Jumat, 28 Oktober 2022

Lika Liku Asmara Astuti


Maka akan Kami mudahkan jalan baginya jalan menuju kemudahan(kebahagiaan) (QS.Al –lail 92:7)

Astuti bak meramu takdir untuk dirinya. Kejadian demi kejadian membuat ia tersadar bahwa hidup kadang meletup-letup, kadang pula menenggelamkan ia dalam tangisan. Sejak jumpa terkahir dengan Kak Gunawan ia sejenak menutup pintu hatinya yang terkatup. 

Setelah empat tahun dan menyelesaikan kuliahnya di Solo,  akhirnya Astuti menapakkan kakinya kembali ke Ibu kota. Jelas tak terasa sulit yang ia rasakan. Meski Ia perlu adaptasi untuk banyak hal. Terkhusus ketika ia mengajar di Jakarta dengan sebuah sekolah yang elit. Berbeda ketika mengajar di Solo yang begitu ndeso. Rekan kerjanya atau guru yang ada di sekolah  elit itu cukup banyak, dari mulai yang senior, madya, dan yang seusia dengannya. Mereka berasal dari berbagai suku, ada yang dari Sunda, Batak, Minahasa, dan Jawa. Tak sulit baginya karena masa kecil sampai SMA nya dihabiskan di Jakarta.

Mendulang mimpi dan berkarir di Jakarta sebenarnya bukan hal mudah. Namun, sang takdir membawanya pada suatu kemudahan. Berkat anak tiri ibundanya, Astuti pun mulai menerbangkan sayapnya memulai karir sebagai guru honorer di Ibukota. Berbekal surat lamaran dan setumpuk sertifikat yang  ia miliki, ditambah proposal persiapannya mengajar. Astuti pun diterima dengan baik. Suatu Kebetulan seluruh berkasnya diseleksi oleh wakil kepala sekolah. Sang Wakasek itu mewawancarai Astuti, sebagai formalitas saja. Beliau menanyai banyak hal pada Astuti mulai berasal dari mana, kegiatannya apa saja,  serta pernah mengajar dimana. Walau sebenarnya sudah ditulis lengkap di CV dan surat lamaran pekerjaannya. Mungkin beliau terkagum dengan begitu banyaknya sertifikat yang dimiliki Astuti.  Beliau menilai Astuti sebagai seorang aktivis. Wakasek itu bernama Pak Ardani, bisa dilihat Astuti dari papan nama yang ada di dadanya.

Pak Ardani bercerita  bahwa dia juga berasal dari Solo, sebuah desa yang juga dekat dengan desa Astuti yaitu sekitar 15km. Astuti hanya tersenyum,“ O ya saya tahu Pak, ada teman saya yang tinggal dekat desa Bapak”, jawabnya penuh hormat. Orangtuanya masih lengkap dan tinggal di desa itu. Pak Ardani menyambung percakapan itu. Astuti hanya menganggukkan kepala. Selang seminggu aku mengajar di SMEA, Astuti dipanggil ke ruang Waka. Pak Ardani menyuruhnya duduk dan meminta ia membuat surat lamaran mengajar di sekolah swasta yang dia pimpin, sekolahnya memerlukan tambahan guru bahasa Inggris. Tawaran itu  diterima mengingat di pagi hari Astuti belum punya kegiatan. 

Ketika sang waktu berkelana dan haru esok tiba, Astuti langsung memasukkan lamaran dan hari itu juga mulai mengajar. Pagi di sekolah Swasta, dan siangnya di SMEA Negeri. Kehidupan  kembali membawa ia menjadi orang Jakarta dengan segala sesuatu yang serba tergesa-gesa. Berbaur dengan teman yang punya  karakter berbeda, ia harus berhati-hati. Harus pandai membawa diri, jangan sampai dikatakan ambisius, atau sombong. Apalagi dengan teman guru senior, ia harus bisa menempatkan diri dan mengambil hati mereka.

Mengajar di sekolah yang sebagian besar muridnya pandai, minat belajarnya tinggi, dan kreatif, sangat memudahkan Astuti dalam mengajar. Ia senang dengan murid muridnya dan mereka juga hormat padanya. Apalagi kekeluargaan di sekolah itu sangat kental. Sering ada acara pertemuan yang melibatkan keluarga masing-masing. Misal rekreasi ke Ancol atau ke Taman Safari. Mereka bisa mengenal satu dan yang lainnya. Kalau ada acara seperti itu Astuti biasanya mengajak Ibunda. Bundanya sangat menikmati acara itu. Maklum Bundanya orangnya supel dan mudah berkomunikasi.

Kesibukan Astuti  semakin bertambah, karena Pak Ardani memberinya jam tambahan di malam hari untuk peserta kursus bahasa Inggris yang dikelolanya. Sebetulnya Astuti menolak apalagi kegiatan itu ada pada hari Sabtu. Astuti masih punya kepentingan pulang-pergi ke Solo. Tapi karena Pak Ardani setengah memaksa, akhirnya tawarannya ia terima. Dia juga memberi info, bahwa masih ada kereta jurusan Solo yang berangkat jam 8 malam dari Manggarai, Tapi itu kereta ekonomi. Jelasnya.

Astuti bertekad jika tanggal muda tiba, maka ia akan pergi ke Solo setelah selesai mengajar. Ia pun pamit pada Bundanya bahwa ia hendak ke Solo. Sang Bunda tidak bisa melarang karena sudah terlanjur sepakat dengan apa yang ia minta sebelum Astuti pindah ke Jakarta. Pak Ardani berkenan mengantarnya sampai stasiun Manggarai, kebetulan rumahnya searah dengan yang ia tuju. Astuti pun membeli tiket dan menunggu kereta itu tiba.

Sesampainya ia di pintu kereta, ia begitu terkaget luarbiasa, ternyata kereta yang akan ia tumpangi tidak sesuai dengan yang  dibayangkan. Kereta itu adalah kereta ekonomi yang tempat duduknya sangat rapat dan kesannya jorok, udaranya penuh dengan asap rokok. Astuti mendapat tempat duduk di nomer kecil yang dekat WC, bukan dekat jendela melainkan dekat gang jalan tempat mondar mandir orang lewat.

Sang Kereta kemudian melaju dengan lambat. Kereta itu selalu berhenti di setiap stasiun kecil mau pun besar apa lagi kalau ada silang dengan kereta dari lawan arah, kereta yang ia tumpangi berhenti sangat lama. Pedagang asongan silih berganti sepanjang malam. Dengan leluasa mereka menawarkan dagangannya dari mulai telur asin sampai buah buahan yang sedang musim, minuman, nasi, kerupuk, apa saja yang ada di daerah yang dilewati pasti dijual di kereta ekonomi ini. Batinnya dongkol.” Kapan sampai Solo kalau begini perjalanannya.”

Tepat jam 12 siang sang kereta baru masuk stasiun Purwosari. Astuti pun turun disitu. Ia pergi menuju rumah sahabatnya yang bernama Yani  asli dari Solo. Astuti membersihkan badan dan istirahat sebentar. Yani menanyakan bagaimana keadaannya, betah tidak jadi orang Jakarta lagi, dan yang penting dia juga nanya masih suka kontak dengan mas Satria tidak. Ketika disebut nama itu, hati Astuti masih mendesis. Ternyata ia belum bisa melupakannya. Hmm... ternyata sang masa lalu (Mas Satria)masih ada di hatinya.

Sejujurnya Astuti enggan menyambangi kota Solo karena itu hanya akan membuka luka hatinya.  Tapi ia pantang menyerah ada sebuah misi yang sebenarnya ingin ia pecahkan tentang rasa  penasaran terhadap apa yang terjadi sesungguhnya dengan mas Satria. Astuti mengajak Yani  ke rumah makan Sari, yang punya menu spesial gudeg dan sambal goreng yang mantap. Astuti melambaikan rasa kangen itu dengan mengorek banyak informasi tentang teman-temannya. Siapa saja yang sudah lulus dan mengajar di mana, begitu juga karir teman temannya yang pandai, apakah dia sudah jadi dosen sekarang, sesuai dengan yang mereka cita citakan?.

Dari Yani ia tahu semua perkembangan teman teman seangkatannya. Sampai akhirnya dia berkata terus terang tentang kabar terakhir mas Satria;” Wiek ojo kaget yo..!, mas Satria sudah menikah dan punya anak.” Brak! kepala Astuti bak terhimpit benda keras dan berputar. Astuti tidak siap menerima berita itu. Mas Satria menikahi cewek lulusan SMEA yang kebetulan kerja di show room mobil di daerah Kartosura, kebetulan cewek itu beragama Islam, konon hamil duluan dan nikahnya juga diam-diam. Terjawab sudah teka teki yang ada di hati Astuti. Ternyata cintanya bertepuk sebelah tangan. Begitu pandai nya Satria menyanjung Astuti bahwa masa depannya moncer, dan penuh dengan kesuksesan sedangkan dia seorang lelaki yang sedang terpuruk dan masih berusaha untuk bangkit setelah dikhianati istrinya. 

Ada sebuah cerita yang begitu nanar untuk didengar Astuti pun enggan mengeja masa itu. Sebuah waktu ketika ia selesai wisuda dan Mas Satria ternyata baru saja selesai ijab kabul. Terjawab lah semua kegundahan hati Astuti. Ia tidak bisa berharap lebih dari mas Satria. Astuti selalu berpikir jika ia adalah cinta sejati Mas Satria, sebuah cinta yang bisa  diraih dengan kebulatan tekadnya. Ternyata Astuti keliru. Mas Satria bukan pilihan Allah untuknya. Biar Allah bukakan pikirannya, dan juga tabir yang selama ini tak bisa diraba dan dicerna.

Sang waktu semakin bergelantung di Ifuk bumi  membawa hari ini pada hari lusa. Ketika Minggu sore tiba, Astuti langsung mencari tiket KA Bima, ia sangat kapok naik kereta ekonomi. Astuti ingin sampai di Jakarta dalam keadaan fresh dan melupakan Mas Satria selamanya. Astuti sangat membenci Satria. Satria bak gulma di kelopak mata sulit di lupa dan semakin liar. 

Sesampainya ia di Jakarta, sang Bunda bertanya apakah ia menyambangi rumah Budenya, ataukan tidak. Astuti pun tak bisa mengelak. Semua berita yang ia dengar dari Yani diceritakan pada Bundanya. Sang Bunda paham bagaimana perasaannya “Makanya dengar saran Bunda, ngga perlu lah ke Solo, buang waktu, tenaga, dan melelahkan pikiranmu.” Astuti pun tersadar  jika yang disarankan Bundanya adalah benar.

Sejak episode itu, ia selalu gunakan hari minggu untuk kegiatan yang lebih bermanfaat. Kebetulan ada sebagian murid si sekolah swasta yang sangat akrab dengannya. Astuti tidak terlalu menjaga jarak dengan mereka, apalagi mereka tahu jika Astuti guru muda yang bersahabat. Sampai suatu hari mereka mengajaknya jalan-jalan ke Kebun Raya Bogor dengan naik KRL. Tawaran itu  ia terima karena lama sekali Astuti  tidak ke Bogor.  Terakhir pergi ke kota hujan adalah  ketika SMP pada moment  camping bareng teman  yang mengajariku membuat edaran palsu untuk Bunda. Hadeeeuh, hehe.

Tersapa waktu, sang kaki pun berujung temu dengan kota Bogor. Bogor adalah keindahan dan keasrian. Bogor tidak banyak berubah, terawat dengan baik, dan terlihat asri. Mereka berjalan menyusuri taman, dan kolam yang ditumbuhi teratai yang sedang berbunga. Dari kejauhan istana Bogor pun terlihat. Begitu juga dengan rusa yang bergerombol terlihat gemuk dan sehat. Tanda bahwa binatang itu dirawat dengan baik. Udara yang sejuk disertai angin yang sepoi-sepoi benar-benar membuat mereka serasa segar kembali.

Tidak ada perbedaan yang mencolok antara guru dan murid ketika berbaur seperti itu, mereka cerewet semua dan usil. Ada saja ulah mereka yang saling mengejek dan membuat suasana jadi hangat. Murid-murid Astuti begitu hangat nan asyik, jika ada cowok yang kelihatan ganteng mereka akan bersorak, atau bisik bisik “Godain ngga Bu..?” Astuti akan menjawab, “ Stttt jangan ada ceweknya loh di belakang”. Dan mereka pun tertawa cekikikan.

Tidak afdol rasanya kalau sudah sampai Bogor tidak makan soto mie dan asinan. “Wajib dan Harus” hukumnya kata mereka. Akhirnya, mereka makan di warung yang ada di dekat stasiun. Selesai makan rombongan pun pulang ke Jakarta. Di sepanjang jalan mereka nampak ceria  ceria dan usil, membicarakan orang orang yang berpacaran dan duduknya sangat mesra, dan seakan dunia milik berdua, yang lain ngontrak, begitu lah istilah mereka.

Lain pula kalau pergi jalan dengan teman-teman Astutu yang guru. Kebiasaannya berubah seperti  harus menuju ke blok M, di sana mereka biasa makan nasi padang atau es teler, setelah puter puter sampai magrib di Blok M plaza. Kadang mereka juga makan di KFC yang saat itu paling terkenal dengan fast food nya. Untuk belanja kebutuhan Astuti dari mulai sepatu, tas dan pakaian ia tetap memilih yang sesuai budget. Astuti bisa mengukur kemampuannya sampai dimana. Begitulah tentang Bogor ada asinan dan bahkan rujak bumbu.

Asinan dan rujak bumbu bak lila liku hidup Astuti. Mengabdikan diri menjadi guru honor, ternyata membawa ia pada Qadarullah yang paling baik di hidupnya. Setelah tiga bulan ia menjadi guru honorer, di bulan September ia mengikuti tes PNS, berbekal surat tugas mengajar dan syarat syarat lain, ia mengikuti tes tersebut. Tes itu diadakan di Istora Senayan, dari pagi sampai siang, di tengah terik matahari Astuti mengikuti tes tersebut. Alhamdulillah awal Oktober sudah diumumkan dan Astuti lulus. Sujud syukur tak henti ia panjatkan sebagai rasa terimakasih yang mendalam.   

Pada bulan Maret tahun berikutnya, Astuti berubah status menjadi CAPEG dan ditempatkan di SMEA tempatnya bertugas. Astuti pun menerima uang rapelan yang cukup banyak, uang itu  ia serahkan kepada Bundanya, Astuti hanya mengambil sebagian kecil saja. Ia tahu kebutuhan Bunda cukup banyak untuk biaya adiknya yang kuliah di kedokteran, sebagian lagi bisa digunakan untuk memasang jaringan telpon. Alat komunikasi ini penting buat keluarga Astuti.

Tentang Solo, yang menumpahkan segala kenangan di ingatannya, Astuti selalu ingin terhubung dengan kota tersebut. Akhirnya, ia sempatkan untuk ikut kursus jurnalistik di Solo di malam hari, walau seminggu hanya 3 kali selama 6 bulan, tapi kegiatan ini menyita banyak waktu Astuti sehingga ia tidak berpikir masalah jodoh, umurnya baru 24 tahun. Astuti masih ingin sendiri dan membantu Bundanya sebisa yang ia mampu. Karena tempat kursusnya searah dengan rumah Pak Ardani, mereka biasanya numpang mobilnya, termasuk teman guru yang lain yang rumahnya juga searah.

Bunda Astuti kerap bertanya, tadi dengan siapa dan ada hal yang menyebalkan atau tidak. Bunda adalah curahan hati Astuti, jadi hal sekecil apa pun Astuti selau cerita dengannya. Termasuk tentang Pak Ardani yang super sibuk, karena punya banyak jabatan, dan  istrinya yang sedang hamil tua. Mungkin Bunda tertarik atau penasaran dengan ceritanya, apalagi ia katakan bahwa Pak Ardani juga berasal dari Solo yang masih 15 Km arah selatan. Sampai pada suatu hari Bundanya ke sekolah menemui Pak Ardani, Bunda cerita tentang keadaan Astuti di Solo, dengan istilah basa basi sang Bunda menitipkan Astuti, agar dibimbing dalam pekerjaan.

Astuti terheran karena Pak Ardani maupun Bunda tidak pernah cerita masalah kunjungannya ke sekolah. Dua tahun kemudian baru Astuti  mengetahui kejadian yang sesungguhnya. Perlahan ia menjadi guru yang di segani murid murid sekaligus disenangi, bila ada even even tertentu, Astuti sering diberi kepercayan untuk jadi pembawa acara, menurut mereka suara Astuti itu bagus, lantang tapi empuk. Itu pun baru ia ketahui sepuluh  tahun kemudian ketika mereka mengadakan reuni. Ada satu murid yang  sangat mengagumi suaranya, malah dia sempat berlatih di depan kaca untuk menirukan suaranya yang sedang menerangkan di depan kelas.

Lain murid lain pula dengan teman gurunya. Ada satu guru olahraga yang amat  sangat lugu, dia berasal dari Aceh, dan di Jakarta tinggal dengan tantenya. Padahal fisiknya bagus tapi kurang PD, dia sukar bergaul dengan teman guru yang lain. Pak Rahman namanya. Ketika ada kesempatan piknik khusus guru ke Cibodas, banyak kenangan lucu tentang dia. Pak Rahman yang pemalu diminta duduk bersebelahan dengan Astuti, tadinya ia sungkan, tapi karena teman yang lain memaksa:” Ayo Bu Tiwiek, temani Pak Rahman, Bu. Ngga apa apa sama sama belum punya pacar nih.” Teriak teman  Astuti yang berasal dari Padang’

Astuti pun  memenuhi permintaan itu. Di sepanjang jalan ia dan pak Rahman jadi bahan gurauan. Ada saja yang jadi membuat mereka menggoda Astuti dan Pak Rahman. Sampai wajah Pak Rahman kemerahan menahan malu, sedang Astutu menanggapi gurauan itu tanpa masalah, ia sudah biasa dengan senda gurau semacam itu.

Sebenarnya di hati Astuti ada rasa simpati terhadap Pak Rahman, tapi apa mungkin jodohnya orang luar jawa. Apa sang Bunda akan setuju jika punya mantu orang Sumatera. Karena bundanya selalu berpesan, kalau  boleh minta sama Allah jodohnya orang jawa saja. Mudah penyesuian  dan sudah hafal adat istiadatnya.

Seorang guru juga manusia, mereka kadang berceloteh akan sesuatu hal yang jauh di luar identitasnya.  Seperi yang terjadi dalam perjalanan mereka ke Cibodas. Mereka bermain tebak tebakan atau cerita anekdot lucu yang membuat mereka ger geran. Pak Kuntjoro berdiri di tengah Bus lalu bercerita tentang Sombongnya orang Amerika dan orang Indonesia:” Orang Amerika sombong karena punya pabrik yang memasukkan babi  keluar bisa jadi sosis, dan orang Indonesia juga tidak mau kalah lalu mengatakan bahwa di Indonesia masuk sosis keluar baby.” Suasana seperti ini membuat mereka fresh kembali.

Mendengar cerita itu Pak Ardani ikut nimbrung cerita;” Pernah dengar kisah cinta Bung Karno dengan Bu Dewi ?” Serentak se isi bus  menjawab belum. Lalu dia melanjutkan: “ Mereka bertemu karena saling mengagumi, Bu Dewi mengagumi Tugu Monas nya Bu Karno, dan Bung Karno mengagumi Gunung Fujiyama nya Bu Dewi” Pak Rahman yang tidak mengenal guyonan tingkat tinggi hanya mendengarkan tanpa ekspresi,  sedangkan yang lain terkekeh kekeh.

Semakin hari kesibukan Astuti semakin padat, tugas dari kursus jurnalistik, menghandle murid yang PKL (praktek kerja lapangan). Mengoreksi ulangan dan masih ditambah tugas rumah, melayani sang Bunda. Kadang Bundanya masih memberi tugas pada Astutu untuk mengantarnya ke rumah pasien yang tidak bisa datang ke rumah maka Bunda lah yang mendatangi pasiennya.

Tapi sesibuk apa pun Astuti, kegiatan korespondensi dengan sahabat penanya  yang ada di Kuala Lumpur, dan Selangor tetap terjalin. Suatu hari ia mendapat kiriman Foto pengantin bang Yusri, dia mempersunting wanita polis diraja. Kalau di Indonesia sama dengan polwan. Sedang surat surat yang dari Selangor biasa lebih sering berisi, puisi puisi Islami atau kutipan ayat ayat pilihan.

Ada juga surat yang yang rutin ia dapat dari temannya yang dikenal dalam perjalanan di dalam Bus jurusan Solo Jakarta jaman ia masih sering mondar mandir Solo Jakarta semasa kuliah. Ia adalah Mas Tutuko, pemuda asal Solo yang saat itu tinggal di rumah Budenya. Dia bekerja di Tanjung Priok. Di salah satu ekspedisi peralatan berat, karena latar belakang sekolahnya memang teknik.

Mas Tutuko kadang menyempatkan diri menelponnya lewat telpon kantor, anehnya dia lebih suka bertanya tentang kegiatan mengajar Astuti, dan kesibukannya yang lain. Pernah juga dia mengajak Astutu melihat pameran buku yang ada di Gramedia Matraman, Astuti pun banyak memborong buku pelajaran dan buku motivasi. Sedang mas Tutuko hanya membeli kamus bahasa Inggris untuk istilah tehnik.

Melihat mas Tutuko sering ke rumah Astuti, sang Bunda mengira jika pacaran. Bundanya mulai mencari tahu asal usulnya. Selain mengintrogasi langsung, Bundanya juga ke TKP. Mencari alamat yang ada di amplop surat Mas Tutuko yang pernah dikirimkan untuknya. Bundanya jadi tahu jika mas Tutuko ikut keluarga Budenya yang rumahnya sangat sederhana.

Satu hal yang masih terkenang di labirin ingatan Sang Astuti. Yaitu suatu waktu ketika Astuti dalam mode  bad mood, dan malas mengajar, ia menelpon mas Tutuko dan dia menyarankan untuk membolos saja. Kebetulan pekerjaannya juga bisa ditinggal hari itu. Jadi mereja janjian di suatu tempat lalu naik angkot ke arah taman Cibubur. Mas Tutuko berperangai baik,  enak diajak ngobrol, serta wawasannya luas. Walau dia orang tehnik yang identik dengan mesin tapi penampilannya rapi, dengan kumis yang cukup tebal, tangannya dipenuhi dengan bulu. Kalau tertawa renyah dan barisan gigi yang rapih akan terlihat jelas. Tapi membayangkan kelak dia jadi suaminya Astuti tak berani.

Astuti bisa menilai kalau Mas Tutuko adalah orang yang taat beribadah. Ketika masuk waktu salat dzuhur dia mengajak salat di mushola yang ada di dekat taman. Selesai salat mata Astuti tertuju pada cincin yang dipakai Mas Tutuko.  Cincin  perak yang melingkar di jari manisnya. Iseng ia  minta supaya dia melepasnya, Astutu ingin melihat cincin itu. Astuti perhatikan dengan cermat, ternyata pada cincin itu terdapat tulisan berbunyi"Fitria”. Astuti Tanya siapa Fitria, dia cuma bilang temannya yang jadi dosen di Solo. Sebelum asar mereka sudah pulang setelah mampir makan ketoprak dan es kelapa muda di warung sekitar taman Cibubur.

Pada saat itu, Astuti sudah ijin via telpon ke Pak Ardani kalau ia sakit dan tidak masuk sekolah. Karena Astuti ijinnya sakit, di malam harinya Pak Ardani datang ke rumah Astuti, baru lima menit dia di rumahnya,  Mas Tutuko juga datang. Astuti langsung masuk ke kamar dan tidak keluar lagi sampai mereka pulang. Ketika mereka sudah pulang,  Bundanya marah marah; "Gimana sih ada tamu malah ditinggal ke kamar!”. Bundanya  tak tahu bagaimana perasaan Astuti karena ketahuan membolos. Yang ibundanya tahu, Astuti berangkat ke sekolah dan tidak sakit.

Hidup adalah melodi yang memiliki ritme naik turun, perasaan gusar, marah, kesal acap kali menjadi warna pada setiap episodenya. Waktu itu Astuti genap 25 tahun dan belum punya pacar, Bundanya sudah mulai panik, sedang ia tenang tenang saja. Astuti merayakan ulang tahunnya di gerbong kereta jurusan Jakarta Yogya. Astuti bersama sepuluh orang guru menghandle murid murid karya wisata ke Yogya. Ia bertugas membagikan permen kepada murid murid nya, mereka memberi ucapan selamat dan menyanyikan lagu “Happy birthday” diiringi gitar.

Di perayaan Ultah itu, Pak Ardani tidak ikut karena sedang pulang kampung mengurusi pemakaman istrinya yang meninggal setelah melahirkan koma selama 3 hari. Peristiwa itu terjadi karena pendarahan pada kandung kemih yang ter gunting atau ada mal praktek. Qadarullah bayinya selamat.

Tiga bulan berselang pasca istrinya berpulang, Pak Ardani datang ke rumah untuk melamar Astuti, tanpa memberitahu lebih dahulu. Beraninya dia, Bunda langsung menerima lamaran itu tanpa meminta persetujuan Astuti lebih dulu. Setelah Pak Ardani pulang  Astuti menangis. Ia marah dan protes dengan keputusan yang diambil Bundanya. Astuti jelaskan pada Bunda: “Pak Ardani itu orangnya galak Bunda, aku tidak suka sifatnya yang sok,  penentang, dan sedikit arogan, banyak guru yang tidak suka dengannya” Protes Astuti. Namun, sang Bunda tetap tak menerima alasannya.

“Ya nanti  ada pendekatan dulu, pelan pelan kau bisa menilai siapa dia sebenarnya dan cocok atau tidak” ujar sang Bunda menenangkan hati Astuti.

Ibundanya begitu tega menerima lamaran duda beranak tiga itu untuk Astuti.  Apakah Astuti  sanggup menjalaninya. Astuti mengambil air wudhu dan salat istikharah biarkan Allah tunjukkan mas Tutuko atau memang Pak Ardani jodohnya. 

Rasa gundah hinggap di hati Astuti, ia tak sabar menanti fajar dan bertukar cerita dengan Mas Tutuko. Setelah esok hari Astutu menelpon mas Tutuko dan mereka janjian untuk bertemu. Astuti bercerita padanya tentang lamaran Pak Ardani yang diterima Bunda. Sepulang sekolah, Mas Tutuko  sudah nunggu Astuti di blok M. Mereka tak berani janjian di depan sekolah karena takut ketahuan Pak Ardani.

Akhirnya Astuti dan Mas Tutuko bertemu di  warung tenda yang ada di dekat taman Blok M, mereka memesan roti bakar dan kopi susu. Setelah  ia ceritakan tentang lamaran Pak Ardani, Mas Tutuko malah mendukung. Dia tidak menghalangi, malah berpesan agar Astuti bisa merawat anak Pak Ardani sama dengan anaknya sendiri. Menikah  itu ibadah apalagi kalau bisa merawat anak piatu dengan baik, pahala besar.

Pupus sudah harapan Astuti, ia mengira jika  dia akan menghalangi  lamaran tersebut. Mas Tutuku malah mendukung Pak  Ardani untuk melamarnya. Ternyata ia salah menilainya. Sehingga bisa disimpulkan mungkin dia sudah berkeluarga atau paling tidak sudah bertunangan, Dan menganggap Astuti hanya sebagai teman biasa. Astuti sadar, jika selama ini ia  salah dalam menilai seseorang atau bisa dikatakan ia terlalu GR.

Minggu, 23 Oktober 2022

Menjadi Mahasiswa


Maka Allah memberi merela pahala di dunia, dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah mencintai orang orang yang berbuat kebaikan. (QS.Ali Imran;3;148)

Berkelana dalam sebuah kehidupan adalah keindahan yang patut dikisahkan. Cantiknya peristiwa dalam suatu hidup bersebab Tuhan menciptakan ingatan agar kita syukuri sebagai mesin waktu.  Sejatinya kehidupan adalah 99% ujian, dan 1% kenangan. Maka biarkan sang tinta mencatat retorika hidup kita sebagai urat nadi sebuah kenangan. 

Ada jejak yang ingin aku ceritakan tentang Astuti, dimana ia berkelana sebagai seorang mahasiswa. Hidup sebagai seorang remaja kost an, membidik ia untuk tumbuh dewasa. Tinggal jauh dari ibundanya menjadi hal yabg begitu asing bagi Astuti. Ia perlu menata setiap ritme aktivitasnya mulai dari bagun tidur hingga pergi tidur. Mengandalkan dirinya sendiri sebagai sang Tuan, tentu membawa ia pada kepiawaian memanage diri. 

Astuti tak lagi menjadi anak rumahan yang segala kebutuhannya disediakan ibunda dengan seketika. Ia berkomunikasi dengan ibundanya lewat jasa kilat khusus atau kilat biasa. Uang kirimannya diantar via Wesel yang kadang dialamatkan ke kampus atau atau ke rumah budenya di Penumping. Dalam suratnya sang ibunda selalu mengingatkan ia agar berhati hati, makan yang teratur, jangan mudah terpengaruh, harus bisa jaga diri, membawa diri, dan tahu diri. Sang bunda masih mengganggapnya bak seorang anak kecil yang baru pandai berceloteh.

Tanpa disadari oleh ibundanya, Astuti sudah tumbuh menjadi gadis kampus, yang memiliki banyak teman, punya semangat belajar, punya cita-cita, dan bisa menjaga diri. Astuti pernah tinggal di eumah kost bu Guru sekitar 6 bulan. Kemudian ia pindah ke rumah kost yang dimiliki Pak Dosen, dengan posis yang cukup luas  dengan 4 kamar, 2 kamar mandi, dapur, ruang tamu dan ruang belajar. Rumah kost itu disewa secara bersama dengan temannya. Persis seperti rumah keluarga. Satu kamar dihuni 4 orang dengan tempat tidur susun. Tempat tidur itu mereka gabung jadi seperti tempat tidur ukuran jumbo. Mereka harus bisa berbagi dan penuh toleransi. Setiap orang punya sifat yang berbeda. Ada yang banyak bicara, ada yang kalem, ada yang jaim, dan ada yang bawel.

Masing-masing dari mereka memiliki pola belajar yang berbeda. Ada yang belajar di malam hari, setelah sepi, ada yang pagi setelah salat subuh, ada juga yang suka sore hari. Atau wayangan. Jika ada quiz atau mid tes barulah mereka belajar. Urusan makan juga sesuka hati mereka , ada yang iuran dan masak bareng, ada yang suka masak nasi dengan ditim, lalu beli lauk dan sayur, ada juga yang suka jajan. Yang jelas catering dan laundry belum ada di sekitar kost mereka.

Sang waktu mengajari banyak hal kepada Astuti.  Di rumah kost putri tersebut ia belajar kehidupan yang sebenarnya, ia tahu ada seorang teman yang “geleman” suka mengambil barang temannya tanpa ijin, dan kadang ketika mereka memanggil pedagang 'tenongan' sebuah jajanan yang dijajaki mbok-mbok yang biasa jualan  di depan kos pada sore hari. Temannya ada suka “gabrul’ mengambil 5 tapi yang dibayar hanya 2. Teman temannya yang lain juga tahu tapi mereka tidak berani menegur. 

Tak sampai situ, acara menjemur pakaian juga kadang menjadi pemandangan yang heboh. Mereka  harus bisa mengatur waktu dan tenggang rasa. Tidak bisa semaunya sendiri, apa gunanya mencuci pakaian kalau tempat menjemur penuh, “ ngesuk-esuk” jemuran yang sudah ada juga riskan, bisa jadi jemuran yang sudah hampir kering jadi basah. Astuti lebih senang mencuci di hari minggu kecuali pakaian dalam. Ia selalu  mencucibya pagi dan sore hari sembari mandi. Di hari minggu teman teman yang rumahnya tidak terlalu jauh biasanya  mereka pulang di sabtu siang, dan senin pagi baru kembali, kemudian langsung ke kampus.

Mereka menjadi satu keluarga besar dalam satu rumah dengan latar belakang yang berbeda. Hal ini menimbulkan banyak hal  positif salah satunya Astuti jadi suka sambel, sayur lodeh, dan makanan asing lainnya yang belum pernah ia coba sebelumnya. Dulu pencernaan Astutu agak bermasalah dan punya gejala sakit maag, tapi setelah jadi anak kost perutnya baik-baik saja, penyakit maag nya jarang kumat.

Astuti sangat senang memanfaatkan hari minggunya. Kadang ia berkelana menjajaki tempat demi tempat dengan ikut pulang ke rumah salah satu temannya. Beberapa tempat pun kerap ia singgahi seperti Kudus, Klaten, Jenawi, atau Boyolali. Dari perjalanan itu ia mendapat pengalaman baru, menikmati suasana desa, di kaki gunung membawa hatinya untuk tadabbur alam. Suasana yang jarang ia dapat ketika di Jakarta. Astuti bisa naik pohon cengkeh dan memanennya,  lebih enak lagi ketik ia disuguhi daging kalkun yang dibumbui rujak. Makanan lain juga pernah ia nikmati seperti masakan bersantan dengan aroma bumbu dapur yang dominan. Hal yang amat membekas dalam ingatannya adalah ketika pergi ke kebun bersama Santu dan ayahnya. Di sana mereka  mencabut singkong yang kebunnya di belakang rumah. Jadilah ia sebagai penjelajah dari rumah ke rumah temannya. 

Pula, ada episode yang pernah ia rindui. Yaitu petualangannya ke daerah Wonosari.  Yogyakarta. Rumah temannya tak jauh dari pantai Baron. Itulah pengalaman Astuti melihat pantai selatan yang ada di Yogya. Jika pantai Pelabuan Ratu yang di Sukabumi sudah pernah ia singgahi ketika masih SD. Sejak saat itu ia suka travelling dan selalu menunggu adanya waktu luang untuk pergi ke tempat wisata yang ada di Solo dan sekitarnya.

Teman Astuti tak hanya dari FKIP saja, tapi ada teman dari jurusan lain, Jurusan Pertanian, Fisipol, juga jurusan tehnik. Maka temannya tidak terbatas dari FKIP saja. Atau teman sesama mahasiswa yang  ia kenal waktu mereka makan di warung dekat kost. Teman-temannya menilai Astuti sebagai prinadi yang easy going. Dengan kakak kelas pun ia cepat akrab. Beberapa temannya sudah memiliki pacar. Ada sebuah peraturan yang tidak tertulis, bahwa tamu cowok tidak boleh masuk, cukup di teras saja. Jam bertamu pun dibatasi sampai jam 9 malam. Kalau sudah jam 9 masih ada tamu, mereka secara halus akan mengingatkan. Mereka sering menggunakan jingle “ Wes wancine kon mulehh” apabila di TVRI ada siaran “Dunia Dalam Berita”.

Pengusiran halus itu pasti dipahami oleh temannya yang sedang bertamu, hingga mereka pun segera berpamitan. Pintu gerbang ditutup, dan mereka pun melanjutkan aktivitas masing-masing. Seremoni sebelum tidur kadang membuat Astuti homesick. Kangen Bunda, kangen adik adik, kangen masakan mbok Kem. Dan pikirannya kemudian berselancar pada bayangan Fadli yang masih mengganggunya. Batinnya  masih bertanya mengapa dia bisa melakukan semua itu? Fadli tak pernah mau menjelaskan masalahnya apa. Sebaliknya juga Astuti tidak bertanya tentang keadaan yang sebenarnya. Mungkin ada salah paham diantara Astuti dam Fadli.  Ia harus berusaha menghapus semua harapannya tentang Fadli, walau kadang ia berkhayal jika Fadli datang menyusulnya ke Solo. Di benaknya, ia akan membawa Fadli untuk menikmati keindahan kota Solo, dengan segala keunikannya, dan akan dikenalkan pada keluarganya. Jika bukan halu,  pasti akan sangat menyenangkan.

Pada satu hati ada satu cinta yang mendiami. Tentang Fadli perasaannya kini hanya sekadar emoji. Sejujurnya, ada teman Astuti yang satu angkatan dengannya dan menambatkan rasa pada Astutu. Tapi ia tidak menanggapinya dengan serius. Teman Astuti yang lain malah memanfaatkan situasi tersebut. Temannya sering mengajak Astuti ke rumah “ Sitrol” lelaki  yang naksir Astuti. Rumah Sitrol 20 km sebelah selatan. Melewati jalan kampung, dan jalan setapak dengan view sawah pada kanan kirinya. Mereka harus berhati-hati dan menjaga keseimbangan, jika tidak, bisa masuk sawah. Sitrol adalah anak petani kaya dan orangtuanya berternak ayam petelur. Ketika pulang Astuti dibawakan beras dan telur.  Sampai di rumah kost mereka membagikan oleh-oleh tersebut. 

Astuti merasa jika masa kuliahnya berjalan seinbang. Ia selalu lulus ujian semester walau kadang ada satu dua yang nilainya pas-pasan. Perkuliahannya  menerapkan sistem SKS, mereka bisa ikut pelajaran di atasnya kalau memang mau, biasanya Astuti ikut 2 mapel atau yang nilainya 4 SKS. Ia punya kesempatan gabung dengan angkatan di atasnya.

Teman Astuti berkata jika ia tidak terlalu pintar. Hanya bermodal tekun, dan mau belajar. Bisa mengatur waktu kapan bermain, kapan serius. Waktunya belajar, mengerjakan tugas, dan masa menjelang ujian, Astuti akan merapat ke teman temannya yang pintar dan yang rajin. Astutk tidak malu bertanya kalau aku tidak tahu, termasuk cari referensi dan penunjang materi lainnya. Termasuk persiapan untuk presentasi. Berbeda halnya dengan awal semester yang tidak terlalu menguran energi dan pikiran, Astuti pun bisa menikmati panorama sebagai seorang mahasiswa dengan nongki di kantin, belajar santuy, bahkan kopdar dengan teman jauh.

Astuti adalah pribadi nan piawai. Ia sempat bergabung di komunitas mahasiswa yang berasal dari Jakarta. Mereka rata rata jauh adalah kakak tingkat Astuti, mereka sebelumnya dari Perguruan tinggi swasta di Jakarta lalu pindah ke Solo untuk mendapatkan status perguruan tinggi negeri. Mereka ada yang dari jurusan kedokteran, teknik, dan pertanian. Pernah suatu hari mereka berkumpul di Tawangmangu, tempat wisata di kaki gunung Lawu Solo. Dari situ mereka menjadi akrab. Kemudian dilanjut dengan pertemuan rutin se bulan sekali. Akhirnya ajang ini jadi ajang cari jodoh. Karena ada beberapa yang akhirnya jadian dan menikah.

Saat berada di komunitas itu, Astuti hampir dipacari anak teknik, dengan tongkrongan motor Vespa. Astuti mengingatnya sebagai Amir, waktu itu dia hanya menyelesaikan skripsi. Dia langsung datang ke kost, dengan PD nya bilang, ”Mau ngga gue lamar?” sayangnya Amir bukan selera Astuti. Amir berbadan pendek, walau berhidung mancung dan berkulit bersih, tapi wajahnya banyak bekas jerawat yang kesannya bolong bolong atau seperti parutan. Dia asli orang betawi. Dengan tidak mengurangi rasa hormat  Astuti pun menolak lamarannya.

Sang waktu berlari terlampau cepat. Ia berjalan mengitari tawa untuk masa depan yang ceria. Tak terasa ia berada di semester lima di awal tahun 1982. Waktu itu ada sebuah seminar gerhana matahari di Solo.  Konon, akan banyak turis asing yang datang ke Solo, jadi persatuan guide di Solo mengantisipasinya dengan acara seminar itu yang melibatkan mahasiswa dan masyarakat umum yang berminat. Astuti pun tak mengabaikan kesempatan itu.

Event tersebut membawa berjuta  pengalaman, teman, dan juga ilmu di maya Astuti. Astuti berusaha menjadi sebaik tour guide untuk obyek wisata Candi Prambanan. Dua hari bersama mengikuti seminar membuat mereka akrab satu dan yang lainnya. 

Adalah Mas Haryo seorang  kakak tingkat Astuti mengenalkannya dengan mantan pelaut kapal pesiar, namanya  Mas Satria. Satria memiliki oerangai yang kebapakan, sepintas mirip pak Harmoko menteri di era Soeharto, pokoknya jawa banget. Bahasa Inggrisnya hebat, dan pintar main gitar. Astuti mengetahuinya di acara penutupan seminar.  Mas Satria dengan spontan tampil ke depan menyanyikan lagu “I love you because I understand me” lagunya James Reeves. Tentu saja Mas Satria dapat applause yang hangat dari seluruh peserta. Di mata Astutu, Mas Satria memikiki karisma karena sifatnya yang kebapakan, terbuka,  bicaranya ceplas ceplos, apalagi kalau mengumpat dengan kromo inggil. Sayang dia gagal dalam berumah tangga. Alasan klise dari runtuhnya rumahtangga Mas Satria adalah karena  istrinya ketika dia berlayar. Dia punya satu anak cowok yang sudah kelas 1 SMP. Mereka masih tinggal bersama orangtuanya walau terpisah dengan rumah induk.

Astuti sering diajak mas Haryo ke rumah mas Satria untuk meninjam buku. Buku bukunya banyak, hampir semuanya terbitan luar negeri, yang dibeli ketika dia berlayar. Astuti pun ikut meminjam buku yang ia perkirakan bisa digunakan untuk menyelesaikan tugas  kuliahnya. Semakin hari mereka makin akrab, Astuti tidak sungkan untuk bertanya, bila ada yang belum dimengerti, termasuk pengalamannya waktu berlayar keliling dunia, kebiasaan orang dari tiap negara yang dia jumpai.

Bertukar cerita dengan Mas Satria bak mendulang dongeng menjelang tidur. Astuti seperti ingin melangitkan mimpi dan mengutarakan semua resahnya.  Akhirnya Astuti bisa terbuka dan bercerita tentang siapa ia dan keluarganya.  Ia katakan dalam nada kepasrahan jika ia adalah seorang anak  seorang Tahanan Politik, Astuti berpisah dengan ayahnya hampir 14 tahun karena ayahnya mendalami ilmu kehidupan dalam sebuah tempat bernama lapas.  

Astuti melanjutkan hidup bersama ibu, ayah tiri juga saudara tiri, ibundanya begitu over protect. Rasa nyaman dibenak Astuti tercipta ketika ia dekat dengan mas Satria. Apalagi ketika dia mengelus kepalanya sambil berkata; “Mesake Cah ayu, pinter koq ngga dapat kasih sayang Bapak”

Sejak itu, Astuti jadi sering ke rumah mas Satria, ngobrol dengan Anton anaknya. Diskusi materi tugas tugasnya. Termasuk menyiapkan presentasi “Speaking”. Sesekali mereka nonton ke bioskop, Anton pun ikut berbekal coca cola dan coklat siver queen, mereka bisa menikmati film yang diputar sampai selesai. Pulangnya makan bakmi goreng, atau kadang nongkrong sebentar di HIK (Hidangan Istimewa Kampung).

Astuti  tak tahu mau dibawa kemana kedekatannya dengan mas Satria, mereka berbeda agama, beda usia hampir 18 tahun. Berteman dengan mas Satria membuatnya semakin dewasa, membuka matanya lebar lebar bahwa masalah keluarga itu amat pelik. Mempertahankan rumah tangga itu sulit. Suatu ketika dia bertanya: “What ‘s your reason  to be a teacher? “ jawaban Astuti begitu singkat “Kata Bunda seorang wanita harus siap jadi janda, jadi dia harus pintar dan survive” Mas Satria mendengarnya dalam senyum tipis.

Astuti tak ingin menceritakan banyak hal tentang Satria. Ia ingin mengais lupa episode pertemuan mereka. Bertemu dengan Mas Satria adalah awal tegukan manis yang kemudian berakhir dengan ampas miris.

Ingatannya kemudian mengembara pada masa libur semester tiba. Kala itu, Astuti tak pulang ke Jakarta, ia hanya pulang ke Jakarta pada lebaran atau tahun ajaran baru, selama libur semester itu biasanya ia isi dengan kegiatan yang ada, di kampus, atau kegiatan lain yang menarik. Seperti kegiatan yang ia ikuti di Magelang.

Astuti ikut rombongan Menwa kampus, atas perwakilan dari Mapala, karena ia bukan menwa. Acara mereka napak tilas jejak rute gerilya Panglima Perang Jendral Sudirman. Mereka gabung dengan siswa AKABRI yang masih dalam masa pengajaran di dampingi instrukturnya. Acara pembukaan di Aula komplek AKABRI, ada dimulai dengan pembekalan sebelum  perjalanan. Karena rute yang ditempuh Yogyakarta-Wonogiri menyisir bukit-bukit di pantai selatan. Komplek AKABRI yang luas nan asri, dan tenang membuat Astuti begitu kagum, disini lah calon jendral akan digodok.

Para calon Jendral itu harus memiliki fisik yang bagus, pakaian yang keren, posisi duduk yang tegap, tapi begitu materi inti disampaikan di sesi malam sebagian dari mereka ada yang mendengkur. Mereka mungkin sudah kelelahan sejak pagi karena latihan fisik di pagi hari cukup berat, jadi para instruktur pun maklum, apabila mereka sering tidur meski dalam posisi duduk.  Sedangkan Astuti  masih bertahan dengan penuh perhatian sampai acara selesai. Kegiatan ini langka diikuti  oleh peserta putri, mayoritas putra semua. Dari Kampusnya hanya Astuti dan Grace yang mengikuti.

Malam kian pekat, angin semakin dingin, dan sang fajar mengantarkan pagi. Di pagi hari selesai sarapan mereka dikumpulkan di lapangan, untuk diberi pengarahan. Setelah itu langsung naik mobil truk hijau yang biasa untuk membawa tentara .Truk yang ditutupi terpal tapi ada tempat duduknya. Dari Magelang mereka menuju Yogya, mampir di gedung Agung, lanjut ke rumah Keluarga Panglima Jendral Sudirman. Dari rumah itu lah perjalanan dimulai. Mereka berjalan kaki kearah Parang Tritis. Menyebrangi sungai dengan perahu penyebrangan.

Sore hari mereka beristirahat sejenak. Numpang mandi di rumah penduduk yang sudah ditunjuk, sedang siswa AKABRI tidak mandi, pasukan perempuan istirahat di rumah penduduk, mereka istirahat di bifak, tenda kecil yang hanya cukup untuk satu orang. Perjalanan ini sangat melelahkan tapi ia menikmatinya dengan senang hati. Astuti berjalan tidak beriringan dengan teman teman menwa, ia lebih suka berbarengan dengan instruktur, dari mereka Astuti  mendapat banyak bahan cerita yang lucu lucu, apalagi bila ada siswa yang melanggar aturan, mereka pasti menegurnya dengan keras. 

Astuti merasa iba denga siswa AKABRI, tas  ransel mereka sangat berat. Ternyata ransel itu berguna untuk membentuk tubuh mereka agar tegap dan kencang. Dua hari jalan tanpa ganti baju membuat sebagian dari para siswa AKABRI beraroma kecut, ada juga yang jalannya mulai kelelahan ada yang kakinya lecet, ada juga yang jalannya jadi “mekeh mekeh” seperti habis khitan. Haha. Karena selangkangannya juga lecet akibat pakaian dalam yang kotor, atau karena berkeringat yang berlebihan.

Perjalanan yang paling asyik adalah ketika mendapati bukit jalan setapak, mereka bisa memandang laut lepas yang berwarna biru dan ombak putih yang berkejaran. Di jalan yang agak menanjak mereka biasanya  beristirahat sejenak, meluruskan kaki dan minta kelapa muda dari petani kelapa yang sedang memetik kelapa.

Setelah keluar masuk desa selama berjam-jam, malam kedua mereka  beristirahat di lapangan Eromoko. Malam hari mereka dihibur oleh orkes melayu setempat. Mereka mengadakan malam pengakraban dengan penduduk setempat.  Hampir seharian Astuti dekat dengan salah satu instruktur yang bernama Gunawan. Dia masih muda, pengakuannya lelaki perjaka, belum berkeluarga dan baru saja lulus tapi langsung direkrut jadi instruktur.

Astuti dan Gunawan pun saling  bertukar  alamat, dan berjanji mau saling memberi kabar, kalau acara sudah selesai. Malam yang dingin, angin membelai merdu dalam hening. Singkong dan pisang rebus adalah suapan hangat tatkala menikmati hiburan orkes melayu, Astuti cukup terhibhr. Tapi karena lelah, ia segera pamit untuk beristirahat.

Di pagi yang buta, para rombongan kemudian melanjutkan perjalanan sampai Wonogiri, ditutup dengan acara penyambutan dari pemda setempat, masing-masing dari peserta mendapat piagam penghargaan yang ditandatangi langsung oleh petinggi AKABRI. Usai acara mereka pun naik bus yang sudah disediakan dari kampus. Di perjalanan pulang teman Astuti yang mengamatinya mulai teriak teriak;”Syuit Syuit, Tiwiek entuk cem ceman…”. Wah mereka mengira Astuti mengalami cinta lokasi.

Perjalanan mengesankan pun akhirnya usai. Rasa capek, ngantuk, wajah dan kulit juga gosong, menjadi sosok oleh-oleh yang amat berkesan. Sungguh sebuah perjalanan dan pengalaman yang tak tentu akan terus mengitari ingatan sebagai prasasti kenangan. 

Sesampainya di rumah Astuti langsung membeli 'parem' kocok untuk mengurangi rasa pegal pegal di sekujur badannya. Ketika ia berlibur ke Jakarta, kemudian Ia ceritakan pengalaman itu pada Bunda dan adik adiknya,  sembari menunjukkan foto fotonya. Sungguh Bunda tidak menyangka jika Astutu kuat mengikuti kegiatan itu, Padahal jalan dua hari dua malam butuh fisik yang kuat.

Sejengkal episode petualangan di waktu libur semester itu, membuat Astuti menjadi pribadi yang kukuh. 

Waktu berselang begitu cepat,  kegiatan di kampus pun aktif kembali. Di sini Astuti  mendapatkan her registrasi. Di sela her registrasi itu, dia menyematkan harapan mendapatkan surat balasan dari sahabat penanya yang di Selangor atau yang di Kuala Lumpur. Ternyata tidak ada,  yang malah ia mendapat surat dari orang yang tak terduga. Sebuah surat itu dari Kak Gunawan, instruktur yang ia kenal ketika ikut kegiatan Napak tilas.

Sepucuk surat itu tak langsung ia bukan ia amati dengan dalam tulisan yang begitu rapi di sampul bagian depan dan belakang, lalu  ia masukkan surat itu ke dalam tas. Baru ketika malam hari menjelang tidur ia buka isi amplop itu.. Hmmm sepucuk surat cinta yang cukup romantis, dan membuatnya tersanjung. Astuti ragu untuk membalasnya. Tapi akhirnya surat itu ia balas, sebuah balasan untuk sebuah penolakan. Memori Astuti hanya berlayar pada keakraban tatkala mereka mendaki bukit dengan pemandangan yang begitu indah. Jika orang yang tidak merasakan suasana saat itu pasti bisa beda dalam menafsirkannya.

Di benak Astuti, ia hanya berkesan akan perjalanan seru itu, namun Kak Gunawan merasa GR atas kedekatan kala itu.  Tidak lama kemudian ia mendapat balasan lagi dari Gunawan. Sebuah balasan yang masih penuh dengan rayuan, sebuah kalimat yang  meminta Astuti untuk ke rumah di komplek tidar Magelang. Dasarnya Astuti menyukai travelling, akhirnya undangan itu ia terima, tujuannya hanya dua, pertama datang ke rumah famili Pak Atmaja di Badran, kemudian ke Magelang.

Jarak Solo ke Badran cukup jauh, ia harus naik bus jurusan Semarang, dan turun di Bawen lalu ganti bus untuk jurusan Yogya, setelah itu turun di perempatan  yang disambung lagi dengan bus kecil arah Temanggung. Perjalanan yang cukup rumit dengan beberapa tempat pemberhentian. Niat silahturahmi yang kuat dan rasa penasaran memenuhi undangan dari Kak Gunawan, tak membuatnya lelah. Astuti ingin menemui temannya di komplek tidar.

Astuti tinggal di Badran tak lama, karena memang tujuan utamanya adalah ke Magelang tapi ia harus bagi waktunya untuk  pergi ke Badran untuk sekedar “Say hello” dengan keluarga Pak Atmaja. Astuti pun segera pamitan dan melanjutkan perjalanan. Astuti katakan pada keluarga Pak Atmaja bahwa ia ingin menemui temannya di komplek tidar. Rumah yang ia tuju butuh waktu 20 menit dari Badran. Astuti pun memperhatikan alamat yang  ia pegang dengan nomer rumah yang ia cari.  Astuti mencari rumah Kak Gunawan dengan hanya modal bertanya pada Kang Becak.

Langkah kaki Astuti tepat  di sebuah pintu dari rumah seorang Gunawan. Jantung hatinya mulai berdebar, karena rumah itu amat sepi. Ketika ia mengetuk pintu, kemudian datanglah gadis kecil yang begitu lucu. Gadis itu berkisar 4 tahun umurnya.  Feeling nya sudah tak bagus, ia mencium aroma tak sedap dari perasaannya. Tapi mau bagaimana sudah tak mungkin jika  harus putar balik dan kabur. 

Dengan nada gugup Astuti kemudian bertanya  “Ini rumahnya Kak Gunawan?" Bocah cilik itu menggangguk sembari berlari ke dalam dan berteriak, “Papa ada tamu nyari papa”. Astuti belum berani duduk dan juga tidak berani melihat ke arah dalam rumah. Ia berdiri kaku menunggu langkah-langkah kaki mendekat. Kak Gunawan didampingi seorang perempuan mengulurkan tangannya mengajak salaman dan mempersilahkan duduk. Tidak ada basa basi, perempuan itu langsung memperlihatkan surat yang ada digenggamnya.  Astuti yakin itu surat yang pernah ia kirim untuk Kak Gunawan. Dia langsung menuduhnya sebagai wanita penggoda suami orang. Adegannya jadi seperti di dagelan Srimulat. Kak Gunawan berusaha menenangkan istrinya dan menjelaskan hubungan mereka yang sebenarnya.

Tapi istrinya tetap marah dan memaki Astuti sesukanya. Ia biarkan dia menghukumnya dengan kata kata yang tidak sopan. Sampai akhirnya dia menangis. Setelah itu baru ia menjelaskan apa arti dari isi surat itu yang membuatnya salah paham. Ia bercerita di surat itu tentang keindahan alam dan kebersamaannya  dengan Kak Gunawan, sementara dia mengartikan bahwa Astutu sudah melakukan asusila dengan suaminya.

"Mbak saya minta maaf, saya kesini atas undangan mas Gunawan, saya tidak menyangka kalau masalahnya jadi runyam, mbak boleh marah kalau saya datang kesini dalam keadaan hamil atau menuntun anak, dan minta pertanggungjawaban Kak Gunawan, karena saya istri simpanannya. Mbak patut marah. Jujur saya tidak tahu kalau mas Gunawan sudah berkeluarga, lain kali saya akan hati hati, dan tidak mudah percaya dengan lelaki yang mengaku bujang, permisi.”

Dengan rasa nanar menahan malu, Astuti kemudian pergi meninggalkan rumah itu tanpa menghiraukan istrinya yang meminta maaf dan memanggil namanya. Astuti tak kuat menahan tangis. "Ya Allah ampuni aku".  Batinnya. Berbagai rasa larut jadi satu, merasa dibohongi, dilecehkan, dan direndahkan. Sungguh pengalaman yang sangat berharga untuk Astuti.

Sabtu, 22 Oktober 2022

 INDAHNYA MASA SMA

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami( QS.Al-Anbiyaa:35)

Ada masa, dimana manusia dapat meramu sebuah rasa. Hati kadang bergejolak  sebagai pusat galaksi yang tak terkendali. Terkadang ia membawa paksa suapan duka, suka, lara, atau bahagia. Adalah masa SMA yang acap kali menuangkan latar cerita di pelupuk kehidupan.

Semua orang yang pernah mengalami  masa SMA, pasti akan mengamini bila dikatakan “ Masa SMA masa yang paling indah”.  Betapa tidak di masa SMA perkembangan remaja naik satu level menuju arah dewasa. Orang tua sudah membolehkan anaknya  memilih dan berkata tidak bila “tidak setuju” dengan pendapat mereka. Bahkan pada beberapa keadaan anak SMA sudah bisa meringankan beban orang tuanya.

Astuti menapaki masa SMA nya dengan penuh harapan bisa melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi. Cita-citanya ingin menjadi pramugari, bisa melayani penumpang di pesawat dan bisa travelling. Keinginan yang sederhana dan tidak terlalu muluk. Sang Ibunda mengingatkannya untuk kursus bahasa Inggris, belajar yang rajin. Jangan malas olahraga, terutama berenang. Ketika Astuti mendengar dan melihat banyak terjadi kecelakaan pesawat terbang baik di Indonesia atau di luar negeri, keinginannya menjadi pramugari kemudian pupus.

Suatu masa takdir mengantarkannya menjadi siswa SMA di sekolah favorit. Banyak suka dan duka yang dirasakan Astuti.  Karena pindah rayon, tentu statusnya pun berpindah. Ia tinggal di Kemang. Padahal ia tiap hari harus ganti metro mini sebanyak dua kali. Jadi ia harus berangkat lebih awal agar tidak terlambat, bila dapat giliran masuk di siang hari, maka  menjelang isya ia baru sampai rumah. Kadang Astuti“ nebeng” pada temannya yang tinggal di komplek dekat rumahnya. Yang namanya numpang jelas tidak enak. Apalagi kalau temannya tak langsung pulang tapi harus mampir dulu sekalian menjemput adiknya yang pulang les. Dengan alasan kepepet akhirnya nebeng harus  ia lakukan. 

Teman-teman Astuti adalah anak orang berada, pula mereka berlatar siswa pandai, karena sebagian dari mereka  SMP nya di luar negeri, jadi bahasa Inggrisnya sangat bagus. Kalau mereka meminjam buku di perpustakaan, yang mereka pinjam rerata buku teks bahasa Inggris. Sekolah Astuti banyak mendapat penghargaan dan piala dari kejuaraan yang sering diikuti oleh siswa-siswanya.

Selain itu, anak pengusaha tak kalah diam, banyak diantara para murid adalah anak para pengusaha. Terkadang, ada  anak pengusaha yang apabila liburan, mereka pergi ke Singapura dan Hongkong. Pula, Anak dosen yang penuh dengan fasilitas belajar yang lebih lengkap dan ketika ke sekolah maka jasa antar jemput nya  adalah mobil pribadi dengan seorang supir. Hanya sebagian kecil dari mereka yang menggunakan transportasi umum. Astuti salah satunya.

Sekolah favorit itu membagi dua jurusan. Untuk  jurusan IPA ada 7 kelas, sedang yang IPS hanya 2 kelas. Karena lokalnya besar dan kelasnya banyak, tidak semua siswa saling kenal, Kecuali anak yang aktif di OSIS, anak yang sering dikirim mengikuti lomba, atau anak yang punya prestasi tertentu, biasanya mereka anak artis, anak olahragawan, atau anak penyanyi terkenal. bahkan anak pejabat. Astuti  dan teman-temannya pernah  main ke rumah salah seorang temannya, yaitu rumah dari anak seorang pejabat. Astuti begitu terkejut karena rumah dinasnya luas, dipenuhi dengan karangan bunga, maklum ayah temannya baru saja diangkat jadi Menteri.

Astuti termasuk anak IPS dan tidak punya prestasi yang menonjol. Ia dengan susah payah berusaha menyesuaikan diri, dan ini sangat melelahkan. Dari sepatu, tas dan perlengkapan sekolah yang dimiliki temannya  jelas semuanya branded. Memakai sepatu merek Bata, bagi Astuti sudah sangat keren, sedangkan mereka rata-rata sudah memakai sepatu Kicker yang harganya sangat mahal pada waktu itu. Dan akan kelihatan sekali jika mereka adalah orang berpunya, hal itu terlihat ketika mereka mengadakan acara piknik, atau acara refreshing kenaikan kelas.

Ada cerita yang begitu menggelitik di benak Astuti yaitu ketika kenaikan kelas tiba, Astuti dan temanya hanya naik bus plat merah milik suatu instansi. Sedang  Wali Kelas Astuti sekeluarga disediakan satu mobil Mercy beserta sopir. Agenda itu sudah ada yang mendanai termasuk untuk vila dan lainnya. Mereka hanya tinggal menikmati kenyamanan yang sudah disediakan. Terbesit di pikiran Astuti, betapa enaknya jadi guru di sekolah favorit.

Acara itu diadakan di Puncak Cipanas, dan mereka pun bermalam. Seminggu sebelum hari H Astuti  sudah sibuk, dengan menyiapkan baju, sepatu dan tas yang harus ia bawa. Ibunda mengajak Astuti ke Blok M dan memilihkan perlengkapan yang diperlukan dengan susah payah. Bundanya ingin Astuti agar tidak minder. Dan tetap bisa berbaur dengan temanya.

Alhamdulillah Astuti tidak minder dan bisa merasa nyaman berada di lingkungan mereka. Walau ia tidak punya teman dekat, tapi dalam pergaulan dengan teman-teman yang lain ia tetap bisa “nyambung” sebatas masalah belajar dan kegiatan-kegiatan lain yang berhubungan dengan sekolah, termasuk gossip dan  issue hangat saat itu.

Ia meminjam waktu untuk selalu belajar dan berusaha agar terbiasa dengan suatu perbedaan. Ia selalu berpikir realistis dan berpenampilan modis.

Untuk urusan penampilan agar terlihat modis ia tidak terlihat kampungan, karena sering meminjam majalah remaja “Gadis” dari majalah itu ia tahu apa yang sedang ngetrend. Dari mulai, potongan rambut, sepatu, tas, fashion, dan aksesoris. Kadang ia juga jadi korban mode ketika, rambutnya ia pangkas, ala Demi Moore, Lady Dy, Shaggy, atau bahkan ia pernah mengeriting rambutnya di salon. Ia sering menghabiskan waktu  berjam-jam, demi sebuah penampilan. Singkatnya apa yang sedang jadi model saat itu, Astuti tetap berusaha untuk  bisa mengikuti. Ia takut dikatakan ketinggalan jaman dan tidak gaul.

Astuti adalah gadis yang memiliki gairah meledak dalam nuansa cita-cita. Ia amat membaca, karena Sang Bunda memang membiasakan mereka sekeluarga senang membaca. Dari mulai buku pelajaran, majalah, novel remaja, koran, termasuk mengisi TTS. Pernah ketika Astuti sedang membersihkan meja kursi di ruang tamu ia melihat ada majalah yang asing baginya. Majalah itu majalah “ Detektif Romantika”. Astuti  melihatnya dari judul artikel yang ada di sampul halaman depan. Dibenaknya judul itu terdengar seram.  Iseng-iseng ia buka dan baca halaman demi halaman, ternyata isinya cukup mengasyikkan, selain gambarnya juga menarik. Tiba-tiba bacaannya tertuju pada kolom korespondensi. Satu demi satu  ia amati foto dan alamat yang tertera di halaman itu.

Dengan iseng ia catat salah satu alamat yang ada di kolom itu. Alamat seorang pemuda yang tinggal di Malaysia dan berprofesi sebagai Fotografi. Di waktu luang selesai belajar, ia mencoba menulis sepucuk surat perkenalan dan mengirim surat tersebut melalui pos. Dua minggu kemudian ia mendapat balasan. Bahasa yang digunakan teman barunya terasa aneh tapi  Astuti menyukainya,  paling tidak ia mendapat prangko baru bergambar kupu-kupu yang sangat cantik. Kegiatan itu pun berlanjut, mereka saling tukar kabar dan berkirim foto. Bila hari Raya Idhul Fitri tiba, mereka saling mengirim kartu ucapan. Persahabatan itu terasa indah.

Suatu saat Astuti dapat surat dari Malaysia tetapi bukan dari Bang Oemar, melainkan dari Yusri dengan alamat yang berbeda. Penasaran ia buka surat itu dan ternyata surat itu dari seorang pemuda Malaysia yang seusia dengan Astuti. Sang  pemuda pun  memperkenalkan diri sebagai Kemenakan dari Bang Oemar. Ya dia mendapat alamat Astuti dari surat yang ia kirim. Kebetulan dia sedang berlibur di rumah Bang Oemar dan dia yang menerima surat yang diantar pak Pos.

Surat perkenalannya  ia terima dan segera Astuti mengirim balasannya. Setelah surat balasan siap, ia hanya menyimpannya di laci meja belajar. Lama surat itu berada di laci, ia pun lupa mengirimnya ke kantor Pos.  Dengan iseng, ternyata adik Astuti mengirim surat tersebut.  Sejak saat itu ia punya dua sahabat pena dari Malaysia. Satu dari Kuala Lumpur, satu dari Selangor. Ternyata hobbi membacanya memperluas wawasan Astuti tentang persahabatan, kehidupan, dan banyak hal. Maka kegiatan membaca semakin  ia tingkatkan.

Beda hal nya dengan membaca Al Qur’an yang  belum ia lakukan secara rutin. Mengaji selesai shalat masih belum  ia biasakan, mereka mengaji hanya pada Ramadhan tiba. Selepas Ramadhan mereka tidak mengaji lagi, kecuali malam jum’at Pak Atmaja mewajibkan mereka tahlil dan kirim doa. Mereka diajarkan baca QS. Al Ikhlas 100 kali setelah itu baru berdoa yang dipimpin Pak Atmaja dan jamaah pun mengamininya.

Sedang,  pergaulan Astuti  dengan teman-teman di sekitar rumah, tidak seperti dulu lagi. Hanya sesekali ia main ke warung Pak Haji Amsir. Karena ada Ida yang masih punya waktu untuk ngobrol berbagi dan cerita. Ternyata dia masih awet pacaran dengan Ridwan. 

Ketika Astuti sedang main di rumah Ida, ia melihat ada cowok asing duduk di teras rumah Ida. Dengan reflek Astutu pun bertanya “ Siape dia  Da?” 

“Yang mane ? Jawab Ida.” Noh yang pakai kemeja kotak-kotak" jelasnya.

“ Ohh entu, temen abang gue, emang ngape?” Selidik Ida

“ Koq gue ngga kenal emang orang mane?” tanya Astuti lagi. 

"Ya terang aje… ,nah lu jarang maen ke rumah gue, mane lu tau, dia anak baru yang rumahnye di komplek. Namenya Fadli. Suka ada urusan paan ame abang gue koq sering ke rumah gue” Ida nyerocos tanpa ditanya lagi.

“Oh namanya Fadli”. Gumamnya dalam hati  Ketika Astuti memperhatikan cowok itu, si cowok kebetulan  menengok pas ke arahnya, Astuti malu setengah mati karena ketahuan lagi mencuri pandang. Langsung ia juga pamitan sama Ida. Dan lari pulang.

Sejak saat itu Astuti jadi rajin lagi main ke rumah Ida, dan berharap bisa bertemu Fadli. Akhirnya ia dapat info jika  cowok ganteng itu  sudah kerja. Bapaknya orang Jawa sedang ibunya dari Bangka, dia lima bersaudara. Bapaknya sudah pensiun. Saudaranya yang lain juga sudah kerja kecuali si bungsu Mirna yang sebaya dengannya. Mirna bersekolah di SMA swasta di Tebet.

Diawal perkenalan Astuti dengan Fadli  cukup kaku, untung ada Bang Zae, kakak Ida yang ikut nimbrung ngobrol bareng, sejak itu aku ia dan Fadli jadi akrab. Kadang dia mengajak Mirna ikut main di rumah Ida. Sampai suatu saat Fadli bilang padanya “Mau ngga Wiek  jadi pacarku?” Jelas ia salah tingkah mendengar pertanyaannya. Tanpa pikir panjang dijawab tidak, pada saat itu. kira kira dua minggu  ia biarkan Fadli menunggu jawabannya. Astuti tidak berani pacaran. Ia tak mau mengecewakan Bundanya lagi.

Astuti berterus terang pada Fadli jika ibundanya galak dan ia tidak mungkin menyampaikan jika ia sedang dekat dengan laki-laki pada bundanya. Fadli memintanya backstreet saja, menjalin hubungan diam-diam tanpa diketahui bunda. Hmmm apa enaknya pacaran backstreet, padahal ia janji maunya selalu terbuka. Seiring berjalannya waktu mereka memang jadian. Sejak itu ia sering dijemput di depan sekolahnya pada jam pulang. Waktu kelas dua SMA Astuti di masuk siang hari, jadi sore baru sampai rumah.

Fadli sudah berani mengajak Astutu ke rumahnya. Ia dikenalkan sebagai temannya dan sekaligus teman Mirna. Sedangkan Fadli  dilarang berkujung ke rumah Astuti.  Jujur, Astuti tidak punya nyali untuk mengenalkan Fadli pada Bundanya. Hubungan mereka baik-baik saja. Asal pintar-pintar saja mengatur waktu dan mencari kesempatan untuk bertemu, nonton film horor, makan bakso atau sekedar ke toko buku Gunung Agung.

Dalam benak Astuti Fadli berperangai baik. Ia  cukup perhatian, ketika Astutu ulang tahun dia memberi bros cantik berupa sepasang jerapah yang berpelukan. Cute banget. Dan sebaliknya waktu dia ulang tahun Astuti menghadiahkan dia sebuah dompet kulit yang ia isi dengan fotonya berwarna ukuran kecil yang terbaru. Kebetulan ulang tahun mereka hanya beda 8 hari, Astutu tanggal 8, sedang Fadli tanggal 16 Januari.

Kebiasaan Astuti di hari minggu ia pamit ke Bundanya, ia izin untuk ke rumah Kartika dalam acara makan rujak bareng. Padahal ia tidak datang ke sana. Astuti diajak Fadli ke rumahnya. Dia asyik mengotak -atik sepeda motornya sambil sesekali menggodanya sementara Astuti, Mirna dan maminya juga asyik di dapur masak untuk acara makan siang. Sebetulnya ia yakin jika Fadli serius menjalin hubungan dengannya, dia sudah bekerja walau cuma lulusan STM, jelas masa depannya ada. Astuti takut jika tiba-tiba setelah lulus SMA dia meminangnya. Apa dia mau menunggunya sampai kuliahnya selesai. Bunda  Astutu menghendaki jika sudah selesai kuliah barulah memikirkan jodoh.

Naluri seorang ibu tidak bisa dicolong. Kejadian waktu di SMP terulang lagi. Entah dapat laporan dari mana Bundanya tahu tentang hubungannya dengan Fadli. Kali ini Bunda mengajak Astutu makan di warung sate kambing  Pancoran. “Ahhh kalau perginya cuma berdua begini pasti akan ada sesuatu lagi nih”. Bisik batinnya.

Astuti baru menikmati es kelapa muda yang disajikan pelayan ketika Bundanya mengajukan pertanyaan siapa itu Fadli dan bla bla bla. Hampir saja ia tersedak dan tak bisa menelan apa yang ada di dalam mulutnya. Matanya terbelalak karena kaget.

“Bunda tahu dari mana tentang Fadli?” Astuti balik bertanya. “ Tidak penting”. Jawab Bundanya penuh diplomatis. Mungkin ini lah saat nya terus terang ke Bunda. Dengan menceritakan  yang sebenarnya ia akan jadi lega. Tidak ada lagi yang mengganjal di batinnya. Ia ceritakan pada Bundanya dari awal ia mengenal Fadli, dan jalan bareng kemana saja dengannya. Astuti mengakui semuanya, tanpa ada yang ia tutup tutupi. Jika Bundanya ingin marah biar lah dia marah, itu haknya, Astuti lah1 yang salah. Hukuman apa pun yang akan diberikan Bundanya  pasti akan ia terima.

Disaat Astuti siap-siap menerima hukuman, Bundanya justru memeluk dan menciumnya, dia menangis tersedu, “Anak Bunda sudah besar Bunda yang salah seharusnya Bunda tidak melarangmu, sehingga kau tidak umpet-umpetan, dan membohongi Bunda terus menerus. Kau pasti lelah Nduk”. Sejak saat itu pintu rumahinya terbuka lebar untuk Fadli. 

Fadli boleh mengapeli Astuti di malam minggu, atau mengajaknya pergi bersilahturahim ke rumah tantenya di Bogor. Ketika adik Astuti ulang tahun dan mereka merayakannya dengan pergi berlibur ke Ciater, Fadli juga gabung dalam acara itu. Karena itu acara keluarga maka keluarga dari Pak Atmaja juga ikut termasuk Bu Atmaja dan ke lima anaknya. Anak Pak Atmaja yang sulung mas Irawan namanya. Dia baru saja selesai pelantikan AKABRI di Magelang, kebetulan dia di tempatkan di bagian kepolisian jadi pendidikannya dilanjutkan di Semarang. Acara ini dalam rangka ulang tahun adik Astuti dan syukuran bahwa mas Irawan sudah separuh menyelesaikan pendidikannya di AKABRI.

Bunda Astuti ikut Bangga karena Bunda juga ikut “cawe-cawe” waktu mas Irawan masuk AKABRI. Di acara itu perhatiaan Astuti pada  Fadli agak terbagi. Ia sibuk mengurus makanan dan melayani kerabat yang lain, begitu juga dengan mas Irawan. Jadi jika dilihat sepintas Astuti lebih asyik mengurus keperluan mas Irawan sementara Fadli  ia abaikan. Apalagi saudara Astuti ada yang nyeletuk. "Wah dijodohin aja nih si Irawan sama Tiwiek”. 

“ Ihhh ngomong apa tuh si om Broto ngaco aja” gerutu Astuti. Jika Fadli dengar akan disangka sungguhan.nMana mungkin bapaknya nikah sama Bundanya dan ia nikah dengan anaknya. Yang mboten-mboten aja.

Sejak acara ke Ciater itu Fadli agak jarang ke rumah. Astutu tidak terlalu merisaukan karena ia percaya padanya dan lagi ia mulai banyak ulangan dan mengikuti pelajaran tambahan agar ia benar benar siap mengikuti ujian. Fadli juga selalu menyemangatinya agar belajar yang rajin. Dan dia juga berjanji tidak akan cepat-cepat melamar Astuti.

Ini memang salah satu strateginya.  Menjelang ujian Astutu selalu punya semangat dan motivasi yang tinggi untuk mencapai nilai terbaik, kebetulan ia punya teman belajar kelompok, mereka terdiri dari lima cewek, Astuti, Binyu, Ite, Etheng dan Ningnong. Sebenarnya itu hanya nama panggilan. Binyu itu asli Elizabeth dia anak kontraktor yang tinggal di Pondok Indah, kalau Ite itu aslinya Mieke, karena rumahnya di cipete jadi mereka memanggilnya Ite, sedang Etheng alias Esher adalah mojang Bandung dan Bapaknya merupakan petinggi BI, dan Ningnong bernama aseli aslinya Ningrum, sedangkan Astuti sendiri dipanggil Iwiek. Cuma mereka yang biasa memanggil nama kesayangan masing-masing.

Selama seminggu ujian mereka punya tempat khusus untuk belajar di daerah Bendungan Hilir atau disingkat Benhil. Satu rumah khusus plus pembantu dan sopir, Sebenarnya ada tiga kamar kosong yang tertata rapih dengan springbed dan dilengkapi pendingin ruangan. Tapi mereka memilih satu kamar utama yang besar dan mereka berlima tidur disitu. Itu adalah rumah orang tua Binyu yang baru saja dikosongkan. Karena sebelumnya dikontrakkan ke orang asing. 

Di rumah itulah  mereka belajar bareng, makan bareng dan tidur bareng kecuali mandi pastinya sendiri sendiri. Walau sudah selesai belajar dan sudah masuk kamar, lampu sudah dimatikan , tetap saja mereka masih serius belajar, dengan mata tertutup  mereka main tebak tebakan terutama pasal pasal yang ada di UUD 45, atau tokoh di pelajaran sejarah dan Ekonomi.

Ketika Astutu minta ijin untuk gabung dengan temam-teman belajar bareng dan bermalam, Bundanya mengijinkan. Tetapi  sang bunda tetap menaruh curiga. Bundanya mengantarkan Astuti ke tempat itu. Bundanya takut ia berbohong lagi. Bundanya juga beberapa kali mengirimi mereka makanan, padahal makanan begitu melimpah disediakan oleh keluarha Binyu. Disini Astuti merasakan kesetiakawanan, berbagi, saling menyemangati, belajar serius untuk masa depan mereka. Inilah yang dianggap paling bahagia dan benar-benar indah.

Astuti bersyukur ada di lingkungan yang sangat menyenangkan dan serba mudah, full dengan segala fasilitas. Ternyata tidak harus kaya untuk bisa menikmati semua fasilitas kemewahan itu, Bila Allah menghendaki segala sesuatu bisa terjadi. Ternyata Bundanya tidak salah menyekolahkan ia di SMA favorit itu. Sang Bunda akan bangga bila kerabat atau temannya bertanya” Anaknya sekolah dimana Bu?” Bundanya menjawab bahwa aku sekolah di salah satu SMA favorit di Kebayoran.

Ada satu kejadian yang sampai saat ini selalu  ia ingat di saat ujian. Waktu itu adalah hari terakhir ujian salah satu mata pelajaran yang diujikan adalah Geografi. Mereka sudah mateng belajar dan cukup 'ngelotok' dengan materi Geografi. Mereka bersiap untuk tidur, tetapi tiba-tiba Mbo Yah  pembantu Binyu memberitahu  jika ada tamu. Rupanya ada 3 orang teman sekelanya yang semua laki laki. Mereka memberi info kalau dapat bocoran soal Geografi. Katanya ada salah satu teman mereka yang beli kunci jawaban dari salah satu oknum di sekolah. Ketiga teman lelaki itu menawari Astuti dan teman lainnya. 

“Sorry ya..kami ngga butuh, kenapa bukan matematika? Kalau hanya Geografi ngga penting kami sudah hafal” Etheng menolak tawaran itu. Meski sudah menolak mereka tetap memaksa. Katanya ngga usah bayar ngga apa apa. Jawabannya gampang koq pokoknya zikzak dari mulai nomer 1 sampai 40. A,B,C,D. kembali lagi ke A.B.C.D. begitu terus sampai nomer 40. Dan ternyata bocoran jawaban itu benar adanya.

Selesai ujian mereka berlibur selama dua hari, sang Bunda kemudian menjemput Astuti. Libur hari kedua mereka gunakan untuk refreshing ke Ciloto, disana ada Villa keluarga Etheng. Mereka berangkat dua mobil satu mobil pakai driver sedang mobil satunya lagi disetir oleh teman cowok. Disana mereka benar benar menghilangkan stress setelah seminggu mengikuti ujian yang cukup melelahkan. Di malam hari mereka nyalakan api unggun sambil bernyanyi diiringi petikan gitar si Fani, salah satu temannya yang jago gitar.

Pagi hari mereka bisa turun ke sungai yang arusnya deras tapi tidak dalam, ada hamparan batu yang besar-besar, dan mereka bisa main air sepuasnya, sambil memandang keindahan gunung dan pepohonan yang ada di sekitarnya. Udara segar pagi hari, suara gemercik air, seakan membayar lunas semua kepenatan mereka ketika menghadapi ujian.

Ujian membuat Astuti jarang bertemu Fadli. Sampai pada suatu hari setelah selesai ujian dan menunggu hasil kelulusan, ia mendengar gossip bahwa Fadli dekat dengan janda beranak satu yang tinggal di dekat rumah tantenya di Bogor. Astuti tidak menghiraukan gossip itu. Sampai pada suatu hari  Astuti bertemu Mirna di rumah Ida. Ida mengingatkannya,“Sono tanya sendiri tuh same adiknye, bener ngga Fadli punya pacar baru di Bogor?” Astuti tidak berani mendengar jawaban Mirna. Ia memilih diam. Biar nanti saja dia akan mengetahuinya sendiri apa yang terjadi.

Yah. Fadli tanpa memberi alasan yang jelas tiba-tiba menghilang begitu saja. Bundanya juga heran dan bertanya tentang Fadli, Astuti tak mampu menjawab. Rasanya malu jika ingin mengatakan gossip itu pada sang bunda, apalagi kalau gossip itu memang nyata. Jadi ketika Bunda menanyakan hal itu ia mengalihkan pembicaraan. Itu lebih baik menurutnya. Sang Bunda melihat perubahan yang ada pada dirinya. Ia jadi pemurung. Dan tidak betah di rumah.

Astuti meminta ijin kepada  Bunda, sembari menunggu hasil ujian, ia ingin menenangkan diri di rumah Bude. Bundanya kemudian mengijinkannya. Dan Astuti pun  membawa baju secukupnya. Di sana ia punya banyak teman. Karena ia sering bersilahturahim ke rumah Bude, jadi ia cukup akrab dengan teman anak Bude yang rata-rata sebaya dengannya. Belum genap seminggu Astuti di sana, Bundanya datang menjemput. Tadinya ia tidak mau pulang tapi Bundanya sedikit memaksa, karena ia harus belajar.  Masih ada tes sipenmaru di rayon 3.

Astuti mengikuti tes di senayan, dan ambil rayon 3 yaitu IKIP Jakarta jurusan sejarah. Karena ia terobsesi dengan guru sejarahnya yang cantik, dan pandai bercerita, sehingga di kelas beliau  tak pernah ada rasa kantuk ketika beliau sedang mengajar. Beliau menegaskan bahwa orang hidup harus belajar dari sejarah, karena  belajar sejarah itu mengasyikkan. Menurutnya tidak terlalu sukar dan menjadi guru sangat mulia.

Selesai tes di senayan. Ia dan Bundanya berangkat ke Solo. Bundanya ingin Astuti juga ikut tes lagi. “ Bunda njagani kalau yang di IKIP Jakarta luput” Padahal di hati kecil Bundanya dia ingin Astuti kuliah di Solo. Astuti dan Bundanya pergi ke Solo dengan naik kereta, mereka jujug rumah Bude di Penumping. Selesai mandi dan sarapan Bundanya kembali pergi. Sedang, Astuti beristirahat sejenak tak lama Bude mengajaknya ke pasar.

Siang hari Bundanya baru pulang dari pasar naik becak. Astuti lihat dia membawa berkas di dalam map. Baru ia tahu bahwa map itu berkas formulir pendaftaran untuknya untuk mengikuti tes, setelah Bundanya menyuruh Astutu mengambil pulpen dan mengisi data yang diminta.

'Subhanallah Bunda mengapa tadi aku tak diajak?' Padahal ia yakin Bundanya susah payah mendapatkan formulir, Bundanya harus antri panjang. Ia jadi malu sudah lulus SMA, mau kuliah masih dituntun ibunya ke sana dan kemari.

Qadarullah Astutu diterima di kedua perguruan itu. Sang Bunda tegaskan ia agar memilih universitas di Solo. Ia harus bisa melupakan Fadli. Tidak boleh berlarut larut dalam kesedihan. Itu salah satu sebab Astuti kuliah di Solo. Sang Bunda berharap ia bisa belajar lebih tenang, apalagi jurusan yang diambil waktu membeli formulir adalah jurusan yang Bundanya dambakan. Jadi lah ia sebagai mahasiswa di FKIP UNS.

Walau Bundanya punya banyak family dan kerabat di Solo. Agar lebih netral Bunda mencarikan kost untuknya.  Ia mendapat tempat kost di rumah seorang guru SD yang lokasinya tidak jauh dari kampus. Bundanya sadar jika ia belum seratus persen bisa mandiri, jadi Bundanya menyewa kamar kost included makan 3 kali.

Ia jalani hari-hari pertamanya di Kampus, berkenalan dengan teman seangkatan dari berbagai daerah, ada yang dari Ngawi, Klaten, Wonogiri, dan ada juga yang dari Sumatera. Satu angkatan terdiri dari 35 mahasiswa. Ada masa perpeloncoan alias masa orientasi siswa dan ada malam inagurasi. Masa penyesuaian menjadi mahasiswa dilakukan selama satu minggu. Meski lelah dan terkadang dongkol karena banyak bentakkan senior yang mendarat di telinganya, semuanya bisa  ia lalui dengan senang hati karena kini kehidupan baru siap menanti hidupnya. Sekarang Astuti resmi menjadi seorang mahasiswa.

Jumat, 21 Oktober 2022

 CINTA MONYETKU

Wahai anakku! Laksanakan salat dan suruh lah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah ( mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap dosa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting (QS Luqman;31:17)

Usia adalah kondisi dimana hati mampu mencari tambatan hati. Ada sebuah rasa yang disebut cinta. Ia menjerat dan mengisap kuntum bunga bak menggantungkan harap di langit pikiran, mencumbu debar pada jantung yang gusar.

Apa jadinya jika Astuti jatuh cinta? Beranjak  remaja dan sedikit 'ganjen'  dalam istilah orang betawi. Astuti mulai Bergaul dengan berbagai teman yang berasal dari latar belakang yang berbeda, tentu ada plus dan minusnya. Pembawaan Astuti yang supel dan sedikit tomboy terasa sulit ditebak. Kadang galak, kadang lembut, sesekali pemalu, ragu dan tak percaya diri. Maklum masih ada teman-temannya yang ingat bahwa ayahnya masih mendekam di penjara.

Dari segi ekonomi  keluarga Astuti bisa digolongkan cukup. Walau tidak punya kendaraan pribadi, paling sesekali Pak Atmaja meminjam mobil kantor dan mengajak mereka pulang kampung atau rekreasi ke tempat hiburan. Entah ke Monas, ke PRJ atau ke Kebun Raya Bogor. Semua itu lebih dari cukup sudah bisa Astuti banggakan pada teman-temannya yang lain.

Rumah Astuti berangsur makin nyaman. Layak disebut sebagai rumah. Ada halaman, teras, ruang praktek ibundanya, ruang tamu, ruang keluarga, tiga kamar tidur, satu kamar utama dan dua kamar anak-anak plus masih ada gudang kamar pembantu, serta dapur yang cukup luas. Di belakang rumah, masih ada halaman yang ditanami pohon pisang dan pohon jambu air. 

Sayangnya,  mobil tidak bisa masuk sampai halaman rumah, karena Pak Haji Amsir menjual tanahnya ke orang lain. Dulu ketika tanah itu masih dimiliki Pak Haji Amsirz  setidaknya ada lahan untuk dilewati mobil. Sang Ibunda  pernah mengutarakan maksudnya  untuk membeli tanah Pak Haji Amsir sebagian saja hanya untuk jalan dan kepentingan umum. Tapi dasar Pak Haji Amsir agak “sentiment” (tidak suka) dengan pendatang khususnya pada keluarga Astuti, maka dia lebih suka menjualnya kepada orang lain tanpa menghiraukan akses jalan.  

Akhirnya Ibunda Astuti harus merajuk kepada  Pak Haji Ali agar bisa membeli sekian meter tanahnya untuk akses jalan walau yang tadinya hanya gang setapak berubah menjadi gang yang agak besar. Paling tidak, gerobak minyak dan gerobak tukang abu gosong bisa lewat. Termasuk kendaraan roda dua dari tamu atau pasien Bundanya yang berobat ke rumah.

Apa jadinya bila setiap mimpi dan rencana besar dalam hidup Ibunda Astuti tidak menyertakan sosok Pak Haji Ali? Mungkin semua keinginan hanyalah angan tanpa spasi. 

Alamdulilah Astuti selalu mensyukuri apa yang diberikan Tuhan kepadanya. Mulai dari jalan hidup, keadaan dan fisiknya yang tanpa cacat. Bentuk badan nya yang gempal, kulit yang sawo matang,  idung yang nampak 'nongkrong' serta alis bak bulan sabit. Konon, ketika hamil ibunda Astuti sangat mengangumi bulan sabit.

Wajah Astuti yang tampak kotak dan kadang ditumbuhi jerawat. Sejak ia mendapati haid Astuti jadi akrab sekali dengan kaca, sisir, dan bedak fanbo milik ibundanya. Andai benda itu bisa diajak bicara dia akan protes. “Koq elu lagi elu lagi”. Ya Benda benda ini tidak tahu kali kalau Astuti sedang mengagumi dirinya sendiri. Kadang ia meraba buah dadanya yang mulai membukit sembari berdiri di depan cermin. Astuti memandangi seluruh tubuhnya yang dirasa jauh dari kata Sexy, perutnya tebal dan tidak punya pinggang. Tidak seperti wanita dewasa yang ramping dengan bentuk pinggang bak gitar spayol.

Ketika SMP, Astuti memiliki teman yang cukup banyak baik teman wanita maupun teman pria. Sekolahnya cukup jauh dari rumah jadi ia terbiasa naik Bus jurusan Matidakrai-Pasar Minggu. Nama Bus kala itu “Saudaranta” yang bermerek dodge pemiliknya jelas dari tapanuli. Kalau pulang sekolah ia lebih suka duduk di belakang. Karena kalau di belakang ia bisa sambil becanda dan berteriak bersama temannya. Jika ia  takut tidak dapat tempat duduk, Astuti dan teman-temannya memutuskan untuk jalan kaki dulu ke Pasar Minggu baru balik arah ke jurusan Matidakrai.

Setiap detik adalah celoteh bagi Astuti, ia begitu menikmati masa dimana ia bercerita pada cakrawala tanpa tau hidup memiliki sanggahan nan terjal. Ada pelangi yang elok dipandang, aneka warna tercipta tanpa dihujani pusing dan beban berkepanjangan. Sungguh masa remaja membuat ia bahagia.

Warung es Mang Udin adalah ingatan melegenda. Warung itu bak janji jiwa diantara tongkrongan lain selain tongkrongan halte bus. Warung es campur yang enak untuk ukuran saat itu. Padahal isi es itu cuma cincau hitam, tape, roti dan papaya, esnya diserut, diberi sirup prambos. Bagi Astuti  rasanya selangit. Di warung itu mereka bisa melepas canda bergosip tentang bapak ibu guru atau ada murid-murid yang sok tau atau sombong. Kadang juga dijadikan untuk ajang kirim-kiriman salam dan mempertegas hubungan untuk mereka yang mulai pada naksir temannya.

Astuti disebut dengan gadis tomboy. Jadi,  tidak ada teman sekelas atau teman di sekolah yang menaksirnya. Beda halnya dengan teman main di rumah, ada pria yang bernama Erwin yang konon menaksir Astuti. 

Erwin adalag saudaranya Pingkan teman Astuti yang orang Manado. Pria berkulit putih, bermata agak sipit dan giginya rapi. Astuti sangat suka dengan senyumnya yang tulus. Dia terlihat dewasa dari usianya yang baru 15 tahun sedangkan Astuti kala itu baru berumur 12 tahun.

Dari Pingkan lah Astuti mengtahui jika Erwin menyukainya. Dia tidak berani bilang tapi dari matanya yang suka curi pandang Astuti  tahu jika Erwin menyukainya. Terlihat jelas dari sikap Erwin ketika Astuti bermain karet gelang dengan temannya. Erwin bertindak sebagai juri yang begitu membela Astuti. Ia jadi tahu begitulah cara  Erwin meruntuhkan perhatian Astuti.

Astuti tak terlalu peduli, masa iya dia harus  berpacaran dengan orang  yang berbeda agama. Apalagi Astuti tahu jika mereka suka mengkonsumsi daging anjing dan juga babi. Dua jenis makanan yang diharamkan di Agama Islam. Belum lagi saudara Pingkan lainnya yang sering buat keributan dengan mabuk-mabukan sehingga menjadi bahan perbincangan  di kampung Astuti. Pula, santer sebuah gosip  bahwa salah satu kakak perempuan Pingkan jadi wanita simpanan yang sebelumnya berprofesi sebagai Hostes. (profesi yang paling negatif saat itu). Bunda Astuti berpesan agar mereka tidak bergaul dengan keluarga Pingkan  terlalu akrab, cukup mengenalnya saja sebagai teman biasa.

Meski rasa kepada Erwin kemudian layu, masih ada ranting harap untuk digantungkan di langit cinta yang lain. Eaaaaa.  Sejujurnya Astuti  lebih tertarik pada keponakan Pak Haji Ali yang baru datang dari Palembang. Mereka hijrah ke Jakarta  karena usahanya bangkrut setelah menetap lama di Palembang sebagai pedagang buah. 

Lelaki itu bernama Chaerudin tapi biasa dipanggil Diding, anak-anak Pak Haji Ali memanggilnya Bang Diding, Astuti pun ikut memanggilnya Bang Diding. Bang Diding berkulit kuning langsat, hidungnya mancung, alis tebal, dan pandangan matanya tajam. Berambut gondrong, dan memelihara jenggot walau tidak terlalu panjang, penampilannya rapi dan harum. Usianya waktu itu sekitar 19 tahun karena dia pernah kuliah dan drop out. Dia sering menggoda Astuti. "Duh manisnya anak Bu Jeksi". Gadis ingusan seperti Astuti tentu saja tersanjung dikatakan manis.

Pujian itu masih mengendap di kepala Astuti meski ia berhenti menatap setiap sekat di ingatannya, namun tetap saja pujian itu pernah terdengar manis di telinga Astuti. Bang Diding memang terkadang membuat Astuti sedikit tersipu. 

Suatu ketika TV hitam putih di rumah Astuti idak bisa ditonton karena akinya habis dan masih dicas. Astuti kemudian sering nonton TV di rumah Pak Haji Ali. Ukuran TV nya paling besar dan punya aki lain sebagai serep,  jadi tidak pernah ada masalah. Masih lekat dalam ingatan Astuti waktu itu  listrik belum ada, jadi penerangan yang mereka punya hanya lampu 'Patromak' yang sesekali harus dipompa agar tetap menyala. Atau bisa juga tiba-tiba padam karena sarung lampu itu kekeringan. Pada zamannya disebut dengan Bolham.

Kembali ke masa lalu, kala itu Pak Haji Ali memiliki usaha lain sebagai pembuat marning, yang bahannya dari jagung direbus dan hanya dibumbui garam, diangkat setelah mekar, lalu ditiriskan dan dijemur, setelah kering baru digoreng dan dikemas, ada yang ukuran kecil, sedang maupun besar. Bang Diding sering membantu mengemas marning,  Astuti dan anak-anak Pak Haji Ali yang hampir sebaya juga ikut mengemas marning. 

Sesekali mereka bercanda, dan Bang Diding selalu saja menggoda Astuti atau menunjukkan perhatiannya  “Udeh belajar belon” atau ketika Astuti sedang asyik main congklak dia memberitahu;” Noh disuruh pulang, denger tidak dipanggil Mbok Kem?” Padahal Cuma perhatian kecil yang diberikan pada Astuti. Tapi perhatian itu menancapkan kesan merah jambu di hati Astuti. Jika ada bang Diding di rumah Pak Haji Ali, Astuti acap kali berura-pura mencari Ida anak Pak Haji Ali yang sebaya dengannya. Padahal dalam hati sekadar ingin tahu kabar bang Diding.

Ada satu senja yang bernaung dalam ingatan. Yaitu ketika  musim jambu tiba dan panen raya, Bang Diding selalu sibuk membantu memilih buah itu untuk dibedakan, antara yang besar, sedang dan yang kecil, begitu juga dengan yang sudah masak, dan yang masih “mengkel”. Di sela-sela itu dia berani mencubit pipi Astuti dengan gemas dan menatapnya tajam.’Syiiir”. Ada sesuatu yang aneh di ulu hati Astuti bak aksi yang menimbulkan reaksi yang seirama. Astuti tak faham, apakah Bang Diding menyukainya atau hanya iseng belaka. Yang jelas sampai di rumah kejadian itu selalu membayangi Astuti.

Satu dua teman sebaya Astuti yang asli orang betawi, setelah lulus SD selang satu atau dua tahun ada yang sudah menikah. Ada yang dijodohkan atau ada juga yang suka sama suka, dikarenakan keluarga dari kedua belah pihak sudah kenal, bahkan mereka sebelumnya sudah bersahabat akrab. Sedang ibunda  Astuti selalu berkata;” Masih kecil tidak boleh pacaran sekolah dulu yang pintar, sampai bisa cari uang, baru boleh pacaran”. Jadi, peristiwa yang dialami Astuti, dan perasaannya pada Bang Diding ia sembunyikan dari Bundnya. Padahal perasaan itu sangat mengganggu, Astuti jadi sering berkhayal seandainya ia jadi pacar Bang Diding dan jadi keluarga besar Pak Haji Ali. Ternyata perasaan itu tak bersemayam  terlalu lama.

Ketika Astuti naik ke kelas dua SMP, komunitas teman bermainnya bertambah. Ia adi suka main dengan Hayati anak pak Haji Amsir, tetangga depan rumahnya. Mereka  satu SD, tapi dia melanjutkan ke SMP Muhammadiyah yang di Cawang. Walau lain sekolah  Astuti dan Hayati cukup akrab. Pak Haji Amsir memiliki warung kelontong yang cukup lengkap, dan juga punya rumah kontrakan yang banyak. Astuti sering belanja atau beli jajanan seperti krupuk apolo, pilus atau kue gambang di warung Pak Haji Amsir.

Di rumah kontrakan Pak Haji Amsir ada penghuni baru, sebuah keluarga yang memiliki seorang pemuda, masih sekolah di STM kelas dua. Namanya Ridwan. Keluarga itu pindahan dari Bogor. Untuk remaja seusia,  Astuti sangat mengerti jika ada pemuda yang ganteng. Aatuti sering berpapasan dengannya, bertatapan sesekali, sampai akhirnya mereka berkenalan.

Ridwan adalah alasan mengapa Astuti kedap main di rumah Ida. Ridwan kerap nimbrung  dan ngobrol bareng. Mereka bisa bercerita tentang film remaja yang sedang diputar di bioskop “ Wira” di daerah Tebet, atau pun di bioskop yang di Cikini. Film remaja yang sedang diputar di bioskop waktu itu film “ Romi dan Yuli ”, kalau film komedi ya filmnya Benyamin S. "Biang Kerok' dan film drama salah satunya. “Dimana Kau Ibu”. Suatu hari kami mereka untuk nonton bareng. Astuti susah dapat ijin dari Bundanya jika  berterus terang untuk nonton bareng, maka ia pun mulai cari alasan lain agar bisa gabung dengan Ridwan dan Ida. Terpaksa ia berbohong pada Bundanya bahwa hari itu aku ada belajar kelompok di rumah Kartika teman Astuti yang tinggal di komplek Pertanian Pasar minggu. Akhirnya, Bundanya mengijinkan.

Terkadang cinta itu membawa sifat kekanak-kanakan. Kebohongan kedua Astuti berlanjut ketika lagi-lagi Ridwan punya ide mengajak bolos sekolah. Dia mengajakAstuti dan Ida ke kebun binatang Ragunan. Akhirnya, mereka  menggunakan waktu belajar untuk bolos dengan seragam sekolah keluyuran di Ragunan. Kala itu Suasana di Ragunan tampak  sepi, maklum bukan hari libur, mereka sesekali melihat binatang, burung-burung yang indah dan juga hewan buas lainnya. Yang paling menarik bagi mereka adalah mengintip orang pacaran, ada yang memakai seragam SMA, orang kantoran, dan ada juga yang wanitanya muda sedang prianya sudah berusia tua.

Yang Astuti perhatikan seolah Ridwan menaksirnya, tetapi dia juga dekat dengan Ida. Sempat Ridwan mengajak Astuti makan bakso berdua saja. Mereka tidak jalan bareng dari rumah, tapi kencan di jalan untuk bertemu baru makan bakso di daerah Pasar Rumput. Astuti dan Ridwan naik bus, di dalam bus Ridwan menyampaikan perasaannya pada Astuti jika ia  sayang pada Astuti. Astuti tak percaya karena dipikirnya Ridwan  menaksir Ida. Selesai makan Bakso dan ngobrol akhirnya mereka pulang, karena Astuti khawatir dimarahi ibundanya.

Sejak pertemuan itu, Ridwan semakin sering mengajak Astuti kencan, tapi ia selalu menghindar, karena Astuti tidak yakin akan cintanya. Sampai pada suatu hari Ida cerita kalau dia baru aja jalan bareng sama Ridwan ke Ragunan. Deg. Terjawab sudah apa yang diragukan Astuti selama ini. Ridwan memang menginginkan Astuti dan Ida. Sebagai teman ia tak mau melukai Ida dan dia punya kesan yang buruk terhadap Ridwan. Astuti tetap menutup rapat rahasinya bahwa ia juga pernah jalan bareng Ridwan tanpa Ida. Astutu tak ingin dicap pagar makan tanaman walau pada akhirnya ia menerima cinta Ridwan.

Kala itu, anak seusia Astuti sangat mudah dipengaruhi. Maka tak heran bila ia kerap membolos waktu di kelas dua SMP sesekali membolos apabila guru yang mengajar pada jam itu membosankan. Pernah suatu ketika mereka  membolos berjamaah dengan melompat pagar sekolah dan lari menuju arah kali Ciliwung, lewat jembatan gantung sampai di daerah Condet, mereka mencuri salak Condet yang terkenal masir.

Hal paling  parah yang pernah dilakukan Astuti adalah membohongi Bundanya dengan membuat edaran palsu dan 'ngemplang' uang bayaran sekolah, uangnya  ia gunakan untuk camping ke gunung Salak Bogor bersama teman-temannya. Astuti diajari temannya membuat edaran palsu yang ada cap sekolah, yang menunjukkan kalau itu acara resmi sekolah dan wajib diikuti. Kegiatan itu sungguh menyenangkan, ia dapat pengalaman baru dengan menyetop truk kosong yang bisa mereka tumpangi sampai Bogor. Tidur di tenda, makanan asinan bogor dan tauge goreng, tidak lupa juga soto mie. Jalan bareng teman benar-benar unforgettable. Astuti lupa sesaat akan aturan rumah dan pesan Bunda.

Indah memang jika mengenang masalalu. Seindah mengembuskan nafas yang kemudian menyatu bersama aymosfer, mengelilingi dunia, menancapkan mesna di setiap putaran nya.

Saat itu Astuti mencatat semua hal yang berkesan di sebuah buku harian. Sebuah buku yang ada kuncinya. Astuti biasa mengungkapkan perasaannya di buku itu. Selain buku harian ia juga punya buku catatan lagu-lagu, dari mulai lagunya Koes Plus, Panbers, the Mercy. Kalau lagu lagu Barat ada lagunya The beattles, Rolling stone, dan ABBA. Malam hari kalau selesai belajar, dan acara di TV tidak menarik, ia lebih suka buka buku catatan laguku dan nyanyi di kamar, sedang Bundanya sudah duduk manis di meja tamu main kartu remi dengan tetangga sebelah yang tidak dapat jatah ronda.

Acara malam minggu  Astuti sebagai remaja selain diajak Bundanya silahturahim ke rumah Bude di Cisalak, ia kadang mendapat undangan ke pesta ulang tahun temannya. Pesta ulang tahun yang berkesan adalah ketika ia menghadiri pesta ulang tahun Irwan teman sebayanya sekaligus tetangganya. Irwan adalah anak orang kaya, Ayahnya  pemborong, mamanya bidan di puskesmas, dan juga praktek di rumah. Mamanya Irwan dan Bundanya saling bersahabat.

Pestanya sangat meriah, ada lampu disko nya dan ada music dengan lagu-lagu yang hinggar bingar, mengajak mereka untuk “turun” dengan istilah joged atau dansa waktu itu. Salah satu lagunya ketika “turun” itu: That’s the way ahak ahak, I like it ahak, ahak…..” sayang Astuti tidak bisa joged dengan baik jadi hanya ikut sebentar, dan lebih suka menikmati keramaian itu sambil sesekali mengambil makanan yang sudah disediakan.

Suatu hari ibunda Astuti membaca buku hariannya, padahal ia menulis secara detail kejadian yang  ia alami termasuk acara membolos nya dan berbohong pada Bundanya. Astuti baru sadar kalau Bundanya membaca buku hariannya ketika Bunda mengajaknya makan ke sebuah restaurant Padang, ketika  tidak ada momen penting dan tidak ada syukuran, atau pun yang ulang tahun. Astutu bertanya dalam hati “Mengapa yang diajak cuma aku?”. Sang menawarinya lauk apa yang aku suka berikut dengan es nya. Selera makan Astuti kemudian hilang, ia merasa ada pertanda buruk yang akan menimpa diriku.

Sang ibunda mulai mengintrogasinya  sesuai dengan apa yang telah dibaca di buku harian Astuti. Bundanya menangis, dia kecewa, Astuti telah ingkar janji dan berbohong, Astuti yang diharapkan bisa memberi contoh yang baik pada adik-adiknya malah membuat Bundanyasedih. Apalagi ketika bunda melihat hasil rapor Astuti di catur wulan dua, sangat kebakaran, banyak nilai kurang dan ditulis jelas-jelas dengan angka merah. Astuti tidak kuat menahan tangis, ia merasa berdosa sudah membohongi Bundanya. Apalagi ibundanya  juga menangis sesegukan sembari meratap;” Duh Gusti nyuwun ngapuro, dalem sampun luput engkang didik putro. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki akhlak anakku. Aku lengah, aku terlalu asyik cari uang, sehingga aku tidak sadar bahwa anakku terpengaruh dengan pergaulan yang tidak baik.”

Sejak itu ibundanya mengawasi Astuti cukup ketat, di lain ke sempatan beliau mengajak Astuti ke Sarinah, toko serba ada yang terletak di jalan Thamrin. Toko yang dibangun di era Bung Karno. Bung Karno lah yang memberi nama gedung itu gedung Sarinah. Sarinah tokonya orang  "the have” kalau sekarang istilahnya tajir. Bundanya membelikan Astuti peralatan untuk membuat hiasan dinding kaset, boneka, atau bantalan kursi yang berbahan dasar kawat kotak-kotak dari plastik, jarum dan benang woll jepang, harganya cukup mahal, tapi Bundanya tidak peduli yang penting perhatian Astuti bisa dialihkan dari pergaulan yang kurang baik dengan kesibukan yang diciptakan. Sang bunda berharap ia bisa menghabiskan waktu luangnya  di rumah dengan membuat sesuatu, selain melatih ketekunannya,  juga ini dianggap sebagai terapi dari kenakalan yang pernah dibuat  Astutu.

Setelah naik ke kelas tiga SMP, Astuti fokus belajar. Ia memperoleh pelajaran tambahan yang diusulkan Bunda dari tetangganya yang kebetulan guru SMP Strada di Tebet. Nilai ulangan Astuti kian hari semakin baik. Sang Ibunda tersenyum bangga waktu pulang ambil rapor dan ia diberi hadiah sepeda jengki. Semakin dekat ujian semakin semangat belajarnya. Astuti ingin menebus kesalahan yang pernah ia buat karena telah membuat Bundanya kecewa. Tidak patuh dan semaunya sendiri.

Akhirnya ujian pun tiba, Astuti optimis bisa meraih nilai yang baik. Bundanya punya rencana memasukkan ia di SMA favorit yang ada di kebayoran baru atau tepatnya Bulungan. Alhamdulillah nilai raport dan ujian Astuti cukup tinggi. Nilai tinggi saja tidak cukup untuk masuk ke sekolah favorit itu. Astuti harus pindah rayon karena beda domisili maka ia harus masuk dalam Kartu Keluarganya Pak Atmaja di daerah Kemang. Selain itu Bundanya juga punya kenalan TU si SMA itu. Jadi ia bisa dititipkan lewat rekan ibundanya.

Keinginan Astuti dalam meraih mimpi begitu kuat. Ia fokus dalam belajar sehingga jarang menyambangi rumah Ida maupun  rumah Pak Haji Ali. Astuti asyik dengan kesibukan yang diciptakan Bundanya. Astuti semakin kerap diajak menemani Bundanya berbelanja, bahkan jika ibundanya ada  urusan lain Astuti lah yang belanja atau mengerjakan tugas lain yang aku bisa.

Jika Astuti disuguhi sebuah pilihan kegiatan yang ia suka, Astuti pasti akan memilih untuk diajak ke rumah Umi Kulsum. Disana selain mereka kerap disuguhi makanan yang enak seperti bistik, nasi kabuli, balado daging atau makanan makanan yang dianggap elit. Astuti juga bisa membaca majalah Femina, Mode, dan melihat kliping yang dibuat Umi Kulsum tentang kegiatan anaknya yang Rocker, dan juga penyanyi dangdut dengan orkes Larantuka.

Tak hanya itu,  Umi Kulsum memiliki kliping resep masakan yang amat banyak, dia tidak pelit berbagi ilmu, Astuti diajarkan cara memasaknya. Astuti masih ingat cara membuat chipon cake, ketika menggunakan mixer tangannya terjepit hingga kuku jari manisnya  lepas. Sejak itu ketika menggunakan mixer ia sangat hati-hati. Umi Kulsum dan Bundanya  memang banyak  mewarnai kehidupan Astuti  ke termasuk ikut andil  dalam membentuk kepribadiannya saat ini.

Kedekatan yang ia rasa dengan Umi Kulsum ia jadikan sebagai sekat untuk ia tempelkan lekat-lekat sebagai pengingat di masa depan yang akan mengikat. 

Perjalanan masa puber begitu berwarna dari sajak Sang Astuti, ia menambatkan ingatannya ssbagai kesan suatu kehidupan. Lantas seperti apa Astuti berkelana dalam masa remajanya? Apakah haru, biru, tawa atau nestapa.




Selasa, 18 Oktober 2022

Young Story of Astuti

ASTUTI

Allah sajalah yang mengetahui kebaikan dan keburukan yang sejati sementara penglihatan, penilaian, dan pengetahuan kita bersifat semu dan terbatas.Allah mengetahui sedang kamu tidak  mengetahui (QS Al-Baqarah : 216).

Pena ini adalah jejak sederhana dari sebuah cerita seseorang yang ku sebut dengan Astuti. Penulis ingin membicarakan letupan kenang dari langkah panjang seorang Astuti. Namanya hidup, tentu ada suka, canda, tawa, lara dan pahit yang mungkin diseduh air mata.

Ia terlahir sebagai anak sulung dari tiga bersaudara, sebagai seorang sulung, ia memeluk harapan agar sukses dalam hidupnya. Masa kecilnya  memuat hamparan cerita yang berlapis lara, dan luka. Luka itu datang tatkala ia menyadari bahwa ayahnya adalah seorang  tahanan politik. Atas status itu, puluhan pasang mata tentu mengepung raganya bagai serpihan duri yang berkarat atas rasa malu.

Astuti tumbuh sebagai Seorang anak yang hidup di kampung dengan fasilitas pas pasan. Tak ada eforia kemewahan di masa kecilnya, namun itu menjadi prasarti termanis dalam hidupnya. 

Astuti adalah lukisan kekuatan. Ia memiliki seorang Bunda yang galak nan otoriter dalam mendidik nya.  Tapi masa itulah yang menjadikannya sebagai power ditengah  keadaan dan gesekan budaya, yang  multikultural. 

Jakarta adalah saksi  bagaimana ia mampu  memperkaya khasanah hati. Gesekan dari para pendatang, urakan, dan polusi attitude  membuat ia  banyak belajar  untuk sebuah kehidupan dengan berjuta varietas. Keyakinan-Nya pada Sang Rabbi membuat ia begitu kuat dalam memandu semesta  nurani. Ia yakin Bahwa Allah menciptakan bermacam suku agar bisa hidup damai dalam hidup berdampingan.

Di Jakarta ia menorehkan banyak cerita. Ia tumbuh di perkampungan betawi yang kental dengan adat istiadatnya. Mereka menganggap Astuti sebagai orang “Jawa Kowek” (jawa asli) entah apa alasan mereka menyebut Astuti sebagai orang jawa kowek yang 'ngendon' di jakarta. Mungkin Sebutan Kowe tersimat atas logat bicara Astuti  dengan logat Jawa medok dan ‘kowe-kowe’. 

Narasi tentang Astuti ini begitu epik. Ia dan keluarga bertahan sebagai pendatang yang klasik. Bundanya bergelar sebagai “mantri suntik”. Kala itu, mereka memanggilnya “Bu Jeksi” karena pekerjannya menyuntik atau menginjeksi para pasiennya.

Jakarta adalah simbol tawa dan rasa bangga bagi setiap pengunjung nya. Namun, pada waktu itu, Jakarta  masih rimbun dengan pepohonan yang menghasilkan buah-buahan nan melimpah. Maka tidak salah jika dikatakan pasar minggu dan sekitarnya sebagai sentra buah-buahan saat itu. 

Rumah kontrakan yang ditinggali Astuti adalah  jejak bukti dimana Astuti pernah meraba mimpi. Rumah itu ada di sekitar kebun jambu yang dimiliki oleh Haji Ali, seorang Betawi asli yang kaya raya dengan kebunnya yang luas, memiliki rumah kontrakan yang cukup banyak. Astuti dan keluarganya juga bergaul akrab dengan anak-anak Pak Haji Ali yang punya sembilan anak dari dua istri yang dinikahi.

Ada satu moment yang menjadi pijar paling indah  bagi Astuti,  adalah  ketika panen buah  musiman datang. Ketika musim jambu dan belimbing, Astuti dan teman-temannya  bisa bebas sepuasnya memetik, dan memakan hasil panen buah itu, dari mulai yang ranum, setengah matang, atau yang masih muda. Pak Haji membolehkan Astuti mengambilnya dan membawa pulang secukupnya.

Pak Haji Ali juga punya usaha sampingan lain. Dia memiliki kolam ikan yang diisi dengan ikan lele and ikan tawes. Di sini Astuti pernah menyelipkan moment paling mengesankan. Yaitu sebuah memoent dimana kolam itu dijadikan sebagai tempat jambang ‘plung lapnya”. Suatu kesenangan tersendiri ketika buang hajat plung langsung diterkam ikan-ikan lele yang kelaparan. Buang Hajat di kolam ikan Pak Haji Ali sampai saat ini masih tetap berkesan di hati Astuti.

Usaha lain dari Pak Haji Ali adalah ternak sapi perah. Dia memelihara 7 ekor sapi perah dan 1 pejantannya. Tiap pagi dan sore pekerja Pak Ali sibuk memerah susu dan memberi makan sapi sapi itu. Untuk pemenuhan gizi Astuti di waktu kecil, ibunya menjadi pelanggan susu pada Pak Haji Ali. Maka tak heran jika Astuti dan keluarganya  jadi anak yang sehat dan cukup cerdas. Astuti dapat berbaur dengan warga Betawi yang tidak semuanya suka kepada pendatang.

Memory lain pula amat berkesan bagi Astuti yaitu ketika Lebaran tiba. Yaitu sebuah waktu dimana ia menggantungkan harapannya mendapat THR Lebaran. Kala itu,  Pak Haji Ali yang kaya raya, selalu membagikan sarung dan bingkisan di hari terakhir taraweh atau menjelang lebaran. Kebiasaan ini membuat semangat untuk bisa taraweh bareng di surau Pak Haji Ali. Dari kegiatan rutin tahunan itu lah, Astuti dan adik-adinya jadi akrab dengan marawis, salawatan, dan Qosidah. 

Kesan mendalam juga tercipta pada setiap peringatan hari raya umat Islam. Di dari malam  Nuzulul qur’an, khataman, Isra mi’raj, Idhul Adha  dan puncaknya peringatan maulid Nabi.  Dalam memperingati maulid Nabi, Astuti begitu rajin mengikuti setiap kegiatan dari satu surau ke surau lainnya. Setiap surau yang mengadakan pengajian, panitia pasti memanggil ustadz atau mubaligh untuk mengisi pengajiaan. Inti dengan ustadz dan ustadzah yang beken pada masa itu, Ada Habib Umar, Habib Abdullah Syafei, Ustadzah Tuti Alawiyah, atau pun Ustadzah Royani. Selain itu yang paling greget bagi Astuti adalah karena ia menyadari bahwa hadir dalam sebuah ta’lim selalu didampingi malaikat yang memberikan doa kepada orang yang sedang mengkaji atau menyiarkan dakwah. 

Bagi Astuti, momen paling istimewa adalah Perayaan peringatan milad Nabi yang selalu nampak meriah. Isi pengajian yang begitu mantap benar-benar mempertebal keimanan Astuti pada Allah SWT. Terlihat rasa kebersamaan, apalagi ketika tiap keluarga diwajibkan menyetorkan nasi uduk dan nasi ulam, yang dilengkapi dengan semur daging dan semur tahu. Lalu masih ditambah snack berupa kue talam, kue pepe dan juga ketan urap. Ya, itulah makanan  dan kudapan yang kental dengan suasana maulid Nabi. Astuti dan yang lainnya bisa menikmati bersama, kalau berlebih merekabisa membawa pulang yang kemudian  disebut “berkat”.

Bicara makanan, ingatan  Astuti kemudian berkelakar pada makanan khas dari Pak Haji Ali dan keluarga di saat Lebaran atau Hari Raya Idhul Fitri. Kue itu adalah dodol betawi yang dibuat dari ketan, kelapa dan gula jawa dalam ukuran yang besar. Wadah yang dipakai namanya “Kenceng” karena besarnya wadah itu, bahkan untuk duduk 3 orang anak kecil juga cukup. Pembuatan dodol butuh tenaga dan waktu yang lama. Mulai dari memarut kelapa dan mengaduknya butuh waktu 12-15 jam. Dibutuhkan tenaga yang begitu extra. Belum lagi harus ada yang menjaga api agar tetap menyala.  Maka, persediaan kayu bakar dari kayu yang kering harus cukup. 

Ketika semua bahan dodol tercampur dan diaduk terus menerus secara bergantian, dalam hitungan jam perlahan dodol mulai terasa berat waktu diaduk. Biasanya jika memulainya di sore hari maka menjelang tengah malam, dodol itu mulai mengental. Dodol yang setengah jadi ini biasa dinikmati dan disebut dengan nama “Kole”  biasanya Astuti menyantap sajian Kole ini dengan meminta pada keluarga Pak Haji Ali. 

Disuguhi dengan wadah dari daun pisang Astuti mencicipi dodol setengah jadi yang sangat enak ketika dimakan hangat dan disendok dari sisi sebelah pinggir. Menjelang subuh dodol baru matang dan siap diletakan  pada wadah seperti baskom kecil. Ketika semua dodol sudah dikemas, di dalam kenceng pasti ada intip dodol. Hmm bagi Astiti intip ini terasa lezat di lidahnya. Varian  rasa gosong, gurih dan manis yang terpadu menjadi satu. Astuti tak pernah absen untuk meminta jadah dodol gosong itu pada  Bu hajjah Siway istri Pak Haji Ali. 

Saking dekatnya, Astuti sudah menganggap Pak Haji Ali sebagai keluarganya sendiri karena rumah mereka saling berdekatan. Ibunya begitu gigih menjadi mantri jeksi sehingga ia mampu  membeli rumah yang dikontrak dari Pak Haji Ali dengan cara dicicil. Hanya bermodalkan kedekatan dan kepercayaan, rumah itu bisa dimiliki Astuti dan keluarga. Bagi Astuti, hidangan paling lezat adalah tahu dan tempe bacem, yang merupakan makanan kebesaran Bundanya dan keluarga. Tak hanya itu, mereka juga  mengkonsumsi makanan betawi yang biasa dikonsumsi Pak Haji Ali sekeluarga, ada semur jengkol, tumis oncom, ikan asin bulu jago dan sayur asem  begitu melekat bagi keluarga Astuti.

Perjalanan lantang dimulai ketika Astuti bersekolah. Ia bersekolah di sekolah negeri yang tidak jauh dari rumahnya. Sekolah SD itu sudah berganti nama dari istilah SR. Satu dua teman Astuti ada yang mengetahui jika ayahnya adalah penghuni rutan. Astuti menjadi bahan ejekan oleh mereka yang tidak senang atau sekedar melampiaskan ketidaksukaan mereka kepadanya.  Hal itu tentu menjamah hati Astuti dalam luka. Ada sesak yang ia rasa hingga suatu hari Astuti pernah berkelahi dengan teman sebayanya. Ia menjambak rambut temannya hingga terjatuh.

Orangtua dari temannya tidak terima atas pertengkaran itu.  Lalu mereka melabrak ibunda Astuti dengan cacian yang garang. Sebuah cacian yang bermakna bahwa bundanya tidak bisa mendidik anak. Ibunda Astuti yang tempramental, merasa tertampar oleh cacian itu. Atas rasa itu, ia kemudian   menyeret Astuti  untuk keluar dan mengambil tali lalu mengikatnya seharian di pohon jambu air. Bundanya terus berkicau sambil sesekali mencubit pipi Astuti. Sang Bunda juga mendoktrinnya bahwa ia tak boleh nakal, tidak boleh berantem, harus ngalah pada teman, dan membiarkan orang menghina keluarganya. 

Dalam penat yang panjang, ada rintih perih yang dirasakan Astuti. Dadanya penuh sesak melepuh tak terima, mengapa bundanya membela orang yang jelas menghina ayahnya? Sampai lelah Astuti menangis sambil berteriak, “ Ampun Bunda, ampun!” tetap saja Bunda membiarkan Astuti terikat dan ditonton oleh anak-anak Pak Haji dari dalam rumah, karena mereka juga tak kuasa menolong Astuti. Mereka paham akan sikap Bundanya yang keras, dan tidak suka orang lain ikut mengurusi urusannya. 

Kejadian adalah alunan perih yang tak bisa sibungkus meski dengan kemegahan. Hingga saat ini tetap membekas di labirin ingatan Astuti. Ada rasa benci menyelinap jika mengingat betapa keras bundanya memperlakukannya.  Alhamdulillah Astuti tidak meniru cara Bundanya yang buruk itu ketika menghukum anaknya.

Meski pernah ada luka di hati Astuti, namun ada sisi positif yang diberikan bundanya.   Astuti termasuk anak yang beruntung. Walau tinggal di pelosok kampung, tapi Bundanya berpikiran modern. Setiap 3 bulan sekali Bundanya berusaha menyenangkan hati Astuti dan adik-adiknya dengan cara refreshing. 

Bundanya mensiasati untuk meminjam mobil plus drivernya dari pasien Bundanya hingga  akhirnya menjalin persahabatan. Astuti dan keluarganya diajak berlibur ke Pelabuhan Ratu dan ke Lido di Sukabumi. Tentu saja Astuti sangat  gembira. Kadang Bundanya juga dapat undangan untuk menghadiri sebuah acara di Hotel Indonesia yang paling megah dan mewah pada saat itu. Astuti  dan kedua adiknya berdesakan diantara tamu hotel lain demi segera masuk Hotel yang megah itu, menikmati keindahan hotel dan punya pengalaman pertama masuk lift untuk mencapai kamar hotel di lantai sepuluh. Di saat itu lah Astuti merasa bahagia bisa menikmati sesaat fasilitas hotel yang ada. Untuk itu ia harus berterima kasih pada Umi Kulsum sahabat sekaligus pasien Bunda. Yang sudah memberikan undangan pada keluarga Astuti. 

Hiburan lain yang masih terekam di benak Astuti adalah ketika salah seorang tetangganya mempunyai hajat, entah itu pernikahan atau khitanan anaknya. Orang betawi yang mampu akan mengadakan hajatan yang sangat meriah, biasanya mereka mendatangkan (nanggap) orkes melayu dengan penyanyi Rhoma Irama, Mansyur S, Ellia Khadam dan bisa juga Elvi Sukaesih. Pastilah menjadi moment membahagiakan bagi siapa saja yang membutuhkan hiburan, gratis pula. 

Sedang tetangga yang lain ada yang lebih suka memutar film “layar tancep”. Ya dikatakan layar tancep karena memang layarnya dipasang di tengah lapangan dengan cara ditancapkan. Film yang disajikan biasanya film India, yang selalu penuh dengan air mata dan nyanyian tak tertinggal selalu diiringi joged ria yang bersembunyi di balik pohon. 

Layaknya sebuah hajatan yang menggelar hiburan pasti penuh dengan penjual makanan bahkan arena judi. Judi yang ada biasanya berupa judi puteran dengan memasang uang di nomer yang diperkirakan akan keluar. Karena penasaran dan ingin tahu Astuti pernah mencoba, pertama kali Astuti sempat menang, tapi akhirnya kalah lagi. Ketika kejadian itu diceritakan  ceritakan pada Bundanya, beliau marah besar. Hehe.  Maklumlah, Astuti adalah  anak pintar. Ia selalu penasaran dengan hal baru. Ternyata alasan bunda memarahinya karena judi diharamkan di dalam agama. Astuti tertawa kecil setiap mengingat kejadian itu.

Makanan yang identik dengan layar tancep adalah kacang rebus, jagung rebus, tahu pong dan ada juga kerak telor. Cerita layar tancep dan orkes melayu jadi mengingatkan Astuti pada mbok Kem yang mendapat jodoh orang betawi ketika mereka bertemu di arena layar tancep. Sayang jodoh mbok Kem tidak panjang karena pernikahan Mbok Kem tidak mendapatkan anak.  Suaminya menikah lagi. Akhirnya Mbok Kem sakit, lalu di jemput anaknya untuk pulang ke Ngawi. Mbok Kem tidak kuat, akhirnya di dalam kereta api perjalanan Jakarta Madiun, Mbok Kem meninggal dan langsung diturunkan di stasiun terdekat. Karena biaya membawa Mbok Kem ke Ngawi cukup mahal, maka anak mbok Kem memutuskan setelah disucikan di rumah sakit Kroya, mbok Kem dimakamkan di pemakaman umum untuk orang-orang yang tidak dikenal. 

Bundanya sempat menyayangkan mengapa jasad mbok kem di kubur di sembarang tempat. Bagaimanapun Mbok Kem memiliki jasa besar bagi keluarga Astuti. Sejak bulek menikah, Mbok Kem lah yang mengasuh Astuti dan kedua adiknya hingga mereka semua tumbuh dewasa. Mendengar Mbok kem meninggal, ada rasa sedih mendalam di hati Astuti. Baginya Mbok Kem bukan hanya sebagai ‘rewang’ tapi sudah dianggap seperti ibunya sendiri. Kasihan sekali Mbok Kem. Semoga Allah SWT menyayanginya dan menempatkannya di tempat yang layak. 

Cerita Astuti ini menguap penuh harmoni, mengantarkan melodi di sepanjang perjalanannya. Tidak lengkap jika kisah Astuti dengan teman teman sebayanya tidak diungkap di tulisan ini. Ketika ia kelas 4 SD, Ia punya teman yang berasal dari Manado, pendidikan orangtua mereka sangat tinggi. Astuti mengetahui banyak hal tentang Amerika dan negara bagiannya  dari Pingkan, temannya dari Manado.  

Suatu ketika Pinkan membawa uang saku yang cukup banyak, hampir semua temannya satu kelas ditraktir di hari itu. Ketika Astuti bertanya dari mana dia mendapatkan uang itu,  tanpa malu dia mengatakan bahwa dia mencuri uang papinya. Deg, deg, berdebar rasanya jantung Astuti. Ada rasa  sesal datang setelah mengetahui ternyata ia sudah ikut menikmati hasil curian temanya. Dan kejadian itu sering berulang tapi papi maminya tidak sadar bahwa putrinya suka mencuri uangnya.

Banyak hal yang dipelajari Astuti setelah dekat dengan Pinkan. Salah satunya hobi membaca komik. Komik yang mereka baca komik HC Adresen, dilanjut dengan komik-komik silat dari mulai “ si Buta dari Gua Hantu” sampai “ Wiro Sableng”, akhirnya merambah ke Buku cerita “Kho Ping Ho”, terus berkembang ke novel-novel percintan Montingo Busye. Dan ketika Astuti klas 6 SD, Pingkan membujuk nya agar mau membaca buku stensilan “ Nick Carter”. Sebuah buku yang isinya tentang Sex. Haha tanpa sengaja Astuti belajar hal itu dari Pinkan. Ironis,anak klas 6 SD sudah mengenal tentang sex dari buku stensilan bukan dari orangtuanya. Di sisi lain, setiap Astuti pulang sekolah dalam seminggu  ada 3 waktu diharuskan sekolah dien atau madrasah, dimana mereka diajari baca tulis Al Qur’an dan bahasa Arab. Astuti tidak tuntas belajar di madrasah pada sore hari. Jadi pengetahuannya tentang agama juga minim dan asal asalan, seakan ia punya kelompok bermain dari dua sisi yang menjurus ke akherat dan yang menjurus ke dunia.

Dari Pingkan juga Astuti mengenal cowok ganteng. Ia ingat namanya Erwin, masih sepupu Pingkan, ia tahu kalau Erwin naksir Astuti dari Pingkan. Awalnya hanya menitip salam untuk Astuti, tapi kemudian berlanjut tukar tukaran buku catatan lagu-lagu dan kata-kata mutiara. Semacam buku yang bisa mereka tulis dengan apa saja untuk menggungkapkan kegalauan hati. Kadang berupa puisi atau tulisan-tulisan untuk saling memuja dan mengagumi.

Ibunda Astuti langsung memarahinya jika ia sering pulang sore atau ketika Bundanya pulang ia masih bau keringat dan belum mandi, bundanya langsung melempari seribu tanya  dari A-Z di ruang tamu. Astuti hanya menjawab 'ya' dan tidak atau memberi keterangan yang singkat. Apabila  rasa jengkel Bundanya memuncak, dia tidak segan segan menjewer telinga Astuti. Sejak kejadian itu,  Astuti harus pandai mengatur siasat bagaimana caranya kalau sore sebelum Bunda pulang ia harus sudah mandi, dan duduk manis menunggu kedatangannya.

Meski Astuti tergolong dari keluarga mapan, pada jaman itu sangat beda dengan jaman sekarang. Walau mereka punya pengasuh, tetap saja Bundanya memberi tugas rutin untuk mereka. Astuti sebagai si sulung tugasnya menyapu lantai dan ngepel, sedang adiknya  yang perempuan bagian ngelap meja kursi, dan furniture lain yang ada di ruang tamu dan ruang keluarga. Sedang, si bungsu dia kebagian menyemir sepatu dan menyiram tanaman. Setelah tugas itu selesai baru mereka mandi bergantian dan sarapan dan berkemas berangkat sekolah. Ada tugas lain yang Astuti kerjakan di hari minggu pagi atau siang. Semua tergantung dari perintah Bunda. 

Tugas ke pasar dengan catatan belanjaan yang harus ia beli. Dan lebih berat tapi juga menyenangkan yaitu door to door ke rumah langganan dan pasien Bunda, Astuti pergi ke sana untuk menagih uang pembayaran berobat atau mengantar obat pesanan mereka.  Ibunda Astuti adalah mantri keliling yang punya jadwal khusus door to door memberi pelayanan pada mayarakat di sekitar kampung nya,  atau bahkan meluas sampai daerah Condet dan Kampung pulo, Krobokan yang sekarang lebih dikenal dengan nama daerah Warung Buncit. 

Jiwa sosial ibundanya  cukup tinggi sehingga membolehkan langganan dan pasienya menhutang ketika berobat. Mereka rerata buruh bangunan dan buruh penjahit konfeksi dari para juragannya yang memiliki usaha di pasar Tanah Abang. Karena mereka menerima upah mingguan atau biasanya sabtu sore, tugas Astuti adalah menagih utang mereka di Minggu pagi. Dengan dating dari rumah ke rumah, ia  bisa melihat suasana rumah tiap orang dan bisa membandingkan bahwa ia  dan adik- adiknya termasuk orang yang beruntung. Betapa tidak, dari kunjungan itu ia bisa melihat rumah yang jorok dan tidak layak huni. Sedang, Astuti dan keluarganya hidup di lingkungan yang layak  meski dengan rumah sederhana, tapi karena Bundanya orang kesehatan jadi semua tertata rapi dan bersih.

Di beberapa epidose, Astuti mendapati keberuntungan yaitu ketika  menapaki rumah pasien ibundanya yang berlatar gedong, halamannya luas, ditumbuhi pepohonan asri, dan pulang dibekali buah tangan seperti Apel Amerika atau anggur, kadang juga kue lapis Surabaya yang sangat enak. 

Ada alasan lain yang membuat Astuti merasa senang yaitu ketika mendapat tugas belanja ke pasar. Kadang ke pasar Minggu kadang ke pasar Mester atau sekarang dikenal dengan pasar Jatinegara. Dua pasar tradisional yang kalau hujan identik dengan becek dan bau. Catatan yang harus dibeli di tangannya bisa berupa obat, bisa juga berupa kebutuhan rumah tangga lainnya. Namanya pasar selalu mempunyai daya tarik tersendiri. Bundanya selalu melebihkan uang yang untuk belanja. Jadi, ketika ada sisa dengan leluasa ia  membelanjakannya. Biasanya barang yang  ia beli berupa aksesoris, kaos kaki atau piranti lain yang sangat “feminim”.

Perlahan tapi pasti ia di didik untuk terjun langsung mengenal kehidupan. Berinteraksi dengan orang banyak, belajar memilih barang yang bagus, dan belajar menawar harga barang dengan cara yang sopan. Tentu saja semua itu dengan proses. Bundanya sering mengajak ia berbelanja sebelumnya. Oleh ibundanya ,ia ditunjukkan tempat langganan belanjanya serta di ajari kiat memilih barang yang bagus.

Sekarang ia menyadari bahwa ibundanya  mendidik Astuti dan adik-adiknya dengan tidak mudah. Tiap anak punya kenakalan yang berbeda. Astuti termasuk anak yang sukar diatur, bertindak semaunya sendiri, jika dinasehati justru semakin tidak taat. Sedang adiknya yang nomer dua, dia benar-benar anak Bunda, selalu menurut. Paling sesekali berkelahi dengan temannya. Itu pun tidak sampai menghebohkan seluruh keluarga. Lain lagi dengan adik laki-lakinya yang super istimewa, maklum laki-laki dia bergaul dengan siapa saja. Perilakunya yang menjengkelkan adalah ketika adiknya dan teman-temannya begadang. Dia menyelinap keluar kamar dan menutupi gulingnya dengan bantal, seakan dia sudah tertidur nyenyak. Padahal di luar sana adiknya mencuri mangga dan telur ayam milik tetangga mereka. 

Tentu saja peristiwa itu mencoreng nama baik Bundanya Astuti. Sejak itu ibundanya ekstra ketat mengawasi mereka. Adiknya ini selain avonturir dia juga suka travel yang aktivitasnya mendekati bahaya. Misal  nonton bola tidak beli tiket, cari tumpangan dengan menyetop truk di lampu merah, naik Kereta Jakarta Bogor tanpa karcis. Yang seru lagi ketika dia diturunkan di salah satu stasiun kereta api karena kedapatan tanpa tiket. Padahal kereta api yang ditumpangi adalah kereta api jurusan Surabaya –Jakarta. Jadi ketika teman- temannya sudah sampai Jakarta, adiknya belum tampak batang hidungnya. Tentu saja Bundanya panik tapi tidak bisa berbuat sesuatu, cukup menunggu kabar. Ternyata setelah diturunkan di salah satu stasiun, dia malah estafet naik Bus agar segera bisa sampai rumah.

Ibunda Astuti menyiapkan masa depan mereka dengan sungguh-sunguh, beliau rela berstatus istri muda,  hanya demi status dan nafkah batin dari Pak Atmaja. Tetapi  untuk urusan materi Bundanya tidak pernah mengganggu keuangan Pak Atmaja sekeluarga. Semua biaya hidup Astuti dan anak-anaknya  sepenuhnya  ibundanya yang mengurus. 

Sosok ayah tidak seratus persen Astuti dan adik-adiknya rasakan, hanya demi kehormatan dan sebuah status. Astuti tidak tahu apakah ini suatu komitmen yang dibuat oleh ibundanya, Pak Atmaja atau bu Atmaja. Jika Iya, bagaimana bisa semua ini dilakukan, berumahtangga dengan syarat yang tidak disyariatkan agama. Tidak ada keadilan di dalamnya. Yah mungkin hanya ibunda pada, Pak Atmaja, Bu Atmaja, dan Allah SWT saja yang tahu. 

Naluri seorang ibu sangatlah tajam. Sering kali Bundanya memergoki perbuatan buruk Astuti, entah itu membolos, mencuri uang di lacinya, atau berlaku tidak adil dengan adiknya. Bundanya mengamati tiap perilaku anaknya. Dari tiap perilaku dan kebiasaan anaknya dia beliau bisa mengarahkan langkah mereka. Astuti yang senang main sekolah-sekolahan dan bertindak jadi guru, sering mengatur teman teman sebayanya, diprediksi Bundanya akan menjadi guru. Bunda terobsesi agar Astuti pandai bahasa Inggris dan bisa sekolah ke luar negeri dan suatu saat mengajak jalan-jalan ibundanya keliling dunia.

Jaman dulu belum banyak orang memberi pelajaran kursus, Ibunda Astuti mendaftarkan ia untuk ikut kursus bahasa Inggris yang diikuti oleh murid SMA dan umum. Dengan susah payah, Astuti mengikuti kemauan ibundanya walau akhirnya tidak tuntas dalam belajar, karena ia merasa tidak nyaman dan tidak bersungguh-sungguh. Tekad Bundanya yang besar mengantar ia menjadi guru. Ibundanya  bersusah payah ke Solo dan antri membeli formulir pendaftaran untuknya. Astuti hanya tinggal mengisi dan mengikuti tes. Sampai akhirnya ia diterima di FKIP UNS jurusan Bahasa Inggris.

Sedang adik perempuannya yang punya kebiasaan mengisap jempol dan ngodos-odos bantal lalu diambil kapuknya dan ditempel-tempelkan ke hidungnya, diprediksi ibundanya akan menjadi dokter. Karena kapuk  identik dengan kapas untuk menyuntik pasien. Mungkin karena sugesti, Bundanya sangat yakin jika adiknya akan menjadi dokter. Dan Qadarullah memang akhirnya gelar dokter  berhasil di sandang adiknya Astuti dengan jerih payah keuangan yang 'ngos ngosan' dan berjuang sekuat tenaga untuk bisa  meraih gelar dokter. Bagi beliau, paling tidak, ada peningkatan dari anak seorang mantri  suntik menjadi seorang dokter.

Hal yang paling lucu adalah prediksi ibundanya tentang adik Astuti yang paling bobtot.  Kebiasaan adik laki lakinya ini, ketika tidur dia suka 'ngemot' nasi putih sekepal. Jadi, ritual tidurnya diawali dengan ngemut nasi segenggam yang disediakan Mbok Kem pengasuh kami. Bunda menebak bahwa kelak jagoannya akan menjadi pak Tani. Atau paling tidak bergerak di bidang pertanian. Nasi identik dengan Pak Tani. Alhamdulillah adik bungsu Astuti lulus dari fakultas pertanian, lalu sibuk di LSM yang memberi pembelajaran pada para petani. Dan berjodoh pun dengan teman kuliahnya yang  bergelut di bidang pertanian juga.

Sampai akhirnya Astuti menyakini bahwa kebesaran  Allah itu sesuai dengan apa yang kita sangkakan. Begitu  besar kasih sayangNya. Ibundanya  telah mengarahkan mereka untuk menjadi insan yang bisa mengembangkan diri dan tidak canggung terjun dalam kehidupan yang nyata.

Seumpama waktu adalah kancing yang melekatkan harapan, maka bias elegi menempel sebagai temaram yang berhias pada keindahan. Pula langkah adalah jarak tanpa jengkal yang dapat memindahkan harapan pada suatu kenyataan.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantara mu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (ar-Rum:21)

Sabtu, 15 Oktober 2022

Kata Pengantar Puisi Akrostik

"Di hadapan Tuhan, pendek kata, segala yang merupakan tujuan kita adalah nama kita yang sebenarnya." Jalaludin Rumi.

Bersebab sebuah kehidupan merotasi antar purnama dan mentari. Melahirkan sebuah warna menggores kata, ada makna yang perlu dipertegas sebagai sebuah sebutan berupa Nama. 

Nama adalah  kepantasan sebagai pengiring doa untuk Sang Pencipta. Nama adalah saduran yang menyublim jiwa dan raga, yang ketika ia merapat dengan bumi sebuah nama melangit sebagai kenangan. 

Setiap cerita, kejadian, gagasan, mimpi dan pencapaian adalah sinyal dari Sang Pencipta. Seluruh perkara di dunia sudah tergaris menjadi sebab akibat, seperti sebuah nama yang menjadi nyawa atas laku para pemiliknya. Dalam doa kita haturkan sebuah nama, karena nama melukiskan sajak makna.

Namun bagaimana jika sebuah nama menjadi lebih klasik dan enerjik? Tentu akan menjadi pemandangan yang begitu mendelik. 

Dalam buku puisi Akrostik bertema Nama dan Harapan ini, para penulis se-nusantara merupa nama menjadi lebih klasik dan unik. Sebuah nama yang kemudian dijabarkan sebagai rangkaian  harapan, tindakan, dan perbuatan tersusun menjadi romantika kata yang begitu epik. 

Buku ini amat cocok menjadi saduran untuk sebuah nama agar bermakna lebih menarik. Ritme kata yang tersusun dengan unik menyibak makna amat klasik. 

Saya merasa bangga bisa menarikan tinta dalam kumpulan puisi Akrostik ini, dimana sebuah nama bisa menjadi seumpama yang amat luarbiasa, penuh makna dan menarik untuk dibaca. 

Buku ini begitu unik, siapapun pantas tertarik, ditulis dengan epik oleh para penulis yang bertangan magic. Dari mereka kita mampu belajar berpuisi akrostik. 

'Maydearly'

Lebak, 15 Oktober 2022



Kata Pengantar Buku Tarian Aksara Penuh Makna

Dahulu aku sering bertanya sendiri; kalau puisi itu berwujud, akan seperti apakah dia? Matahari? Bulan? Bintang? Gunung? Laut? Bertahun lalu...