu  memperkaya khasanah hati. Gesekan dari para pendatang, urakan, dan polusi attitude  membuat ia  banyak belajar  untuk sebuah kehidupan dengan berjuta varietas. Keyakinan-Nya pada Sang Rabbi membuat ia begitu kuat dalam memandu semesta  nurani. Ia yakin Bahwa Allah menciptakan bermacam suku agar bisa hidup damai dalam hidup berdampingan.

Di Jakarta ia menorehkan banyak cerita. Ia tumbuh di perkampungan betawi yang kental dengan adat istiadatnya. Mereka menganggap Astuti sebagai orang “Jawa Kowek” (jawa asli) entah apa alasan mereka menyebut Astuti sebagai orang jawa kowek yang 'ngendon' di jakarta. Mungkin Sebutan Kowe tersimat atas logat bicara Astuti  dengan logat Jawa medok dan ‘kowe-kowe’. 

Narasi tentang Astuti ini begitu epik. Ia dan keluarga bertahan sebagai pendatang yang klasik. Bundanya bergelar sebagai “mantri suntik”. Kala itu, mereka memanggilnya “Bu Jeksi” karena pekerjannya menyuntik atau menginjeksi para pasiennya.

Jakarta adalah simbol tawa dan rasa bangga bagi setiap pengunjung nya. Namun, pada waktu itu, Jakarta  masih rimbun dengan pepohonan yang menghasilkan buah-buahan nan melimpah. Maka tidak salah jika dikatakan pasar minggu dan sekitarnya sebagai sentra buah-buahan saat itu. 

Rumah kontrakan yang ditinggali Astuti adalah  jejak bukti dimana Astuti pernah meraba mimpi. Rumah itu ada di sekitar kebun jambu yang dimiliki oleh Haji Ali, seorang Betawi asli yang kaya raya dengan kebunnya yang luas, memiliki rumah kontrakan yang cukup banyak. Astuti dan keluarganya juga bergaul akrab dengan anak-anak Pak Haji Ali yang punya sembilan anak dari dua istri yang dinikahi.

Ada satu moment yang menjadi pijar paling indah  bagi Astuti,  adalah  ketika panen buah  musiman datang. Ketika musim jambu dan belimbing, Astuti dan teman-temannya  bisa bebas sepuasnya memetik, dan memakan hasil panen buah itu, dari mulai yang ranum, setengah matang, atau yang masih muda. Pak Haji membolehkan Astuti mengambilnya dan membawa pulang secukupnya.

Pak Haji Ali juga punya usaha sampingan lain. Dia memiliki kolam ikan yang diisi dengan ikan lele and ikan tawes. Di sini Astuti pernah menyelipkan moment paling mengesankan. Yaitu sebuah memoent dimana kolam itu dijadikan sebagai tempat jambang ‘plung lapnya”. Suatu kesenangan tersendiri ketika buang hajat plung langsung diterkam ikan-ikan lele yang kelaparan. Buang Hajat di kolam ikan Pak Haji Ali sampai saat ini masih tetap berkesan di hati Astuti.

Usaha lain dari Pak Haji Ali adalah ternak sapi perah. Dia memelihara 7 ekor sapi perah dan 1 pejantannya. Tiap pagi dan sore pekerja Pak Ali sibuk memerah susu dan memberi makan sapi sapi itu. Untuk pemenuhan gizi Astuti di waktu kecil, ibunya menjadi pelanggan susu pada Pak Haji Ali. Maka tak heran jika Astuti dan keluarganya  jadi anak yang sehat dan cukup cerdas. Astuti dapat berbaur dengan warga Betawi yang tidak semuanya suka kepada pendatang.

Memory lain pula amat berkesan bagi Astuti yaitu ketika Lebaran tiba. Yaitu sebuah waktu dimana ia menggantungkan harapannya mendapat THR Lebaran. Kala itu,  Pak Haji Ali yang kaya raya, selalu membagikan sarung dan bingkisan di hari terakhir taraweh atau menjelang lebaran. Kebiasaan ini membuat semangat untuk bisa taraweh bareng di surau Pak Haji Ali. Dari kegiatan rutin tahunan itu lah, Astuti dan adik-adinya jadi akrab dengan marawis, salawatan, dan Qosidah. 

Kesan mendalam juga tercipta pada setiap peringatan hari raya umat Islam. Di dari malam  Nuzulul qur’an, khataman, Isra mi’raj, Idhul Adha  dan puncaknya peringatan maulid Nabi.  Dalam memperingati maulid Nabi, Astuti begitu rajin mengikuti setiap kegiatan dari satu surau ke surau lainnya. Setiap surau yang mengadakan pengajian, panitia pasti memanggil ustadz atau mubaligh untuk mengisi pengajiaan. Inti dengan ustadz dan ustadzah yang beken pada masa itu, Ada Habib Umar, Habib Abdullah Syafei, Ustadzah Tuti Alawiyah, atau pun Ustadzah Royani. Selain itu yang paling greget bagi Astuti adalah karena ia menyadari bahwa hadir dalam sebuah ta’lim selalu didampingi malaikat yang memberikan doa kepada orang yang sedang mengkaji atau menyiarkan dakwah. 

Bagi Astuti, momen paling istimewa adalah Perayaan peringatan milad Nabi yang selalu nampak meriah. Isi pengajian yang begitu mantap benar-benar mempertebal keimanan Astuti pada Allah SWT. Terlihat rasa kebersamaan, apalagi ketika tiap keluarga diwajibkan menyetorkan nasi uduk dan nasi ulam, yang dilengkapi dengan semur daging dan semur tahu. Lalu masih ditambah snack berupa kue talam, kue pepe dan juga ketan urap. Ya, itulah makanan  dan kudapan yang kental dengan suasana maulid Nabi. Astuti dan yang lainnya bisa menikmati bersama, kalau berlebih merekabisa membawa pulang yang kemudian  disebut “berkat”.

Bicara makanan, ingatan  Astuti kemudian berkelakar pada makanan khas dari Pak Haji Ali dan keluarga di saat Lebaran atau Hari Raya Idhul Fitri. Kue itu adalah dodol betawi yang dibuat dari ketan, kelapa dan gula jawa dalam ukuran yang besar. Wadah yang dipakai namanya “Kenceng” karena besarnya wadah itu, bahkan untuk duduk 3 orang anak kecil juga cukup. Pembuatan dodol butuh tenaga dan waktu yang lama. Mulai dari memarut kelapa dan mengaduknya butuh waktu 12-15 jam. Dibutuhkan tenaga yang begitu extra. Belum lagi harus ada yang menjaga api agar tetap menyala.  Maka, persediaan kayu bakar dari kayu yang kering harus cukup. 

Ketika semua bahan dodol tercampur dan diaduk terus menerus secara bergantian, dalam hitungan jam perlahan dodol mulai terasa berat waktu diaduk. Biasanya jika memulainya di sore hari maka menjelang tengah malam, dodol itu mulai mengental. Dodol yang setengah jadi ini biasa dinikmati dan disebut dengan nama “Kole”  biasanya Astuti menyantap sajian Kole ini dengan meminta pada keluarga Pak Haji Ali. 

Disuguhi dengan wadah dari daun pisang Astuti mencicipi dodol setengah jadi yang sangat enak ketika dimakan hangat dan disendok dari sisi sebelah pinggir. Menjelang subuh dodol baru matang dan siap diletakan  pada wadah seperti baskom kecil. Ketika semua dodol sudah dikemas, di dalam kenceng pasti ada intip dodol. Hmm bagi Astiti intip ini terasa lezat di lidahnya. Varian  rasa gosong, gurih dan manis yang terpadu menjadi satu. Astuti tak pernah absen untuk meminta jadah dodol gosong itu pada  Bu hajjah Siway istri Pak Haji Ali. 

Saking dekatnya, Astuti sudah menganggap Pak Haji Ali sebagai keluarganya sendiri karena rumah mereka saling berdekatan. Ibunya begitu gigih menjadi mantri jeksi sehingga ia mampu  membeli rumah yang dikontrak dari Pak Haji Ali dengan cara dicicil. Hanya bermodalkan kedekatan dan kepercayaan, rumah itu bisa dimiliki Astuti dan keluarga. Bagi Astuti, hidangan paling lezat adalah tahu dan tempe bacem, yang merupakan makanan kebesaran Bundanya dan keluarga. Tak hanya itu, mereka juga  mengkonsumsi makanan betawi yang biasa dikonsumsi Pak Haji Ali sekeluarga, ada semur jengkol, tumis oncom, ikan asin bulu jago dan sayur asem  begitu melekat bagi keluarga Astuti.

Perjalanan lantang dimulai ketika Astuti bersekolah. Ia bersekolah di sekolah negeri yang tidak jauh dari rumahnya. Sekolah SD itu sudah berganti nama dari istilah SR. Satu dua teman Astuti ada yang mengetahui jika ayahnya adalah penghuni rutan. Astuti menjadi bahan ejekan oleh mereka yang tidak senang atau sekedar melampiaskan ketidaksukaan mereka kepadanya.  Hal itu tentu menjamah hati Astuti dalam luka. Ada sesak yang ia rasa hingga suatu hari Astuti pernah berkelahi dengan teman sebayanya. Ia menjambak rambut temannya hingga terjatuh.

Orangtua dari temannya tidak terima atas pertengkaran itu.  Lalu mereka melabrak ibunda Astuti dengan cacian yang garang. Sebuah cacian yang bermakna bahwa bundanya tidak bisa mendidik anak. Ibunda Astuti yang tempramental, merasa tertampar oleh cacian itu. Atas rasa itu, ia kemudian   menyeret Astuti  untuk keluar dan mengambil tali lalu mengikatnya seharian di pohon jambu air. Bundanya terus berkicau sambil sesekali mencubit pipi Astuti. Sang Bunda juga mendoktrinnya bahwa ia tak boleh nakal, tidak boleh berantem, harus ngalah pada teman, dan membiarkan orang menghina keluarganya. 

Dalam penat yang panjang, ada rintih perih yang dirasakan Astuti. Dadanya penuh sesak melepuh tak terima, mengapa bundanya membela orang yang jelas menghina ayahnya? Sampai lelah Astuti menangis sambil berteriak, “ Ampun Bunda, ampun!” tetap saja Bunda membiarkan Astuti terikat dan ditonton oleh anak-anak Pak Haji dari dalam rumah, karena mereka juga tak kuasa menolong Astuti. Mereka paham akan sikap Bundanya yang keras, dan tidak suka orang lain ikut mengurusi urusannya. 

Kejadian adalah alunan perih yang tak bisa sibungkus meski dengan kemegahan. Hingga saat ini tetap membekas di labirin ingatan Astuti. Ada rasa benci menyelinap jika mengingat betapa keras bundanya memperlakukannya.  Alhamdulillah Astuti tidak meniru cara Bundanya yang buruk itu ketika menghukum anaknya.

Meski pernah ada luka di hati Astuti, namun ada sisi positif yang diberikan bundanya.   Astuti termasuk anak yang beruntung. Walau tinggal di pelosok kampung, tapi Bundanya berpikiran modern. Setiap 3 bulan sekali Bundanya berusaha menyenangkan hati Astuti dan adik-adiknya dengan cara refreshing. 

Bundanya mensiasati untuk meminjam mobil plus drivernya dari pasien Bundanya hingga  akhirnya menjalin persahabatan. Astuti dan keluarganya diajak berlibur ke Pelabuhan Ratu dan ke Lido di Sukabumi. Tentu saja Astuti sangat  gembira. Kadang Bundanya juga dapat undangan untuk menghadiri sebuah acara di Hotel Indonesia yang paling megah dan mewah pada saat itu. Astuti  dan kedua adiknya berdesakan diantara tamu hotel lain demi segera masuk Hotel yang megah itu, menikmati keindahan hotel dan punya pengalaman pertama masuk lift untuk mencapai kamar hotel di lantai sepuluh. Di saat itu lah Astuti merasa bahagia bisa menikmati sesaat fasilitas hotel yang ada. Untuk itu ia harus berterima kasih pada Umi Kulsum sahabat sekaligus pasien Bunda. Yang sudah memberikan undangan pada keluarga Astuti. 

Hiburan lain yang masih terekam di benak Astuti adalah ketika salah seorang tetangganya mempunyai hajat, entah itu pernikahan atau khitanan anaknya. Orang betawi yang mampu akan mengadakan hajatan yang sangat meriah, biasanya mereka mendatangkan (nanggap) orkes melayu dengan penyanyi Rhoma Irama, Mansyur S, Ellia Khadam dan bisa juga Elvi Sukaesih. Pastilah menjadi moment membahagiakan bagi siapa saja yang membutuhkan hiburan, gratis pula. 

Sedang tetangga yang lain ada yang lebih suka memutar film “layar tancep”. Ya dikatakan layar tancep karena memang layarnya dipasang di tengah lapangan dengan cara ditancapkan. Film yang disajikan biasanya film India, yang selalu penuh dengan air mata dan nyanyian tak tertinggal selalu diiringi joged ria yang bersembunyi di balik pohon. 

Layaknya sebuah hajatan yang menggelar hiburan pasti penuh dengan penjual makanan bahkan arena judi. Judi yang ada biasanya berupa judi puteran dengan memasang uang di nomer yang diperkirakan akan keluar. Karena penasaran dan ingin tahu Astuti pernah mencoba, pertama kali Astuti sempat menang, tapi akhirnya kalah lagi. Ketika kejadian itu diceritakan  ceritakan pada Bundanya, beliau marah besar. Hehe.  Maklumlah, Astuti adalah  anak pintar. Ia selalu penasaran dengan hal baru. Ternyata alasan bunda memarahinya karena judi diharamkan di dalam agama. Astuti tertawa kecil setiap mengingat kejadian itu.

Makanan yang identik dengan layar tancep adalah kacang rebus, jagung rebus, tahu pong dan ada juga kerak telor. Cerita layar tancep dan orkes melayu jadi mengingatkan Astuti pada mbok Kem yang mendapat jodoh orang betawi ketika mereka bertemu di arena layar tancep. Sayang jodoh mbok Kem tidak panjang karena pernikahan Mbok Kem tidak mendapatkan anak.  Suaminya menikah lagi. Akhirnya Mbok Kem sakit, lalu di jemput anaknya untuk pulang ke Ngawi. Mbok Kem tidak kuat, akhirnya di dalam kereta api perjalanan Jakarta Madiun, Mbok Kem meninggal dan langsung diturunkan di stasiun terdekat. Karena biaya membawa Mbok Kem ke Ngawi cukup mahal, maka anak mbok Kem memutuskan setelah disucikan di rumah sakit Kroya, mbok Kem dimakamkan di pemakaman umum untuk orang-orang yang tidak dikenal. 

Bundanya sempat menyayangkan mengapa jasad mbok kem di kubur di sembarang tempat. Bagaimanapun Mbok Kem memiliki jasa besar bagi keluarga Astuti. Sejak bulek menikah, Mbok Kem lah yang mengasuh Astuti dan kedua adiknya hingga mereka semua tumbuh dewasa. Mendengar Mbok kem meninggal, ada rasa sedih mendalam di hati Astuti. Baginya Mbok Kem bukan hanya sebagai ‘rewang’ tapi sudah dianggap seperti ibunya sendiri. Kasihan sekali Mbok Kem. Semoga Allah SWT menyayanginya dan menempatkannya di tempat yang layak. 

Cerita Astuti ini menguap penuh harmoni, mengantarkan melodi di sepanjang perjalanannya. Tidak lengkap jika kisah Astuti dengan teman teman sebayanya tidak diungkap di tulisan ini. Ketika ia kelas 4 SD, Ia punya teman yang berasal dari Manado, pendidikan orangtua mereka sangat tinggi. Astuti mengetahui banyak hal tentang Amerika dan negara bagiannya  dari Pingkan, temannya dari Manado.  

Suatu ketika Pinkan membawa uang saku yang cukup banyak, hampir semua temannya satu kelas ditraktir di hari itu. Ketika Astuti bertanya dari mana dia mendapatkan uang itu,  tanpa malu dia mengatakan bahwa dia mencuri uang papinya. Deg, deg, berdebar rasanya jantung Astuti. Ada rasa  sesal datang setelah mengetahui ternyata ia sudah ikut menikmati hasil curian temanya. Dan kejadian itu sering berulang tapi papi maminya tidak sadar bahwa putrinya suka mencuri uangnya.

Banyak hal yang dipelajari Astuti setelah dekat dengan Pinkan. Salah satunya hobi membaca komik. Komik yang mereka baca komik HC Adresen, dilanjut dengan komik-komik silat dari mulai “ si Buta dari Gua Hantu” sampai “ Wiro Sableng”, akhirnya merambah ke Buku cerita “Kho Ping Ho”, terus berkembang ke novel-novel percintan Montingo Busye. Dan ketika Astuti klas 6 SD, Pingkan membujuk nya agar mau membaca buku stensilan “ Nick Carter”. Sebuah buku yang isinya tentang Sex. Haha tanpa sengaja Astuti belajar hal itu dari Pinkan. Ironis,anak klas 6 SD sudah mengenal tentang sex dari buku stensilan bukan dari orangtuanya. Di sisi lain, setiap Astuti pulang sekolah dalam seminggu  ada 3 waktu diharuskan sekolah dien atau madrasah, dimana mereka diajari baca tulis Al Qur’an dan bahasa Arab. Astuti tidak tuntas belajar di madrasah pada sore hari. Jadi pengetahuannya tentang agama juga minim dan asal asalan, seakan ia punya kelompok bermain dari dua sisi yang menjurus ke akherat dan yang menjurus ke dunia.

Dari Pingkan juga Astuti mengenal cowok ganteng. Ia ingat namanya Erwin, masih sepupu Pingkan, ia tahu kalau Erwin naksir Astuti dari Pingkan. Awalnya hanya menitip salam untuk Astuti, tapi kemudian berlanjut tukar tukaran buku catatan lagu-lagu dan kata-kata mutiara. Semacam buku yang bisa mereka tulis dengan apa saja untuk menggungkapkan kegalauan hati. Kadang berupa puisi atau tulisan-tulisan untuk saling memuja dan mengagumi.

Ibunda Astuti langsung memarahinya jika ia sering pulang sore atau ketika Bundanya pulang ia masih bau keringat dan belum mandi, bundanya langsung melempari seribu tanya  dari A-Z di ruang tamu. Astuti hanya menjawab 'ya' dan tidak atau memberi keterangan yang singkat. Apabila  rasa jengkel Bundanya memuncak, dia tidak segan segan menjewer telinga Astuti. Sejak kejadian itu,  Astuti harus pandai mengatur siasat bagaimana caranya kalau sore sebelum Bunda pulang ia harus sudah mandi, dan duduk manis menunggu kedatangannya.

Meski Astuti tergolong dari keluarga mapan, pada jaman itu sangat beda dengan jaman sekarang. Walau mereka punya pengasuh, tetap saja Bundanya memberi tugas rutin untuk mereka. Astuti sebagai si sulung tugasnya menyapu lantai dan ngepel, sedang adiknya  yang perempuan bagian ngelap meja kursi, dan furniture lain yang ada di ruang tamu dan ruang keluarga. Sedang, si bungsu dia kebagian menyemir sepatu dan menyiram tanaman. Setelah tugas itu selesai baru mereka mandi bergantian dan sarapan dan berkemas berangkat sekolah. Ada tugas lain yang Astuti kerjakan di hari minggu pagi atau siang. Semua tergantung dari perintah Bunda. 

Tugas ke pasar dengan catatan belanjaan yang harus ia beli. Dan lebih berat tapi juga menyenangkan yaitu door to door ke rumah langganan dan pasien Bunda, Astuti pergi ke sana untuk menagih uang pembayaran berobat atau mengantar obat pesanan mereka.  Ibunda Astuti adalah mantri keliling yang punya jadwal khusus door to door memberi pelayanan pada mayarakat di sekitar kampung nya,  atau bahkan meluas sampai daerah Condet dan Kampung pulo, Krobokan yang sekarang lebih dikenal dengan nama daerah Warung Buncit. 

Jiwa sosial ibundanya  cukup tinggi sehingga membolehkan langganan dan pasienya menhutang ketika berobat. Mereka rerata buruh bangunan dan buruh penjahit konfeksi dari para juragannya yang memiliki usaha di pasar Tanah Abang. Karena mereka menerima upah mingguan atau biasanya sabtu sore, tugas Astuti adalah menagih utang mereka di Minggu pagi. Dengan dating dari rumah ke rumah, ia  bisa melihat suasana rumah tiap orang dan bisa membandingkan bahwa ia  dan adik- adiknya termasuk orang yang beruntung. Betapa tidak, dari kunjungan itu ia bisa melihat rumah yang jorok dan tidak layak huni. Sedang, Astuti dan keluarganya hidup di lingkungan yang layak  meski dengan rumah sederhana, tapi karena Bundanya orang kesehatan jadi semua tertata rapi dan bersih.

Di beberapa epidose, Astuti mendapati keberuntungan yaitu ketika  menapaki rumah pasien ibundanya yang berlatar gedong, halamannya luas, ditumbuhi pepohonan asri, dan pulang dibekali buah tangan seperti Apel Amerika atau anggur, kadang juga kue lapis Surabaya yang sangat enak. 

Ada alasan lain yang membuat Astuti merasa senang yaitu ketika mendapat tugas belanja ke pasar. Kadang ke pasar Minggu kadang ke pasar Mester atau sekarang dikenal dengan pasar Jatinegara. Dua pasar tradisional yang kalau hujan identik dengan becek dan bau. Catatan yang harus dibeli di tangannya bisa berupa obat, bisa juga berupa kebutuhan rumah tangga lainnya. Namanya pasar selalu mempunyai daya tarik tersendiri. Bundanya selalu melebihkan uang yang untuk belanja. Jadi, ketika ada sisa dengan leluasa ia  membelanjakannya. Biasanya barang yang  ia beli berupa aksesoris, kaos kaki atau piranti lain yang sangat “feminim”.

Perlahan tapi pasti ia di didik untuk terjun langsung mengenal kehidupan. Berinteraksi dengan orang banyak, belajar memilih barang yang bagus, dan belajar menawar harga barang dengan cara yang sopan. Tentu saja semua itu dengan proses. Bundanya sering mengajak ia berbelanja sebelumnya. Oleh ibundanya ,ia ditunjukkan tempat langganan belanjanya serta di ajari kiat memilih barang yang bagus.

Sekarang ia menyadari bahwa ibundanya  mendidik Astuti dan adik-adiknya dengan tidak mudah. Tiap anak punya kenakalan yang berbeda. Astuti termasuk anak yang sukar diatur, bertindak semaunya sendiri, jika dinasehati justru semakin tidak taat. Sedang adiknya yang nomer dua, dia benar-benar anak Bunda, selalu menurut. Paling sesekali berkelahi dengan temannya. Itu pun tidak sampai menghebohkan seluruh keluarga. Lain lagi dengan adik laki-lakinya yang super istimewa, maklum laki-laki dia bergaul dengan siapa saja. Perilakunya yang menjengkelkan adalah ketika adiknya dan teman-temannya begadang. Dia menyelinap keluar kamar dan menutupi gulingnya dengan bantal, seakan dia sudah tertidur nyenyak. Padahal di luar sana adiknya mencuri mangga dan telur ayam milik tetangga mereka. 

Tentu saja peristiwa itu mencoreng nama baik Bundanya Astuti. Sejak itu ibundanya ekstra ketat mengawasi mereka. Adiknya ini selain avonturir dia juga suka travel yang aktivitasnya mendekati bahaya. Misal  nonton bola tidak beli tiket, cari tumpangan dengan menyetop truk di lampu merah, naik Kereta Jakarta Bogor tanpa karcis. Yang seru lagi ketika dia diturunkan di salah satu stasiun kereta api karena kedapatan tanpa tiket. Padahal kereta api yang ditumpangi adalah kereta api jurusan Surabaya –Jakarta. Jadi ketika teman- temannya sudah sampai Jakarta, adiknya belum tampak batang hidungnya. Tentu saja Bundanya panik tapi tidak bisa berbuat sesuatu, cukup menunggu kabar. Ternyata setelah diturunkan di salah satu stasiun, dia malah estafet naik Bus agar segera bisa sampai rumah.

Ibunda Astuti menyiapkan masa depan mereka dengan sungguh-sunguh, beliau rela berstatus istri muda,  hanya demi status dan nafkah batin dari Pak Atmaja. Tetapi  untuk urusan materi Bundanya tidak pernah mengganggu keuangan Pak Atmaja sekeluarga. Semua biaya hidup Astuti dan anak-anaknya  sepenuhnya  ibundanya yang mengurus. 

Sosok ayah tidak seratus persen Astuti dan adik-adiknya rasakan, hanya demi kehormatan dan sebuah status. Astuti tidak tahu apakah ini suatu komitmen yang dibuat oleh ibundanya, Pak Atmaja atau bu Atmaja. Jika Iya, bagaimana bisa semua ini dilakukan, berumahtangga dengan syarat yang tidak disyariatkan agama. Tidak ada keadilan di dalamnya. Yah mungkin hanya ibunda pada, Pak Atmaja, Bu Atmaja, dan Allah SWT saja yang tahu. 

Naluri seorang ibu sangatlah tajam. Sering kali Bundanya memergoki perbuatan buruk Astuti, entah itu membolos, mencuri uang di lacinya, atau berlaku tidak adil dengan adiknya. Bundanya mengamati tiap perilaku anaknya. Dari tiap perilaku dan kebiasaan anaknya dia beliau bisa mengarahkan langkah mereka. Astuti yang senang main sekolah-sekolahan dan bertindak jadi guru, sering mengatur teman teman sebayanya, diprediksi Bundanya akan menjadi guru. Bunda terobsesi agar Astuti pandai bahasa Inggris dan bisa sekolah ke luar negeri dan suatu saat mengajak jalan-jalan ibundanya keliling dunia.

Jaman dulu belum banyak orang memberi pelajaran kursus, Ibunda Astuti mendaftarkan ia untuk ikut kursus bahasa Inggris yang diikuti oleh murid SMA dan umum. Dengan susah payah, Astuti mengikuti kemauan ibundanya walau akhirnya tidak tuntas dalam belajar, karena ia merasa tidak nyaman dan tidak bersungguh-sungguh. Tekad Bundanya yang besar mengantar ia menjadi guru. Ibundanya  bersusah payah ke Solo dan antri membeli formulir pendaftaran untuknya. Astuti hanya tinggal mengisi dan mengikuti tes. Sampai akhirnya ia diterima di FKIP UNS jurusan Bahasa Inggris.

Sedang adik perempuannya yang punya kebiasaan mengisap jempol dan ngodos-odos bantal lalu diambil kapuknya dan ditempel-tempelkan ke hidungnya, diprediksi ibundanya akan menjadi dokter. Karena kapuk  identik dengan kapas untuk menyuntik pasien. Mungkin karena sugesti, Bundanya sangat yakin jika adiknya akan menjadi dokter. Dan Qadarullah memang akhirnya gelar dokter  berhasil di sandang adiknya Astuti dengan jerih payah keuangan yang 'ngos ngosan' dan berjuang sekuat tenaga untuk bisa  meraih gelar dokter. Bagi beliau, paling tidak, ada peningkatan dari anak seorang mantri  suntik menjadi seorang dokter.

Hal yang paling lucu adalah prediksi ibundanya tentang adik Astuti yang paling bobtot.  Kebiasaan adik laki lakinya ini, ketika tidur dia suka 'ngemot' nasi putih sekepal. Jadi, ritual tidurnya diawali dengan ngemut nasi segenggam yang disediakan Mbok Kem pengasuh kami. Bunda menebak bahwa kelak jagoannya akan menjadi pak Tani. Atau paling tidak bergerak di bidang pertanian. Nasi identik dengan Pak Tani. Alhamdulillah adik bungsu Astuti lulus dari fakultas pertanian, lalu sibuk di LSM yang memberi pembelajaran pada para petani. Dan berjodoh pun dengan teman kuliahnya yang  bergelut di bidang pertanian juga.

Sampai akhirnya Astuti menyakini bahwa kebesaran  Allah itu sesuai dengan apa yang kita sangkakan. Begitu  besar kasih sayangNya. Ibundanya  telah mengarahkan mereka untuk menjadi insan yang bisa mengembangkan diri dan tidak canggung terjun dalam kehidupan yang nyata.

Seumpama waktu adalah kancing yang melekatkan harapan, maka bias elegi menempel sebagai temaram yang berhias pada keindahan. Pula langkah adalah jarak tanpa jengkal yang dapat memindahkan harapan pada suatu kenyataan.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantara mu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (ar-Rum:21)

Sabtu, 15 Oktober 2022

Kata Pengantar Puisi Akrostik

"Di hadapan Tuhan, pendek kata, segala yang merupakan tujuan kita adalah nama kita yang sebenarnya." Jalaludin Rumi.

Bersebab sebuah kehidupan merotasi antar purnama dan mentari. Melahirkan sebuah warna menggores kata, ada makna yang perlu dipertegas sebagai sebuah sebutan berupa Nama. 

Nama adalah  kepantasan sebagai pengiring doa untuk Sang Pencipta. Nama adalah saduran yang menyublim jiwa dan raga, yang ketika ia merapat dengan bumi sebuah nama melangit sebagai kenangan. 

Setiap cerita, kejadian, gagasan, mimpi dan pencapaian adalah sinyal dari Sang Pencipta. Seluruh perkara di dunia sudah tergaris menjadi sebab akibat, seperti sebuah nama yang menjadi nyawa atas laku para pemiliknya. Dalam doa kita haturkan sebuah nama, karena nama melukiskan sajak makna.

Namun bagaimana jika sebuah nama menjadi lebih klasik dan enerjik? Tentu akan menjadi pemandangan yang begitu mendelik. 

Dalam buku puisi Akrostik bertema Nama dan Harapan ini, para penulis se-nusantara merupa nama menjadi lebih klasik dan unik. Sebuah nama yang kemudian dijabarkan sebagai rangkaian  harapan, tindakan, dan perbuatan tersusun menjadi romantika kata yang begitu epik. 

Buku ini amat cocok menjadi saduran untuk sebuah nama agar bermakna lebih menarik. Ritme kata yang tersusun dengan unik menyibak makna amat klasik. 

Saya merasa bangga bisa menarikan tinta dalam kumpulan puisi Akrostik ini, dimana sebuah nama bisa menjadi seumpama yang amat luarbiasa, penuh makna dan menarik untuk dibaca. 

Buku ini begitu unik, siapapun pantas tertarik, ditulis dengan epik oleh para penulis yang bertangan magic. Dari mereka kita mampu belajar berpuisi akrostik. 

'Maydearly'

Lebak, 15 Oktober 2022



Minggu, 25 September 2022

Sahabat Online

"Selemah-lemah manusia ialah orang yang tak mau mencari sahabat dan orang yang lebih lemah dari itu ialah orang yang menyia-nyiakan sahabat yang telah dicari." Ali Bin Abi Thalib

Tentang September 2021, kuasku terjebak dalam  cerita penuh makna. Ruang maya mempertemukan kita dalam sebuah rajutan aksara. Sebuah pesan masuk tanpa basa-basi menggiring perhatianku pada layar untuk terus berguman dan berbalas pesan.

"Assalamualaikum Bunda, Perkenalkan Ini Widya, saya mau ikut Antologi cerita Faksi. Boleh gak tentang mengajar di Sekolah?" Tanya Buk Wid penuh harap.

"Boleh, Bunda!" Jawabku dengan emot senyum.

"Baiklah Bunda, akan saya kirim lewat email ya, sampun" balas nya dengan ramah.

"Siap Bunda!" Jawabku dengan emot penuh cinta.

Hari berjalan menjadi berminggu, minggu berlari menuju berbulan, sebuah waktu terus berotasi dalam ruang virtual. Entah, sinyal apa yang membawa ia kepadaku. Bahkan ketika udara bertiup bak jelmaan pesan dari Buk Wied.

Dari balik dinding hatiku yang dingin, aku tetap menasbihkan egoku untuk bersikap biasa saja, aku tak peduli tentang dini hari yang menegggelamkan pijar bintang sang malam. Bagiku, semua normal saja.

Acap kali ia mendekati, acap kali aku mengabaikan. Padahal mimpinya hanya sederhana, cukup dengan menjadi sahabat atas setiap momen di linimasanya. Namun, hatiku tetap angkuh memamerkan penolakan bak senja menolak malam dalam derai hujan penuh nestapa.

Aku masih ingat ribuan alasan yang ku lontarkan begitu lantang. Berkelit atas padatnya sebuah kesibukan. Eloknya, jiwanya tak pernah gentar meski perasaannya tercincang tapi laku nya begitu anggun dalam balutan kesabaran.

Sang waktu semakin bersaksi ada beberapa kecewa  yang ia sandingkan dalam nanar. Lantas ia pun eja dalam bait panjang pesan maya. Hari itu aku meminta maaf, bahwa melupakannya aku belum bisa, dan hatiku masih saja mengeja namanya sebagai rasa hilafku.

Semangkuk harapan kemudian aku tawarkan sebagai sebuah pembelaan atas egoku yang rindang. Berusaha dengan keras memperbaiki laku nan arogan. Hingga akhirnya aku ingin berdamai dengan keadaan. Entahlah, untuk apa aku hindari toh bersahabat maya juga disertakan sebuah rasa asam manis  rujak bumbu, kopi hitam kupu-kupu. Marah dalam diam sesal penuh rindu. Jelas yang kujadikan sahabat adalah manusia bukan sebuah Hp yang tersenyum dalam emoji.

Aku melamun dalam temaram, sedemikian aku mengabaikannya sekuat ia mengejarku bak mengejar mentari yang selalu senyum dalam pagi. Akhirnya, aku siapkan lencana hati untuk ku jadikan sebuah rumah tempat sahabat online ku berkeluh kesah. Agar ia bisa bernafas dal pori-pori kedamaian. Dengan keras kujadikan jiwa ini sebagai tempat berlari dari letihnya senja saat berpulang.

Semakin lekat kita bersua dalam maya, harusnya semakin dekat kita menyusun singgasana yang utuh. Namun gemuruh sesekali berteriak di atas kenyataan bahwa kita terkadang saling ego. Bertengkar atas pesan yang terlampau diratapi, menumbuk beriringan dengan letupan emosi. Memenggal jarak bak bumi dan angkasa, padahal jarak kita hanya terhitung jari, semudah klik dan emoji.

Kenapa kerap kali kita perbincangkan sebagai alasan atas pertikaian yang tak sefaham. Keadaan kita memang sehat, tapi terkadang jiwa kita dibuat sekarat. Pada akhirnya kita saling mematahkan, hingga debar yang dirasa mengganggu tidurku. Sampai hatiku bergumam, 'aku tak suka pertengkatan ini'.

Hingga ahkirnya aku tersadar bahwa daun-daun yang jatuh di atap rumah pun adalah ia yang berkorban demi jiwa yang lain. Tentangmu bagaikan obat Paracetamol, pahit namun mampu menjadi analgetik. Hadirmu mendewasakan, menggiring lara agar tetap tegar melangkah yang akhirnya menjelma menjadi sebuah kekuatan dalam nurani. Nampak keindahan yang kemilau melebihi kemilau bintang di angkasa. Keiklasanmu menyanyangiku membawa teduh yang berpendar menaungi deretan jiwaku yang gersang.

Setiap bait percakapan yang kita bincangkan, akan menguat dalam labirin ingatan, menjadi elok dan utuh bernaung dalam tema  persahabatan. Selamanya aku akan mengenangmu sebagai bunyi keindahan. Kan ku katakan pada udara agar bterbentuk pusaran abadi di rotasi bumi, membawa pusara rindu yang terus kita syukuri. Aku menyerumu dalam maya, merupa wajah dalam doa dan bismillah. Dengan cinta engkau mengubahku. Karena cinta selalu bisa mengubah apa yang selama ini sulit dirubah.

Sementara cinta dan angkuh pernah berpesta pora, akhirnya aku tenggelam dalam dekapan hangat persahabatan. Terimakasih selalu menjagaku dalam doa, dibandingkan dengan cintamu bahkan semesta pun nampak kerdil di pelupuku. Tak ada yang bisa kupersembahkan di hari jadimu selain doa dan cinta yang tulus dari nadiku.

I Love You to the Moon and Back

Maydearly

 


Kamis, 02 Juni 2022

Dear Sahabat Online ku

 Dear Sahabat Onlineku 

Maafkan aku terlampau Jauh membawamu pada samudera cerita hidupku 

Mula nya perasaanku biasa saja, namun seiring waktu berlalu rasa itu nampak seperti cuaca yang bergantian. Kadang dingin, kadang panas, dan acap kali tawar.

Rentetan detik kemudian perlahan membawa kita pada kumpulan kisah ini. Hingga hati ini  merasa jika engkau seperti pagi, bepijar bak mentari yang mengepakan sayap semangat. 

Hati ini lantas  terisi. Seperti rindu yang pergi menuju muaranya. Kau seperti menopang kekosongan di sisi kalbuku. Rasa kosong dari luka yang bersebab kekecewaan.

Kepada bumi yang berotasi dan langit yang mengibarkan udara, aku hanya ingin katakan terimakasih kau telah mewarnai temani hari dalam lika liku.

Aku hanya ingin katakan padamu, aku sedang berada di tengah keriangan elegi yang memaksa nafasku menjadi sesak. 

Ada yang selalu ku ingat, tentang petuah mu jika hidup harus sepantas nya berjalan. Hidup untuk menyapa, berbagi, dan ramah pada siapa saja bahkan pada mereka yang memenuhi batin ini begitu sesak.

Entah mengapa ragaku kerap patah hati. Melebihi senja yang melarungkan malam dalam pekat, hingga aku tersungkur dalam nanar jika kesedihan memang harus dicukupkan. 

Hidup itu pertunjukan seni yang menggairahkan, memanjakan mata dalam pandangan memijat logika dengan kekar sampai kita tau cara menerjemahkan luka.

Dear Sahabat Online ku 

Aku mencoba menyelesaikan semua gelisah agar bangkit dari sesak yang bertubi. 

Maafkan aku atas segala Khilaf yang ku perbuat,  kegelisahan ku mengapung melebihi urat dewasaku. Aku sudah menangis dalam pori pori udara yang bisu. Dan kini aku ingin tertawa meski sebentar saja.

Semoga kau adalah mentari yang selalu datang dengan 'selamat pagi' yang mengingatku saat kesedihan datang. Dan tetap tinggal saat senyumku kembali terang.












Sabtu, 05 Februari 2022

Bionarasi

 



Maesaroh, M.Pd adalah seorang penulis berdarah Banten yang lahir di Lebak 32 Tahun yang lalu. Ia adalah seorang penulis yang dijuluki "Queen of Diction" di Komunitas Menulis PGRI Tingkat Nasional karena kepiawaiannya dalam meramu diksi-diksi yang unik. Ia dikenal dengan nama pena Maydearly dan nama panggung Blogger Milenial.

Ia memulai karir sebagai seorang penulis, tepatnya pada bulan Maret 2021, berawal dari posisi sebagai seorang peserta di Komunitas Belajar Menulis PGRI tingkat Nasional yang dengan kegigihannya ia mampu melahirkan sebuah buku Solo yang berjudul "Trik Jitu Menjadi Penulis Milenial" hanya dalam kurun waktu 2 hari. 



Kecekatannya dalam menulis menyorot perhatian Tim di  Komunitas Belajar  Menulis, sehingga setelah berhasil melaauncingkan buku solo, ia kemudian diangkat menjadi Narasumber diberbagai kelas pelatihan menulis. Pengalaman menjadi narasumber tingkat nasional meliputi:

1. Narasumber di Kelas Menulis Gelombang 19, 20, 21, 22, 23, 24

2. Narasumber di Kelas Guru Motivator Literasi Digital

3. Narasumber di Kelas Writing is My Passion

4. Narasumber di Kelas Webinar PPPK

Beberapa karya kemudian ia lahirkan diantaranya 10 buah buku antologi serta buku solo kedua yang berjudul "Episode 1 Januari 2020 dalam Kenangan" sebuah buku laris manis yang terjual 50 pcs dalam 2 hari. 



Kini, ia diangkat menjadi seorang kurator, dan editor buku antologi di Penerbit Indie Oase Pustaka yang terletak di Sukoarjo Jawa Tengah. Hingga kini penulis masih aktif menjadi kurator dan editor beberapa buku Antologi. 

Sebuah pencapaiannya dalam menulis mengantarkannya pada juara tervaforit lomba blog Tingkat Nasional pada Oktober 2021. 

Rincian Buku yang dibuat Penulis:

1. 10 Buku Antologi 

2. 2 Buku Kurator Jejak Pena Pengembara Aksara, dan Kisah Para Pendaki Mimpi

5. Buku Duo Litersi Digital untuk Abad 21 bersama Prof. Eko Indrajit

6. Buku Solo Trik Jitu Menjadi Penulis Milenial

7. Buku Solo Episode 1 Januari 2020 dalam Kenangan

8. Buku Solo Catatan Inspiratif

Pengalaman Mengajar :

1. Guru di SD Kristen Mardi Utomo (2009-2010)

2. Guru di SMPN 2 Lebakgedong (2009 - 2014)

3. Guru di SDN 2 Ciladaeun (2010 - 2012)

4. Guru di SMKN 1 Lebakgedong (2015 - 2017)

5. Guru di SMPN 1 Lebakgedong (2011 - Sekarang)


Pengalaman Narasumber :

1. Narasumber Webinar Assesment of Product and Project for US di MGMP Wilbi 3 Kab. Lebak

2. Teacher Training and Consultancy di ProNative (Maret 2021)

3. Narasumber Kelas Menulis PGRI 

4. Narasumber Kelas Menulis WIMP MPA

5. Narasumber Kelas Guru Motivator Literasi Digital (GMLD)

Pengalaman Organisasi :

1. Ketua ELOS di STKIP Setiabudhi (2010 - 2012)

2. Pengurus MGMP Bahasa Inggris WILBI 3 di Bidang Pengembangan dan Inovasi (2017- Sekarang)

3. Pembina OSIS SMPN 1 Lebakgedong (2017-2021)

4. Kepala Pustakawan SMPN 1 Lebakgedong (2021)

5. Pembina LKIR SMPN 1 Lebakgedong (2021)

6. Ketua Pelatihan Menulis PGRI Gelombang 18 (2021)

7. Admin Grup Pelatihan Menulis Gel. 18,19,20,21,22.

8. Admin Grup Pelatihan Menulis WIMP MPA Angkatan 1

9. Admin Tim Solid Omjay Pelatihan Menulis

10. Founder Kelas Menulis Remaja Berkarya (Gelar Tikar/Tinta Karya) 

11. Founder Kelas Menulis Pucuk Diksi


Motto dalam hidupnya:  "Menulislah untuk hidup seribu tahun"

Personal Branding : Sang Blogger Milenial

Nama Pena : Maydearly

Instagram : Maydearly89

Facebook : Mamah Agam

Email : maydearly@gmail.com.

Situs blog : maydearly.blogspot.com

Kata Pengantar Buku Tarian Aksara Penuh Makna

Dahulu aku sering bertanya sendiri; kalau puisi itu berwujud, akan seperti apakah dia? Matahari? Bulan? Bintang? Gunung? Laut? Bertahun lalu...