Kamis, 19 Agustus 2021

Negeri Di Atas Awan

 



Pagi itu sang fajar masih terdiam dalam pucuk keheningan. Lantunan suara Adzan membuka jendela mataku yang dibius dinginnya malam. Ketika fajar hampir menyingsing, aku ingin  menjemput matahari dan bersiap memancarkan gelombang semangat menapaki sebuah tempat yang disebut 'Negri di atas Awan', sebuah tempat wisata yang jaraknya 30 km dari rumahku. Tepatnya di Kampung Citorek Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak-Banten.

"Buk May, sudah bangun?" tanya sahabatku bu Susi

"Sudah bu, dingin sekali bermalam di rumah ibu" balasku.

"Kalau sudah terbiasa gak akan terasa dingin, makanya yang sering nginepnya" guraunya.

Demikian percakapan yang dikemas di beranda fajar. Akhirnya aku dan Bu Susi mendaki tempat wisata tersebut yang sebetulnya salah satu mukim di sana di sewa kawan kami dari Bekasi, yaitu Bu Anita dan rombongan. Mereka tiba di sana malam tadi, dengan petunjuk dariku sebagai tour guide.

Beberapa orang yang belum pernah kesana, tidak akan tau bagaimana indahnya pagi dengan biusan awan. Bak masuk ke negri dongeng, perjalanan menuju negri di atas awan seperti menembus batas ilusi. Udara dingin dan jalanan yang tertutup kabut merangkai cerita yang seperti menembus lorong waktu menuju negri dongeng. Was-was dan sensasi berkawin jadi satu menjabarkan perasaan yang sulit di utarakan. Begitulah adanya, dengan segala keindahannya.

Akhirnya aku dan Bu Susi membersamai rombongan Bu Anita di tempat tersebut. Kami berswa foto, di tengah hamparan awan yang begitu luasnya. Banyak kekaguman yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Sebuah keindahan yang lahir dari alam seperti lencana surga yang menawan, Masya Allah.


 

"Masya Allah, tak menyesal saya datang kesini Buk May, Indah sekali!" celoteh bu Anita.

"Alhamdulilah, monggo Bu, bawa awannya ke Bekasi hehehe" balasku.

"Lapar Bu Ani, Yuk balik ke kamar! Buk May, hampir semalaman Bu Anita gak tidur takut kesiangan lihat awannya hehe" gurau Bu Nur sahabatnya Bu Anita.

Matahari berangkat nak, menciptakan guratan indah di sekitar awan. Sang awan menjadi tampak putih berkilauan, begitu tangkas dan sedap dipandang mata. Ditemani hangat sang mentari, kami menyantap teh manis dan semangkuk mie rebus yang ditambahi telur. Pagi itu semakin hangat dengan dibumbui canda gurau di antara kami.

Dan aku pun tak menyiakan waktu untuk memetik sang mentari yang bersiap naik dari ufuk fajar.



Ada sensasi luarbiasa yang tertata dalam sanubari, sebuah rasa kepuasan menikmati keindahan-Nya membuat diri semakin tertegun dengan rasa syukur yang begitu hikmat.

Satu hal yang pasti, yaitu para pembaca tak akan pernah tau bagaimana sensasinya sebelum menginjakan kaki di Negeri Di Atas Awan.

Ayo Para Traveler, segera sambangi wisata di tempat kami, dan rasakan kepuasannya hehe.

Senin, 16 Agustus 2021

Sang Penghuni Huntara

 



Riak hujan mengantarkan pagi yang gemetar, dalam dingin yang rindang terdengar celoteh tangis memecah keheningan.

“Ea...eaa...eaa” tangisan si bayi merah yang baru berumur 2 minggu.

“Si cantik umi, pinter ya, pagi-pagi udah bangun. Dede pipis ya? Umi ganti ya popoknya” ujar ibunya sambil mengganti popok.

“Umi, mana pakaian dede yang kotor? Mau Risma cuci” tanya si sulung pada ibunya.

“Itu di pojok. Teteh jangan lupa air tadah hujan di luar bawa ke kamar mandi ya!” balas ibunya.

“Iya Umi”

Si sulung yang penurut kemudian melakukan apa yang diperintahkan ibunya. Dalam desiran angin yang berhembus pada hujan yang rintik, ia menyelesaikan tumpukan cucian yang menggunung.

 

Suasana pagi yang sunyi seakan mengukir celah-celah sajak yang lunglai. Hujan menidurkan matahari hingga ia lupa untuk terbit.

“Teteh kalau udah beres nyuci, masakin umi sayur pakis ya” ucap ibunya memberi perintah.

“Iya Umi” balasnya dengan semangat.

Risma, si gadis cantik yang pintar nan penurut begitu telaten merawat ibunya yang baru melahirkan. Ia menggantikan peran seorang ibu untuk kedua adiknya dengan  rasa sabar dan penyayang.

Selama dua minggu ia mengurus rumah, merawat ibunya serta mengurus kedua adiknya, menjadikan ia seorang pribadi yang dewasa.

Di pagi itu, ia bangun mengejar fajar membuka pagi dengan deretan aktivitas layaknya ibu rumah tangga. Sang hujan yang bercucuran setia membersamainya dengan elok. Hingga detik berlari, dan menit berganti, namun hujan begitu lekat berkawan dengan pagi.

Usai memasak sayur pakis, Risma kembali ke kamar madi. Ia ambil cucian untuk di keringkan di teras rumahnya.

“Umi, gantungan putarnya udah penuh. Baju dede yang kemarin belum kering” ujarnya dari teras rumah.

“Pake jepitan baju aja teh. Jepitin ke tambang” balas ibunya bernada memberi perintah.

Risma kemudian bergegas mengambil jepitan untuk menjepit bajunya. Setelah ia selesai menggantung semua pakaian basah itu, tiba-tiba ia merasakan keanehan di teras rumahnya.

Ia menatap dinding tanah di samping rumahnya. Diperhatikan dengan baik, tekstur tanah itu bergerak perlahan. Melihat hal itu, Risma berlari ke dalam rumah dan berteriak pada ibunya.

“Umi, ada longsor, ayo kita keluar Umi!” ajaknya dengan panik.

Tanpa berpikir panjang, ia menggendong adiknya yang berumur 3 tahun. Ibunya kemudian segera menggendong bayi merah berumur 12 hari itu. Mereka berlari meninggalkan rumah.

Beberapa langkah dari pintu rumahnya, tiba-tiba tanah yang mereka injak bergerak dengan cepat. Risma dan ibunya semakin panik. Ibunya  terjatuh pada kubangan lumpur, serta bainya terpental pada pohon pisang.

Risma histeris dan si bayi menjerit kencang. Pohon pisang itu, semakin melandai terbawa arus longsor. Dengan sigap Risma mengambil si bayi dari pohon pisang itu dengan gerakan kaki yang gemetar.

Ibunya berteriak histeris, kakinya terjebak dalam kubangan lumpur yang semakin dalam. Dari arah samping, nampak longsoran tanah hendak membungkus badannya. Lagi-lagi Risma sekuat tenaga menarik ibunya dengan tangan kanannya. Sebuah perjuangan yang begitu emosional, tangan kiri Risma menggendong si bayi merah dan tangan kanannya menarik ibunya. Di sampingnya sang adik kedua menangis dengan badan yang gemetar.

 

Ibunya semakin bergejolak, sekuat tenaga ia mengangkat kakinya dari jebakan lumpur, gusar hatinya seperti berlomba dengan arus longsor susulan yang hendak menimpa tubuhnya.

Hampir lima menit penyelamatan itu berlangsung, akhirnya Risma dan ibunya berhasil menyelamatkan diri dari maut.

Mereka berlari bersamaan dengan kejaran longsor. Risma dan ibunya menyaksikan para warga berhamburan dari rumah mereka.

“Bi Sitti, ayo kita lari ke Hutan Sibanung” teriak salah satu warga kepada ibunya Risma.

Risma dan ibunya kemudian mengikuti arahan warga. Mereka beralari menuju hutan Sibanung. Sebuah hutan di atas bukit dengan dataran yang luas.

Para warga berduyun-duyun menuju Sibanung, mendirikan tenda dan menunggu bala bantuan. Si bayi merah yang malang itu, hanyut dalam dingin. Bibirnya  membiru dan tangisnya amat lemah. Risma dan ibunya amat bingung. Tak ada pakaian yang mereka bawa, meski hanya sehelai. Para warga berupaya keras menghangatkan badannya.

Rumahnya yang tertimbun longsor, meninggalkan  segala perabotan serta elegi yang mendalam. Tiada lorong harapan yang menguatkan hati mereka. Mereka gundah dan resah dalam perut yang lapar. Bahkan bulan pun tak muncul meski hanya untuk mengintip.

Si Bayi merah yang kuat, bertahan dalam gelap yang pekat. Dalam pelukan hangat ibunya ia amat sabar seolah mengerti dengan keadaan.

Setelah penantian selama selama tiga hari tiga malam, ibu Bupati datang menjemput para korban untuk dilakukan evakuasi. Keluarga Risma adalah keluarga kedua yang di angkut dengan helikopter.

Mereka para warga yang malang itu kemudian bermukim di Batalion Mandala Yudha, sebuah Mess TNI yang kini di kosongkan, karena para TNI itu menghuni tempat baru.

Tiga bulan dalam pengungsian banyak suka cita yang mereka dapatkan. Kehilangan rumah huniannya adalah ratapan yang hingga saat belum terpecahkan solusinya.

Ibu Bupati kemudian memulangkan para warga menuju kampung halamannya. Hutan Sibanung yang dulu dijadikan tempat untuk menyelamatkan diri, kini di sulap menjadi sebuah hunia beratap biru. Para warga menyebutnya dengan sebutan ‘Huntara (Hunian Sementara)’. Sebuah hunian beratap terpal yang apabila datang hujan atapnya menari-nari kencang senada dengan tarian angin, dan apabila datang cuaca panas, maka suhunya amat menusuk tulang.



Sebuah harapan yang masih tersimpan dalam hayalan, entah kapan mereka memiliki rumah yang layak seperti sebelumnya. Belum ada jawaban yang pasti. Mereka berkawin dalam perasaan yang terombang ambing menunggu sebuah kepastian.

Begitulah seorang Risma dan warga lain menjalaninya, hidup dalam tenda biru bukan hanya judul sebuah lagu melainkan langit rumah mereka, para penghuni HUNTARA.




Bila harus penulis ceritakan, ada sesak yang mendalam di hati mereka. Sebuah impian berlagu sebagai kabar angin yang entah kapan berlabuh dengan pasti.

Demikian tulisan ini penulis utarakan sebagai narasi penggugah rasa syukur di hati pembaca. Setidaknya ketika pembaca membaca narasi ini, ia menatap langit rumahnya yang berseri menjadi payung kokoh. Tak seperti mereka para pengisi tenda biru yang hampir lapuk atas terjangan angin. Bocor ketika hujan, dan menyengat ketika panas.

Semoga ada untaian doa dan pemberi harapan untuk mereka sang penghuni Huntara.

-Sekian- 


Jumat, 23 Juli 2021

Generasi Milenial (Oleh Sang Blogger Milenial)

 


Sumber: http://news.unair.ac.id/2018/02/19/menakar-potensi-intelektualitas-generasi-millenial-indonesia/

Tulisan ini dibuat untuk menjawab pertanyaan salah satu peserta beajar menulis  gelombang 20. Sebuah pertanyaan yang menggugah selera menulis saya, karena secara tidak langsung, saya melabeli diri saya sebagai Sang Bloger Milenial. 

Pertnyaannya adalah:

"Bilakah seseorang dikatakan Sang Blogger Milenial?

Karena saya lahir pada abad milenial, maka saya pertegas diri saya sebagai pengguna Teknologi di era milenial. Berikut narasi yang saya paparkan tentang generasi milenial. 


Berbicara mengenai generasi Y, seketika diingatkan dengan bahasan paling populer pada abad ini. Millenial generation disandangkan sebagai sebutan untuk generasi Y. Generasi millenial merupakan istilah yang paling akrab di telinga kita belakangan ini. Istilah tersebut berasal dari millenials yang diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika yaitu : William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya.

Dikutip dari https://setkab.go.id/peran-generasi-milenial-bagi-nkri-2/ menyebutkan bahwa menurut para pakar, generasi ini diduduki oleh mereka yang lahir pada tahun 1980-1990, atau pada awal 2000 dan seterusnya. Secara harfiah memang tidak ada demografi khusus dalam menentukan kelompok generasi yang satu ini.

Penulis Elwood Carlson menyebutkan  dalam bukunya The Lucky Few : Between the Greatest Generation and the Baby Boom yang terbit di tahun 2008, mendefinisikan bahwa Millenial lahir di antara tahun 1983-2001 berdasarkan lonjakan kelahiran setelah tahun 1983 dan berakhir dengan perubahan politik dan sosial yang terjadi setelah peristiwa 11 September. Pada tahun 2016, lembaga U.S Pirg mendefinisikan Millenial sebagai orang yang lahir antara tahun 1983 dan 2000.

Dunia saat ini sudah move on memasuki era millennials. Era ini digambarkan sebagai periode waktu di mana teknologi berkembang dengan pesat dan menjadi sebuah gaya hidup bagi generasi di dalamnya. Generasi millennials menjadi sebutan bagi orang yang lahir sekitar tahun 1980 hingga 1999. Artinya, masyarakat yang kini berusia 18-35 tahun diklasifikasikan sebagai kaum millennials.

Seperti yang kita ketahui kaum millenial merupakan kaum yang paling akrab dengan gawai. Mereka lebih sering memainkan gadget 7-8 jam sehari. Para milenials ini lebih mirip dengan generasi yang berwawasan sipil dengan empati yang kuat terhadap komunitas lokal dan global. Menurut William Strauss dan Neil Howe, para millenials ini memiliki tujuh karakter khusus seperti; Spesial, terlindungi, percaya diri, berwawasan kelompok,konvensional, tahan tekanan dan mengejar pencapaian.

Di “Zaman Now” peran generasi millenial sangatlah diharapkan, untuk menjadi agen perubahan ( Agent of Change ). Mengingat ide idenya yang selalu segar, pemikirannya yang kreatif dan inovatif yang diyakini akan mampu mendorong terjadinya transformasi dunia ini ke arah yang lebih baik lagi, melalui perubahan dan pengembangan.

Dalam buku Parenting 4.0 karya Aam Nurhasanah, disebutkan bahwa generasi millenials tidak melulu mengejar harta, tetapi millenials lebih mengejar solidaritas, kenahagiaan bersama, dan eksistensi diri agar dihargai secara sosial. Selain mengalami transisi dari segala hal yang bersifat analog ke digital, generasi millenial ini tumbuh seiring dengan matangnya nilai-nilai persamaan dan hak asasi manusia sehingga mempengaruhi pembawaan mereka yang bisa dinilai lebih demokratis.

Meski generasi millenial ini lebih sering hadir dengan gaya trendi, terkesan hedonis, tetapi mereka digadang-gadang tengah memberi banyak pengaruh baik untuk masa depan bangsa. Para milenials lebih jeli dalam melihat peluang, terutama bisnis dengan konsep yang lebih inovatif. Contoh yang paling nyata adalah keberhasilan starup unicorn milik salah seorang milenial Indonesia, yakni Bukalapak.

Dari paparan diatas, tampak jelas bahwa sebagian besar milenialis berhasil memanfaatkan teknologi dan merubahnya dari cara  konvensional menuju inovatif. Generasi ini perlu dipantau pergerakannya dalam budaya literasi digital. Mereka sangat mahir dalam teknologi dan insfrastruktur yang ada serta memiliki banyak peluang untuk bisa berada jauh di depan, dibandingkan generasi sebelumnya. Selain itu, mampu dan berusaha menjadi bijak terutama dalam menggunakan media sosial.

Menurut Data BPS ( Biro Pusat Statistik ) tahun 2018 mencatat, bahwa populasi generasi millenial adalah sekitar 90 juta orang. Kajian menyebut, rata-rata fokus  perhatian dari generasi millenial hanya sekitar 12 detik.  Bahkan untuk generasi Z (Pasca Millenial ) bisa hanya sekitar 8 detik.



Kamis, 22 Juli 2021

Puisi Telelet (Vaksinasi)

 

Polemik Vaksinasi

Oleh: Maesaroh

 

Vaksin

Seperti cermin

Menepis biotoksin.

 

Hadir  menjadi polemik

Membungkus suatu cerita apik

Mengundang rakyat jadi berisik

Disarankan sebagai obat analgetik.

 

Masyarakat awam teriak menolak sebagai penghuni desa

Tak merasa berteman dengan korona yang katanya berbisa

Sakit yang dirasa mengundang tanya, gejalanya seperti flu biasa

Tapi  banyak media yang berkata sangat berbahaya dan ganas luar biasa

Ingin menampik, berlari dan berteriak sembari berkata bahwa ini seperti rekayasa.

 

Seiring berjalannya waktu  fakta berkata bahwa korona memang berbahaya dan nyata

Kejadian  ini benar-benar luarbiasa menguras tenaga manusia dan mengurai air mata

Tak sedikit yang menjadi korban jiwa karena korona, dan  meninggal di Ibu Kota

Hal ini mengundang beribu nestapa hinga setiap jiwa menjadi gulita

Sungguh miris korona menimpa tanpa memandang  kasta

Para Nakes berjuang dan bekerja dalam dukacita.


Hal ini buat pusing kepayang

Keadaan bak layang-layang

Negeri seperti berwayang

Dibawah dagelan si  eyang

Bak mimpi terbang melayang 


Ikuti anjuran pemerintah

Karena mereka pemberi petuah

Jangan takut sampai merasa resah

Pemerintah sudah pasti pegang amanah.

 

Ini bukanlah teori ilusi

Bukan pula konspirasi

Percaya dan intropeksi.


Lebak, 23 Juli 2021

Puisi Telelet (Buar)

 

Pandemi membelenggu Buar

 Oleh: Maesaroh

Pandemi melanda

Buat galau para bunda

Atur uang harus waspada. 


Isi dompet makin gak karuan

Meski sesak harus bertahan

Jangan buar, tapi harus makan

Perut lapar bisa  masuk ambulan. 


PPKM seperti harga mati

Tak peduli lapar menggerogoti

Aturan bagaikan sebuah cemeti

Segala ucap dan tindak harus hati-hati

Mau melanggar berurusan dengan bupati.

 

Pekerjaan lenyap ditelan sang corona

Sulit nian cari surga dunia yang membahana

Merangkul episode tentang hidup bak nirwana

Tuli dan tabu di telinga sang durjana

Ketir melintir  tiada berguna

Ini seperti bencana.

 

Dengan uang rasa sulit berjumpa

Rasa buar mengusik hati jadi nestapa

Meradang terjal dalam hati yang hampa

Masih bingung, bertanya entah ini mengapa

Masalah hidup bukan hanya corona, banyak rupa.

 

Berserah dan bersyukur adalah sebuah upaya

Rezeki sudah diatur oleh pemilik cahaya

Jadikan sedekah sebuah budaya

Agar jadi manusia berdaya.

 

Teguhkan hati pada  Ilahi

Meski rasa di hati seperti berkelahi

Percaya pada Ilahi Robi, pandemi akan disudahi.

 

Lebak, 22 Juli 2021


Mencoba tantangan untuk grup Lage dengan menulis sebuah puisi Telelet bertema Buar. Puisi yang lagi booming dikalangan penulis PGRI. 

Semoga kamis ini menjadi manis dengan karya yang puitis. Salam Literasi!

Maydearly89

Sang bloger Milenial


Kamis, 15 Juli 2021

Literasi Media Sosial



Literasi media sosial merupakan salah satu bentuk khusus literasi informasi secara umum. Literasi media sosial merupakan turunan dari literasi media, yang merupaka turunan dari literasi informasi. Seseorang yang terlatih dalam mengaplikasikan sumber  informasi dalam menyelesaikan pekerjaan mereka, dapat disebut melek informasi.

Literasi media sosial sendiri dapat berarti keterampilan seseorang dalam mencari, memilah, dan mengaplikasikan sumber informasi di media sosial. Orang yang melek informasi di media sosial akan menjadi orang yang kritis ketika mendapati informasi hoaks. Masyarakat yang melek informasi di media sosial akan sulit diadu domba karena kepentingan tertentu.

Menurut Stacey Goodman (2014) literasi media sosia dijabarkan dalam empat konsep.

1.    Seluruh media pesan dikontruksi

Di media sosial banyak orang mengunggah gambar dengan tulisan (meme). Tulisan pada gambar tersebut merupakan perintah untuk kita dalam menerjemahkan gambar tersebut. Hal ini merupakan salah satu contoh bahwa pesan di media sosial merupakan sesuatu yang dapat dikontruksi. Tidak jarang beberapa informasi hanya diberikan setengah, sehingga memberikan ambiguitas persepsi.

2.     Pesan media membentuk persepsi kita akan suatu realita

Contoh paling dekat dalam kasus ini adalah penggunaan media sosial pada saat pemilihan presiden 2019 lalu. Media sosial berperan besar dalam membentuk opini masyarakat terkait kedua kandidat presiden. Tak jarang suatu kejadian menjadi pusat perhatian masyarakat karena pada awalnya informasi tersebut dibagikan di media sosial dan kemudian menjadi viral.

3.    Berbeda audiens berbeda pula cara memahami pesan yang sama

Salah satu fitur yang banyak digunakan di media sosial adalah “share”. Fitur ini memungkinkan pengguna berbagi suatu informasi kepada pengguna lain. Mereka mungkin lupa bahwa tidak semua pengguna memiliki pengetahuan mengenai berita yang kita bagi. Hal ini dapat menyebabkan penafsiran ganda, sehingga memicu adanya konflik.

4.    Pesan media memiliki dampak komersial

tak jarang ketika akan mengunduh suatu informasi pengguna diminta memasukkan akun media sosial atau email. Hal ini terlihat sepele tetapi sebenarnya informasi data diri dapat diperjualbelikan.


Konsep literasi media sosial di atas memberikan gambaran bahwa media sosial sangatlah berperan dalam membentuk opini seseorang. Besarnya dampak media sosial tersebut membuat seseorang harus mampu memilah dan memilih informasi mana yang merupakan fakta dan mana yang merupakan opini. Rheingold (Crook, 2012) mendiskusikan ada empat cara untuk dapat meliterasi media sosial:

1.    Perhatian

Kemampuan untuk mengidentifikasi ketika dibutuhkan fokus perhatian dan mengenali ketika multitasking bermanfaat. Perhatian dapat dicapai dengan memahami bagaimana pemikiran orang. Akan sulit untuk memfokuskan perhatian karena pikiran kita cenderung berjalan acak.

2.    Partisipasi

Mengetahui kapan dan bagaimana partisipasi merupakan hal penting. Partisipasi memberikan pengguna pengalaman berbeda saat menjadi produktif. Partisipasi dalam media sosial dibedakan menjadi dua yaitu netizen aktif dan netizen pasif. Netizen aktif merupakan pengguna media sosial yang ikut memberikan post di media sosial. sedangkan pengguna pasif merupakan pengguna media sosial yang hanya membaca lini masa media sosial tanpa memberikan posting-an.

3.    Kolaborasi

Pengguna dapat mencapai lebih dengan bekerja sama dibandingkan dengan bekerja sendirian. Melalui kolaborasi, redudansi dapat dihilangkan dan pekerjaan dapat didistribusikan. Adanya kolaborasi memungkinkan masyarakat berbagi sumber daya dan membangun ide lain.

4.    Kesadaran jaringan

Jaringan sosial saat ini diperluas dengan adanya teknologi. Saat ini masyarakat dapat menjadi anggota dari Whatsapp group, Newsgroup, Komunitas Virtual, Situs Gossip, forum dan organisasi lainnya. Pemahaman mengenai sosial dan jaringan teknis.


Pemakaian media sosial haruslah secara kritis agar menarik evaluasi tentang apa dan siapa yang dapat dipercayai. Sebelum mempercayai, mengkomunikasikan, atau menggunakan apa yang ditulis oleh orang lain, ada baiknya melakukan identifikasi. Cek klaim yang terdapat dalam informasi tersebut, lihatlah latar belakang penulis, sumber daya dan keakuratannya

Jawaban Tertunda

"Menulislah seperti embun yang ketika jatuh ke Bumi 

membawa pengetahuan, dan ketika melangit ke Arsy

menjadi keabadian"

Maydearly 



Pada pagi yang membawa laras dingin, ku teguk secangkir kopi demi meregangkan lekuk-lekuk hawa dingin pada pusat pikiran. Sejatinya sang kopi pula mengingatkan pada secarik rindu yang lama usai. Sebuah rindu menyambut siswa di beranda gedung sekolah. 

Aroma kopi 'good day' yang wangi memikat hati mengingat episode tadi malam. Segera ku ambil Hp dan ku tengok pesan, ternyata masih ada hal yang tertunda. Yaitu deretan pertanyaan yang belum terjawab.

Sebuah pesan panjang dari sang moderator ciamik bernarasi "Bunda May, pertanyaan tertunda jawab di blog saja ya". Atas permintaan itu, akhirnya tersusunlah jawaban-jawaban tersebut dalam blog ini.

P14

Perkenalkan saya Omma Babys dr NTT.

Saya ingin bertanya bagaimana cara yang paling cepat ketika menulis di blog?

Jawab: 

Terimakasih Omma Babys yang baik hati, semoga Oma sehat selalu.

Cara cepat ketika menulis di blog, adalah dengan menjadi penyimak yang cermat. Seperti yang sudah saya jelaskan tadi malam, bahwa saya selalu membiasakan diri duduk 10 menit sebelum pelatihan, membuka gawai dan membuat narasi pembuka yang related to materi. Buat pula narasi penutup yang memberi kalimat motivasi.

Demikian jawabannya, selamat mencoba!

P15

Asalamu'alaikum....

Apakah resume harus membuat ringaksan materi secara lengkap yang   disampaikan narasumber? 

Dari Ibu Aini Farida, SDN 3 Samuda Kota.

Jawab:

Dear Ibu Aini yang hebat,

Yang terpenting dari membuat resume adalah mencatat poin paling penting yang disampaikan oleh Narasumber. Namun, jika ibu berniat mengumpulkan resume untuk di buku kan, maka ada baiknya ibu menulis resume dengan bahasan yang berkembang luas, artinya tidak hanya materi dari narsum saja, tetapi pula referensi sumber lain yang berhubungan.

P16

Assalamualaikum Bu Rita!

Nama : Nur Afifah

Dari : Gresik, Jawa Timur

Pertanyaan :

1. Bagaimana menghindari kesalahan menulis (typo writing) dalam menulis cepat?

2. Apakah dalam menulis cepat mengesampingkan desain atau model penulisan?

3. Apakah dalam hal ini sifat perfeksionis akan kalah dalam hal Menulis cepat?

Jawab:

Dear Bu Nur Afifah yang baik hati,

1. Melakukan kesalahan dalam menulis (Typo) memang hal yang wajar sebagai penulis pemula. Bahkan saya pribadi adalah orang yang sulit menghindari typo, untuk itu diperlukan tehnik proofreading sebelum meluncurkan tulisan. Baca kembali tulisan kita sebelum dipublikasikan.

2. Menulis cepat memang perlu kelihaian bu, jika di rasa sulit dalam menulis cepat, maka pelan saja. Yang terpenting dalam menulis adalah menjaga konsistensinya. 

3. Ketika kita mampu mencapai target dalam menulis dengan struktur tulisan yang bagus, rapi, ejaan sesuai PUEBI maka kita bisa disebut perfeksionis. Yang harus dimulai adalah latihan menulisnya, semakin banyak berlatih maka kita semakin lihai, semakin lihai menulis maka kita ada pada posisi perfeksionis. Walau sebenarnya tak ada penulis yang perfect secara natural. Penulis yang baik adalah editor yang baik. Maka jadilah editor, maka kita akan menjadi perfeksionis.

P17

Assalamualaikum...

Adik babel izin bertanya, 

dalam waktu singkat buk mae mampu menyusun berbagai tulisan apakah tidak menggangu tugas pokok yang lain sekalu guru,  ibu RT mungkin,  maupun tugas pokok lainnya..

Bagikan tips nya dong!

Jawab:

Dear Ibu Babel, untuk menjadi penulis yang baik kita harus menyusun skala prioritas yang tepat. Jika dikatakan terganggu dengan kesibukan, tentu saya sangat kewalahan karena setiap hari dalam kesibukan. Terkadang saya menulis cerpen, sambil menulis laporan, menulis tesis sambil membuat konten youtube, menulis artikel ilmiah sambil menyuapi anak. Jika saya tidak menyiapkan skala prioritas maka saya akan kalah dengan kesibukan yang semuanya tak selesai. Prinsipnya, jika kita bisa mengerjakan dua mengapa hanya mengerjakan satu. Toh seorang perempuan memiliki kecerdasan lebih di otak kirinya. Bisa memasak sambil mencuci bahkan bisa makan sambil menggendong bayi. Itulah hebatnya kita Sang Perempuan.

P19

Saya Yenmarlinda dari Padang mau bertanya bagaimana cara meramu tulisan dengan bahasa yg khas hingga menjadi menarik.

Dear Ibu Yenmarlinda yang hebat,

Cara meramu tulisan dengan bahasa yang khas adalah menulis dengan hati. Karena ketika kita menulis dengan hati, pesan dari tulisan kita akan sampai pada hati pembaca. Saya senang dengan bacaan novel atau cerpen, dengan begitu pengetahuan bahasa diksi saya bertambah. Penulis yang hebat adalah pembaca yang hebat. Semakin banyak kosa kata yang kita fahami, semakin baik bagi kita dalam merangkai kata.

P20

Nama: Mangatur Panjaitan

Alamat: Batam

Pertanyaan: 

1. Menurut ibu kapan waktu yang tepat untuk menulis resum. 

2. Apa saja kriteria resum yang baik? agar resum yang kita tulis mendapatkan perhatian dan pembaca puas membaca resum yang kita tulis

3. Dalam menulis resum apa yang harus kita hindari agar resum yang kita tulis baik dan bermakna? 

Terimakasih bu Maisaroh👏👍🇮🇩

Jawab:

Dear Bapak Mangatur Panjaitan yang hebat,

1. Waktu yang tepat dalam menulis resume adalah diwaktu pelatihan berlangsung, hal ini membuat pikiran sangat hangat. Menyimak dan menulis adalah kegiatan yang apabila dipadukan akan menjadi asik. Tetapi jika dirasa sulit, maka waktu terbaik menulis resume adalah pada dini hari setelah solat subuh.

2. Resume yang baik adalah resume yang bergizi, isinya padat dengan pengetahuan, apalagi jika ditambahkan dengan referensi yang mumpuni.

3. Dalam menulis resume yang perlu kita hindari adalah mengutip seluruh bahasa narasumber. Ada baiknya kemas bahasa narasumber dengan dikembangkan oleh bahasa sendiri. 

P21
Nama : Dwi Pratiwi
Saya dari Sukabumi
Ingin bertanya untuk meramu materi menjadi resume yang menarik,  berbeda  dan dapat  menarik banyak pengunjung.

Jawab:
Dear Ibu Dwi Pratiwi yang baik hati, 
Tulisan itu perlu bumbu agar pembaca mendapat kesegaran pemikiran. Untuk itu, kita harus berusaha membumbui tulisan kita dengan statement-statement orang hebat, untuk membuat tulisan kita lebih beraroma dan lebih kuat. Ketika tulisan kita sudah berbumbu, pembaca akan selalu mencari tulisan kita. 

Dear Bapak Ibu yang baik hati, penulis masa depan yang hebat. Yang terpenting dalam menulis adalah selalu konsisten untuk menulis. Masalah kemahiran akan berjalan seiring terus berlatih dan berbenah. Yang dibutuhkan sekarang adalah pupuk untuk motivasi. Jadikan menulis sebagai jalan untuk menuju cita-cita, karena cita-cita bukanah sebuah takdir tetapi penunjuk arah menuju kesuksesan. Keep Writing semuanya. I Love You To The Moon and Back.

Kata Pengantar Buku Tarian Aksara Penuh Makna

Dahulu aku sering bertanya sendiri; kalau puisi itu berwujud, akan seperti apakah dia? Matahari? Bulan? Bintang? Gunung? Laut? Bertahun lalu...